Re:Zero Arc 4 Chapter 89.3 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Kenangan Salju, bagian 3

[???: —Emilia? Emilia? Oi, kau baik-baik saja?]

[Emilia: Aa, e… uh… Suba… ru?]

Terbangun karena seseorang mengguncang bahunya dan memanggil-manggil namanya, Emilia membuka matanya dan mengumandangkan nama Subaru. Ia menggelengkan kepalanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya, tetapi,

[Emilia: Subaru, kenapa… kau ada di sini…?]

[Subaru: Apakah aku butuh alasan? Kalau untuk melihat wajah Emilia—ku, aku sanggup berada di sini seharian penuh tanpa merasa bosan]

[Emilia: Ehh… bukan itu, maksudku… um]

Mungkin karena kesadarannya belum sepenuhnya kembali, Emilia merespons dengan gelisah.

Untuk menghilangkan kecemasannya, Subaru menepuk lututnya saat ia berdiri sambil tersenyum,

[Subaru: Jangan menurunkan penjagaanmu di sekitarku. Aku senang sekali kau percaya padaku, tetapi aku tetap saja lelaki dengan serigala rakus yang bersembunyi di balik jubah rasionalitas ini. Aku ingin kau lebih memperhatikan sifat-sifatku yang itu, Emilia—ku]

[Emilia: … …? Aku tak melupakanmu, Subaru. Aku mengatakan sesuatu yang aneh ketika aku bangun, itu saja … … tapi, tertidur tanpa menyadarinya … …]

Meskipun Emilia sepertinya tidak menangkap maksud perkataan Subaru, suara Emilia saat menjawab sudah terdengar normal dan terjaga. Setelah memastikan hal itu, Subaru mengangguk kepada Emilia yang kelihatan bermasalah.

[Subaru: Aku memahami kelelahanmu, tapi kalau kau ingin tidur, lebih nyaman tidur di tempatnya. Kalau kau terus-terusan tidur di lantai seperti ini, bisa-bisa aku kena serangan jantung tiap kali aku datang kemari]

[Emilia: …ah, maafkan aku Subaru. Aku membuatmu khawatir ya?]

[Subaru: Dan aku juga baru saja membulatkan tekadku, tetapi, melihat ini dan memikirkan beberapa peristiwa baru yang terjadi dan semuanya berantakan membuatku panik sekali, kau tahu. Kau bahkan dapat mengatakan bahwa melihat wajah tidurmu hari ini bahkan lebih menyenangkan daripada biasanya…]

Tidak ada respons ketika Subaru mengetuk pintu, dan ia berpikir kalau-kalau Emilia mungkin sedang keluar, lalu masuk kembali ke dalam ruangan karena khawatir dan menemukan Emilia terkapar di sana—di depan tempat tidurnya—dengan rambut peraknya berantakan di atas lantai.

Faktanya, keterkejutan yang menimpa Subaru ketika ia berjalan ke dalam ruangan dan melihat Emilia tidak dapat dijelaskan.

Tentunya, tidak ada yang bisa menyalahkan Subaru ketika hatinya merasakan keputusasaan kala melihat pemandangan mengerikan itu.

Namun kemudian, kehangatan tubuh Emilia dan irama detak jantungnya dan nafas yang teratur mengusir rasa putus asa itu.

Bagaimanapun,

[Subaru: Bukan hanya itu, aku lebih suka membiarkanmu tetap tidur, tapi … kau terlihat seperti sedang mengalami mimpi buruk yang sangat mengerikan. Apakah seharusnya aku tak membangunkanmu?]

Tertidur dalam pelukannya, dahi Emilia dipenuhi keringat sementara wajah dan tubuhnya menggeliat kesakitan. Subaru memiliki pengalaman pribadi tentang keadaan seperti itu, dan ia tahu bahwa tidak ada cara untuk melarikan diri dari mimpi buruk yang benar-benar menakutkan. Satu-satunya cara untuk terbebas dari penderitaan itu adalah dengan terbangun.

Emilia menggelengkan kepala kepada Subaru yang telah menolongnya dengan tindakan tepat.

[Emilia: Tidak. Aku saaaangat! Bersyukur Subaru membangunkanku. Aku memimpikan hal yang cukup … tidak, hal yang sangat mengerikan…. Jadi, terima kasih]

[Subaru: Mimpi buruk, menghantui Emilia—ku…. Aku rasanya ingin bertanya mimpi seperti apa itu, tapi… aku tahu itu bukanlah hal yang menyenangkan untuk dibicarakan]

[Emilia: —-]

Melihat senyum masam Emilia setelah kesunyiannya, Subaru merenungkan penyebab mimpi buruk Emilia.

Kemungkinan besar, itu adalah hasil dari keadaan negatif yang menumpuk di sekelilingnya. Subaru tidak yakin mimpi apa yang dilihat gadis ini, tapi,

[Subaru: ….Baiklah, aku tak akan memaksamu memberitahuku tentang hal itu]

Melihat Emilia memalingkan wajah seolah berusaha menghindari topik itu, Subaru menduga ini mungkin jenis mimpi buruk yang sangat nyata.

Jika tidak nyata, mimpi itu akan mudah dibicarakan. Tetapi, fakta bahwa Emilia tidak ingin membicarakannya menunjukkan bahwa itu pasti sesuatu yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Interaksi dengan Emilia kali ini diawali dengan buruk, dan hal itu akan mempersulit percakapan mereka selanjutnya.

Dengan ekspresi gelisah, Subaru menggaruk ujung hidungnya, berpikir tentang bagaimana memulai pembicaraan, ketika Emilia melihat ke atas.

[Emilia: Jadi … ada apa, Subaru? Kau tidak mungkin datang ke sini hanya untuk melihat wajahku tanpa alasan, kan?]

[Subaru: “Tidak mungkin” …. Aku tak berpikir itu hal yang tidak masuk akal untukku?]

[Emilia: Tidak, Subaru tidak akan…. Maksudku, Subaru selalu sibuk berlarian ke sana kemari dan berusaha sekuat tenaga. Subaru tak boleh menyia-nyiakan sisa-sisa tenaga hanya untuk melihatku]

[Subaru: Emilia—ku, menurutmu aku serajin apa? Kau benar-benar tahu, kan, bahwa ada hari ketika aku bermalas-malasan sehingga aku dengan sepenuh hati mendukung pembentukan Hari Malas-malasan”, kan?]

Tanpa membesar-besarkan dan tanpa maksud bergurau, Subaru sangat menyadari sifatnya sebagai pria tanpa harapan. Ketika kau melihat seseorang yang tidak memiliki peran atau tujuan dan hanya menjadi semakin bobrok setiap harinya, panggil saja dia Natsuki Subaru.

Dan itu sebabnya ia tidak pernah malas dalam melatih hobi dan keterampilan tidak berguna di dunia sebelumnya. Karena ia tahu ia akan menjadi manusia yang sama sekali tidak punya harapan pada saat ia melakukannya.

—Sebenarnya kau tidak benar-benar memanggil seseorang yang berusaha keras—bahkan tanpa tujuan—sebagai seorang pemalas. Tetapi Subaru tampaknya tidak menyadari fakta yang agak lebih jelas itu.

Mungkin ingin mengatakan sesuatu tentang penilaian Subaru yang terlalu kritis terhadap dirinya sendiri, tatapan Emilia menghangat ketika ia mendengar jawaban itu. Melihat ini, Subaru mengerutkan alisnya, tetapi Emilia pada akhirnya mengurungkan niatnya untuk berkomentar,

[Emilia: Tak apa. Daripada itu, katakan alasan Subaru…. Kemarilah. Ce~pat~lah~]

[Subaru: Ada apa ini… kau tiba-tiba jadi sangat menggemaskan…! Uhh, tapi, benar. Aku berpikir mungkin kita bisa jalan-jalan keluar untuk meringankan suasana sedikit …]

[Emilia: —–]

[Subaru: Meskipun itu tidak akan benar-benar meringankan apa pun, bukan…]

Melihat Emilia terdiam, Subaru menyadari ia salah bicara dan menggaruk kepalanya.

Jelas dari kenyataan bahwa kediaman Emilia ditempatkan terpisah dari pusat desa menandakan bahwa ia tidak diterima dengan baik di Sanctuary.

Menjadi sesama orang buangan dari ras mereka masing-masing, harusnya benar-benar ada rasa persekutuan di antara mereka, tetapi tampaknya setengah-elf adalah kasus khusus.

Bagi para pengungsi dari Arlam juga, pelarian mereka yang aman dari pemuja penyihir tidak secara langsung meningkatkan pendapat mereka tentang Emilia.

Perlakuan orang-orang terhadap Emilia di Sanctuary tidak berbeda dengan perlakuan orang-orang di Ibukota; menganggapnya seperti penyakit menular.

Emilia bertindak seolah-olah tegar saat bersama Subaru, tetapi itu tidak berarti hal itu mudah untuk dilakukan. Dan bagaimana ia menangani semua tatapan itu ketika ia sendirian?

Karena situasinya masih belum membaik, membawa Emilia ke luar hanya akan menempatkan beban yang tidak perlu padanya.

[Subaru: Karena hal-hal seperti ini aku …]

Setelah memperparah suasana karena kecerobohannya, Subaru menjitak dahinya sendiri.

Merasakan rasa sakit menjalar dari buku-buku jarinya dan terus menjalar hingga ke tengkoraknya, Subaru berbalik menghadap Emilia, yang telah menatapnya dengan mata melebar atas tindakan tidak masuk akalnya barusan,

[Subaru: Emilia]

[Emilia: ―Mm]

Melihat perubahan dalam ekspresi Subaru, Emilia merasakan bahwa suasana telah berubah. Ia memperbaiki postur tubuhnya, dan, dengan emosi tenang pada kedua mata ungunya, ia membalas tatapan Subaru.

Ekspresi Emilia memberi tahu Subaru bahwa tidak ada gunanya membicarakan topik ini secara tidak langsung. Tetapi bagaimana ia harus mengatakannya? Ia mempertimbangkan kalimat pembuka yang bagus untuk sesaat, dan,

[Subaru: Apakah kau… mau bicara padaku soal apa yang kau lihat di ujian makam?]

―Rasa sakit menghantam Subaru saat ia melihat kengerian dan kesedihan memenuhi mata ungu Emilia yang tanpa dosa.

 

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded