Re:Zero Arc 4 Chapter 84.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Tertolak x Tertolak x Tertolak, bagian 2

Keluar dari kediaman Roswaal, Subaru berjalan di bawah sinar bulan.

[Subaru: —Apa yang harus kulakukan?]

Sambil bergumam pada diri sendiri mempertanyakan jawaban yang tampaknya tidak akan pernah ada, menyuarakan kata-kata yang telah berulang-ulang muncul di benaknya, ia sekali lagi terdiam dalam sakitnya.

Pertanyaannya di luar jangkauan siapa pun, hanya menguap di udara, meninggalkan kekosongan yang membuat tenggorokannya kering.

Dalam setiap arti kata, ia terjebak.

Dan sekarang, bekerja sama dengan Echidona secara fisik tidak mungkin, dan bekerja sama dengan Roswaal sekarang “lebih tidak mungkin” secara sudut pandang.

Sekarang, Subaru tidak akan memiliki bantuan Roswaal maupun Echidona.

Subaru telah memahami kemungkinan ini.

Bahwa mungkin Elsa adalah suruhan Roswaal dan serangan terhadap mansion adalah untuk mendorong Emilia―atau lebih tepatnya, Subaru, agar melakukan ujian itu.

Seolah-olah Elsa tahu persis kapan Subaru akan tiba di mansion. Dan kemudian disusul dengan kematian terduga informan—Frederica—dikombinasikan dengan pengetahuan Elsa tentang jalan yang tersembunyi dan Perpustakaan Terlarang (perpustakaan tempat Beatrice). Dengan semua pertimbangan itu, tersangka yang tersisa adalah Ram dan Roswaal.

[Subaru: Jika Elsa adalah suruhan Roswaal, maka…]

Ketika lencana Emilia dicuri pada hari Subaru dipanggil ke dunia ini, apakah itu juga atas instruksi Roswaal?

Jika kitabnya telah meramalkan keberadaan Subaru, keberadaan otoritas Return by Death miliknya, dan fakta bahwa itu akan terbukti sangat diperlukan untuk kemenangan Emilia, maka kerusuhan pada hari itu—semua akan diperlukan untuk menjadikan Subaru sebagai seorang sekutu.

Upaya paniknya pada hari itu, tiga kematian yang dia alami untuk menyelamatkan Emilia, dan senyum cantik Emilia ketika dia menanyakan namanya, apakah selama ini mereka hanya bermain-main di atas tangan Roswaal?

[Subaru: Jika semuanya mengikuti ramalan ini… maka, penculikan Rem, terperangkapnya sanctuary… semua itu sesuai dengan rencana seseorang…?]

Jika benar begitu, maka semua perjuangan mati-matian Subaru selama ini semata-mata hanyalah seperti sebuah boneka yang dikendalikan oleh benang dan ditarik oleh orang lain.

Apakah meninggalkan segalanya selain Emilia benar-benar satu-satunya cara untuk melanjutkan? Sekarang setelah semua jalan tertutup, apakah benar-benar tidak ada pilihan lain?

[Subaru: Apa aku, bodoh? … …. Tidak “aku bodoh” Ini hanya jenis pemikiran tanpa otak yang menjadikan Roswaal gila… jika aku membiarkan hal yang sama terjadi padaku, maka…]

Kitab itu tidak memiliki kekuasaan mutlak. dirinya yang dapat secara pribadi menimpa ramalan dalam kitab milik Betelgeuse. Subaru sangat mengerti hal itu

Kitab yang memberi petunjuk masa depan bukanlah benda yang Mahakuat.

Bahkan, setiap kali ada sesuatu yang menyimpang dari suratan ramalannya, Roswaal menyerah pada dunia dan menaruh harapannya pada yang berikutnya―

[Subaru: —Hah?!]

Ia merasa seperti ia baru saja menabrak sesuatu yang aneh.

Saat berspekulasi tentang kitab Roswaal dan dengan hati-hati membahas berbagai peristiwa secara berurutan, Subaru merasakan bahwa ada sesuatu yang salah. Tapi dia tidak mengerti, dan tidak dapat merasakannya dengan baik.

[Subaru: Apa ini … apa? Ada yang salah. Tapi, mengapa…?!]

Seolah diberi teka-teki yang mustahil untuk di satukan, Subaru mencari-cari cahaya di balik kabut.

Kitab Roswaal. Bertindak berdasarkan perintah tertulis. Kitab Beatrice. Kitab Para Pemuja Penyihir. Berhentinya ramalan baru setelah pemiliknya mati. Lembaran kosong. Hasil mengikuti ramalan. Hasil yang tidak mengikuti ramalan—kejadian saat ini yang menyimpang jauh dari ramalan.

[Subaru: Masih sia-sia. –Selangkah lagi, tapi entah mengapa aku tidak dapat menggapainya…]

Meskipun dia merasa memegang semua potongan puzzle, potongan-potongan itu menyebar sebelum ia sempat menyusun gambarnya. Tapi ketertarikan Subaru kepada hal itu terlalu besar untuk diabaikan.

Setiap kali dia terjebak seperti ini, mengumpulkan petunjuk yang lebih kecil menjadi jawaban akan memberikan jalan keluar.

Kali ini tidak berbeda. Jika dia bisa merakit fragmen satu per satu―

[???: Subaru?]

[Subaru: Hmm?]

Panggilan itu menarik kesadaran Subaru keluar dari lautan pikiran.

Keluar dari dalam kepalanya, Subaru mendapati dirinya berdiri di bawah sinar rembulan, dan melihat Emilia—menatapnya—dengan rambut peraknya yang berayun lembut.

Tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya–pertemuan tak terduga ini dan rasa sakit yang menusuk dadanya, Subaru mengangkat tangannya, dan,

[Subaru: Oh, Emilia…. Apa yang kau lakukan di luar sini? Ini sudah larut, kau tahu?]

[Emilia: Tapi, kau juga–Subaru. Kalau kau begadang selarut ini, kau tidak akan tumbuh tinggi]

[Subaru: Sepertinya… masa pubertasku akan segera berakhir, jadi aku tidak terlalu mengkhawatirkan soal itu…]

Emilia datang dengan topik yang sedikit tidak penting seperti biasanya.

Mendapati kembali ketenangannya berkat jawabannya, Subaru secara alami datang ke sisi Emilia. Mereka berada di tengah-tengah sanctuary, di semacam plaza terbuka. Bersandar pada batu berlumut dari air mancur yang kering, rambut perak Emilia disapu angin malam ketika dia melihat Subaru di sampingnya.

Menatap pesona kemurungannya, mata ungu terang itu mengirimkan sinyal yang manis dan pedih ke hati Subaru yang sedang di ambang kehancuran.

[Emilia: Aku tidak bisa tidur, jadi aku jalan-jalan di luar…. Bagaimana denganmu, Subaru?]

[Subaru: ….Yah, aku juga. Aku ini tipe orang yang tidak bisa tidur kalau kau menukar bantalku, dan Otto berisik sekali saat tidur]

[Emilia: Aku saaaaangat terkejut! Kau itu peka terhadap hal-hal seperti itu ya, Subaru]

Emilia tertawa pelan, menutup bibirnya dengan satu tangannya. Mengawasi Subaru dari samping, Subaru sadar bahwa ini adalah pertama kalinya dia bertemu kembali dengan Emilia sejak kembali dari kematian malam itu.

Di tempat-tempat yang tidak terhubung ke Subaru, tindakan orang umumnya mengikuti jalur yang sama melintasi perulangan. Yang berarti, pada malam menantang ujian pertama, Emilia akan selalu datang ke sini untuk berjalan-jalan–tidak bisa tidur.

Diundang ke pesta teh, diancam oleh kekerasan Garfiel, menemukan identitas sejati Lewes, dan mengetahui sifat gelap Roswaal―sementara Subaru sibuk dengan semua itu, Emilia juga berubah.

[Emilia: …. Kau terlihat sedih, Subaru]

[Subaru: Hee… benarkah? Padahal aku tidak sedih]

[Emilia: Hmmm, bohong. Subaru yang biasanya akan lebih, hm, heboh?]

[Subaru: Sudah lama aku tidak mendengar ada yang menggunakan kata heboh…]

Sudah lama sejak mereka melakukan percakapan semacam ini, pikir Subaru ketika pipinya mengendur lega. [Lihat?], Emilia menunjuk ke pipi Subaru,

[Emilia: Lihat, kau tersenyum. Kau selalu mencoba tersenyum di depanku, Subaru. Tapi kau tidak dapat melakukannya sekarang]

[Subaru: ——]

[Emilia: Apakah sesuatu yang menyakitkan … terjadi? Jika kau khawatir tentang sesuatu … jika kau ingin berbicara, aku akan mendengarkan?]

Menyadari ketegangan di pipinya, dan menyatakan kekhawatiran yang tulus, Emilia membuat Subaru mati-matian berusaha menahan panas di bawah kelopak matanya.

Kata-katanya yang lembut, penuh kasih–meresap ke seluruh tubuh Subaru. Dikelilingi di semua sisi, tak berdaya dan terjebak, ketika bahkan sinar harapan terakhir hilang, ia hampir ingin berpegangan pada tangan yang sangat ia cintai, yang ditawarkan dengan lembut.

Keyakinan yang goyah ini, tidak mampu mengatasinya bahkan dengan tekad yang baru saja dibuatnya, menyedihkan dan membuat Subaru frustrasi.

[Subaru: Ini…. Masalahku. Aku tidak ingin membebanimu]

[Emilia: ….]

[Subaru: Dibandingkan denganku, masalahmu lebih banyak, bukan? Melihatmu setelah ujian itu… apakah kau benar-benar tidak apa-apa sekarang?]

[Emilia: Mn, aku membuatmu khawatir. Aku menyedihkan sekali, bukan? Maaf… kupikiri aku mengalami masalah yang belum kuperkirakan secara mental]

[Subaru: Aku tidak lihat bagaimana itu menyedihkan… apa salahnya melarikan diri dari hal-hal yang tidak kau sukai? Apakah menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan sepanjang waktu berarti kau akan mengalahkan hal itu pada akhirnya? Dan siapa bilang kau harus mengalahkannya? Jika kau melarikan diri dan menemukan jalan yang berbeda, dan kemudian memutuskan untuk mengambil jalan itu, apakah orang-orang harus menyalahkanmu untuk itu?]

[Emilia: Subaru…?]

Menonton semua kata-kata itu keluar dari lidah Subaru saat dia mengoceh, Emilia mengerutkan alisnya. Tapi tanpa menyadari kebingungannya, Subaru hanya terus berbicara,

[Subaru: Echidona, yang memasang ujian, Roswaal yang sengaja memikat kita kesini, dan Garfiel yang terus menghalangi, semua orang hanya melakukannya sendiri. Kau bebas melakukan apa pun yang kau inginkan, tetapi mengapa menyeret kita ke dalamnya? Dan kemudian mengkritik kita karena tidak memenuhi harapanmu … apa yang dia inginkan dari kita!?]

[Emilia: ——]

[Subaru: Kepalaku akan meledak dan aku kehabisan akal. Dan lagi dan lagi namun, lebih banyak masalah terus menumpuk … dan memperburuk, semuanya salahku, begitu? Jangan membuatku tertawa. Jangan membuatku tertawa. Jangan—]

Sama seperti dia semakin pusing karena emosi yang melonjak dan amarah yang tak bisa dijelaskan—

―Tapak tangan yang lembut meraih bagian belakang kepalanya, saat dia merasakan tubuhnya ditarik ke bawah. Merasakan kepalanya jatuh ke kelembutan di depannya, napas Subaru terhenti.

Sentuhan hangat, namun lembut menyelubungi wajah Subaru.

Melalui kehangatannya, dia mendengar detak jantung, sementara kesadarannya yang sakit mulai menyadari apa yang terjadi—

Subaru sekarang berada pada pelukan Emilia.

[Subaru: Aa, aah–?]

[Emilia: Pelan-pelan. Tenanglah. Tenang saja, dan dengarkan detak jantungku]

[Subaru: –Nn]

[Emilia: Dengarkan ritmenya yang stabil, dan bernapaslah dengan teratur … ambil … dan hembuskan … dan ulangi. Setelah kau tenang, tepuklah punggungku. Sampai kau tenang, kita bisa tetap diam seperti ini]

Tulang belakangnya menggelitik senang dengan suara bisikan di telinganya, napas Subaru semakin cepat. Emosinya yang tak tertahankan meledak, digantikan oleh siksaan dari semua darah di tubuhnya yang mendidih.

Bagaimana jadinya seperti ini? Dia mendengarkan detak jantung Emilia yang tenang, namun jantungnya sendiri akan melompat keluar dari dadanya.

Tetapi detak jantungnya yang panik pun secara alami terurai bersamaan dengan napas Emilia ketika telapak tangannya dengan lembut membelai bagian belakang kepalanya. Mengikuti bisikannya, dia mengambil napas dalam-dalam, menghembuskan napas, dan mengulangi sampai paru-paru dan hatinya kembali normal.

Dengan tenang, dia mengetuk punggung Emilia. Tangannya di kepalanya bergerak menjauh pada sinyal ini, sementara Subaru berdiri, menahan keengganannya untuk berpisah,

[Emilia: Merasa lebih baik?]

[Subaru: …. Kurang-lebih begitulah]

Menghadapi mata ungu Emilia yang berkilau, Subaru menghela nafas kecil.

Mendengar jawabannya, senyum lega muncul di wajah Emilia. Subaru berusaha mengendalikan dirinya agar tidak tersipu malu,

[Subaru: Maaf aku bertindak bodoh … aku benar-benar tidak ingin merepotkanmu]

[Emilia: Aku sama sekali tidak merasa direpotkan]

[Subaru: Tapi, kau pasti melalui lebih banyak penderitaan daripada aku… itu pasti … kalau aku bisa, harusnya aku menyelamatkanmu dari semua ini … itulah yang kupikirkan]

[Emilia: Subaru….]

Dia selalu menunjukkan sisi kerennya di depan Emilia.

Tetapi kenyataannya adalah, dia hanya seorang yang memalukan, lemah, sombong, tidak berguna, berlebihan yang ingin berada di sisi Emilia.

[Subaru: Tak ada yang pernah berjalan dengan semestinya… faktanya aku … baru saja bicara dengan Roswaal tentang kemungkinan membebaskan sanctuary tanpa melewati ujian itu]

[Emilia: Hah?!]

[Subaru: Sebenarnya, aku pikir akan lebih baik jika aku menggantikanmu…. Tapi sekarang, aku pikir aku tak bisa lagi. Jadi aku pikir aku setidaknya akan menemukan jalan pintas yang paling tidak menyakitkan, tetapi… bahkan itu tidak berhasil. Hanya … apa yang harus aku lakukan? Maaf aku tidak berguna ……]

[Emilia: Subaru—]

Subaru menundukkan kepalanya. Meskipun menerima begitu banyak peluang untuk mengulang melalui Return by Death, ia masih gagal menemukan solusi yang pasti. Bukankah itu sangat menyedihkan?

Jika dia melakukan sedikit lebih baik, dia bisa mencegah terjadinya dunia tragis yang dia lihat di ujian kedua.

Dan di sini juga, pasti ada sesuatu yang bisa dia lakukan untuk situasi yang menyedihkan ini―

[Subaru: Tapi aku akan menemukan caranya. Aku akan memastikan kau tidak harus menderita lagi. Jadi, kumohon, percayalah padaku…]

[Emilia: ….Subaru]

[Subaru: Ya?]

Emilia menatap Subaru dengan mata berlinangan air mata.

Menatap kembali pada mata yang berkaca-kaca itu, di dalam hatinya yang goyah, Subaru menguatkan tekadnya untuk memastikan bahwa di dalam lubuk hatinya tidak akan pernah goyah.

Dia akan melindungi Emilia, mengatasi masalah sanctuary, menyelamatkan mansion, dan memulihkan segalanya.

Meskipun ia tidak menemukan satu pun harapan pada jalan buntu ini, ia akan—

[Emilia: Aku senang kau merasa seperti itu, sungguh. –Tapi aku tidak bisa menerima kebaikan seperti itu]

Tekad yang baru saja Subaru bulatkan dengan seluruh hidupnya, ditolak mentah-mentah oleh gadis itu, dengan keyakinan teguh pada kedua mata ungu cemerlangnya.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded