Re:Zero Arc 4 Chapter 83.3 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Saling Mengaku, bagian 3

Di depan matanya, tubuh Roswaal merosot ke tempat tidur, terlihat kaku. Kedua matanya yang tidak serasi sekarang melotot lebar, menatap Subaru, sementara bibirnya bergetar.

Sikapnya yang percaya diri seperti biasanya, sifat yang selalu tampak elegan, sifat yang tahu segalanya, dan keanehan yang tidak berwujud―semuanya telah terkelupas.

[Roswaal: Apa … maksudnya … itu…?]

[Subaru: Apa maksudnya? …. Ya be-begitulah]

Menjawab pertanyaan bergetar itu, Subaru tanpa sadar menjawab dengan suara gugup.

Suara itu sama sekali tidak terdengar seperti Roswaal yang ia tahu, Subaru menelan ludahnya, tenggorokannya setandus gurun.

[Subaru: Echidona … dia mendiskualifikasiku. Lupakan soal Otoritas Komando dan tiruan-tiruan Lewes, bahkan melangkah ke dalam makam membuat kepalaku sakit…. Aku berada di posisi yang sama seperti kau sekarang, tidak bisa masuk bahkan jika aku mencoba]

[Roswaal: Kenapa? Apakah … tidak … bagaimana ini bisa terjadi? Kau harus mengambil ujian dalam makam… jika tidak … pembebasan sanctuary … dan permintaannya….]

Sambil memegangi bibirnya, Roswaal mengeluarkan gumaman kosong ini dengan ekspresi tak percaya.

Melihat reaksi tegang yang tak terduga ini, Subaru kehilangan kata-kata saat dia menyadari bahwa ramalan yang dilakukannya lebih dari sekadar membalas dendam. Bukan hanya dalam rangkaian perulangan ini, tetapi sejak hari mereka bertemu, ini adalah pertama kalinya Subaru melihat Roswaal panik. Dibagian mana dari kata-katanya yang bisa mengejutkannya sampai tingkat ini?

Namun, Subaru hanya menelan nafas, dan,

[Subaru: Dalam kitabmu… apakah dikatakan bahwa aku akan mengatasi ujian?]

[Roswaal: ――――]

[Subaru: Aku tahu bahwa jika hal-hal tidak mengikuti isi kitabmu, Kau akan siap untuk menyerah pada segalanya. Tetapi jika kau telah memutuskan bahwa menyelesaikan ujian itu adalah pekerjaanku.… Itu tidak akan terjadi sekarang]

Sama seperti bagaimana kemenangannya atas ujian pertama, dan bagaimana para penyihir tampaknya berbagi ingatannya tentang Return by Death, Kastil Mimpi si Penyihir Keserakahan terletak di luar aturan dunia ini.

Bahkan jika dia mengulangi semuanya ketika ia mati, kenangan tentang pertemuan mereka di Kastil Mimpi tidak akan pudar. Itulah sebabnya ia merasa diselamatkan di tempat itu, dan mengapa ia memiliki sedikit rasa sayang pada Echidona. ―Dan itu sebabnya, Subaru tahu bahwa….

Bahkan jika dia mati dan kembali ke makam, kualifikasinya tidak akan dipulihkan.

Subaru akan membutuhkan izin Echidona untuk mendapatkan kembali kualifikasinya, tetapi untuk menerima izin Echidona, ia perlu memasuki makam, dan sebelum memasuki makam, ia membutuhkan kualifikasi.

―Singkatnya, Subaru benar-benar kehilangan cara untuk menantang ujian itu.

[Roswaal: Apakah ada … cara lain agar kau bisa mendapatkan kembali kualifikasi?]

[Subaru: Jika ada, kau tahu lebih baik dariku. Jika kau mengatakan kau tidak tahu, lalu bagaimana aku bisa tahu]

Saat menjawab bisikan samar Roswaal, didalam dirinya, Subaru menyadari kemungkinan.

Kemungkinannya, Echidona akan menyaksikan perjuangan Subaru saat ini juga dari dalam makam. Seolah merajuk setelah Subaru menolak bantuannya, dia pasti menunggu untuk melihat apa yang bisa Subaru lakukan dengan menerima Satella.

Jika jalan itu berakhir dengan kegagalan, dan akhirnya dia menyerah dan kembali menangis kepada sang penyihir yang telah dia tolak, mungkin Echidona akan menawarkannya bantuan sekali lagi.

―Namun, jika dia menerima bantuan Echidona maka, itu berarti menghianati semua hal yang ia katakan kepada Satella, dan juga semua perasaan yang ia pendam dalam hatinya saat ini.

Subaru akan mengantarkan Emilia ke masa depan terbaik pada akhirnya.

Bahkan jika hanya itu satu-satunya jalan keluar, itu lebih baik daripada hancur berkeping-keping di tengah jalan.

[Roswaal: Jika kau memundurkan dunia, bisakah kau kembali ke waktu sebelum kualifikasimu dicabut…?]

[Subaru: Kau sepertinya salah paham tentang sesuatu, kekuatanku tidak Maha Kuasa. Bukannya aku bisa kembali ke kapan saja saya mau tanpa ada harga yang harus dibayar… selain itu, waktunya akan terlambat. Jika aku kembali, aku akan kembali ke titik dimana kualifikasiku telah dicabut. Aku masih tidak bisa masuk ke makam]

[Roswaal: Begitu ya…]

Suara Roswaal saat menjawab terdengar lemah, dan wajahnya tampak menua seketika.

Roswaal selalu terlihat sangat muda sehingga hampir tidak mungkin untuk membedakan usianya. Tetapi sekarang, dengan pundaknya terkulai, bahkan topeng kemudaannya hilang.

Ekspresi kesedihan dari seorang pria yang telah berpegang teguh pada khayalannya untuk waktu yang sangat lama, dengan mudah digagalkan oleh sesuatu … di luar jangkauannya.

Di bawah tata rias badut, untuk pertama kalinya, Subaru merasakan bahwa Roswaal juga manusia, sama sepertinya

Tapi fakta ini tidak menyelesaikan apa pun, tidak peduli seberapa besar harapan Roswaal.

[Subaru: Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, sama denganmu, Roswaal. Tetapi jika kita bekerja sama dan membicarakan hal ini, aku yakin kita dapat menemukan solusi]

[Roswaal: ――――]

[Subaru: Mungkin sangat sulit untuk menjalankan hal-hal seperti yang dijelaskan kitab-mu, tetapi perintah itu tidak harus menjadi akhir dari segalanya. Selama sebagian besar yang kita lakukan cocok … mungkin kau tidak setuju, tetapi, jika kita mencoba mencari jalan lain…]

[Roswaal: Tidak cukup….]

[Subaru: ―hah?]

Subaru berusaha menemukan semacam kompromi dan membuat Roswaal menyerah. Tetapi, dengan mata yang begitu kosong sehingga dia mungkin tidak mendengar sepatah kata pun yang dikatakan Subaru, Roswaal menggumamkan sesuatu. Secara tidak sengaja membuka mulutnya ketika dia mendengar ini, Subaru mengambil langkah ke depan.

Apa yang dikatakan Roswaal barusan? Apakah dia salah dengar?

Dan, semakin mendekat, bisikan Roswaal meluncur ke telinganya.

[Roswaal: ―Semua caraku mencoba memojokkanmu, apakah itu masih belum cukup?]

[Subaru: Apa?!]

[Roswaal: Aku tidak tahu keadaannya, tetapi jika Echidona kembali pada keputusannya, kau dan dia pasti memiliki pertukaran yang sesuai. Aku seharusnya menguatkan tekadmu untuk melakukan ujian sebelum hubunganmu dengannya retak.… Aku tidak berhasil]

[Subaru: ――――]

[Roswaal: Jika aku menyudutkanmu lebih jauh… membuat kau sadar bahwa jika kau mencoba meraih segalanya, kau akan kehilangan apa yang paling penting bagimu… maka ini tidak akan….]

[Subaru: Tunggu, Roswaal. Tunggu!]

Apa yang dia katakan? Meskipun Subaru memiliki perasaan bahwa itu akan menjadi sesuatu yang menentukan dan dia benar-benar perlu mendengarnya, untuk beberapa alasan keraguan menguasainya.

Karena, jika Subaru terus mendengarkan, ia tidak akan lagi bisa berdiri di sini.

Subaru yakin akan hal itu.

Atau lebih tepatnya, ia sudah mencurigai sesuatu seperti itu sejak lama.

Namun kecurigaan yang membingungkan itu tidak pernah terwujud karena Subaru terjebak pada gagasan bahwa Roswaal tidak akan memiliki alasan untuk melakukan hal ini, serta kepercayaan tipis yang ia miliki dalam dirinya.

Tetapi kata-kata yang akan diucapkan Roswaal akan memutuskan itu untuk selamanya.

Sebelum itu terjadi, ia harus mengatakan sesuatu. Tetapi, tidak peduli seberapa keras dia mencari di dalam dirinya, Subaru tidak dapat menemukan kata-katanya, sementara waktu berlalu,

[Roswaal: Memanggil Subaru dan Emilia ke sanctuary, mengetahui disposisi Garfiel….]

[Subaru: ――――]

[Roswaal: Memaksa Nona Emilia untuk mengikuti ujian, melihat ketakutannya, sehingga luka-lukanya akan membuatmu bertindak.…]

[Subaru: Tunggu, tunggu dulu. Tu―]

Dan—

[Roswaal: Menunjukkan kepadamu bahwa kau pasti akan kehilangan orang-orang yang kau sayang di luar jangkauanmu, dan dengan melakukan itu, menyempurnakanmu … semua itu, semua itu masih belum cukup]

Dengan ini, Roswaal baru saja memberikan pengakuan yang menarik bahwa dia yang menarik pelatuk bencana di dalam mansion.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded