Re:Zero Arc 4 Chapter 90.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Maafkan Aku, bagian 1

—Meskipun seharusnya Subaru telah membulatkan tekadnya, penyesalan atas pertanyaannya membuatnya terhenyak seketika, ketika ia melihat gejolak emosi dalam kedua mata ungu Emilia.

Menanyakannya tidak ada bedanya dengan membuka kembali luka di hati Emilia—menyayat-nyayat luka yang masih belum sembuh itu, dengan tameng “kekhawatiran” sebagai pembenarannya.

Rasa sakit yang dialami Subaru dari mendapati kesadaran itu, sama persis dengan rasa sakit yang ditimbulkannya kepada Emilia.

[Subaru: Ujian makam menunjukkan masa lalumu… itulah yang dikatakan semua orang padaku]

[Emilia: —hk]

Namun, untuk mencari apa yang ada di balik rasa sakit itu, Subaru melangkah lebih dalam lagi.

Menggigit bibirnya, sebuah getaran samar-samar terlihat di wajah Emilia, tetapi kedua matanya yang gelisah tetap terkunci pada Subaru.

Untuk saat ini, Subaru memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun kepada Emilia perihal; ia pernah mengikuti ujian itu. Ia tidak boleh membuat komentar sembrono seperti:

“Kalau aku bisa mengalahkannya, kau juga bisa mengalahkannya”, terutama untuk sekarang saat ia telah kehilangan kualifikasinya. Selain itu, bahkan jika ia melakukannya, Emilia mungkin akan keliru menganggapnya sebagai kebohongan besar yang menghibur.

Kalau itu tak dapat dihindari, maka Subaru hanya perlu mengatakan perasaannya dengan jujur pada Emilia.

[Subaru: Kau berniat melakukan ujian lagi malam ini, benar ‘kan? Aku menduga itulah sebabnya kau jadi seperti ini…. Meskipun terluka dan menderita, kau memutuskan menanggungnya sendirian]

[Emilia: —-]

Pada keempat perulangan dunia yang Subaru jalani, Emilia tidak pernah punya kesempatan untuk membicarakannya dengan Subaru, karena itulah—Emilia tidak pernah sekalipun menyampaikan rincian isi ujiannya kepada Subaru. Hal ini sebagian karena pada dasarnya Subaru telah mengabaikannya selama ini dan langsung memutuskan untuk menghadapi ujian itu, sehingga Emilia tidak perlu menghadapinya.

Dugaan pertama telah diselesaikan oleh fakta bahwa Emilia yang sekarang adalah satu-satunya yang bisa menantang ujian, dan seharusnya dugaan yang terakhir sedang dalam proses penyelesaian sekarang ini.

Mendengar perkataan Subaru, pipi Emilia menegang sesaat setelah ia menurunkan pandangannya. Namun, sebelum pandangannya meninggalkan Subaru sepenuhnya, Subaru melanjutkan.

[Subaru: Tapi, tetap saja]

[Emilia: —-]

[Subaru: Jika masa lalumu begitu menakutkan sehingga menyakitkan untukmu melihatnya, bagaimana kalau membiarkanku berdiri di sisimu saat kau menghadapinya? Beban berat yang kau tanggung, maukah kau membaginya denganku?]

Emilia mengurungkan niatnya untuk menunduk, dengan rasa sesak di dada menatap Subaru sekali lagi.

Subaru tidak boleh membiarkan Emilia melihat kelemahan dan keraguannya. Jadi, dengan kepercayaan diri yang sepenuhnya tidak beralasan, Subaru membusungkan dadanya saat ia menerima tatapan Emilia.

Bagaimanapun, rasa percaya diri yang tidak berdasar dan tidak masuk akal adalah keahlian utama Subaru.

[Subaru: Kalau dipikir-pikir, aku hampir tak tahu apa-apa tentangmu, Emilia. Aku menyukaimu… dan sejujurnya sebagian dari itu karena aku sangat suka penampilanmu, tetapi, seiring waktu berjalan, saat kita menghabiskan waktu bersama, semua sifatmu yang kulihat telah membuatku jatuh cinta semakin dalam padamu…]

[Emilia: —-]

[Subaru: Dan itu sebabnya aku dapat mengatakan dengan yakin bahwa aku mencintaimu apa adanya. Tetapi, kesulitan apa yang kau alami, bagaimana perasaanmu, dan apa yang kau pikirkan sebelum menjadi Emilia yang sekarang … aku tak tahu apa pun tentang itu. Karena aku tak merasa perlu tahu. Karena aku percaya bahwa masa kini dan masa depan lebih penting daripada masa lalu … tapi]

[Emilia: …. Tapi?]

[Subaru: Sekarang, kau berada dalam situasi di mana kau harus melihat kembali masa lalumu, dan jika kau merasa takut untuk menghadapinya sendirian… maukah kau memberiku izin untuk berdiri di sampingmu lagi, sehingga kita dapat menghadapinya bersama-sama?]

Izinnya untuk menanggung penderitaan Emila telah dicabut darinya.

Jadi sekarang, Subaru meminta izin untuk mendukung Emilia di sisinya, dan memberinya pundak untuk bersandar ketika dia lelah dan terjatuh.

Mungkin itu hanya terlihat seperti penghibur sementara luka lara, tetapi pasti, akan ada saat ketika penghiburan itu berarti lebih dari apa pun.

[Emilia: —-]

Subaru menunggu jawaban Emilia dengan penuh harap-harap cemas.

Keraguan terlihat jelas di matanya, seolah-olah telah terjadi perdebatan hebat di dalam dirinya. Keraguan dan keraguan, rasa bersalah dan membenci diri sendiri. Berbagai emosi mengamuk di dalam hati kecil Emilia dalam kegilaan yang merajalela

Sampai akhirnya, Emilia diam-diam bergumam,

[Emilia: Hanya, dengan berada di sini … Subaru sudah membantuku hanya dengan berada di sini untukku… ​​dan kalau lebih dari ini … merepotkan Subaru lebih jauh akan.…]

[Subaru: Direpotkan oleh Emilia sama sekali tak merepotkan untukku! Aku malah sangat senang dapat melakukan sesuatu untukmu. Dan ketika kau dalam kesulitan dan berharap seseorang akan datang menolongmu…. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan dan menolongmu]

[Emilia: ―h]

Subaru mengumumkannya sekali lagi ketika Emilia dengan lemah mencoba untuk menolak tawarannya.

Selama Emilia tidak menolaknya terang-terangan, Subaru tidak berniat untuk mundur.

Subaru sangat sadar bahwa dirinya baru saja masuk terlalu dalam ke suatu topik yang jelas sedang tidak ingin ia bicarakan, tetapi tetap saja, tidak ada penolakan setengah hati yang akan menghalanginya.

Perjanjian yang dipaksakannya ke Roswaal bukanlah hasil dari tekad yang remeh.

Masih bimbang, Emilia dengan terang-terangan menutup matanya dan menurunkan kepalanya.

[Emilia: Subaru…]

[Subaru: —-]

[Emilia: Subaru, apakah kau sungguh-sungguh percaya … …,]

Lanjutan kalimat itu tidak kunjung keluar dari bibir Emilia. Keluhuran budinya tidak akan mengizinkannya untuk menyuarakan kata-kata pengecut itu.

Emilia tidak bisa melakukan sesuatu yang memalukan dan membuat orang-orang yang memohon padanya dengan tulus menjadi ragu.

Jika ia melakukannya, ia akan membuat kesalahan yang sama seperti ketika Subaru mencoba memaksakan keegoisannya padanya.

Bahkan ketika terpuruk, jiwa Emilia tidak kehilangan martabatnya.

Jadi, Subaru tidak memperdebatkan masalah ini sementara bahu Emilia merosot, menyesali kata-kata itu.

[Emilia: ….Tanyakan padaku apa yang ingin kau tahu, Subaru]

[Subaru: …]

[Emilia: Kalau aku yang menjelaskannya, aku akan berbicara tidak karuan …. Jadi, akan lebih baik kalau Subaru saja yang mengajukan pertanyaannya]

[Subaru: ….Apakah itu tak apa-apa?]

[Emilia: —Mm. Aku akan menganggapnya seperti salah satu ujianku]

Kepasrahan memenuhi suara Emilia, senyumnya berlalu, dan untuk sesaat, Subaru kehilangan kata-kata.

Subaru menunjuk ke tempat tidur, menyarankan perubahan lokasi … kemudian—menggelengkan kepalanya untuk menenangkan diri.

[Subaru: Omong-omong, sepertinya pembicaraan ini akan panjang, jadi bagaimana kalau kita duduk di sana?]

[Emilia: ….Iya, Subaru benar]

Memperbaiki postur tubuhnya, Emilia duduk di tempat tidur. Subaru menarik kursi, dan duduk menghadap Emilia.

Emilia menunggu pertanyaan Subaru, sambil merapikan pakaiannya yang berkerut-kerut.

Setelah mencapai kesimpulannya, tiba-tiba saja Subaru ragu pada apa yang harusnya ia tanyakan. Subaru mempertimbangkannya selama beberapa detik, sebelum akhirnya berkata,

[Subaru: Masa lalu macam apa yang kau lihat dalam ujian, Emilia? Dari apa yang kudengar dari orang-orang yang tahu, itu terdengar seperti penyesalan masa lalumu?]

Dengan hati-hati Subaru memilih kata-katanya untuk bertanya, sehingga Emilia tidak akan menyadari bahwa Subaru mengetahuinya.

Jadi, seperti apa ujian itu bagi Emilia? Ujian pertama adalah menghadapi masa lalu. Tapi bukan berarti sama persis seperti masa lalu yang dilihat Subaru “masa lalu yang benar-benar terjadi”. Apakah itu benar-benar replika teatrikal berdasarkan kesalahannya dan penyesalannya terhadap keluarganya di dunia aslinya.

Mendengarkan pertanyaan Subaru, Emilia mengerutkan bibirnya yang kering, dan,

[Emilia: Masa lalu … yang kulihat, mungkin … adalah kenangan sebelum aku tertidur]

[Subaru: ―? Sebelum kau tertidur…?!]

[Emilia: Ya, sebelum aku tertidur. Ingatannya samar, dan tidak terlalu jelas, tapi … di dalamnya, aku masih kecil, jadi hanya itu yang pasti]

Berusaha mengingatnya kembali,  Emilia memejamkan matanya, sementara Subaru tampak bingung dengan penjelasannya.

Subaru bisa mengertikan apa yang dia maksud dengan “aku masih kecil” , kemungkinan besar, ujian itu menunjukkan masa kecilnya.

Tapi, “sebelum aku tidur”― adalah bagian yang tidak bisa dimengerti Subaru.

[Subaru: Tunggu dulu… apa maksudmu sebelum tidur? Maksudnya bukan sebelum pergi tidur setiap malam, kan?]

[Emilia: Tidak, tidak. Sebelum aku tertidur adalah… sebelum aku tertidur di dalam es di sebuah pohon besar di hutan. Kejadian itu benar-benar sudah berlalu laaaama sekali]

[Subaru: “Di dalam es” …. Apa maksudnya?]

Tanpa memberikan rincian kalimat yang dapat mendukung apa pun, Subaru tidak yakin apakah Emilia serius, atau dengan sengaja membuatnya bingung.

Tapi bagaimanapun, imajinasi Subaru menunjukkan taringnya, menggoreskan ujungnya yang dingin ke tulang punggungnya.

Subaru berusaha menenangkan dirinya ketika kesabarannya terkikis dalam dadanya.

[Subaru: Tolong jawab pertanyaanku… Emilia. Apa maksudmu di dalam es di pohon besar?]

[Emilia: ….tak ada maksud tersembunyi di balik kalimat itu, itulah kebenarannya]

[Subaru: —-]

Berhenti sejenak, Emilia memandang ke atas dan membuka kebenarannya pada Subaru.

[Emilia: Selama itu, aku membeku dengan pohon besar di hutan. Dan setelah waktu berlalu sangat-sangaaaat lama … Puck menemukanku]

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded