Re:Zero Arc 4 Chapter 86.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Menentang Semua Peluang, bagian 2

[Subaru: Haa…]

Mendengarkan omelan Otto, Subaru menghela nafas kecil.

Sejujurnya, untuk sesaat, Subaru memikirkan jawaban seperti “Iya, kau benar” atau sejenisnya.

Bukannya dia tidak berharap bisa mendapat bantuan dari seseorang dengan cara ini. Tentu saja harapan itu ada dalam hatinya. Seperti yang dikatakan Otto, Subaru tahu bahwa ia lemah dan tidak berdaya. Ia tidak sesombong itu untuk berpikir bahwa ia dapat menyelesaikan semuanya seorang diri.

Faktanya, selama ini, bukankah dia sudah mencoba meminta bantuan Echidona dan Roswaal untuk menggantikan ketidakmampuannya sendiri?

Namun, alih-alih mendapat pertolongan dari mereka, yang ia dapatkan hanyalah luka dan kebenaran yang tidak ingin ia pelajari.

Dia sudah mencoba melakukannya dengan cara Otto. Tetapi apa yang disarankan Otto tidak akan berhasil sama sekali. Pintu itu sudah tertutup rapat.

[Subaru: —Hah]

[Otto: Apanya yang lucu?]

Mencapai kesimpulan terdalam dihatinya, kesimpulan itu juga terlihat pada wajah Subaru. Melihat itu, Otto mengerutkan alisnya dengan ekspresi tidak senang, sementara Subaru, dengan wajah merah dan bengkak, mendongak untuk membalas tatapannya,

[Subaru: Kau salah sangka… aku bukannya tidak pernah meminta pertolongan. Aku sudah mencoba semua cara yang mungkin dapat berhasil, aku sudah mencoba bergantung ke … orang-orang yang kupikiri bisa membantuku, dan masih saja .…]

Harapannya dikhianati, tetapi, karena tidak mau menyerah, Subaru ditinggal dan diabaikan, meringkuk dan memeluk kepalanya.

Pada akhirnya, bahkan Emilia, yang dia pikir ia harus lindungi dan selamatkan, menolak gagasannya. Dan baru kemudian ia menyadari bahwa, selama ini, ia telah memandang rendah Emilia sebagai “seseorang yang lemah yang membutuhkan perlindungannya”.

Setelah mengalami berbagai hal, bertemu dengan banyak orang, mengatakan hal-hal yang berlebihan, menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa ia akan membuat semuanya berhasil, menolak tekad untuk mati dan merangkul tekad untuk hidup, dan berpura-pura seolah-olah ia telah bergerak maju walau hanya sedikit, pada akhirnya, yang dilakukan Subaru hanyalah berjalan di tempat.

Dia tidak bisa melihat satu hal pun yang bisa dia lakukan untuk mengubah jalan buntu ini.

Sekarang ini—bahkan senyumnya yang dipaksakan telah mengering—hanya ekspresi dingin dan kaku yang tersisa di pipi Subaru.

Melihat ini, bibir Otto bergerak mendengar keluhan menyedihkan Subaru,

[Otto: …. Tapi, aku tidak ingat kau pernah meminta bantuanku, Natsuki]

[Subaru: —-]

[Otto: Apakah aku tidak layak untuk dimintai bantuan, dan akan sia-sia meminta bantuan padaku… begitukah kau melihatku, benar, ‘kan? Atau mungkin, di matamu.… Aku hanyalah satu di antara orang-orang yang butuh perlindunganmu?]

Ketika Otto mencoba untuk menahan emosinya, suara gemetarannya–hanya membuat kata-katanya semakin menggelegar.

Itu hanya sekilas tentang kemarahan, kesedihan, dan emosi Otto yang ditahannya.

Tersentuh oleh riak emosi Otto yang meluap, Subaru menyadari bahwa kata-katanya telah menyakiti Otto secara tidak sengaja, dan dia dengan cepat menggelengkan kepalanya.

[Subaru: Tidak, kau salah…]

[Otto: Salah? Aneh kalau aku salah. Kalau memang aku salah, lalu kenapa kau duduk di sana sendirian dan tak mengatakan apa pun padaku?]

[Subaru: Aku tak mengatakannya padamu … bukan karena aku tidak percaya padamu. Kau salah soal itu]

[Otto: —–]

Gugup saat ia menggelengkan kepala, pandangan Subaru berkeliaran.

Sementara itu, Otto terdiam, menatap tajam pada Subaru dengan mata hijaunya.

Tekanan tatapan itu membuat Subaru menurunkan pandangannya, kata-katanya kacau saat ia meletakkan tangan ke dahinya.

Subaru bukan tidak mempercayai Otto. Dalam perulangan hidupnya, Otto telah mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya, dan tetap bersamanya bahkan ketika hal itu tidak mendatangkan keuntungan apa pun. Untuk itu, Subaru dengan tulus berterima kasih, dan tidak berbohong ketika memanggilnya teman.

Namun bagaimana ia dapat mengatakan kebenarannya pada Otto?

Kepada Echidona atau Roswaal yang bisa memahami keadaan Subaru, maka hal itu akan baik-baik saja. Ada hal tabu yang tak dapat dilanggar, hanya percakapan sederhana yang dapat dilakukan.

Tapi Otto tidak bisa. Bukan hanya Otto, tidak satu pun dari Emilia, Ram, atau yang lainnya di sanctuary yang mengetahui kutukan dan situasi Subaru.

Tanpa menyebut-nyebut sang penyihir atau Return by Death, Subaru tidak mungkin menjelaskan masalah yang ia hadapi. Bahkan jika ia dapat memberi tahu mereka apa yang akan terjadi, tentang Kelinci Besar dan serangan terhadap mansion―Subaru tidak akan bisa mengatakan bagaimana ia mengetahui hal-hal ini sejak awal.

Ketika itu terjadi, apa yang harus dikatakannya pada mereka untuk membuat mereka percaya padanya? Bisakah dia mengharapkan hal seperti itu?

Ia tahu ia tidak cukup kuat, ia tahu ia tidak cukup pintar, dan ia tahu betapa tidak bergunanya dirinya.

Dan akhirnya, Subaru tidak bisa melakukan apa pun tanpa mendapatkan bantuan dari orang lain, dan ia mengerti bahwa tugasnya adalah untuk mendapatkan bantuan yang ia butuhkah.

Tetapi sekarang, setelah gagal melakukan pekerjaannya, ia terjebak.

[Subaru: Aku tak dapat menjelaskannya. Pikiranku kacau… seperti katamu, aku ini kacau, dan … tidak ada cara untukku membuktikan perkataanku]

[Otto: … …]

[Subaru: Masalahku adalah hal-hal yang bahkan jika kukatakan, kau tak akan mempercayainya… jadi bagaimana aku dapat menjelaskannya…. Itulah mengapa aku tak bisa mengatakannya padamu, pada semua orang, pada–]

[Otto: ….kenapa tidak kau coba saja?]

[Subaru: —Huh?]

Ketika Subaru mengatakan kepadanya bahwa ia tidak dapat memberinya alasan untuk memercayainya, begitulah jawaban Otto.

Tanpa sadar mengharapkan kata-kata itu, Subaru melihat Otto dengan tangan terlipat, menatap ke arahnya,

[Otto: Jadi, cobalah untuk mengatakannya? Bahkan jika semuanya tidak masuk akal dan kacau karena kau sendiri kacau, aku tidak akan menyanggamu, dan aku akan mendengarkan sampai akhir]

[Subaru: Tidak, tapi itu akan …,]

[Otto: Oh, ayolah… ceritakan saja! Aku ‘kan sudah bilang, jangan sok dan merasa diri paling baik?!]

Otto menendang tanah dengan kakinya, berteriak bahwa ia sudah muak mendengar alasan Subaru.

Lalu, mengacungkan jari ke arah Subaru yang terbelalak,

[Otto: Kalau kau punya waktu untuk mengeluh karena tidak memiliki bukti dan berpikir tidak ada yang akan percaya padamu, kenapa kau tak menggunakan waktu itu untuk memuntahkan semua yang memenuhi kepalamu?! Bukankah itu jauh lebih konstruktif daripada duduk di sana dengan wajah murung?!]

[Subaru: Bahkan kalau kau bilang begitu…! Tidak mungkin kau akan mempercayai omong kosong yang akan kuceritakan padamu…!]

[Otto: Katakan saja semua omong kosongmu itu! Lalu pada akhirnya aku akan menanggapinya dengan “Aku percaya padamu!” Karena begitulah teman seharusnya!]

―Semua isi kepala Subaru yang bingung dan kusut ditarik dan terhempas oleh teriakan Otto.

Kata-kata Otto tanpa dasar yang nyata, dan logikanya sama sekali tidak meyakinkan.

Namun, untuk Subaru yang sedang terjebak dalam keputusasaan, hal itu seperti dorongan yang hangat di punggungnya.

[Subaru: Baiklah.… Aku tak mengharapkanmu untuk percaya pada semua ini, tapi…]

Sedikit demi sedikit, Subaru menyuarakan setiap masalah yang ia simpan di dalam dirinya, dan itu bahkan tidak butuh waktu lama.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded