Re:Zero Arc 4 Chapter 84.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Tertolak x Tertolak x Tertolak, bagian 1

—Runtuh-runtuh-runtuh—tanah runtuh lalu hancur di bawah kakinya.

Tempatnya berpijak … yang seharusnya ada di sana—hilang, Subaru merasa seperti jatuh dari tempat yang tinggi.

Sebenarnya, Subaru hanya berdiri membeku di tengah ruangan, menatap dengan mata terbuka lebar.

Alasan kenapa Subaru merasakan hal itu, bagaimanapun, karena pengakuan Roswaal telah membuatnya sangat—sangat terkejut.

[Subaru: Sebuah tempat … di luar jangkauanku?]

[Roswaal: Kau sudah tahu jawabannya, bukan? Ketika dua hal yang kau anggap penting secara bersamaan dihadapkan pada bahaya, seseorang akan terpaksa memilih. Pilih salah satunya, dan singkirkan salah satunya. Hanya dengan cara ini, dengan melepaskan segala sesuatu kecuali yang paling berharga bagimu, kau akan menjadi makhluk paling sempurna seperti yang kau inginkan]

[Subaru: Omong kosong macam apa itu?! Makhluk sempurna?! Yang kulihat hanyalah orang tolol brengsek yang dibutakan oleh luka dan terjebak sendirian di tengah-tengah gurun dan badai pasir!]

[Roswaal: Tapi kau mungkin dapat menjaga hal yang paling berharga bagimu di tempat yang penuh dengan kebahagiaan, di mana kemurnian dan keindahannya tidak tersentuh. Dibandingkan dengan rasa sakitmu sendiri, ini lebih penting, bukan?]

Mengajukan pertanyaan ini kepada Subaru yang terdiam, entah bagaimana pada akhirnya Roswaal mendapatkan ketenangannya kembali.

Bukan karena dia terbujuk oleh argumen Roswaal, bukan juga karena ia tidak tahu harus berkata apa.

Hanya saja, emosi dalam diri Subaru membludak dan menggumpal, terlalu tebal dan pekat untuk dibentuk menjadi kata-kata.

―Belum pernah ada saat dia merasa begitu kewalahan dengan emosinya sampai pada level ini.

Apakah tragedi mengerikan di mansion hanyalah hasil dari ketaatan bodoh yang tidak masuk akal dan ramalan sewenang-wenang dari kitab itu?

Frederica, Petra, dan Beatrice, apakah mereka mati karena alasan egois ini?

Menyempurnakan keberadaan Subaru―tujuan menggelikan itukah yang menyebabkan gadis-gadis itu kehilangan nyawa mereka, dikhianati oleh tuan mereka sendiri?

[Subaru: Roswaal… apakah kau benar-benar … sebenarnya sudah gila…?]

[Roswaal: …. Sepertinya begitu. Aku sudah gila sejak lama. Sejak empat ratus tahun yang lalu ketika aku terpesona oleh mata itu sampai sekarang, aku selalu gila]

[Subaru: Empat… ratus…?!]

Tidak dapat menelan kata-kata yang baru saja dilemparkan kepadanya, Subaru hanya mengucapkannya kembali kepada Roswaal dengan wajah bingung.

Sesuatu seperti “empat ratus tahun yang lalu” tetapi hal itu terlalu tidak masuk akal untuk mendengarnya secara langsung dari bibir Roswaal. Dia tidak mungkin tahu apa yang terjadi empat ratus tahun yang lalu. Namun, cara badut ini mengatakannya hampir terdengar seolah-olah dia telah hidup sejak empat ratus tahun yang lalu sampai sekarang—

[Roswaal: Natsuki Subaru?]

Keraguan memenuhi mata Subaru ketika sebuah suara di dekatnya memanggilnya.

Subaru mengalihkan tatapannya ke arah sumber suara—Roswaal, yang berdiri dari tempat tidurnya. Melihat sosoknya yang tinggi berdiri dalam jangkauan napasnya membuat Subaru mundur dengan terengah-engah—tetapi Roswaal menangkap kerah bajunya, membuatnya tidak dapat melarikan diri. Roswaal menarik Subaru lebih dekat padanya, sangat dekat sampai dahi mereka bersentuhan.

[Roswaal: Kau mengatakan bahwa aku gila. Aku setuju dengan sepenuh hati tentang itu. Tanpa ragu, aku memang gila. Aku tidak waras. Sejak dulu sekali, hatiku telah diambil dariku]

[Subaru: Ah, hha.…]

[Roswaal: Tapi mengapa … kenapa kau ti~dak? Kau harusnya sama gilanya denganku, tidak-tidak-tidak, seharusnya bahkan lebih. Tanpa kegilaan itu, kau tidak akan punya peluang. Karena tempat yang kau perjuangkan jauh lebih tinggi daripada aku. Untuk melewati perjalanan sepi yang tidak dimengerti siapa pun, yang kau butuh ‘kan bukanlah hati manusia. Tapi salah satu logam yang kuat dan tak putus-putus—apakah aku salah?]

[Subaru: Aa, gh…. He-hentikan!!]

Satu demi satu kata-kata itu meresap ke dalam otak Subaru ketika suara Roswaal menariknya masuk ke jurang. Subaru menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan perasaan itu, Subaru mendorong dada Roswaal.

Mengibaskan jari pada tubuhnya yang kurus saat dia melangkah mundur, tidak bisa menyembunyikan gemetar pada suaranya, Subaru menggertak,

[Subaru: Apa pun yang terjadi, apa pun itu, rencanamu sudah gagal saat aku kehilangan kualifikasiku! Jebakan yang kau tempatkan di dalam mansion, semua itu hanya pengorbanan yang sia-sia dan tak berarti! Jika kau mengerti itu, maka, hentikan kebodohan ini sekarang!]

[Roswaal: Aku menolak.—Melihat tekadmu yang payah, aku semakin yakin kalau itu diperlukan. Kau tidak perlu menjadi seorang manusia. Aku akan memojokkanmu, menyakitimu, memaksamu untuk menjadi sangat bergantung kepada Nona Emilia sampai kau hancur dan kehilangan kemanusiaanmu. Pada saat yang sama, aku akan memastikan bahwa Nona Emilia akan terjerumus ke dalam cinta dan ketergantungan yang tak berdaya pada keberadaanmu. Dengan kalian berdua saling bergantung, aku akan memilihkan jalan untukmu. Itulah satu-satunya cara untuk mewujudkan tujuanku]

[Subaru: Apa! Apa maksudnya semua itu…?! Tak peduli seberapa banyak kau menyakitiku, kualifikasiku tidak akan kembali! Bahkan jika kau mematahkan setiap dari tulang-tulangku, kau tetap tidak akan mendapatkan apa pun darinya!]

[Roswaal: Kau tahu? Kau seharusnya tahu bahwa ada pilihan terbaik di samping apa yang kau yakini]

Teriakan Subaru disangkal oleh suara dingin Roswaal.

Ada sebuah pukulan berat di dadanya hanya karena dia memahami arti kata-kata Roswaal. Ini sangat sederhana, sungguh.

Sama seperti yang Roswaal pikirkan—jika Subaru benar-benar berubah pikiran dan meminta bantuan Echidona, penyihir itu akan menawarkan bantuannya lagi. Jika dia benar-benar hilang, keputusasaan akan bergerak tanpa arah, pilihan ini masih akan tersedia baginya.

Dan untuk itu,

[Roswaal: Jika itu berarti kau akan kembali padanya, Echidona akan dengan senang hati mengembalikan kualifikasimu. Menimbang bagaimana sifatnya, itu wajar saja. Setidaknya aku dapat memastikan sebanyak ini]

[Subaru: ….]

[Roswaal: Jangan sombong, Natsuki Subaru. Kau bukan sa~tu-satunya orang yang mengerti Echidona]

Roswaal berbicara dengan cara yang benar-benar berbeda dari dirinya, suara itu dipenuhi dengan kebencian dan kedengkian.

Tercengang oleh intensitas kebenciannya, tubuh Subaru bergidik. Dan ketika Subaru mencerna makna dari kata-kata itu, Subaru menyadari apa tujuan Roswaal.

[Subaru: Alasan mengapa kau begitu terobsesi untuk membebaskan sanctuary adalah … karena itu keinginan Echidona?]

[Roswaal: ….]

[Subaru: Dia mendesainnya sehingga ujian makan itu akan mengarah pada pembebasan sanctuary… dan menyelesaikannya akan menjadi semacam persembahan untuk ingatannya, apakah itu yang kau rasakan?]

[Roswaal: …. Selama hidupnya, Echidona selalu bertanya-tanya bagaimana tempat ini akan berakhir setelah kematiannya. Untuk itulah ia membuat mekanisme dalam makamnya, dan di sana, dia menampung jiwanya. Tapi selama empat ratus tahun, akhir yang diinginkannya belum kunjung terjadi]

Dalam empat ratus tahun sejak barrier di sanctuary didirikan, tak pernah sekali pun benda itu rusak.

Sampai pada hari akhirnya … akhir seperti yang Echidona inginkan tidak pernah terwujud. Mungkinkah keinginan Roswaal adalah menunjukkan Echidona akhir itu agar jiwanya tenang?

Subaru sendiri dapat memahami ide bodoh itu. Meskipun dia tidak pernah percaya pada hantu di dunianya yang dulu, di dunia ini, Subaru telah berinteraksi dengan Echidona dan para penyihir lainnya.

Sungguh terpikir olehnya selama dia menghabiskan waktu bersama mereka bahwa jika mereka meninggalkan penyesalan di dunia ini, mungkin Subaru akan senang membantu menghapuskan hal itu dan memenuhi keinginan mereka, jika hanya karena rasa terima kasih.

Tak terlintas dalam pikirannya selama dia menghabiskan waktu bersama mereka, bahwa jika mereka meninggalkan penyesalan di dunia ini, mungkin Subaru akan senang membantu menghapuskan hal itu dan memenuhi keinginan mereka, jika hanya karena rasa terima kasih.

Tetapi, hidup sepenuhnya untuk tujuan satu orang dan mengabaikan kehidupan orang lain adalah satu hal yang sangat tidak masuk akal.

[Subaru: Tujuanku dan milikmu sangat berbeda. Roswaal, kita mungkin dapat menemukan cara lain untuk memberikan ketenangan pada jiwa Echidona. Aku berjanji, aku akan memastikannya. Jadi kumohon batalkan serangan terhadap mansion]

[Roswaal: Aku menolak. Aku akan memenuhi keinginanku sendiri dan harapan Echidona. Aku akan melakukan apa pun yang aku inginkan. Aku akan menghancurkan apa yang harus kuhancurkan. Aku akan menyakitimu, dan aku akan melumuri tanganku dengan darah jika diperlukan]

[Subaru: Berhenti menyeret orang lain untuk kepuasan pribadi! Jika ada sesuatu yang ingin kau katakan pada Echidona, tarik dia keluar dan katakan sendiri! Daripada mengorbankan seseorang yang mencoba menciptakan masa depan, orang-orang yang masih memiliki masa depannya, dan seorang gadis yang mengurung diri karena dia berhenti percaya pada masa depan!]

Frederica, Petra, dan Beatrice tidak perlu dikorbankan untuk rencana ini.

Dan tidak mungkin dia bisa menerima alasan bodoh Roswaal, terutama ketika ia benar-benar mengabaikan hidup gadis-gadis itu hanya untuk melukai Subaru.

[Roswaal: Aku menolak. Satu-satunya penawaran yang kuinginkan adalah “Aku akan melakukan apa yang dimaksudkan Roswaal”. Yang lainnya tetap akan kutolak. Pengorbanan mereka diperlukan]

[Subaru: Persetan! Aku tidak punya masalah dengan itu, aku akan membeberkan semua rencana bodohmu dan menerima semua konsekuensinya]

[Roswaal: Atau lebih tepatnya, kau harus berpikir sebelum bertindak. Apa gunanya melakukan hal seperti itu? Membeberkan rencanaku di depan umum, itu tidak akan menyelesaikan masalah apa pun di sanctuary. Nona Emilia akan kehilangan pendukungnya untuk pemilihan kerajaan, dan hubungan antara penduduk dan para pengungsi hanya akan memburuk. Bagaimana menurutmu setelah melihat Nona Emilia akan mengikuti ujian itu dengan bom penuh kebencian di punggungnya? Berapa kali kau telah melihat Nona Emilia hancur?]

[Subaru: ke—ketika Garfiel mengetahui bahwa Frederica tahu bahwa saudara perempuannya harus dikorbankan dalam rencanamu, tidak mungkin dia hanya…]

[Roswaal: Jika kau berharap pada hal itu, maka kau benar-benar buta. Garfiel tidak akan pernah bergegas keluar dari sanctuary untuk membantu Frederica. Itu hanya ancaman semu dari apa yang mungkin dapat terjadi di sanctuary yang membuatnya ketakutan; begitulah eksistensi bodoh dan menyedihkan dari Garfiel. Pandangan sempit, keras kepala, mengandalkan kekuatan kasar. Bahkan dengan kepala yang setengah cerdas itu, dia bisa melihat apa yang akan terjadi jika dia meninggalkan sanctuary. Jadi, kau tidak akan pernah bisa menggunakannya untuk keuntunganmu sendiri. –Karena anak itu terlalu peduli untuk melindungi yang lemah dan rapuh di dunia ini]

Seorang anak yang putus asa, deskripsi yang menusuk dada Subaru.

Itu adalah penilaian yang sama yang diberikan para penyihir kepada Subaru yang rela berkorban saat pesta teh.

Tampaknya Roswaal merasakan hal yang sama tentang Garfiel.

Tidak menyadari hal ini, atau mungkin mengetahui dengan baik, Garfiel tetap dengan sepenuh hati bertekad untuk mencapai tujuannya.

[Roswaal: Garfiel tidak akan memihak padamu. Dan aku tidak berniat menghentikan rencanaku. Yang perlu kau lakukan adalah membiarkan hatimu layu, dipoles, dan disempurnakan. Tidak ada lagi yang diperlukan. Terimalah takdir ini, Natsuki Subaru.―Terima bahwa kematian siapa pun selain Nona Emilia tidak ada artinya]

[Subaru: Diam! Aku… aku tak akan pernah menjadi seperti itu! Aku tidak akan pernah…. Aku tak akan pernah berpikir sepertimu, aku tak akan pernah menjadi sepertimu! Pemikiranmu sangat tidak manusiawi!]

[Roswaal: ….]

[Subaru: Aku manusia. Tidak peduli apa pun kekuatan acak … dan tidak dapat dipahami yang diberikan padaku, tidak peduli berapa banyak rasa sakit dan penderitaan yang kualami, itu tidak akan pernah mengubahnya. Aku manusia. Aku akan selalu menjadi manusia]

Menyatakan ini pada Roswaal yang masih terdiam, Subaru mundur dari tubuh si badut yang menjulang tinggi. Kedipan emosi yang rumit melintas sekilas pada ekspresi serius Roswaal, tetapi dia segera mengangkat bahu.

[Roswaal: Yah, tidak masalah. Selama kau memiliki peluang tak terbatas, semuanya sama saja bagiku. Kali ini, aku akan menyerah mencoba meyakinkanmu. Aku akan menyerahkannya pada diriku yang selanjutnya]

[Subaru: Tawaranmu tidak berhasil kali ini… dan seterusnya dan seterusnya dan selamanya! Aku tidak akan pernah menerimanya! Aku tidak akan pernah menjadi sepertimu!]

[Roswaal: Tinggalkan ruangan ini sekarang. Hidup ini tidak lagi berarti untukku]

Menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, Roswaal mengakhiri percakapan mereka dengan kata-kata itu dan mengabaikan Subaru. Dia menutup matanya seolah-olah tidur, benar-benar mematikan pembicaraan.

[Subaru: ――――]

Sebaliknya, tanpa memecah kesunyian, Subaru meninggalkan kamar, dengan rasa lelah menyelimuti dirinya.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded