Re:Zero Arc 4 Chapter 85.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Dengan Kata-kata, Dengan Perasaan, Dengan Kepalan Tangan, bagian 2

[???: Hey, penampilanmu kacau banget]

Hal pertama yang Subaru sadari ketika dia bangun adalah hawa dingin yang menusuk kulitnya dan suara yang berbicara kepadanya.

Kelopak matanya bergetar di bawah sinar matahari yang dingin saat dia menggerakkan bibir ke samping sampai tampak gigi—berusaha membukanya. Tanpa disadari melihat langsung ke matahari yang mengintip melalui pepohonan, matanya berkaca-kaca ketika ia mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya,

[Suabru: Gh, aduh, sakit….]

Subaru meringis kesakitan ketika mendengar persendiannya berderak.

Dinginnya tanah dan udara saat ia berbaring di lahan yang padat telah membuat tubuhnya mati rasa, dan setiap kali ia bergerak, tulang-tulangnya menentangnya dengan rasa sakit yang tumpul.

[???: Aku enggak tahu kamu sedang apa di sini, tapi aku enggak merekomendasikan tidur tanpa atap. “Di mana ada atap dan lantai, di sanalah Gauran lewat”—begitulah]

[Subaru: Apa itu Gauran…. Uh, sudahlah]

Sambil menggeleng, Subaru menatap sumber suara―Garfiel—yang sedang memamerkan taringnya dan menatap Subaru di tanah.

Saat itulah kesadaran Subaru mengingatkannya tentang apa yang membawanya pada situasi ini.

[Subaru: Be—nar… aku ketiduran seperti ini tadi malam…]

[Garfiel: Aku mencium baumu di tengah hutan saat sedang jalan-jalan, lalu datang untuk melihat apa yang terjadi. Terkapar di tanah seperti itu, aku pikir seseorang menghajarmu dan membunuhmu tadi malam]

[Subaru: Sebagai tersangka utama, kalau kau tidak melakukannya, aku ragu orang lain akan melakukannya…. Jam berapa sekarang?]

Sambil memegangi dahinya, Subaru menggelengkan kepalanya yang berat dan bertanya. Mendengar ini, Garfiel mendengus berat, dan,

[Garfiel: Enggak usah buru-buru, masih belum lewat waktu sarapan. Selain para orang tua yang rajin bangun pagi, yang sudah bangun hanya kau dan aku]

[Subaru: Jadi belum ada yang menyadari aku hilang…. Akan jadi masalah kalau aku tidak kembali ke katedral sampai… atau, sekarang juga, sebenarnya]

Jika Subaru menghilang semalaman, Otto—yang kembali lebih dulu darinya—akan mencurigainya. Bahkan jika itu bukan masalah besar, Subaru ingin menghindari kecemasan menyebar di antara para pengungsi Arlam. Dengan tumpukan-tumpukan masalah yang harus ia selesaikan, menyebabkan perselisihan lebih lanjut karena ketidakpercayaannya sendiri tidak akan ter maafkan.

[Garfiel: …..ekspresimu beda dari tadi malam]

[Subaru: Hah?]

Menggunakan pohon terdekat sebagai pendukung untuk berdiri, Subaru berpaling ketika ia mendengar Garfiel memanggilnya. Melihat ke belakang, ia menemukan sosok Garfiel dengan kasar menggaruk rambutnya yang pendek dan keemasan.

[Garfiel: Kemarin kau kelihatan seperti orang kesurupan, aku enggak tahu itu kamu atau bukan, tapi sekarang, kau kelihatan…. Mukamu kelihatan segar banget]

[Subaru: —–]

[Garfiel: Cih, bukan segar sih. Aku enggak tahu caranya—bilangnya…. Ooy, kenapa kau ketawa?]

[Subaru: Kh, hahahahaha….]

Mendengar Garfiel membahas hal itu, Subaru menyentuh pipinya. Merasa bahwa ujung bibirnya agak mengendur, tawa gemetar keluar dari bagian belakang tenggorokannya.

Tawanya mula-mula rendah dan tertahan, dan berangsur-angsur menjadi tawa yang keras.

[Subaru: Ha, hahahahaha! Segar? Sungguh, aku terlihat segar bagimu?]

[Garfiel: Iya, apa? Apanya yang lucu….]

[Subaru: Kau salah, Garfiel. Benar-benar salah, terbalik]

[Garfiel: Hah?]

Menekan keinginan untuk tertawa, Subaru menunjuk Garfiel dengan satu jarinya.

Dan,

[Subaru: Aku sama sekali tidak merasa segar. Tubuhku seperti akan rontok dan hancur, dan jujur, saat ini, rasanya aku bisa meledak kapan saja. Segala sesuatu yang kurencanakan telah digagalkan, semua perjuanganku menjadi bumerang … dan aku sungguh tidak tahu harus apa sekarang]

[Garfiel: —–]

[Subaru: Lalu, ketika aku menyadari aku benar-benar terjebak, aku malah merasa ingin tertawa. Jika semua yang kucoba lakukan tidak ada gunanya … maka sama saja seperti aku kembali di titik awal, benar kan]

Bergumam tanpa daya, bahu Subaru terkulai.

Jika dia salah sejak awal, maka semua yang dia pikir sejak saat awal juga salah.

Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, baru sekarang ia terlambat menyadari bahwa ia telah menggunakan cara yang salah. Dan yang lebih buruk, itu adalah jenis masalah yang solusinya tidak akan secara ajaib datang dari seseorang.

Garfiel mengerutkan hidungnya, tidak yakin harus berkata apa kepada Subaru yang sedih. Dan mengetahui bahwa Garfiel tidak akan memberinya jawaban bahkan jika ia bertanya, kebencian muncul dalam diri Subaru.

Maka, mereka berdua terjebak dalam keheningan yang canggung, sampai—

[???: —Bagaimana kalau aku memberitahumu apa yang harusnya kau lakukan?]

[Subaru: —-?]

 Subaru dengan cepat menoleh ke suara yang datang dari atas, tetapi Garfiel tidak menunjukkan keterkejutan ketika dia melihat ke arah yang sama, mungkin karena ia sudah merasakan kehadirannya.

Di ujung tatapan mereka, meliuk-liuk melewati celah di antara pepohonan, itu adalah,

[Subaru: ….Otto?]

[Otto: Mhm, selamat pagi. Yap, ini aku]

Diiringi oleh suara ranting-ranting yang patah di bawah kakinya, Otto memasang senyum yang agak palsu ketika dia mendekat. Sementara Subaru terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba, Garfiel hanya berdecap.

[Garfiel: Asal tahu saja, aku juga baru bertemu dengannya. Bukannya aku melupakan kalian dan pergi mengobrol dengannya]

[Otto: Aku tidak khawatir soal hal seperti itu. Aku hanya lega kita menemukan Natsuki baik-baik saja.–Omong-omong, bolehkah aku meminta sesuatu?]

[Garfiel: ….katakan]

[Otto: Bisakah kau meninggalkanku berdua saja dengan Natsuki? Aku ingin membicarakan sesuatu dengannya]

Di depan Subaru yang masih kebingungan, Otto dan Garfiel melakukan percakapan mereka dengan keakraban yang natural. Sambil menggertakkan giginya atas permintaan Otto, Garfiel melirik Subaru,

[Garfiel: Jangan aneh-aneh]

Dan dengan itu, ia meninggalkan mereka.

Menginjak-injak rumput, dan keluar dari hutan, Garfiel kembali ke sanctuary. Mengawasinya saat ia pergi, Subaru menjilat bibir keringnya,

[Subaru: Sepertinya kau jadi dekat dengan Garfiel saat aku tidak di sini]

[Otto: Karena aku tidak melakukan apa pun selama kau pergi dalam petualangan kecilmu, Natsuki. Telah terbentuk pemahaman yang mendalam antara para pengungsi dan orang-orang yang tinggal di sini, dan …. Yah, itu tidak penting sekarang]

Setengah jalan menjawab dengan jujur ​​pertanyaan Subaru, Otto tiba-tiba memutus topik itu dengan lambaian tangannya dan kemudian mulai mengunci pandangannya ke Subaru. Atau, mungkin itu terlalu intens untuk disebut sebagai “pandangan”. Mungkin lebih tepat kalau itu disebut sebagai menatap dengan serius.

[Subaru: Lalu, apa….]

Benar-benar gelisah oleh tatapan itu, Subaru hanya berhasil menggumam lemah. Mendengar itu, Otto menghela nafas kecil,

[Otto: Walaupun hanya sepotong-sepotong, aku masih mendengar apa yang barusan kau katakan. Natsuki, sepertinya kau terpojok… oleh bermacam-macam hal]

[Subaru: ——]

[Otto: Tentu saja, aku tidak tahu detailnya, dijauhkan dari lingkaran dan sebagainya. Tapi kau pasti sudah di ambang batas, benar bukan? Kalau tidak kau tidak akan mengoceh soal “aku harus apa?”]

[Subaru: Jadi, aku harus apa? Kau bilang kau dapat memberitahuku?]

Mendengarkan komentar Otto yang sinis, Subaru mengulangi apa yang dikatakan Otto ketika pertama kali memotong pembicaraan.

Tentunya, itulah yang ia katakan saat Subaru dan Garfiel membisu canggung. Apa maksudnya itu?

[Subaru: kau bilang… kau bisa memberitahuku apa yang harus kulakukan….]

[Otto: Iya, aku tahu. Sangat sederhana, sungguh]

[Subaru: Seder—hana]

[Otto: Kau ingin tahu apa itu?]

Cara bicara Otto benar-benar membuat Subaru jengkel.

Setelah semua yang dia derita, berakhir dalam keadaan yang menyedihkan ini, sekarang, apa yang dikatakan orang ini benar-benar membuatnya kesal.

[Subaru: Te-tentu saja aku ingin tahu! Sudah cukup bercandanya! Kalau kau tahu sesuatu, maka…]

[Otto: Baiklah, bersiaplah]

[Subaru: Bersiap…?]

Sambil mengulurkan tangannya, Otto memberi isyarat agar Subaru menarik napas. Meskipun dia tidak yakin apa yang Otto maksud, Subaru tetap mengikuti instruksi dan menyesuaikan napasnya, menutup matanya dan membiarkan paru-parunya mengembang—

[Subaru: ——?]

Detik berikutnya, tinju yang tajam menghantam wajahnya, membuatnya jatuh ke tanah.

Gagal mempertahankan dirinya, Wajah Subaru terjerembap ke tanah. Ia bangkit dengan cepat, menggelengkan kepalanya, melihat sekeliling dengan bingung, dan melihat Otto dengan tangan terkepal. Subaru menyadari bahwa ia baru saja dipukul.

Di sana, di depan Subaru yang terengah-engah, Otto memamerkan tinjunya yang memerah, dan,

[Otto: Berhentilah merasa seolah-olah kau lebih baik dan menanggung semua beban sendirian, Natsuki Subaru]

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded