Re:Zero Arc 4 Chapter 87 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Satu Iblis Di Luar, Dua Badut Di Dalam

Dua tatapan keheranan tertuju pada Subaru yang sedang kehabisan napas—yang baru saja menerobos masuk ke dalam ruangan itu.

Sejauh yang ia tahu, kedua orang ini seharusnya tidak memiliki emosi seperti “keterkejutan”. Mendapatkan sedikit kepuasan dari reaksi mereka, senyum jahat di wajah Subaru semakin merekah.

[Roswaal: —Taruhan?]

Gumam Roswaal, sambil menyipitkan kedua matanya yang berlainan warna.

Wajahnya yang biasa ditutupi riasan badut, sekarang terlihat polos. Dalam berbagai perulangan hidupnya, hanya sekali Subaru melihat wajah asli Roswaal seperti yang terlihat sekarang.

Kulit yang tidak tertutup kosmetik terlihat pucat, dan matanya yang tidak dibingkai oleh eyeliner menunjukkan kesederhanaan dan ketulusan—sebuah kesan yang sepenuhnya tidak pernah Subaru pikir ada pada sosok Roswaal. Sebelum ia menyadarinya, sosok muram dan penuh perhitungan di balik topeng badut itu telah berubah menjadi pemuda yang bersih dan bersahaja.

Orang-orang tampan memang tampan tanpa perlu tambahan apa pun, Subaru membatin lalu mengangguk pada gumam Roswaal,

[Subaru: Ya, taruhan. Pada keinginanmu dan keinginanku…. Hanya satu ronde, pemenangnya mendapatkan semuanya]

[Roswaal: —-]

Mendeklarasikan niatnya, Subaru mengangkat satu jari dengan penuh rasa percaya diri. Seolah menimbang-nimbang tawaran Subaru, Roswaal menyipitkan matanya. Namun, sebelum Roswaal dapat memberikan jawabannya, sosok lain berjalan di antara mereka, berdiri di antara mereka berdua—itu adalah si pelayan berambut merah muda, Ram.

Dengan Roswaal di belakangnya, tatapan Ram sangat tajam saat ia menghadapi Subaru. Meskipun, dalam keseharian mereka, Ram cenderung memarahi Subaru setiap kali ia punya kesempatan dengan tatapannya yang selalu tajam, namun kali ini berbeda, pandangan tajamnya tidak dapat dibandingkan dengan hari-hari itu.

[Ram: Tunggu dulu, Barusu. Kau datang tiba-tiba ke dalam ruangan, dan tepat ketika aku bertanya-tanya apa yang kau lakukan … kau ingin membebani Tuan Roswaal lebih jauh lagi di masa pemulihannya? Bahkan penghinaan juga ada batasnya]

[Subaru: Mempertimbangkan keadaan, dengan alasan “Aku sakit dan terluka” mulai detik ini alasan itu tidak akan pernah berfungsi lagi. Hal itu tidak ada hubungannya dengan lidah licin dan hati busuknya… jadi ia hanya perlu menerimanya sampai aku selesai]

[Ram: Barusu—]

[Subaru: Dan aku tak peduli apa yang kau katakan, keputusanku tidak akan pernah berubah!]

Perpaduan antara bahaya dan keanehan berkobar di mata Ram. Tapi, sebelum gadis itu dapat bertindak, Subaru menyentakkan kakinya ke lantai. Mengacungkan jarinya ke arah Ram, yang dengan hati-hati berhenti,

[Subaru: Aku tak punya alasan untuk berhenti atau ragu. Kau dan aku cukup dekat untuk tahu sebanyak itu, benar, kan–Roswaal?]

[Roswaal: —Hmmm]

[Subaru: Atau jangan-jangan motivasimu habis hanya karena hal-hal berjalan tidak sesuai dengan buku harian kecilmu itu? Bagaimana kalau menunjukkan sedikit kemampuanmu dan mengusahakan sesuatu untuk dirimu yang akan datang saja?]

[Roswaal: …, diriku yang akan datang… ungkapan yang menarik]

Subaru mencoba menyampaikan maksudnya kepada Roswaal tanpa secara langsung menyebutkan Return by Death. Meskipun Ram mengerutkan alisnya dengan bingung, Roswaal tampaknya mengerti.

Dengan sedikit semangat kembali ke wajahnya yang sebelumnya terlihat seolah-olah tanpa motivasi, Roswaal berbicara kepada Ram di depannya,

[Roswaal: Ram. Tidak usah bersiaga … atau, sebenarnya~, bisakah kau meninggalkan kami berdua saja?]

[Ram: …! Tapi, Tuan Roswaal—]

[Roswaal: Tidak apa, tidak apa. Bahkan kalaupun aku sendirian, Subaru kecil tidak cukup kuat untuk mela~wanku. Dan mengalahkannya adalah hal mudah. Bukan begi~tu?]

[Subaru: I-iya, memalukan memang. Tapi kalau aku terlibat adu fisik dengannya, aku tak yakin aku dapat menariknya dari tempat tidur itu]

Melihat Subaru melambaikan tangannya yang kosong, Ram mengertakkan giginya, dan sekali lagi mengalihkan pandangan khawatirnya ke Roswaal,

[Ram: —Kumohon jangan memaksakan diri]

Dengan itu, ia memberikan hormat yang serius dan berjalan menuju pintu keluar kamar. Tepat sebelum melewati Subaru, matanya melotot ke samping,

[Ram: —Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Tuan Roswaal, aku tidak akan memaafkanmu]

[Subaru: Kau harus lebih khawatir tentangnya menyakiti dirinya sendiri, kau tahu]

Melihat Ram pergi dengan bahu tegang, Subaru menyaksikan pintu tertutup di belakangnya sebelum kembali ke Roswaal. Ekspresi Roswaal tetap serius saat ia menutup sebelah matanya, menatap Subaru dengan mata kuningnya.

[Roswaal: Sekali lagi, ekspresimu sa~ngat berbeda dari ketika kita berpisah tadi malam. Mungkinkah ada sesuatu yang beru~bah di hatimu dalam beberapa jam ini?]

[Subaru: Perubahan hati… hm, kau bisa menyebutnya seperti itu. Aku berbicara dan bertengkar dengan seorang teman dan … yah, itu agak terlalu egois untuk menjadikannya sebuah perkelahian, tapi itu adalah sesuatu yang menegaskan kembali persahabatan kami]

Menyentuh pipi yang dipukul Otto, yang masih agak merah, Subaru mengingat kembali sensasi pagi itu.

Meskipun sosoknya kurus, Otto ternyata kuat. Mungkin, hal itu berkaitan dengan jumlah pengalaman yang telah ia lalui jauh lebih banyak daripada Subaru. Subaru berpikir kehidupannya di dunia ini sudah sangat menyulitkannya, tetapi tampaknya masih tidak ada apa-apanya.

[Subaru: Sungguh, kejam sekali dunia ini….]

[Roswaal: Setuju. Yah, kemarin aku sudah mengkonfirmasi bahwa usahaku memojokkanmu masih belum cukup, tetapi kenyataan bahwa kau kembali begitu cepat hanya menunjukkan bahwa pemikiranku tidak salah]

[Subaru: Aku sudah benar-benar di ambang batas, loh… aku hanya berpikir dengan sesederhana mungkin]

Tampaknya kata-kata dan tinju Otto telah mengetuk “kemampuan berpikir” Subaru yang semula bengkok.

Metode yang sangat kasar dan sederhana. Tidak ada yang lebih kekanak-kanakan dari memiliki teman yang menghajarmu kepada kebenaran, dan jika itu terjadi pada orang lain, Subaru pasti akan mencemooh mereka karena itu.

[Subaru: Tapi aku tidak berpikir itu hal yang buruk. Ketika kau terjebak dan tidak menemukan jalan keluar, rasanya senang memiliki teman untuk membantu memecahkan masalah]

[Roswaal: Naif, masih hijau, tidak dewasa…. Pada akhirnya, kau hanya dapat menyelesaikan penderitaan dunia ini seorang diri. Kau tidak perlu ide-ide malas seperti mengandalkan teman]

[Subaru: Mengandalkan teman, mengandalkan ikatan, mengandalkan perasaan… kau tidak berpikir itu akan berhasil?]

[Roswaal: Tidak aka~n]

[Subaru: Begitu ya. —Jadi, kita lihat saja siapa yang benar]

Ekspresi Roswaal berubah, sementara Subaru berjalan ke tempat tidur, mengacungkan jarinya, dan menunjuk langsung ke Roswaal.

[Subaru: Seperti yang kukatakan, mari kita bertaruh. Dengan keinginan kita sebagai taruhannya, satu ronde memutuskan semuanya]

[Roswaal: Baiklah, coba katakana mau~mu]

Setelah mengonfirmasi bahwa Roswaal tidak langsung menolak tawarannya, Subaru mengarahkan jarinya ke langit-langit,

[Subaru: Aku tidak akan mengikuti caramu saat ini. Bukan hanya kali ini, aku tidak berniat melakukannya dengan caramu, selamanya … tapi, bahkan jika aku terus bersikeras, kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan perdebatan ini. Jadi mari kita menetapkan batas]

[Roswaal: Batas?]

Mendengar Roswaal mengulanginya kembali, Subaru mengangguk.

Menjilat bibirnya dalam usahanya mengusir gugup, Subaru menatap lurus ke mata Roswaal,

[Subaru: Di kehidupan ini, aku ingin menyelesaikan semuanya dengan caraku. Kalau aku gagal… kehidupanku selanjutnya, aku akan melakukannya dengan caramu. Itulah batasnya]

[Roswaal: ―Memiliki kemampuan untuk mengulang tanpa batas waktu, kau akan meninggalkan hakmu untuk terus mencoba?]

[Subaru: Kau sendiri yang bilang. Usahamu untuk memojokkanku tidak cukup. Dan aku setuju.—Kalau aku berpikir aku bisa mengulangnya seenak hati dan membetulkannya semauku, hal itu akan berlanjut seperti ini terus]

Meskipun tentu saja, Subaru tidak punya niat untuk menolak konsep itu sepenuhnya.

Di dunia yang kejamnya tanpa ampun ini, apa yang bisa dilakukan Natsuki Subaru tanpa Return by Death? Subaru benar-benar tidak tahu malu untuk sepenuhnya menolak semua keuntungan yang diberikan oleh Return by Death kepadanya.

Tetapi pola pikirnya telah berubah. Jika Subaru telah melakukan semua yang ia bisa dan mati, ia setidaknya akan pasrah menerimanya. Tetapi jika itu tidak terjadi, dan ia malah mati ketika ia bisa hidup, maka,

[Subaru: Itu akan menjadi penghinaan untuk semua orang yang menangis untukku. Aku tidak akan melakukannya lagi]

[Roswaal: Jadi, kau akan menetapkan batas pada dirimu sendiri … … benar begi~tu? Meskipun kuakui aku tidak bisa meminta kondisi yang lebih baik, bagaimana kau menjamin bahwa kau akan mematuhinya?]

[Subaru: Menjamin?!]

[Roswaal: Ya, jaminan. Sangat pe~nting, bukan? La~gipula, dengan kemampuan pengulanganmu, kau dapat dengan mudah berpura-pura perjanjian ini ti~dak pernah terjadi. Kalau kau gagal, kemudian kembali ke tadi malam, da~n dengan mudah memutuskan cara lainnya….]

[Subaru: Roswaal]

Saat Roswaal menyuarakan keraguannya, Subaru dengan tenang memanggil namanya.

Terpotong oleh panggilan itu—berhadapan dengan tatapan Subaru—mata Roswaal sedikit melebar. Kemudian, Subaru melanjutkan dengan nada suara yang tidak berubah,

[Subaru: Kau pikir aku akan melakukannya?]

[Roswaal: —–]

[Subaru: Kalau benar, maka… percakapan ini tidak akan berhasil sama sekali. Begitulah]

Roswaal menyipitkan matanya pada kata-kata itu, dan dengan ringan mengangkat tangannya, mendesah.

[Roswaal: Tidak, tidak ~~. Mari kita dengarkan sisa~nya. Aku akan memutuskannya di akhir]

[Subaru: …. Jadi begini. Seperti yang kukatakan, kita akan menetapkan batas. Aku akan berusaha sekeras mungkin pada kehidupan ini. Dan jika itu masih tidak berhasil, aku akan melakukan apa yang kaukatakan. Karena, bagaimanapun juga… jika ini tidak berhasil, aku ragu hal lain akan berhasil]

[Roswaal: Kau tidak terdengar terlalu percaya diri? Tapi kau punya resolusimu sendiri…. Kalau begi~tu, aku akan menghargainya. Sekarang, kau akan menetapkan batas pada dirimu sendiri, dan menjadikan upaya ini sebagai yang terakhir. Jadi, apa yang akan kau mau dariku?]

Nada bicara Roswaal mulai kembali normal.

Melihat bahwa negosiasi telah mencapai pengertian yang baik, Subaru bertepuk tangan,

[Subaru: Permintaanku sederhana. Jika aku berhasil memecahkan masalah ini dengan caraku di kehidupan yang satu ini, masa depan akan berjalan jauh dari ekspektasimu. Ketika itu terjadi, kau mungkin akan kehilangan semua keinginan untuk hidup di dunia yang telah menyimpang dari kitab kecilmu itu, benar, kan…. Aku tidak ingin itu terjadi]

[Roswaal: Tidak ingin? Maksudmu aku tidak boleh kehilangan tekadku? Sayangnya, harus kukatakan bahwa permintaanmu itu agak sulit. Tentu saja, aku dapat berpura-pura, tapi dalam hatiku, aku akan…]

[Subaru: Kau tahu Roswaal, aku tidak ingin kita menjadi musuh selamanya]

[Roswaal: —Hmm?]

Tidak yakin akan maksud kalimat Subaru, Roswaal memiringkan kepalanya.

Melihat ini, Subaru menggosokkan hidungnya dengan jarinya, dan,

[Subaru: Aku tahu kau tidak tahan menghadapi masa depan yang menyimpang dari kitabmu dan takdir yang berbeda dari keputusanmu. Tetapi bahkan di masa depan yang menyimpang dari kitabmu itu, aku masih akan mempertaruhkan segalanya dan menjadikan Emilia sebagai ratu. Dan aku akan terus menggunakan kutukanku untuk memastikannya.—Apa pun jalan yang kita ambil untuk sampai ke sana, hasil akhirnya tidak akan menyimpang dari tujuanmu]

[Roswaal: ——]

[Subaru: Roswaal, permintaanku sederhana. Jika aku membuka jalan ke masa depan yang berbeda dari kitabmu… maka kau akan membuang kitab itu dan bergabung denganku. Aku akan membuat Emilia menjadi ratu. Dan aku butuh bantuanmu untuk itu]

Tidak peduli seberapa banyak tangan Roswaal telah ternodai oleh tindakan yang tidak termaafkan, kekuatannya akan diperlukan untuk tujuan Emilia. Subaru sendiri masih tidak memahami dan jijik kepadanya. Dan jika semua hal di kehidupan ini diabaikan begitu saja, konsekuensi dari niat Roswaal tidak akan dapat diperbaiki. ―Namun Subaru sendiri akan memadamkan kemungkinan itu dan menghindari jebakan fatal itu.

Mendengar tawaran Subaru, Roswaal menghela nafas panjang dan dalam.

Menutup matanya, Roswaal tenggelam dalam pikirannya, menggosok dagunya saat bibirnya perlahan terbuka,

[Roswaal: Jadi itukah permintaan utamamu…]

[Subaru: Cukup mudah, bukan? Tapi aku suka hal-hal yang mudah. Emilia akan melakukan yang terbaik untuk menjadi ratu, aku akan mendukungnya di sisinya, dan kau akan ikut dalam perjalanan itu]

[Roswaal: Permintaanmu tidak mudah untukku, ketika aku telah melakukan sesuatu dengan satu cara untuk waktu yang lama, sa~ngat lama. Jika kau ingin membuat aku beru~bah sekarang…… akan memerlukan kondisi yang setimpal juga untukmu, bukan?]

[Subaru: Ya, pastinya]

Roswaal menyipitkan matanya, sementara Subaru mengangguk dan mengangkat dua jarinya.

Merasakan tatapan Roswaal terfokus pada ujung jarinya, Subaru mengibaskannya,

[Subaru: Ada dua syarat. Dua kondisi yang kau katakan tidak mungkin dan tidak akan pernah bisa dilakukan. Jika aku berhasil menyelesaikan persyaratan itu, aku yang menang taruhan]

[Roswaal: Dan jika kondisi itu tidak terpenuhi, kemenangan adalah milikku. Dan aku akan membuatmu membuang sisi manusiamu]

Berbicara dengan nada rendah dan tajam, Roswaal mengunci pandangannya pada Subaru. Di bawah tatapan mendesak Roswaal, Subaru dengan singkat mengertakkan gigi dengan anggukan, dan melanjutkan,

[Subaru: Jadi, syarat pertama.―Aku akan membujuk Garfiel, dan membawanya keluar]

[Roswaal: ――――]

[Subaru: Kau bilang keterikatannya pada sanctuary berarti aku tidak akan pernah bisa membawanya keluar dari tempat itu. Aku setuju. Tapi bahkan ketika aku setuju… kita akan membutuhkan bantuannya di masa depan. Bahkan jika kita mempertimbangkan perasaan orang-orang di sanctuary, kita tidak bisa membiarkan bocah nakal yang keras kepala itu di sini selamanya. Jadi aku akan melakukan apa yang kau anggap tidak dapat dilakukan dan mendatangkan Garfiel ke pihak kita]

[Roswaal: ―Dan yang kedua?]

Saat dia mendengar kondisi pertama, emosi gelap menggumpal di dalam mata Roswaal.

Tetapi, Roswaal tidak mengomentarinya, ia hanya meminta kondisi selanjutnya. Dengan anggukan, Subaru melanjutkan,

[Subaru: ―Aku akan membuat Emilia lulus ujian makam. Yang mengatasi ujian makam dan membebaskan sanctuary adalah Emilia. Bukan aku]

[Roswaal: Tidak mungkin?!]

Roswaal berteriak, meninju tempat tidur dengan tangannya.

Bunyi gedebuk terdengar bersamaan dengan mendaratnya tinju itu, saat wajah Roswaal berkerut marah. Mengangkat bahunya, dia menjentikkan jarinya ke arah Subaru,

[Roswaal: Aku sudah katakan tadi malam. Dia tidak akan mampu melewati ujian. Dan Garfiel tidak akan pernah meninggalkan keterikatannya dengan sanctuary!]

[Subaru: Tidak akan tahu sampai aku coba, kan?]

[Roswaal: Memang, kau tidak akan tahu kecuali kau sudah mencoba. Dan bukankah itu justru karena kau telah mencoba berkali-kali sampai kau datang kepadaku karena percobaanmu gagal?! Reputasimu, dan tekadmu sekarang adalah bukti bahwa keduanya tidak sepadan dengan investasi harapanmu!]

Bahu Roswaal naik turun saat ia berbicara—hampir berteriak. Sementara Roswaal bernafas dengan kasar, Subaru hanya dengan tenang menghadapnya,

[Subaru: Kau sangat kesal, bukan]

[Roswaal: Apa…?]

[Subaru: Bukankah menguntungkan bagimu karena kondisinya sangat buruk untukku? Tidak masuk akal bagimu untuk marah tentang hal itu, kan?]

[Roswaal: Pertama-tama, dari awal masalahnya adalah apakah perjanjian ini dapat dibentuk atau tidak. Ketika bukan hanya keseimbangan tetapi kekuasaan yang dipertanyakan, hasil taruhan akan dipertanyakan. Wajar kalau aku berhati-hati]

Diberi kondisi yang begitu membebani Subaru dan begitu menguntungkan dirinya sendiri telah membuat Roswaal waspada. Tetapi melihat reaksi Roswaal, pipi Subaru terangkat, ketika senyum jahat merekah makin buas pada wajahnya.

[Subaru: Roswaal, kau sepertinya tak mengerti]

[Roswaal: ――――]

[Subaru: Apakah kondisinya sangat membebaniku? Ya, itu cukup sulit, bagaimanapun kau melihatnya. Aku akui aku sempat berpikir bahwa ini akan membantumu menyelamatkan beberapa harga diri ketika kau memperbaiki rencanamu itu, tapi … ini sebenarnya tentang hal yang lain]

Di depan Roswaal yang terdiam, Subaru melanjutkan dengan senyum di wajah yang tidak berubah,

[Subaru: Kau sendiri yang mengatakannya, Roswaal]

[Roswaal: ――――]

[Subaru: Ketika aku terpojok, aku menjadi kartu terkuat.―Mungkin tidak seperti yang kau inginkan, tetapi kutukanku adalah kartu terkuat di sini, tanpa keraguan. Kau masih tidak puas?]

Terhadap celaan Subaru, Roswaal tetap diam.

Ditatapnya Subaru sambil berusaha mengendalikan irama napasnya. Dan, begitu napasnya tenang, Roswaal mengangkat satu jari,

[Roswaal: ―Kontrak]

[Subaru: ――――]

[Roswaal: Baiklah. Aku akan menerima persyaratan yang telah kau sampa~ikan. Bebaskan Garfiel dari mantranya, dan biarkan Nona Emilia membebaskan sanctuary. Setelah kedua hal ini terjadi, aku akan membuang rencanaku dan mengikuti jalan yang telah kau buat. Mari kita membuat kontrak untuk tujuan ini]

Sebuah cahaya redup berkedip di atas jari Roswaal yang terangkat.

Mana itu berwarna-warni, seperti cahaya multi-elemen yang Julius gunakan untuk menghancurkan Petelgeuse.

[Roswaal: Melalui gerbang kita, kita akan mengukir kontrak ke dalam jiwa kita. Tidak peduli siapa yang kau tipu, kau tidak bisa menipu hatimu sendiri.―Sebuah kontrak yang diukir pada jiwa melampaui jarak dan waktu, dan bertahan bahkan di seluruh dunia. Itu akan terus mengikatmu bahkan jika kau mundur dan memulai lagi]

[Subaru: Hah, jadi kau juga memikirkan sesuatu …. Tapi, itu bagus untukku. Jika kita berdua terikat kontrak, aku akan selamat dari tendangan dan amukanmu saat kau kalah taruhan]

[Roswaal: Sepertinya kau tidak menganggap ini enteng … baiklah]

Melihat bahwa Subaru bersedia menerima kontrak, Roswaal tidak mengatakan apa-apa lagi.

Cahaya di ujung jarinya menekan bagian tengah dada Subaru, dan bersamanya, muncul sensasi seperti sesuatu meresap ke dalam tubuhnya. Segera—merasakan detak nadi di dalam dirinya dan membuka semua pori-pori tubuhnya, Subaru menghela napas.

[Subaru: Aa, hha―]

[Roswaal: Dan hal yang sama akan terukir pada jiwaku.―Sekali kontrak Natsuki Subaru telah terpenuhi, kontrak Roswaal L Mathers juga akan dipenuhi]

Semburan pelangi cahaya yang identik berdenyut di dada Roswaal.

Untuk sesaat, cahaya menyebar ke seluruh tubuh Roswaal, sebelum semuanya kembali normal dalam sekejap mata.

[Subaru: Jadi, sudah selesai?]

[Roswaal: Sudah selesai…. Tidak ada cara untuk kembali sekarang]

Mengkonfirmasi ketidakmampuan mereka untuk melarikan diri, Subaru diam-diam menelan ludah.

Di tempatnya, Roswaal meletakkan tangan ke dadanya sendiri, dan,

[Roswaal: Sama seperti kau akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi persyaratanmu, aku juga akan bergerak untuk menjalankan ramalan kitabku. Kau tidak akan menyalahkan aku untuk itu, kan?]

[Subaru: ―Dalam lima hari, salju akan turun lagi?]

[Roswaal: ….Jika Nona Emilia tidak menurunkan badai salju, aku kemungkinan besar harus menurunkannya~ sendiri]

Dengan kata lain, batas waktu ditetapkan.

Dalam lima hari, Kelinci Besar akan menyerang. Emilia harus membebaskan sanctuary, dan Subaru harus mematahkan mantra Garfiel sebelum itu.

[Subaru: Jika sudah diputuskan, tidak ada waktu untuk disia-siakan. aku lebih baik mulai bergerak]

[Roswaal: Subaru kecil]

Ketika Subaru pindah dari tempat tidur untuk menyelesaikan tugasnya, Roswaal memanggilnya.

Berbalik, dia melihat Roswaal sedikit mengalihkan pandangannya,

[Roswaal: Mansion akan tetap seperti ini.―Lakukan yang terbaik, aku akan berdoa untukmu]

[Subaru: Berdoa untukku? Karena jika aku mencoba melakukan segalanya dan merusaknya, nanti kau akan membuatku melakukan hal-hal dengan caramu … benar, kan?]

[Roswaal: ——]

Roswaal menjawab balasan Subaru dengan diam.

Mendengar ini, Subaru memberinya senyum masam, dan menyelesaikannya dengan menudingkan jarinya ke Roswaal,

[Subaru: Roswaal, kau membuang ciri khasmu jadi tolong kembalikan riasan badut itu]

[Roswaal: Hhm, sekarang setelah kau membahasnya … ini adalah pertama kalinya kau melihatku tanpa riasan, benar, kan]

[Subaru: Di dunia ini, itu benar]

Subaru dapat merasakan mata Roswaal melebar pada sindirannya saat dia berbalik.

Menikmati reaksi ini di balik punggungnya, Subaru memulai langkahnya,

[Subaru: Ini adalah pertandingan antara kau dan aku. Dua badut diombang-ambingkan oleh nasib, jadi mari kita bertarung, adil dan jujur!]

Dengan itu, ia meninggalkan ruangan.

Ketentuan taruhan sudah berlaku. ―Dan dengan begitu, inilah awalnya:

Tantangan terakhir Natsuki Subaru, dengan pembebasan sanctuary sebagai taruhannya.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded