Re:Zero Arc 4 Chapter 86.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Menentang Semua Peluang, bagian 1

Subaru ternganga keheranan dengan apa yang baru saja terjadi padanya–sehingga ia lupa akan rasa sakit pukulan yang mendarat di pipinya.

Terjatuh di tanah, Subaru mendongak dan menemukan Otto memelototinya. Pada wajah yang biasanya selalu tampak menyedihkan, tidak berdaya, dan tidak terlalu menunjukkan emosi berarti, kini ada amarah yang jelas dan menyala di matanya.

Kedua mata Otto Suwen menatap Subaru, dengan penuh amarah.

[Otto: Apa kau tak tahu apa yang kau lakukan! Pikiranmu benar-benar kacau!]

[Subaru: —-]

[Otto: Saat kekuatan fisik dan pikiran tidak cukup untuk menyelesaikan masalah, saat kau dalam keadaan di mana kau sangat butuh bantuan, sekarang, yang kau lakukan hanya panik dan membuang-buang waktu…?!]

Otto mendekat selangkah demi selangkah, sementara omelannya pada Subaru berlanjut.

Sementara Subaru—yang sekarang berlutut di atas tanah dengan rasa perih di pipi kirinya—hanya menatap Otto dengan tatapan bodoh.

[Otto: Kau diam, berarti kau tak menyangkalnya. Setidaknya untuk sekarang, kita sama-sama terjebak ke dalam titik terendah pada masalah yang kau ciptakan sendiri.—Kau mendengarkanku tidak…?!]

Otto menarik kerah Subaru yang masih terdiam, lalu mengangkatnya.

[Otto: Kalau kau mendengarku, katakan sesuatu!]

[Subaru: —-!]

Tumbukan yang keras dan kuat menabrak dahi Subaru, rasanya seperti ada percikan darah yang  beterbangan dari tumbukan itu.

Merasakan dunia berputar di depan matanya, Subaru menyadari bahwa Otto telah membenturkan kepala Subaru ke kepalanya sendiri. Kemudian Otto melakukannya lagi, membuat Subaru terpental ke belakang.

Dengan dahi dan tulang pipinya yang sakit, Subaru tersandung kemudian  terjatuh ke belakang. Tentu, tidak ada yang bisa diharapkan untuk hanya duduk di sana dan menerimanya―

[Subaru: Apa-apaan kau ini…?!]

[Otto: Oh, jadi kau sadar saat aku menghajarmu barusan. Padahal aku cukup yakin kalau aku sedang menghadapi seorang yang sedang tertidur, kau tahu….]

[Subaru: Apa yang kau…?!]

Pukulan lain mendarat di hidung Subaru—membuatnya sangat marah. Ia mencoba meraih Otto, namun Otto berhasil menghindarinya dan dengan kasar menyapu kaki Subaru dari bawah, membuat Subaru terjatuh ke tanah.

[Subaru: Gha?!]

[Otto: Saat kau terpancing emosi, pijakanmu benar-benar mudah diserang. Kau selalu seperti itu ‘kan, Natsuki. Menyedihkan]

[Subaru: Oh… itukah yang kau pikirkan?!]

Subaru bangkit berdiri, melemparkan segumpal tanah yang telah dia ambil dan langsung melemparkannya ke wajah Otto. Tetapi Otto berhasil membaca gerakannya—menjaga wajahnya dengan lengannya dan dengan cepat mendekat sebelum Subaru bereaksi. Dangan waktu yang bersamaan menelan ludahnya, kedua tangan Otto telah berada pada belakang leher dan pinggang Subaru sebelum membantingnya ke tanah.

Dampak dari bantingan Otto membuat Subaru tersentak oleh rasa sakit.

Meskipun tanah tempat ia terjatuh sedikit lembut dengan dedaunan mati, tanah itu tidak menyerap bahkan setengah dari benturan yang dirasakan Subaru.

Terengah-engah, dan mati rasa mulai menguasai tubuhnya—Subaru tidak dapat berdiri lagi.

[Otto: Menggunakan trik kotor seperti biasa, Natsuki? Sayang sekali itu tidak bekerja padaku untuk yang kedua kalinya]

[Subaru: ….Ghh, khha!]

[Otto: Lihat, Natsuki? Inilah batas kekuatanmu. Kau tak akan dapat sampai pada level para ksatria atau Tuan Roswaal, apalagi Garfiel. Bahkan melawanku saja, kau jadi seperti ini]

Melihat Subaru mati-matian berusaha bernapas melalui paru-parunya yang tegang, Otto menggelengkan kepalanya dengan putus asa.

Otto berjalan ke sisi Subaru yang tak berdaya, mendekatkan wajahnya.

[Otto: Bertengkar dengan para Pemuja Penyihir dan Paus Putih itu tindakan bodoh. Kau lemah, dan kau tidak akan bertahan sedetik pun dalam pertarungan langsung. Tentunya, kau mengerti ini]

[Subaru: —-]

[Otto: Jadi, apa kau akan mengganti kekurangan itu dengan kecerdasan? Dari apa yang kulihat, kau memang cukup pintar… tapi tentu saja tak memiliki kemampuan penilaian atau kemampuan pengambilan keputusan di atas rata-rata. Bahkan akal sehatmu kurang]

Tidak yakin dengan apa yang Otto katakan, rasa kesal mulai muncul pada napas Subaru yang berantakan.

Sekarang ini, ketegangan di paru-parunya, keterkejutan karena dibanting ke tanah, dan rasa sakit di pipi dan dahinya entah bagaimana tidak lagi terasa. Sebagai gantinya, ketika kesadarannya kembali, Subaru kebingungan dengan niat di balik kata-kata Otto.

Menatap dengan pandangan meremehkan ke pupil hitam Subaru yang kebingungan, Otto melanjutkan,

[Otto: Kekuatan dan kecerdasanmu kurang, dan jika ada hal lain yang bisa mengimbangi … waduh, benar-benar tidak ada apa-apanya. Kau lemah, kau bahkan tidak punya jaringan yang kuat, kau adalah tipe orang yang dapat ditemukan di mana saja. Kau hanyalah orang biasa yang bukan siapa-siapa, namun tujuan besarmu itu sangat tidak proporsional]

[Subaru: Kau ini… bicara apa…?]

[Otto: Kau tahu bahwa dirimu tak berdaya dan lemah, jadi apa rencana cadangan yang kau buat? Rencanamu adalah menyudutkan diri sendiri ke dalam kesia-siaan, mencoba menarik sesuatu dari ketiadaan…. Aku akhirnya mengerti bagaimana perasaan Patrasche kecil]

[Subaru: Patrasche…?]

Mendengar nama naga tanahnya, mata Subaru melebar oleh keterkejutan.

Patrasche. Naga tanah hitam yang terluka untuk menyelamatkan tuan yang bahkan tidak tahu mengapa naga itu berbuat demikian, yang telah mengajarinya begitu banyak hal, dan kepada siapa dia berutang banyak―yang sangat sia-sia di tangan Subaru,

Sekarang Otto mengatakan bahwa dia mengerti bagaimana perasaan naga itu.

Sementara Subaru berbaring di sana, berkedip, Otto menjulurkan jari-jarinya ke rambut abu-abunya, dan, dengan suara yang tajam, ia melanjutkan,

[Otto: Jadi, begini]

[Otto: Tidak apa-apa untuk pamer di depan gadis yang kau sukai. Itu kesombongan yang wajar, dan aku akan menghormatinya. Setelahku pikir-pikir tindakanmu yang akan memamerkan hal-hal di luar kemampuanmu padanya adalah tindakan yang tidak dapat dihindari. Jadi, baiklah, aku rela mengabaikan hal itu]

Otto pasti berbicara soal Emilia. Dan sikap Subaru di depan Emilia.

[Otto: Dan aku akan memaafkanmu karena pamer di depan gadis yang suka kepadamu. Sekali lagi, itu perlu. Ketika cinta terlibat, aku percaya orang yang ada di pihak penerima juga memiliki tanggung jawab tertentu. Jadi penting untuk menjadi keren ketika kau berada di sekitar seseorang yang mencintaimu, dan aku dapat memaafkanmu untuk itu]

Itu adalah Rem. Suatu kali, Subaru memberi tahu Otto hal yang persis sama. Bahwa ia ingin pamer di depan Rem, karena Rem mencintainya.

[Otto: Tapi di situlah batasnya]

Dengan ini, Otto menempelkan wajahnya lebih dekat.

Subaru mengangkat bahu untuk mengantisipasi benturan lain, tetapi Otto melanjutkan, suaranya berubah menjadi geraman,

[Otto: Kau tahu bahwa kau lemah! Kau tahu bahwa kau tidak cukup kuat! Kau ingin pamer kepada gadis yang kau sukai! Dan Kau ingin menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan oleh gadis yang menyukaimu]

[Subaru: —-]

[Otto: Jadi, untuk mengganti bagian-bagian yang kau sembunyikan dari gadis-gadis itu, bukankah harusnya kau meminta bantuan kepada orang lain? –Katakanlah, kepada seorang teman?]

Menarik wajahnya, Otto mengatakan bagian terakhir—memegang telapak tangannya ke dadanya sendiri.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded