Re:Zero Arc 4 Chapter 89.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Kenangan Salju, bagian 2

—Setiap kali ia memejamkan matanya, ingatan itu akan kembali hidup, bahkan sekarang.

Putih. Dunia yang putih.

Dalam pemandangan yang keperakan ini, Emilia muda berjalan sendirian.

—Kau tidak boleh mengingat ini!

Sebuah teriakan tanpa suara mencegahnya, namun Emilia muda yang berjalan dengan kepala tertunduk tak mendengarnya. Dia lalu melirik ke sekeliling daerah itu dengan sedihdan dengan harapannya yang terkhianati, ia terus menyeret kakinya di atas tebalnya salju dengan putus asa.

—Kembalilah! Kumohon! Jangan lakukan apa-apa lagi!

Emilia muda menghembuskan napasnya, yang dengan cepat berubah menjadi uap di udara. Ia menatap dengan penuh rasa ingin tahu pada uap putih itu. Berkali-kali, ia terus berjalan—terengah-engah. Pakaian yang membalut tubuhnya hanyalah sebuah baju tipis dan jubah.

Itu bukanlah pakaian yang harusnya dipakai seseorang saat berada di dunia yang beku ini, tapi tidak ada yang dapat ia lakukan.

Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya Emilia berada pada kondisi sedingin ini, dan untuk pertama kalinya juga gadis itu melihat salju.

Dunia yang Emilia tahu adalah hutan hijau yang penuh dengan cahaya kehangatan, yang tidak memiliki kemiripan apa pun dengan dunia yang terkubur dalam salju pekat ini.

Tempat yang sangat familier ini telah menjadi dunia yang sepenuhnya asing baginya.

Dan ini membingungkan Emilia muda, sehingga ia bahkan tidak bereaksi seperti bagaimana harusnya ia bereaksi.

Tidak! Jangan pergi lebih jauh lagi! Kumohon kembalilah! Kalau tidak, kau akan…!

Meski teriakan memohon itu mampu merobek dan menghancurkan tenggorokan, bahkan sampai memuntahkan darah, namun kaki Emilia muda tidak juga berhenti. Suara itu tidak akan mencapainya sementara kaki-kaki gadis itu terus melangkah semakin jauh.

Sosoknya yang berjalan bertelanjang kaki di atas daratan salju asing itu terlihat sangat menyedihkan.

Setelah indera perasanya mati rasa, ia tidak lagi merasakan dingin dan sakit. Telapak kakinya tercabik-cabik oleh batu-batu tajam dan ranting-ranting yang tersembunyi di bawah salju. Menandai jejaknya dengan tetesan darah.

Dengan melupakan semua rasa sakitnya, dan menyembunyikan ketakutannya pada dunia yang tidak dikenal ini, untuk tujuan apa ia bersikeras untuk terus melangkah sendirian?

—Berhentilah, kumohon… aku tidak ingin melihatnya lagi… kumohon…

Jeritan memohon itu tidak akan menjangkau siapa pun. Keinginan itu tidak akan terpenuhi. Harapan itu akan benar-benar hancur.

Meskipun kenyataan ini sudah diketahui, bahkan dalam mimpi pun fakta kejam itu terus disodorkan padanya, dengan menjejalkan masa lalu itu padanya, dan kesalahan terbesarnya.

[Emilia: —-hk]

Mata hijau Emilia muda bersinar, seolah-olah melihat sebuah harapan di balik pekatnya kabut salju.

Tatapannya mendarat pada—sejauh yang Emilia muda ketahui—pohon tertinggi di dunia:

Pohon besar yang mereka sebut Pohon Doa” adalah tempat suci di mana mereka menyampaikan doa-doa kepada para penguasa yang tidak dikenal. Tempat yang sangat dihargai dan dihormati oleh semua orang di desa.

Emilia muda, juga, dengan keras kepala percaya bahwa dengan menyentuh batang pohon besar itu ia akan dapat merasakan berkah luar biasa.

Betapa melegakannya saat melihat pohon besar itu berdiri dengan agung, persis di tempat yang seharusnya.

Ia benar-benar bersyukur, di tengah-tengah dunia kecilnya yang indah—yang kini berubah menjadi tempat asing—ia melihat pohon besar itu. Ini adalah sebuah tanda bahwa kehidupannya yang dulu masih tetap ada.

Terengah-engah dengan napasnya yang menguap di udara, Emilia dengan kikuk bergegas ke naungan pohon besar itu. Salju yang kelewat tebal terus membenamkan Emilia muda, sehingga meskipun pohon itu berada tepat di depan matanya, gadis itu tidak henti-hentinya terjatuh, meninggalkan jejak dirinya di atas putihnya salju.

Dan, setelah wajahnya tersungkur ke salju dingin entah untuk ke berapa kalinya—dengan hidung kemerahan—Emilia tiba di pangkal pohon.

Wajah tegangnya sedikit rileks. Sayangnya, karena otot-ototnya menjadi kaku akibat hawa dingin, ekspresi yang tampak hanyalah kedutan kecil.

[Emilia: —?]

Kemudian, ketika ia mengulurkan tangannya ke salah satu akar pohon, mata Emilia muda tampaknya telah menemukan sesuatu. Menggeser tangannya di sepanjang akar, dengan jari-jari yang sedikit membeku ia mulai menggali ujungnya yang terkubur salju.

—Berhenti!

Ia menggali, dan terus menggali.

Dengan satu tujuan, didorong oleh rasa tidak sabar yang membara, Emilia muda menggali salju.

—Berhenti! Berhenti! Berhenti! Berhenti! Berhenti! Berhenti!

Tidak ingin menonton. Tidak ingin mengingat.

Berharap dia bisa membuang muka, menutup matanya, menutup telinganya, dan berteriak untuk merobek dunia ini.

Tetapi wajahnya yang tidak ada, mata yang tidak ada, dan telinganya yang tidak ada, tak dapat dipalingkan.

Ujung jari Emilia muda menyentuh sesuatu.

Perlahan-lahan, dengan tangannya sendiri, gadis itu menggali sepetak salju terakhir—

—Hentikan!!

 … …

 

… … … … … … … …

 

… … … … … … … … … … … … … … … … … …

{???: Kau benar-benar tidak dapat ditolong lagi}

[Emilia: —-]

{???: Bukti dosamu. Bukti kebusukanmu. Terkutuklah! Terkutuklah! Terkutuklah! Sampai di akhir penderitaanmu….}

[Emilia: —–]

{???: Kau pantas untuk mati.—anak penyihir}

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded