Re:Zero Arc 4 Chapter 83.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Saling Mengaku, bagian 1

Merasakan bulu kuduknya berdiri, Subaru menyadari bahwa pengalihan topik pembicaraan baru saja menyentuh inti dari niat Roswaal.

Sesaat setelah topik pembicaraan baru, Senyum terukir di wajah Roswaal, senyum yang sama dengan—sebelum ia dimakan Kelinci Besar di area bersalju ketika mengungkapkan sebagian dari rencananya.

Ekspresi itu bukan pasrah ataupun gembira, ekspresi itu membuat alarm di dalam hati Subaru menyalakan tanda bahaya.

[Roswaal: He~y, dari mana datangnya ide itu?]

Terlambat, pertanyaan Roswaal barusan tidak menunjukkan niatnya untuk berganti topik. Mendengar hal ini, Subaru mendecakkan lidahnya—berkata kata-kata tidak jelas. “Bahkan jika kamu mengatakan itu!“.

[Subaru: Ada sesuatu yang salah tentang caramu menolak saranku barusan. Ketika kau menempatkan syarat seperti “sanctuary harus dibebaskan” tepat di bagian paling atas, tentu saja aku akan curiga]

[Roswaal: Tapi aku sudah memberimu penjelasan yang sangat lo~gis? Selain itu, demi kerja sama kita di masa depan, beberapa bukti diperlu~kan. Bukti yang menunjukkan bahwa kau dapat diandalkan sebagai pendukung Nona Emilia yang meyakinkan—dan kau dapat selalu memberikan solusi terbaik di sisinya; itulah yang aku butuhkan, dan kau harus meyakinkanku. Persyaratan untuk itu adalah dengan membebaskan sanctuary]

[Subaru: Tapi menurutku hal itu tidak harus dengan membebaskan sanctuary. Metode seperti melarikan diri dan lain-lain harusnya juga bisa, kan? Kalau kau ingin memberiku kesempatan untuk membuktikan diri, kau dapat mengatur banyak cara nanti….]

Sebagai balasan atas desakan Subaru, Roswaal mengangkat satu jari, memotong kalimat Subaru. Subaru terdiam saat Roswaal mengangguk tenang,

Roswaal: Izinkan aku bertanya sesuatu?]

[Roswaal: Kau~lah yang tampaknya sangat si~buk dengan ujian itu? Hampir seolah-olah kau tidak ingin sanctuary dibebaskan karena suatu alasan pribadi?]

[Subaru: Tentu saja aku ingin itu dibebaskan! Aku ingin agar barrier itu dihancurkan sesegera mungkin dan memindahkan masalah yang tidak dapat kita selesaikan di sini ke luar … … tapi]

[Roswaal: Tapi?]

Subaru menyadari ia telah berada di atas telapak tangan Roswaal ketika ocehan tidak jelas mulai keluar dari mulutnya. Jika ia melanjutkan berteriak dan melontarkan argumennya tanpa berpikir, permainan tipu daya ini akan dimenangkan oleh Roswaal.

Setenang mungkin, Subaru mengambil kata-katanya:

[Subaru: Aku tidak ingin melihat hati Emilia terluka karena menjalani ujian itu]

[Roswaal: Tapi bukankah saat itulah otoritasmu berguna? Jika Nona Emilia gagal dalam ujian, kau akan selalu dapat menggantikannya. Masalahnya di mana? Yang penting sanctuary bebas, itu adalah perkataanmu sendiri]

[Subaru: Nh, gh….]

Terpojokkan oleh kata-katanya sendiri, Subaru menggigit bibirnya, mencari-cari sesuatu untuk dikatakan. Tetapi, menyatakan serangkaian omong kosong tidak akan menghasilkan jawaban yang masuk akal.

[Subaru: Tentu saja aku tidak masalah menggantikan Emilia menyelesaikan ujian. Menggali luka masa lalunya terlalu menyakitkan untuk Emilia. Aku tahu aku harus menggantikannya … hanya saja….]

[Roswaal: Kumohon, jangan katakan padaku bahwa kau sekarang sedang berusaha menghindari ujian itu karena ujiannya terlalu menya~kitkan juga untukmu?]

Tatapan Roswaal mengeras, ketajaman kata-katanya menusuk Subaru.

Roswaal melanjutkan berbicara kepada Subaru yang masih bingung.

[Roswaal: Tidak, tidak.…]

[Roswaal: Untuk menyelamatkan dirimu dari rasa sakit… jika itu alasanmu mencari jalan keluar lain, hanya sebatas itukah perasaan~mu untuk Nona Emilia?]

[Subaru: Bukan begitu…!]

[Roswaal: Bukan begitu? Sungguh? Bagaimana mungkin kau mengatakan itu? Siapa yang akan mempercayai kata-katamu barusan? Jika kau memang peduli pada Nona Emilia, bukankah kau harus menelan semua rasa sakit dan penderitaan itu? Jika kau mencintai Nona Emilia, kau harusnya mampu melaku~kannya? Kalau kau benar-benar memprioritaskan Nona Emilia di atas segala-galanya, dan menghargainya dengan seluruh hidupmu… tentu saja tidak boleh ada masalah lain, bukan begitu?]

Pidato Roswaal yang lancar dan tidak dapat terbantahkan seolah-olah sudah siap menelan Subaru.

Meskipun kata-kata Roswaal dalam mengartikan terlihat berlebihan, siapa pun yang memahami Return by Death Subaru kemungkinan akan mencapai kesimpulan yang sama. Mungkin, jika ia belum mendengar perasaan Satella pada pesta teh terakhir, Subaru akan mendapati dirinya setuju dengan logika ini.

―Ya, pasti begitu.

Subaru ingin berteriak kepada Roswaal bahwa dia tidak akan pernah menjadi seperti Subaru dan mengorbankan segalanya untuk suatu hal yang paling penting baginya.

Tetapi, jika dia menerima bantuan Echidona di pesta teh, saat ini Subaru mungkin akan hidup persis seperti yang diinginkan Roswaal.

Mengabaikan pikirannya, menghilangkan semua pilihannya, hanya mencari hasil, tidak mempedulikan hal lainnya.

Tidak peduli berapa banyak dia terluka, selama Emilia dan semua orang tersenyum di masa depan yang diinginkan, maka itu baik-baik saja. Itulah yang dia pikirkan.

Tetapi, apakah Natsuki Subaru, setelah memilih untuk menahan penderitaan itu, dapat tersenyum bersama mereka di akhir?

―Atau apakah dia hanya akan mengusahakan sesuatu yang dipaksakan dan tak berarti, karena rasa kewajiban untuk tersenyum?

[Subaru: …Dalam arti tertentu, apa yang kau katakan itu benar, Roswaal]

[Roswaal: Dalam arti tertentu?]

Dengan menyipitkan satu matanya, Roswaal memiringkan kepalanya ke jawaban Subaru yang penuh makna.

Menahan mentalnya agar tidak ambruk di bawah tatapan mata kuning itu, Subaru mengucapkan kata-katanya,

[Subaru: Seperti yang kau katakan, jika aku membuang semuanya dan pergi hanya untuk melindungi Emilia … aku dijamin bisa menyelamatkannya. Tapi itu saja tidak cukup]

[Roswaal: Tidak cukup…?]

[Subaru: Aku akan menyelamatkan Emilia. Tapi bukan hanya Emilia. Rem, Beatrice, dan semua orang di sanctuary! Semua orang di mansion! Semua orang yang membantuku di Ibukota! Aku ingin menyelamatkan mereka semua, bersama-sama!]

[Roswaal: —–]

[Subaru: Gaya hidupmu untuk puas hanya dengan satu orang tidak cocok untukku. Jujur, aku tidak yakin apakah aku atau kau yang serakah di sini]

Secara konsisten berharap pada satu orang dan meninggalkan segalanya untuk satu orang itu, dalam pandangan tertentu, terlihat indah.

Seseorang bahkan dapat mengatakan bahwa tidak ada impian yang lebih indah daripada hidup dengan cinta seperti itu.

Mungkin cara Roswaal hanyalah idelisme satu orang yang dijalani dengan berlebihan.

Tetapi untuk benar-benar melakukannya membutuhkan tekad yang tak tertandingi. Menjelajahi jiwanya dan membuang segalanya kecuali yang paling berharga baginya bukanlah gaya hidup yang bisa dijalani Subaru.

Seperti biasa, Subaru terlalu picik―egois seperti anak kecil.

[Roswaal: ….Seperti~nya itu masih belum cukup untuk mempertajam tekadmu]

[Subaru: ….]

[Roswaal: Untuk sesaat… itu benar, untuk sesaat, aku punya harapan. Agar aku bisa hidup untuk melihat masa depan yang kuinginkan. Tapi… sepertinya itu tidak akan terja~di]

Disertai ucapan yang menyedihkan, Roswaal menggelengkan kepalanya.

Percakapan mereka telah mengungkapkan kepada Roswaal bahwa Subaru masih kekurangan tekad yang Roswaal harapkan ada pada diri Subaru.

Dibandingkan dengan Subaru Roswaal yang tidak berperasaan dan mengutamakan hasil, Subaru yang sekarang hanyalah kegagalan yang tidak memuaskan. Pada saat yang bersamaan, bagi Roswaal, ini berarti tidak kurang dari melihat titik akhir hidupnya sendiri.

[Roswaal: berapa kali lagi…. Kau akan mengecewa~kanku?]

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded