Re:Zero Arc 4 Chapter 82 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Tipu Daya Bersama

[Subaru: Benar, lagi pula itu bukan karena pikiranku atau ada sesuatu yang salah…]

Dengan kedua tangannya di atas kristal, Subaru menyentuh kristal di hadapannya, memastikan bahwa dia tidak merasakan tanda-tanda darinya. Subaru menghela napas, kemudian menempelkan dahinya pada kristal yang keras, dingin dan seketika kehampaan membanjirinya.

Gadis yang tidur di dalam kristal—Lewes Meyer yang asli—tidak bereaksi terhadap ratapan Subaru. Meskipun tentu saja gadis yang sedang terjebak dalam tidur abadi itu tidak akan menjawabnya, namun kristal itu harusnya bereaksi.

[Subaru: Aku telah didiskualifikasi… jadi bahkan jika aku menyentuh kristal, Otoritas Komando tidak akan berpindah kepadaku, ya…]

Otoritas Komando atas tiruan Lewes Meyer adalah kekuatan yang hanya bisa dimiliki oleh seorang pengikut Penyihir Keserakahan.

Setelah menolak Echidona, kualifikasi Subaru untuk mengikuti ujian telah dicabut. Rupanya, dia dianggap tidak layak untuk peran itu.

Berdiri di dalam udara yang pengap dan bau, Subaru memegangi kepalanya ketika melihat secercah harapannya memudar.

Hal terburuk, hal yang buruk sekali sebelum ia mengkonfirmasinya, adalah trauma dari ujian kedua yang membuatnya ragu untuk masuk ke dalam makam. Jika benar begitu, maka masalahnya ada pada mental Subaru. Jika ia mencobanya lagi dan lagi, pada akhirnya ia akan dapat menaklukkan hatinya yang remuk untuk mengikuti kemauannya.

Namun, jika itu adalah sesuatu di luar kendalinya, maka tidak ada yang bisa dilakukan.

Fakta bahwa Subaru tidak dapat memasuki makam—berarti bahwa ia juga tidak akan dapat bernegosiasi langsung dengan Echidona untuk mendapatkan kembali kualifikasinya.

Bahkan jauh sebelumnya, secara naluriah Subaru mengingat perpisahan terakhir mereka, adakah Echidona ingin bertemu Subaru lagi?—Mungkin tidak, otomatis Subaru berpikir seperti itu.

Menyadari hal ini, Subaru mengerti bahwa jalan dengan menyelesaikan ujian itu sendiri sudah tidak dapat dipilih lagi, dan tugas membebaskan sanctuary harus dipercayakan kepada orang lain.

Dengan kata lain—

[Subaru: Emilia… ayo kita lakukan?!]

Berbicara lagi tentang kemungkinan yang paling dia takuti, keinginan tulus untuk mengutuk cara berbahaya Echidona meledak di dalam dirinya.

Echidona dapat membaca kenangan Subaru. Hanya dia yang dapat mengamati perulangan dunia yang Subaru lihat. Maka, Echidona harusnya tahu tentang Emilia, dan bagaimana hati dan pikirannya telah hancur karena terus-menerus menantang ujian sendirian.

Echidona juga pasti tahu bagaimana putus asanya, dan sejauh apa Subaru akan bertindak untuk menghindari hal itu.

Apakah Penyihir Keserakahan mengetahui hal ini dan dengan sengaja memaksa kesulitan ini pada Subaru dan Emilia?

[Subaru: Apa yang harus kulakukan, bagaimana melakukannya, apa yang harus kulakukan, apa yang harus kulakukan apa yang harus kulakukan apa yang harus kulakukan apa yang harus kulakukan apa yang harus dilakukan?!]

Subaru berusaha mencari solusi di dalam kepalanya, merasakan api membakar otaknya tanpa ampun. Tetapi, bahkan ketika ia berusaha menggali sel-sel otaknya yang sedang terbakar itu, Subaru tidak dapat menemukan jawaban apa pun.

Situasinya semakin buruk dan semakin memburuk, dan jumlah orang yang dapat ia andalkan semakin berkurang.

Seseorang yang memahami keadaan dan memiliki pemahaman yang cukup untuk mendengarkan kata-katanya.

Seseorang yang bisa menerima banyak informasi yang tidak bisa diakui, tetapi masih merupakan pasangan percakapan yang baik. Tidak ada yang akan terjadi jika merenungkannya sendirian. Dan dia tidak bisa mengandalkan Echidona lagi.

Yang berarti, sekarang hanya ada satu orang yang dapat ia ajak berbicara.

 

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

 

[Roswaal: A~ku sejujurnya tidak menyangka kau akan berkunjung selarut i~ni]

[Subaru: ….Benar, tapi kenapa aku merasa kau sudah menyiapkan semuanya dan duduk menungguku? Kau tidak memadamkan lampu untuk tidur, dan sepertinya kau baru saja menyalakan lilinnya]

[Roswaal: Aaha, jahat seka~li. Tapi, yah, tebakanmu tidak sa~lah]

Duduk di tempat tidur sambil bersandar di bantalnya, Roswaal menyambut Subaru dengan senyum di wajahnya. Sementara sebagian besar lampu di kediaman Roswaal padam, lilin yang menyala di meja samping tempat tidurnya yang kecil baru saja diganti, cahaya kuningnya berkedip saat menerangi ruangan.

Api lilin yang berkedip-kedip secara misterius menimbulkan bayangan menakutkan di wajah Roswaal yang putih. Melihat ini, Subaru menelan ludahnya saat kepalanya mulai menyusun kata-kata yang hendak ia sampaikan.

Jika pemikiran Subaru benar, maka percakapan dengan Roswaal ini akan–

[Roswaal: Ja~di? Kau datang kepadaku tengah malam begini karena suatu alasan? Ja~ngan bilang kau ke sini untuk merayuku dengan pengakuan kerinduan yang mengharu bi~ru?]

[Subaru: ….Kurasa itu kesalahan … kupikir kurang tepat menyebutnya pengakuan. Roswaal, adakah cara lain untuk membebaskan sanctuary tanpa menyelesaikan ujian?]

[Roswaal: —-]

Hanya dengan kalimat itu saja, senyum Roswaal melebar, menyiram Subaru dengan rasa dingin yang mengerikan.

Faktanya, celah bibir badut yang tersenyum itu tertarik lebar. Membelai rambut biru panjangnya, dia mengangguk beberapa kali, menatap Subaru dengan matanya yang kuning cemerlang,

[Roswaal: Subaru kecil…. Sekarang ini percobaan yang mana yang sedang kau lakukan?]

Pertanyaan itu mengambil kendali dari percakapan dengan menyiratkan bahwa mereka berdua tahu tentang apa yang diketahui satu sama lain.

Karena itu, Subaru harus mengaku sambil memodifikasi informasi yang dimiliki Roswaal.

Bernafas dalam waktu singkat, Subaru mengangkat bahu dengan gerakan yang sedikit dipaksakan.

[Subaru: ini buruk, yang ini bahkan berkali-kali lebih bodoh untuk dihitung. Aku bahkan tidak ingat lagi sudah berapa kali kita saling menyelidiki seperti ini]

[Roswaal: Jadi… begitu. Aku me~ngerti. Kalau kau berkata seperti itu… seperti~nya aku harus mempercayai~mu?]

[Subaru: Jadi, bagaimana?]

Subaru mengalihkan pandangannya, berusaha menghindari tatapan Roswaal dan mempercepat pembicaraan.

Namun, dia tidak mengabaikan fakta bahwa kata-katanya telah membuat pipi Roswaal semakin menegang, atau bahwa dia telah mengambil inisiatif dengan langkah pembukaannya.

–Sementara Roswaal tahu bahwa Subaru telah mengulang-ulang kehidupannya, tidak seperti Subaru, dia tidak dapat mengingat apa pun dari kehidupan sebelumnya.

Ini adalah sesuatu yang dipelajari Subaru dalam kehidupannya di mana Roswaal mengungkapkan pengetahuannya tentang Return by Death. Di situ pula Subaru menyadari tekad Roswaal yang tidak dapat dipahami, meskipun Roswaal tahu kematiannya tidak dapat dihindari, ia masih berusaha menggunakan Return by Death Subaru untuk mencapai hasil yang ia inginkan.

Bahkan sekarang, Subaru masih menganggap pemikiran itu tidak adil dan menjijikkan, namun—

[Subaru: Aku sedang coba-coba sekarang. Jadi, bantuanmu akan sangat berarti buatku]

Mengatakan seolah-olah ia sedang mencemooh dirinya sendiri, Subaru memberikan kesan bahwa dirinya “bertindak sesuai dengan niat Roswaal”.

Tidak ada keraguan bahkan sampai titik ini, Roswaal tentu lebih banyak tahu tentang detail bagian dalam rahasia sanctuary daripada Subaru. Tidak jelas berapa banyak kejadian selanjutnya yang dapat direkam oleh kitab Roswaal, dan mengetahuinya bukan tugas yang mudah.  Tetapi, mengingat gumaman Roswaal ketika ia melihat Kelinci Besar, Subaru menyimpulkan bahwa kitabnya tidak merekam sejauh itu.

Dengan kata lain, selama dia memilih kata-katanya dengan hati-hati, ada kemungkinan Subaru bisa menipu Roswaal sambil mengambil informasi darinya.

[Roswaal: Dan dalam “coba-cobamu” itu kau berusaha membebaskan sanctuary tanpa melalui ujian… bukan begitu? Jika benar, tekadmu pa~yah sekali. Dengan kutukanmu sekarang, kau dapat melakukan upaya yang tak terbatas dan mengatasi kesulitan apa pun. Aku tidak tahu berapa kali kau telah mencoba… tapi menyerah untuk mencari cara yang la~in… pastinya menandakan lemahnya tekadmu, kan?]

[Subaru: Bagiku mempertaruhkan segalanya dengan keras kepala untuk menyelesaikan ujian itu bukan cara yang cerdas. Tetapi, jika ada metode yang lebih cerdas, aku akan memilihnya, itu saja. Sangat konyol jadinya kalau mengedepankan gaya, dan bukan tujuan sebenarnya. Yang penting adalah fakta bahwa kita melarikan diri dari tempat itu dan Emilia akan mendapat prestasi dari situ … aku benar ‘kan, Roswaal?]

Sambil menjaga wajahnya tetap tenang dan stabil, satu per satu, Subaru mengamati kata-katanya sendiri secara langsung saat ia berbicara. Tugas meneliti setiap kata sesaat sebelum kata-kata itu meluncur dari lidahnya membuat sarafnya tegang tidak karuan, tetapi, tanpa melakukan itu, dia tidak akan punya peluang untuk menipu Roswaal.

Kesenjangan yang buruk–kemungkinan besar, ini adalah Subaru yang ingin dilihat Roswaal.

Tidak ada keraguan bahwa Roswaal ingin menjadikan Emilia ratu, dan meminta Subaru untuk mewujudkannya. Selain itu, Subaru membayangkan bahwa semakin kasar sarannya, akan menjadi semakin sesuai dengan selera Roswaal.

Dan, tentu saja,

[Roswaal: Begi~tu…. Memang itulah jawa~ban yang kusu~kai]

Roswaal tersenyum puas atas jawaban Subaru.

Subaru hampir tidak melihat perubahan warna ekspresi pada wajah Roswaal, karena permukaan wajahnya tertutupi dengan makeup badut berwarna putih, Subaru menggigit bagian dalam pipinya sambil melakukan yang terbaik untuk menjaga ekspresinya tetap tenang.

Pandangan Roswaal yang gelisah menunjukkan bahwa ia menganggap Subaru memiliki keturunan yang sama dengan dirinya. Dengan kata lain, Roswaal menganggap Subaru sama dengan dirinya yang tidak berperasaan. –hal itu menimbulkan kejijikan dalam hati Subaru.

Tetapi semakin Subaru mencoba memikirkan perbedaan di antara mereka, semakin jelas ia menemukan perbedaannya sendiri.

[Roswaal: Walau~pun aku tentu senang melihat perubahan dalam cara berpikirmu, menjawab pertanyaanmu bukan perkara mu~dah. Tidak ada bukti nyata. Lagi pula, barrier itu tidak pernah rusak sejak ditempatkan di sana. Aku tidak pernah membayangkan kemungkinan adanya celah di suatu tempat, karena, mengingat siapa yang memasangnya, sebaiknya jangan menjadi terlalu opti~mis.]

[Subaru: Barrier itu milik Echidona?!]

[Roswaal: Tepat seka~li. Makam sanctuary adalah kuburannya, dan barrier itu adalah sesuatu yang dia dirikan seumur hidupnya untuk menjaga agar bahan eksperimennya tidak kabur ke mana pun…. Ya~aku yakin kau sudah tahu tentang hal i~tu]

[Subaru: Ya, tentu saja. Asal tahu saja, aku sudah tahu tentang Lewes Meyer di fasilitas di hutan. Itu dan tiruannya, dan bagaimana Garfiel memiliki Otoritas Komando]

[Roswaal: Aha~a, bagus, itu memperce~pat banyak hal]

Sementara Roswaal secara bertahap mengungkapkan informasi, Subaru juga dengan hati-hati mengungkapkan kartunya. Menanggapi respons tersebut, Roswaal memejamkan satu matanya, dan menghembuskan napas dalam posisi seolah-olah sedang berpikir.

[Roswaal: Pembebasan sanctuary adalah pencapaian yang sangat diperlukan jika Nona Emilia ingin menjadi ratu. Jika dia ti~dak melakukannya, orang-orang sanctuary dan penduduk desa Arlam tidak akan memberikan dukungannya]

[Subaru: Selama kita bisa menempatkan mereka di luar, kita dapat dengan mudah mengatasi bagian itu nanti. Selain itu, ini bukan satu-satunya kesempatan baginya untuk mengumpulkan prestasi. Sebenarnya ini waktu yang sangat buruk, jadi jika kita memilih waktu lain untuk ….]

[Roswaal: Lain waktu? Kena~pa kau membicarakan soal itu lagi?]

Melihat mata Roswaal melebar bingung, Subaru menyadari bahwa ia telah salah bicara.

Setelah dengan susah payah membulatkan tekadnya dan memantapkan hatinya atas kematian yang tidak ada habisnya—dirinya sekarang ini adalah hasil dari semua itu.

Dalam pemikiran Subaru yang kejam itu, tidak ada alasan dia akan melewatkan kesempatan untuk mengambil prestasi tepat di depannya.

Berusaha untuk mencegah penyesalan terpampang di wajahnya, sebelum keraguan Roswaal menjadi semakin dalam, [Pikirkan saja!] Subaru melanjutkan,

[Subaru: Seperti yang kau tahu, tentu saja aku masih ingin menjadikan Emilia sebagai ratu. Jadi jangan salah paham, tapi, mengingat bagaimana aku bisa datang ke masa depan dan kembali dengan semua informasi yang dibutuhkan, membebaskan sanctuary itu tidak penting dan tidak benar-benar melibatkan banyak orang. Kita bisa menempatkan upaya kita ke hal-hal yang lebih penting seperti Paus Putih dan para penyihir sebagai gantinya.—Tempat ini tidak sepadan dengan usaha yang kita lakukan]

[Roswaal: ….Tidak-tidak, kita perlu membebaskan sanctuary. Biar kuperjelas: poin itu tidak bisa dikompromikan. Kau tahu, aku masih meragukan beberapa hal tentang kekuatan~mu]

[Subaru: Keraguan….?]

Subaru memiringkan kepalanya ketika pembicaraan berubah aneh. Melihat ini, Roswaal mengangguk.

[Roswaal: Aku~tidak dapat mengkonfirmasi dengan mata kepala saya sendiri apa yang dapat dilakukan oleh kekuatanmu. Mungkin juga aku tidak yakin dengan alasan~mu. Meskipun tentu saja, begitu hasilnya masuk, aku tidak punya pilihan selain menerima~nya]

[Subaru: … …]

[Roswaal: Aku dapat mengatakan dengan pasti bahwa menjadikan Nona Emilia sebagai ratu, kekuatanku… dan dukungan dari Keluarga Mathers sangat diperlu~kan. Membebaskan sanctuary adalah satu hal yang dapat meyakinkanku bahwa kekuatanmu untuk membantu Nona Emilia adalah asli, dan hanya pada saat itu, hubungan yang baik di antara kita dapat terjalin. Aku ingin kamu memaha~mi ini]

Roswaal menyipitkan satu matanya ketika Subaru terdiam oleh argument kukuh si badut.

Semua yang dikatakan Roswaal benar, dan Subaru tidak bisa memikirkan bantahan yang berguna.

Emilia membutuhkan seseorang untuk mendukungnya jika dia ingin berdiri di atas panggung itu sebagai kandidat ratu kerajaan, dan tidak ada orang yang berpengaruh selain Roswaal yang mau melakukannya. Yang bisa dilakukan Subaru hanyalah menerima ini sebagai kenyataan, tidak ada jalan lain.

Mengikuti perintahnya agar tidak mengecewakan pendukungnya akan menjadi tindakan yang benar. Pandangan Roswaal sangat kuat, dan siatuasi ini memang sangat mendesak.

Tapi, bahkan ketika dihantam oleh gelombang nalar itu, Subaru masih merasa ada sesuatu yang salah tentangnya.

Terdengar seakan-akan Roswaal terobsesi untuk membebaskan sanctuary.

[Subaru: Ini agak tidak sesuai topik pembicaraan, tapi….]

[Roswaal: Hm? Ada a~pa?]

Melihat Subaru mengangkat satu jari untuk menarik perhatiannya, Roswaal memiringkan kepalanya.

Mengunci pandangannya ke satu matanya yang berlainan, Subaru berbicara.

[Subaru: Kenapa kau terobsesi sekali untuk membebaskan sanctuary, tidak peduli resikonya?]

[Roswaal: —-]

Roswaal diam, tidak menjawab pertanyaan itu.

Diam, saat senyumnya semakin dalam dan mata kuning cemerlangnya menusuk Subaru.

—Subaru dapat merasakan di permukaan kulitnya bahwa suasana percakapan ini telah berubah.

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded