Re:Zero Arc 4 Chapter 83.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Saling Mengaku, bagian 2

Subaru: Itukah yang kau rasakan? Maka, harusnya kau bisa menjadi sedikit lebih berkerja sama dengaku. Seandainya kau bisa lebih terbuka untuk membantuku, sebagian besar masalah kita dapat diselesaikan sekarang]

Subaru membalas kekecewaan Roswaal dengan hinaan. Kenyataanya, karena sangat kekurangan kekuatan tempur, Subaru sangat membutuhkan kekuatan Roswaal. Keajaibannya yang luar biasa yang menghujani hutan Mabeasts (Monsterma) dan teknik-teknik presisinya yang membantai para kelinci—melawan ancaman Kelinci Besar akan menjadi mustahil tanpa bantuan Roswaal.

Sebaliknya, jika Subaru bisa mendapatkan bantuan Roswaal, itu saja cukup untuk menyelesaikan sebagian besar masalah sanctuary.

Namun, Roswaal menggelengkan kepalanya pada permintaan murahan Subaru yang penuh semangat, namun murahan,

[Roswaal: Maaf, tapi aku menolak. Bekerja sama denganmu yang seperti ini, akan sa~ngat tidak menguntungkan untukku. Secara hipotesis… ya, anggaplah bahwa aku membantumu, dan kau mengatasi situasi ini. Tekadmu akan tetap tidak pasti, lalu kau dan Nona Emilia pasti akan menghadapi hambatan lain di masa depan… akankah kau mengandalkanku lagi pada saat itu? Kau menunda-nunda memantapkan tekadmu di sini—sekarang—hanya agar kau gentar lagi ketika kau jatuh ke situasi yang sama, dan lagi-lagi mengandalkan orang lain?]

[Subaru: ….]

[Roswaal: Karenanya, Subaru kecil, aku… tidak bisa memberikan bantuanku kecuali kepada seseorang yang dengannya aku bisa mempercayakan tujuanku. Aku tidak butuh benalu untuk mencapainya. Jadi, aku ingin kau melakukan apa yang dapat kau lakukan untuk meyakinkanku kalau kau punya tekad yang kuat untuk maju]

[Subaru: Tujuan … mu…]

[Roswaal: Sayangnya, tampaknya kali ini … tidak akan terpenuhi. Aku harus menunda harapanku untuk lain waktu. Ketika kau benar-benar … dan tidak diragukan lagi dapat menerima keberadaan kutukanmu]

Mengakhiri kata-katanya, tubuh Roswaal berbaring miring seolah kehilangan kekuatannya.

Bagi Roswaal, dirinya yang sekarang sudah kehilangan alasan untuk hidup. Yang tersisa untuk dilakukan hanyalah menyaksikan Subaru gagal dan mundur, membawa akhir dunia ini.

Jika percakapan berakhir di sini, Subaru tidak akan mencapai satu hal pun yang ia inginkan.

Ketika dia menyaksikan Roswaal menarik diri, melambaikan tangannya mendesaknya untuk meninggalkan ruangan, Subaru dengan putus asa memaksa pikirannya untuk berpikir,

[Subaru: …. Jadi apa yang harus kutunjukkan untuk meyakinkanmu tentang tekadku?]

[Roswaal: Hmmmm … jujur, kuharap kau sudah mengetahuinya dari percakapan kita sampai seka~rang. Mengulang berkali-kali, lalu bertanya pada akhirnya, benar-benar membuang-buang waktu]

Tertarik oleh kata-kata Subaru, Roswaal duduk sekali lagi dan memegangi dagunya,

[Roswaal: Singkatnya, membebaskan sanctuary adalah satu-satunya yang dapat meyakinkanku. Tindakanmu sangat diperlukan untuk pembebasan sanctuary, dan kau harus memiliki tekad yang tak tergoyahkan untuk mengulang sebanyak yang diperlukan. Pembebasan sanctuary itu sendiri akan menjadi bukti dari tekad itu]

[Subaru: Tapi kenapa begitu? Tentu, hal itu mungkin jawaban paling jelas, kalau memang ada jawabannya, tapi, jika hanya menghadapi ujian itu… apa hubungannya itu dengan resolusiku untuk mengabaikan hal-hal lainnya? Maksudku, ada juga kemungkinan Emilia bisa melewati ujian sendiri dan…]

[Roswaal: –Tidak ada kemungkinan seperti itu]

Merasa pernyataan Roswaal yang agak terlalu berlebihan, Subaru segera menyuarakan keraguannya. Tapi, tanggapan Roswaal dingin dan memotong.

Ketajaman itu membuat Subaru bergidik ngeri, sementara Roswaal mengibaskan jarinya,

[Roswaal: Harapanmu yang singkat tidak a~kan membuahkan hasil. Nona Emilia tidak akan pernah menyelesaikan ujian itu. Hati makhluk itu terlalu lemah]

[Subaru: Makhluk… itu?]

[Roswaal: Tepat. Aku yakin sebagian dari hal itu berkaitan dengan pengasuhannya dan kebiasaan yang sudah menempel padanya, tetapi hal itu tidak berguna. Ia bahkan tidak bisa berdiri sendiri, seperti anak kecil yang lemah dan rapuh. Melihat caranya mendorong dirinya keluar dari rasa bersalah dan penyesalan, hal itu sangat mengagumkan sehingga aku bahkan merasa kasi~han]

Mendengar Roswaal berbicara tentang Emilia dengan cara yang belum pernah ia dengar sebelumnya, Subaru kehilangan kata-kata.

Emilia yang pemberani, ulet, baik hati, bersemangat dan penuh keyakinan, untuk sementara, terseret oleh nasib buruk dan tidak mampu menyelesaikan ujiannya, gadis itu pasti akan mengatasinya dan membebaskan sanctuary dengan kekuatannya sendiri jika saja dia diberi tambahan waktu. Subaru tidak pernah meragukan hal ini.

Satu-satunya alasan Subaru ingin mengambil ujian menggantikan Emilia adalah bahwa mereka tidak punya waktu, dan bahwa Subaru tidak tahan melihat Emilia tersiksa.

Tentu saja bukan karena ia telah menyerah pada Emilia atau mengira gadis itu tidak mampu melewati ujian.

[Subaru: Bagaimana bisa kau bilang … bahwa Emilia tidak mampu… lalu mengapa? lalu mengapa kau melibatkannya sejauh ini?!]

[Roswaal: Karena kau. Karena kau ada di sini, bahkan makhluk setengah elf yang lemah dan tidak berdaya bisa bercita-cita untuk naik takhta. Tidak, dia akan naik takhta. Itu pasti. Karena kau akan menghapus semua nasib lain dan memastikan bahwa keinginannya terwujud. Itulah kekuatan yang ada padamu. Jika Nona Emilia memiliki nilai, itu adalah fakta dia memegang kartu terkuat—yaitu kau]

[Subaru: Aku … kartu terkuat….?]

Mendengarkan pernyataan Roswaal yang memusingkan, memanggilnya ” kartu terkuat “, klaim aneh itu membuat isi kepala Subaru berantakan.

Itu adalah kata yang benar-benar asing bagi dirinya yang tidak berdaya. Selain itu, hinaan Roswaal kepada Emilia adalah tidakan yang tidak termaafkan.

[Subaru: Apa kau sedang bercanda?! Apa yang akan kau … apa yang kau tahu tentang betapa kerasnya Emilia mencoba, pemikiran seperti apa yang terlintas di kepalanya, dan seberapa banyak dia menderita karena ujian bodoh itu?! Dipaksa menyaksikan masa lalu yang tidak ingin dilihatnya, tetap saja, dia… apakah kau tahu betapa putus asanya dia mencoba?! Namun, kau…!]

[Roswaal: Jika semua itu tidak membuahkan hasil, maka usahanya sia-sia. Aku yakin kau lebih ta~hu soal itu daripadaku. Jika upaya Nona Emilia berhasil, kau tidak perlu da~tang menemuiku]

[Subaru: ——hk!]

Protes Subaru tidak membuat sedikitpun mengusik ketenangan Roswaal. Sebaliknya, seolah disiram oleh air dingin di panasnya gairah, Subaru benar-benar tak bisa berkata-kata.

Faktanya, pernyataan Roswaal kurang-lebih benar.

Sejauh yang dilihat Subaru, Emilia tidak pernah maju melampaui ujian pertama. Meskipun menantang dengan semua yang ia miliki, setiap kali ia digagalkan oleh barikade masa lalunya, hatinya menajadi semakin rapuh.

Tidak dapat mengandalkan Puck tepercaya saat jiwanya terkikis, Emilia mengira ketergantungannya pada Subaru sebagai bentuk cinta, dan hancur.

Karena dia tahu masa depan itu, Subaru tidak bisa menyangkal Roswaal dengan emosi di sini. Tapi, tidak mungkin dia bisa diam-diam menyaksikan Roswaal menghina Emilia.

Roswaal, yang telah menghina Emilia dan berharap terlalu banyak pada Return by Death Subaru—adakah cara untuk menghapus wajah sombongnya?—Saat ia memikirkan hal itu, Subaru berteriak,

[Subaru: Ya! Aku mengerti apa yang kau katakan sekarang! Tapi tahukah kau?! Tidak ada hasil yang akan datang dari rencanamu!]

[Roswaal: Oh? Kenapa bagitu…?]

[Subaru: Kau sepertinya berharap aku akan menggantikan Emilia dan menjalani ujian… tapi Echidona sudah mencabut kualifikasiku! Hasil yang kau harapkan tidak akan datang dariku! Sayang sekali, bukan…!]

Sambil memegangi dadanya, Subaru berteriak pada wajah Roswaal yang tenang.

Yang satu itu menyakitkan untuk Subaru, namun bagi rencana Roswaal—fakta ini akan berarti sangat, sangat buruk. Mengetahui bahwa mustahil bagi Roswaal untuk tetap tenang begitu dia mengetahui hal ini, Subaru akan mengerutkan wajahnya menjadi senyum yang kacau, ketika,

[Roswaal: —Mencabut…. Kualifikasimu?]

Mendengar gumaman, sedih dan lemah, Subaru menyadari bahwa itu berasa.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded