Re:Zero Arc 4 Chapter 85.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Dengan Kata-kata, Dengan Perasaan, Dengan Kepalan Tangan, bagian 1

[Subaru: ―Heh?]

Tidak dapat memahami apa yang baru saja Emilia katakan kepadanya―hanya saja untuk sesaat Subaru tersenyum―kagum.

Matanya melebar, mulutnya terbuka, sementara Emilia mengawasinya ketika dia berusaha membentuk pikirannya menjadi kata-kata.

[Emilia: Aku senang kalau Subaru memikirkan hal seperti itu untukku, mengatakan hal-hal seperti itu, dan melakukan hal-hal itu untukku. Subaru membuatku merasa sangat aman, dan aku selalu, selalu saja mengandalkanmu…. Tapi, aku tak bisa membiarkan Subaru  mencari cara untuk lari dari tanggung jawabku]

[Subaru: Ti-tidak ini … ini bukan seperti yang Emilia pikirkan!]

[Emilia: Aku sendiri yang memutuskan untuk menantang ujian itu. Ada tempat yang harus kutuju, pintu yang harus kulewati untuk mencapai tempat itu, dan sekarang, aku harus melakukan yang terbaik untuk melewatinya. Aku tak ingin membuat banyak alasan]

Bibir Subaru menegang ketika ia melihat keteguhan yang membara di kedua mata Emilia.

Wajahnya yang tegas memancarkan kemauan yang kuat. Wajah itu tidak terlihat seperti seorang gadis kecil yang lemah—yang akan berhenti di tengah jalan ketika pertolongan Subaru tidak datang kepadanya.

“Tapi kenapa?”. Dengan banyak sekali pertanyaan tersimpan di hatinya, Subaru menggelengkan kepalanya.

[Subaru: Emilia, menurutku resolusimu sangat mengagumkan. Tapi ujian itu tidak cocok untukmu. Pergi menjalaninya tanpa rencana seperti ini—kesempatan menangmu sangat … kecil. Aku tidak berpikir itu adalah hal yang tepat  untuk dilakukan]

[Emilia: …..Kesempatannya memang terlihat kecil, sih]

[Subaru: ….]

Emilia tersenyum masam pada kebenaran dalam pernyataan Subaru. Sebenarnya, yang membuatnya sedih bukan tentang kesempatan atau apa pun—Emilia sedih karena mengetahui itulah pikiran jujur Subaru.

Dan Subaru sendiri merasa seperti manusia yang sangat buruk karena tidak segera menemukan kata-kata yang tepat untuk menghiburnya.

[Subaru: Bisakah setidaknya kita menunggu sampai aku menemukan petunjuk? Kalau aku punya lebih banyak waktu, aku … dapat membuat segalanya lebih mudah untukmu. Karena itu Emilia tak  perlu merasa khawatir tentang―]

[Emilia: Tidak, Subaru tak bisa, Subaru. Entah bagaimana, aku tahu—bahwa tidak ada jalan pintas atau jalan memutar untuk menyelesaikan ujian makam itu]

[Subaru: ——]

[Emilia: Memang aneh, sih. Tapi pokoknya aku tahu. Bahkan kalaupun Subaru punya lebih banyak waktu—kecuali aku mempersiapkan diri dengan baik untuk ujian itu—hasilnya akan tetap sama. Aku tahu itu]

[Subaru: Aaa….]

Subaru tidak punya kata-kata untuk membantah Emilia.

Meskipun ia tidak tahu detail pasti di balik ujian makam, ia setuju dengan Emilia tentang perasaan tersebut.

Berulang kali menantang ujian itu tidak akan membuat ujian itu lebih mudah atau lebih sulit, mekanisme dan isi akan tetap sama.

Para penantang akan terus disambut dengan konten dan kondisi yang sama. Ujian itu tidak pernah berubah, hanya perubahan dalam hati penantang yang akan menghasilkan hasil yang berbeda—Seperti halnya selera Echidona.

Membantah langsung keinginan Subaru untuk menghiburnya, pemahaman Emilia tentang ujian itu ternyata lebih dari yang Subaru bayangkan.

Meski begitu, ketika Subaru dengan panik mencoba menghubungkan kata-katanya,

[Emilia: Katakan padaku, Subaru.—Kenapa kau ingin menolongku?]

[Subaru: ——-]

Itu adalah pertanyaan yang memiliki makna luar biasa―pertanyaan yang sama dengan ketika terakhir kali pertanyaan tersebut dilontarkan kepadanya.

Betapa putus asanya Subaru berjuang untuk menjawabnya? Berapa banyak kesulitan yang ia atasi hanya untuk memberitahu Emilia?

Dan itu sebabnya, saat ditanya pertanyaan yang sama, Subaru bisa menjawab tanpa ragu sedikit pun.

[Subaru: Aku ingin menolongmu… karena aku mencintaimu.—Karena aku mencintaimu apa adanya]

[Emilia: —Hm. Iya, aku tahu. Subaru, kau mencintaiku]

[Subaru: ——-]

[Emilia: Dan aku sangaaaat! Bahagia karenanya. Itu membuatku merasa saaaaangat aman. Dan membuatku iiiiingin sekali bergantung padamu. Dan dengan mengetahui Subaru mengawasiku seperti ini, aku merasa seperti aku dapat berusaha sebaaaaaik yangku bisa]

Emilia meletakkan kedua tangannya di atas dadanya, menutup mata. Pipinya sedikit memerah oleh kata-katanya sendiri.

Seolah sedang menanamkan semua emosinya sekaligus, ia melanjutkan,

[Emilia: Maka,]

[Emilia: Jangan selalu berpikir Subaru harus melakukan semuanya sendiri. Aku dapat berusaha hanya dengan mengetahui bahwa Subaru menjagaku. Kalau Subaru ingin melakukan sesuatu, kalau Subaru dapat memaafkan keegoisanku, aku ingin Subaru tetap berada disisiku. Dan selalu di sini untuk mendukungku]

[Subaru: Emilia….]

[Emilia: Dengan tanganmu di punggungku ketika aku terjatuh, aku tahu aku dapat bangkit kembali. Dan ketika aku bimbang, aku ingin kau ada disisiku, Subaru]

[Subaru: ——]

[Emilia: Terima kasih… karena telah berjalan di depanku, memindahkan bebatuan yang menghalangi, mempermudah jalanku, memotong semua ranting dan cabang, lalu menggandeng tanganku. Tapi, menurutku, kalau Subaru terus melakukan semuanya untukku, aku akan membebanimu. Sementara aku jadi melempem di dalam kamarku]

[Subaru: Siapa yang masih pakai kata “melempem” … di umur.…]

Subaru mencoba mengatakan komentar yang selalu ia ucapkan pada pemilihan kata Emilia yang lucu, tapi ia tidak kuasa mengatakannya.

Subaru tidak bisa lagi menahan emosi yang membengkak di dalam hatinya. Apa ini? Sensasi yang tak terlukiskan dan tak bisa dipahami ini? Agar tidak kehilangan dirinya dalam emosi yang tak terbantahkan itu, Subaru menggertakkan giginya saat ia terus menghadapi Emilia.

[Emilia: Aku selalu menerima, dan menerima, dan menerima darimu… jadi, sekarang, aku ingin melakukan hal yang berbeda. Aku jadi merasa bersalah karena setiap kali aku gagal, aku membuat Subaru dan semua orang khawatir… untuk memastikan hal itu tidak terulang kembali, aku akan berusaha menyelesaikan ujian itu secepatnya]

Di depan Subaru, yang tak bisa berkata-kata, senyum tulus dan berani muncul di wajah Emilia.

[Emilia: Jadi, kumohon, tetap di sisiku, dan lihat aku ketika aku berusaha.—Hanya itu yang kuminta darimu, Subaru]

 

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

 

[Subaru: ―――hk!!]

Suara itu seolah-olah memotong angin, menyakiti kakinya sendiri saat dia berlari, jantungnya berdebar tanpa henti.

Setiap langkah yang ia ambil menuruni lereng curam itu membuat ranting-ranting menggores pipinya, dan bahkan, tersandung berkali-kali, Subaru terus berlari dengan panik.

[Subaru: ――――!!]

Subaru berteriak—teriak sampai jeritannya tidak lagi bersuara, rasanya seperti tenggorokannya akan robek sebentar lagi. Ia menatap kepada malam dari sela-sela dedaunan, ke langit tak berawan, ke arah rembulan yang pucat—yang bersinar terang di antara bintang-bintang. Ia berteriak.

―Seolah ingin memuntahkan semua kebodohannya yang berlebihan di dalam dirinya, dan mengosongkan diri dari segalanya.

Senyuman terakhir Emilia yang tegas dan lembut tidak mau pergi dari ingatannya.

Senyum itu, tekadnya yang di suarakannya, dan kesombongannya sendiri yang keliru. Dia akhirnya mengerti arti dorongan hati yang panas membakar bagian dalam dadanya.

Dan karena dia memahaminya, dia tidak tahan untuk tetap berdiam diri sedetik pun. Sebaliknya, setelah berpisah dari Emilia, Subaru bergegas ke hutan, berlari tanpa tujuan seperti binatang.

Tidak mengizinkannya untuk berdiri diam, tidak membiarkannya melarikan diri, emosi yang membakarnya hanya dengan memikirkan Emilia―emosi itu adalah “rasa malu”.

Rasa malu menguasai Subaru sepenuhnya, melarang dirinya untuk berhenti berlari.

[Subaru: Aku… aku…!]

Sangat bodoh. luar biasa bodoh. Sungguh, benar-benar idiot tanpa harapan.

Ketika Roswaal meremehkan Emilia dan menyebutnya sebagai “makhluk”, Subaru menjadi marah. Dia menggertakkan giginya, berteriak, menyatakan bahwa ia tidak akan membiarkan Roswaal menghina Emilia.

Tetapi kemudian, ketika ia bertemu Emilia tepat setelah itu, ketika ia mengatakan kepadanya segala yang dia ingin lakukan untuk gadis itu, dan ditolak mentah-mentah, saat itulah dia menyadarinya:

—Yang paling bersalah karena meragukan permintaan, tekad, dan kekuatan Emilia adalah Subaru sendiri.

Berpikir bahwa dia harus melindunginya, berusaha untuk menghindarkannya dari semua rasa sakit—

Dengan alasan itu, Subaru memutar otak untuk menjauhkan Emilia dari kesulitan apa pun. Menggantikannya mengikuti ujian Echidona, lalu mencari jalan pintas ketika itu gagal, dan bahkan ketika jalan pintas itu sendiri sia-sia.—Kemungkinan terburuk, kalau saja ia dapat melakukan sesuatu tentang Kelinci Besar yang bertanggung jawab atas batas waktu di sanctuary: selama ini, Subaru terus memikirkan cara untuk menyelesaikan semuanya agar Emilia tidak perlu menjalani ujian itu.

Namun ketika Subaru terobsesi dengan keinginan egois untuk melindungi Emilia dan menyusun rencana untuk mengisolasinya dari bahaya, Emilia menghabiskan malam-malamnya sendirian—menguatkan resolusi dan tekadnya, memilih untuk tidak melarikan diri dan menghadapi ujiannya. Ia hanya ingin Subaru mendukung keputusan akhirnya.

Dan Subaru meragukannya. Subaru telah meragukan Emilia dari awal.

[Subaru: ――――!]

Begitu dia menyadari hal ini, perasaan malu yang tak tertahankan memenuhi kepala Subaru.

Subaru baru saja menjawab keyakinan Emilia dengan keraguannya sendiri, ia melambai pada gadis yang khawatir itu dan pergi, singkatnya, melarikan diri. Kemudian, kaki-kakinya membawanya jauh ke dalam hutan, ke tempatnya sekarang.

Di ibukota, dengan kesombongan inilah Subaru telah menyakiti Emilia.

Tanpa memedulikan pertimbangan atau penyelesaian Emilia, hanya memikirkan otoritas barunya, Subaru tidak memberikan penjelasan tentang perilaku egoisnya dan membuat keretakan pada hubungan mereka.

Hanya karena itu terjadi, dan karena dia mengakui perasaannya terhadap Emilia dan bagaimana ia akan mengungkapkannya, Subaru mampu berdiri di sini sekarang.

―Tapi ia salah lagi.

Mengambil semua penderitaan Emilia, memikul beban sebagai pengganti Emilia, membuka jalan demi Emilia.

Bahkan jika Subaru menyombongkannya kepada Emilia, ia tidak pernah menunjukkannya kepada orang lain. Setidaknya, tampaknya ia telah menjadi lebih baik dari sebelumnya— tetapi dalam kenyataannya, tidak ada yang berubah sama sekali.

Ia baru saja menjadi lebih baik dalam menyembunyikan lukanya.

Dia baru saja membungkam kebencian diri arogan yang gemar memamerkan luka-lukanya.

Tapi ia masih memaksakan keegoisannya pada Emilia, berteriak bahwa dia benar.

[Subaru: Aku…..aku….gh]

Kehabisan napas dan terengah-engah ketika dia berlari, ketika dia melihat ke atas lagi, dahan tebal menabrak dahinya. Membungkuk ke belakang kesakitan, Subaru terjatuh ke ruang kosong ketika pijakannya lenyap.

Jatuh ke samping, tumbang di atas tanah dan permukaan yang tertutup daun, Subaru berbaring terlentang menatap ke langit.

Ia terus menatap ke langit sementara tanah yang dingin seolah-olah dapat menyedot semua kehangatan dalam tubuhnya. Subaru menarik nafas panjang, langit malam yang cerah terlihat melalu celah-celah ranting.

Di dunia ini tanpa lampu jalan, di udara yang bersih dan menusuk, bintang-bintang berkedip dengan cemerlang. Di bawah bentangan penuh langit berbintang itu, dikelilingi oleh rasi bintang yang tidak diketahuinya, Subaru merasa dirinya larut dalam pusaran kecilnya sendiri, tentang ketidakpastian masa depannya, ketakutannya yang nyata, dan emosinya yang acak-acakan.

Kelelahan memenuhi dirinya dengan cepat, Subaru merasakan kesadarannya mulai menyurut.

Waktu yang kacau ini meninggalkan tidak hanya tubuhnya yang terbebani oleh kelelahan, tetapi juga pikirannya, terbebani oleh kerja keras yang tak terhitung jumlahnya, terus-menerus menariknya ke dalam kegelapan.

Kutukan Return by Death. Pesta teh para penyihir. Rencana Roswaal. Keangkuhan dirinya, dan Emilia, yang telah memutuskan untuk berdiri sendiri. Tenggelam dalam pikiran-pikiran itu, apa yang harus Subaru lakukan—

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded