Re:Zero Arc 4 Chapter 81.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Cahaya, bagian 2

Sebenarnya, apa yang harus Subaru lakukan untuk menyelesaikan ujian kedua? Berbeda dengan ujian pertama, kali ini ia sama sekali belum mengetahuinya.

[Subaru: Hanya memikirkannya sepanjang hari tak akan ada hasilnya… pokoknya sekarang aku harus melakukan sesuatu yang dapat kulakukan]

Subaru berdiri, menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil mengumpulkan tekadnya. Ia menekankan tangannya ke dinding berlumut di belakangnya dan mengintip ke pintu masuk makam yang gelap.

Sejak tadi Subaru merenung sendirian, tanpa Otto dan Patrasche di sekitarnya.

Merasa malu atas kebodohan yang ia lakukan, Subaru telah meminta Otto mengantar Patrasche pulang ke istal, sejujurnya interaksi terakhir mereka sangat memalukan. Pada akhirnya, meskipun tatapan prihatin Patrasche sebelum ia pergi dapat sedikit menghiburnya, Subaru membutuhkan waktu sendirian untuk memilah-milah berbagai pemikiran dalam benaknya.

[Subaru: Masalah utama yang perlu diatasi adalah sanctuary dan mansion. Di sanctuary ada ujian, Garfiel, dan Kelinci Besar. Di mansion ada Beatrice dan Elsa…. Terlalu banyak pertarungan di sini]

Subaru hampir jatuh ke jurang keputusasaan karena tidak kunjung menemukan solusi yang berarti. Tapi ini bukan saatnya untuk putus asa. Dia harus menyelesaikan masalahnya, satu per satu—tanpa memperlakukan hidupnya seperti sampah yang dapat dibuang begitu saja.

[Subaru: Pertama adalah mengkonfirmasi status ujian. Kalau ujian kedua baru saja dimulai maka semuanya baik-baik saja, bahkan jika ujian ketiga telah dimulai, itu akan lebih baik]

Setidaknya, jika dia bisa menghilangkan barrier dengan lebih cepat, situasinya akan sangat terbantu. Subaru harus mulai berpikir tentang cara memindahkan Garfiel juga. Dalam kasus terburuk, ketika Kelinci Besar menyerang, mereka akan bisa melarikan diri ke luar. Bahkan Garfiel tidak akan begitu keras kepala kalau ia harus berhadapan dengan Kelinci Besar.

Menghapus barrier tersebut akan membawa masalah di sanctuary lebih dekat kepada resolusi.

Untuk dapat berpikir sejauh ini, secercah harapan samar terbuka di depan mata Subaru, membawa serta kelegaan.

Subaru terus-menerus memeras otaknya karena masalah ini, tapi sekarang akhirnya ia menemukan sedikit titik terang.

[Subaru: —-]

Berdiri di depan pintu masuk makam, Subaru menahan napas saat dia menatap kegelapan di sepanjang lorong batu.

Jika dia masuk, ujian akan dimulai, dan ia mungkin dihadapkan dengan kejutan lain yang tidak seharusnya. Adegan yang selalu berulang-ulang membuat Subaru tidak nyaman dengan adegan itu, tidak peduli berapa kali ia melihatnya.

Tetapi Subaru tahu bahwa dia tidak diizinkan untuk mengabaikan atau melupakan mereka.

Jika dia tidak dapat kabur, maka ia harus menghadapinya tantangannya.

Subaru menarik napas dalam-dalam, menahannya di dalam, dan melangkah maju.

Menjelajahi makam—mengambil segala risikonya, Subaru akan menantang ujian dan menyelamatkan sanct

[Subaru: —-?!]

Tepat ketika ia melangkah masuk, sensasi menyakitkan menghantam tulang kepalanya.

Rasa sakit itu seperti ribuan jarum menusuk langsung ke otaknya ketika cahaya pecah di depan penglihatannya sementara kakinya mendadak mati rasa. Tubuh bagian atasnya tumbang, dan, karena tidak dapat berdiri, Subaru pingsan di tempat.

Mual yang teramat-sangat menguasainya, membuat cairan empedu di perutnya berantakan. Subaru terbatuk-batuk hebat, namun tidak peduli seberapa banyak ia terbatuk dan tersedak, kelegaan tidak kunjung menghampiri tubuhnya.

Alarm! Alarm! Alarm bel telah berdering.

Terjebak dalam kombinasi bunyi dan kejanggalan ini, Subaru terengah-engah ketika ia terjatuh lalu merangkak ke bagian luar makam. Namun, secara naluriah dia tahu, jika ia mengambil satu langkah lebih dalam lagi, siksaan yang menggerogoti tubuhnya akan meledak dengan ganas.

[Subaru: U, gh … hha, ph, ua]

Subaru tertatih-tatih menyeret tubuhnya keluar dari makam, menggunakan salah satu dari bagian anggota tubuhnya—kedua tangannya.

Subaru memuntahkan seluruh isi perutnya berkali-kali.

Saat tubuhnya benar-benar ada di luar makam, penderitaan yang menyiksa tubuhnya menghilang. Sakit kepala, mual, mati rasa pada anggota tubuhnya memudar saat Subaru mendongak dengan mata berkaca-kaca,

[Subaru: Ah… ugh… itu tadi … apa…?]

Dia mengintip ke pintu masuk, tetapi tepat ketika dia mengulurkan tangannya untuk merangkak ke arah itu, tubuh dan pikirannya ragu-ragu.

Penolakan itu bukan karena trauma pada ujian, atau sejenisnya—semata-mata karena Subaru sadar bahwa makam telah menolaknya.

[Subaru: Apa, ini…?]

Makam itu menolaknya. Memahami hal ini, Subaru segera menyadari apa yang terjadi padanya.

Patrasche terluka ketika dia masuk ke dalam untuk membawanya keluar. Roswaal terluka parah ketika dia masuk untuk menantang ujian. Makam menolak mereka yang tidak memiliki kualifikasi untuk mengikuti ujian. Dan itu baru saja terjadi pada diri Subaru.

[Subaru: Mustahil…! Maksudku, itu artinya….]

Berdiri, terhuyung-huyung, Subaru mengerahkan keberanian untuk memasuki makam sekali lagi.

Tetapi, hanya dalam satu langkah saja, sesaat setelah kakinya memasuki makam, sakit kepala dan mual kembali menghantamnya sementara perasaan tidak enak yang luar biasa menghancurkannya sehingga ia bahkan tidak bisa berdiri.

[Subaru: Hha …  hha, hhah… h]

Tersandung mundur—mengambil napasnya yang kacau, Subaru menarik diri dari pintu masuk Makam. Upaya ini hanya mengkonfirmasi apa yang sudah dia sadari.

[Subaru: Wanita… keji itu!]

Pikiran Subaru dibanjiri oleh sosok penyihir berambut putih dalam balutan gaun kematiannya.

Sasaat setelah berpisah, dengan pasti ia bertanya pada Subaru,

“Apakah kamu akan meraih tanganku, atau tangan Satella?”

Dan Subaru menolaknya—mengulurkan tangannya untuk memilih Satella.

Jika ini adalah balas dendamnya atas pilihan Subaru, maka hal itu terlalu berlebihan—

[Subaru: Dan saat kupikir…?!]

Pada akhirnya, sikap sang penyihir yang menunjukkan kebaikan hati yang telah membuat Subaru hampir menganggapnya teman,

{Echidona: —Pendapat itu tidak salah}

Mendengar suara penyihir jahat yang seharusnya tidak dia dengar, Subaru melempar kepalanya ke belakang, menengadah ke langit,

[Subaru: Menghapus kualifikasiku! Kau tidak pernah mengatakan apa pun tentang ini?! Echidonaaaa!!!]

—Natsuki Subaru telah kehilangan kualifikasinya untuk mengikuti ujian untuk memerdekakan sanctuary.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded