Re:Zero Arc 4 Chapter 90.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Maafkan Aku, bagian 2

{???: Akhirnya aku menemukanmu}

—Siapa itu?

{???: Maaf… maafkan aku. Maafkan aku… karena meninggalkanmu di sini sendirian. Aku telah mencarimu dalam waktu yang sangat panjang. Selalu, dan selalu, aku selalu mencari dan mencarimu}

—Dimana … aku? Dingin… sekali.

{???: Aku akan segera mengeluarkanmu…. Sungguh tempat yang menyedihkan, sendirian di sini… kenapa seorang anak-anak harus melalui semua ini… kenapa butuh selama ini bagiku untuk…}

—Kau… sangat bersyukur?

{???: Benar. Untukmu… untuk bersama denganmu lagi, aku telah terlahir kembali}

—Siapa kau?

{???: Aku… aku adalah teman terbaikmu. Teman yang tidak akan pernah meninggalkanmu}

—Kalau begitu, kau adalah…

{???: —Ya, kau benar. Mulai hari ini, aku akan menjadi keluargamu. Mulai hari ini, kau tidak akan pernah kesepian.—Ini adalah janjiku padamu}

—Sungguh? Kalau begitu aku….

 

 

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

 

[Emilia: Saaangat senang]

Emilia menelungkupkan kedua tangannya di dadanya, mengenang masa lalu yang sangat membahagiakan.

Mendengarkan kata-katanya, Subaru merasakan rongga mulutnya mengering dengan cepat.

Emilia, tertidur di dalam es.

Di cabang-cabang Pohon Doa di tanah kelahirannya. Emilia membeku di dalamnya. Untuk berapa lama—? Tetap di sana sampai Puck menyelamatkannya.

[Subaru: Emilia … tempat tinggalmu adalah Hutan Elior, kan? Yang sudah membeku sejak lama, di mana es secara bertahap menyebar bahkan sekarang?]

[Emilia: Mn, benar. Pada saat aku terbangun, mereka menyebutnya “Hutan Es”. –Tapi sebelum aku tertidur, tempat itu adalah tempat yang terang dan asyik yang bermandikan sinar matahari hangat. Salju tidak pernah turun di tempat itu di masa kecilku, bersama semua orang yang tinggal di sana]

[Subaru: Asyik … tidak, yang lebih penting, siapa itu “semua orang?”]

Subaru tidak tahu banyak tentang tempat itu, jadi cerita masa lalu dan sekarang di Hutan Elior sama sekali asing baginya. Tapi di sini, ada hal lain yang menarik perhatiannya.

[Emilia: Semua orang adalah semua orang. Semua orang yang tinggal bersamaku di hutan … …, semua elf]

[Subaru: Semua elf … lalu, keluargamu juga ada di sana? Ibumu dan ayahmu, dan … mungkin juga saudara-saudaramu]

[Emilia: —–]

Namun, melihat kesedihan yang dengan cepat menyelimuti mata Emilia, Subaru menyadari sekali lagi bahwa ia telah salah bicara. Emilia sepertinya pernah mengatakan padanya sebelum ini, bahwa Puck adalah orang tua angkat baginya, dan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Subaru seharusnya tahu bahwa Emilia telah kehilangan keluarganya karena suatu insiden.

[Subaru: Maafkan aku … aku tak bermaksud–]

[Emilia: Tak apa-apa. Subaru hanya khawatir padaku, kan? Subaru. … …. Tapi keluargaku tak ada di hutan. Semua orang di desa saaangat baik padaku, dan seeelalu tersenyum padaku, tapi … … … … aku tak punya keluarga di hutan itu]

[Subaru: …. Kalau tak ada, maka orang tuamu…?]

Mendengar pertanyaan itu, Emilia dengan tenang menggelengkan kepalanya.

Emilia memainkan ujung kepangnya seolah-olah sedang mengalihkan perhatiannya sendiri, lalu,

[Emilia: Mereka berdua pergi pada saat aku mulai memahami dunia. Aku tak berpikir hal tersebut aneh saat itu …. Aku memang punya seseorang yang seperti ibu bagiku … yang saaangat baik hati, dan kuat, dan keren … aku punya seseorang seperti itu]

[Subaru: —-]

[Emilia: Tetapi orang itu … dan semua orang lainnya … … ketika aku tertidur, mereka semua juga tertidur. Bahkan sekarang, jauh di dalam Hutan Elior, mereka tetap di sana, terjebak dalam tidur abadi]

[Subaru: Hha―?!]

Berbicara dengan suara lantang, Emilia tampaknya menegaskan dirinya untuk mengatakan yang sejujurnya. Tenggorokan Subaru tersumbat oleh isi kata-katanya, tetapi Emilia tidak memedulikannya saat ia melanjutkan.

[Emilia: Setelah aku terbangun, Puck dan aku terus mengawasi semua orang yang tertidur. Sehingga suatu hari nanti, ketika seseorang terbangun sepertiku, mereka tidak akan merasa tersesat, tidak tahu apa-apa … berpikir seperti itu, kami tinggal di sana]

[Subaru: ….Tunggu sebentar]

Informasi yang masuk ke otak Subaru membludak, membuatnya kewalahan.

Apa yang sebenarnya terjadi di Hutan Elior pada hari ketika Emilia pertama kali melihatnya … bersalju?

[Subaru: Dari yang aku tahu, Hutan Elior mulai membeku … kira-kira seratus tahun yang lalu …. Maksudku, aku pasti sudah mendengarnya ketika aku berada di aula seleksi kerajaan atau semacamnya]

[Emilia: Mm. Aku juga sangat terkejut saat aku mulai belajar di mansion dan mengetahui hal itu]

[Subaru: Jadi, kau ada di sana ketika Hutan Elior pertama kali membeku, kan? Apakah kau tahu penyebabnya?]

[Emilia: —Tidak, aku tak tahu]

Emilia menggelengkan kepalanya ke pertanyaan Subaru.

Melihat Subaru mengerutkan alisnya, ia melihat ke bawah dengan ekspresi sedih.

[Emilia: Aku benar-benar tidak ingat. Apa pun yang terjadi saat itu … aku tak dapat mengingatnya dengan jelas. Yang kuingat hanyalah waktu itu aku masih kecil, dan saaangat ketakutan. Tapi karena aku tertidur lama sekali, ingatan itu juga memudar…]

[Subaru: Kau bilang kalau kau masih kecil… tapi, berapa umurmu waktu itu?]

[Emilia: ….Kurasa … sekitar tujuh tahun]

[Subaru: Tujuh tahun … jadi, elf menghitung umur mereka sama seperti manusia, benar tidak?]

Mendengar ini, Emilia mengangguk.

Jika elf menghitung umur mereka seperti manusia, maka umur mereka bertambah setiap tahun. Elf dikenal sebagai ras yang berumur panjang, dan Emilia, sebagai setengah-elf, harusnya juga berumur panjang. Di sisi lain, bahkan elf yang berumur panjang juga melewati masa kanak-kanak, sehingga Emilia yang berusia tujuh tahun tidak dapat disalahkan.

Meskipun, dengan perhitungan sederhana, artinya umur Emilia saat ini adalah tujuh belas tahun ditambah seratus tahun.

[Subaru: Jarak usia bukanlah sesuatu untuk dikhawatirkan sekarang…. Dan mengingat kita berdua dari dunia yang berbeda, itu bukan masalah besar, sungguh…]

[Emilia: ….Subaru, ada apa? Aku mengatakan hal yang aneh, atau…]

[Subaru: Tidak, tidak. Aku hanya berpikir kalau jarak usia kita terlampau jauh, itu saja]

Sambil merileksasi pikiran dan napasnya, Subaru melontarkan lelucon kecil untuk meringankan suasana. Meskipun lelucon itu mungkin tidak sepenuhnya dimengerti Emilia, pipi Emilia yang tegang memang agak rileks saat ia mendesah kecil,

[Emilia: Benar… tapi karena aku tertidur dan tidak sadarkan diri laaama sekali, aku tidak yakin aku telah sedewasa umurku…]

[Subaru: Benarkah? Aku tidak tahu persis seberapa cepat elf tumbuh, tetapi kalau untuk ukuran manusia, menurutku kau sudah cukup dewasa]

Subaru dengan santai memandangi tubuh Emilia yang duduk di tempat tidur sebelum menghilangkan kekhawatirannya. Tubuh Emilia sudah tumbuh dengan sempurna, dan lekukan-lekukan tubuhnya terlihat seperti wanita remaja. Mata ungunya yang melankolis dan wajahnya yang kelewat indah terukir dengan kecantikan yang misterius, berada di antara fase gadis dan wanita. Emilia terlihat sudah cukup dewasa.

Tapi sepertinya Subaru tidak memahami inti kekhawatiran Emilia, sementara ia menggelengkan kepalanya.

[Emilia: Tidak]

[Emilia: Tidur di es tidak menghentikan waktu pertumbuhanku, tetapi hanya membuat kesadaranku tidur. Jadi tubuhku terus tumbuh, bahkan di dalam es. Mengontrol tubuhku terasa saaangat berbeda dari ketika sebelum aku tertidur, untuk beberapa saat setelah aku bangun, aku jadi kikuk sekali]

[Subaru: Jadi tertidur di dalam es … ada sisi negatifnya, huh]

Memiliki tubuh seorang gadis berumur tujuh tahun sebelum tertidur, lalu terbangun dengan tubuh gadis dewasa pasti terasa sangat membingungkan.

Di anime dan manga, kejadian seperti itu cukup sering terjadi, namun adaptasi pada dunia nyata tidak mungkin semudah ini. Wajar jika Emilia merasa tertekan oleh perbedaan antara pikiran dan tubuhnya.

[Emilia: Ketika Roswaal membawaku keluar dari hutan untuk belajar … dan aku mengetahui bahwa aku telah tidur selama hampir seratus tahun, aku saaangat terkejut. Karena mengetahui bahwa aku telah tidur begitu lama…]

[Subaru: Kalau orang menua dengan normal di dalam es … maka untuk orang-orang selain para elf berumur panjang, itu akan menjadi ak…]

“Akhir” adalah apa yang akan ia katakan, ketika Subaru menyadari bahwa ia baru saja dihantam dengan fakta yang luar biasa.

Memejamkan matanya, Subaru diam-diam menghitung angka-angka itu di kepalanya. Menambah dan mengurangi, dan kemudian memeriksanya kembali beberapa kali hanya untuk memastikan, keraguannya berubah menjadi kecurigaan yang pasti.

[Subaru: Hey, Emilia… kau baru saja bilang kalau kau tertidur hampir seratus tahun, benar?]

[Emilia: Iya, lalu…?]

[Subaru: Dan kau kira-kira berusia tujuh tahun ketika tertidur, benar?]

[Emilia: Benar. Subaru, apa yang…]

[Subaru: Emilia, sudah berapa lama sejak Puck membangunkanmu?]

Setidaknya, dari apa yang didengarnya, Roswaal membawa Emilia keluar dari hutan sekitar setengah tahun yang lalu. Yang berarti Emilia hidup dengan Puck di Hutan Elior sampai saat itu. Pertanyaannya adalah, berapa banyak waktu yang telah berlalu antara dia tertidur, bangun, dan bertemu Roswaal?

Masih dengan ekspresi gelisah, Emilia meletakkan jarinya ke bibirnya.

[Emilia: …..Sekitar, enam atau tujuh tahun… mungkin?]

[Subaru: —-]

Mendengar jawaban Emilia, kecurigaan Subaru berubah menjadi keyakinan yang pasti.

Fakta itu menyambar Subaru seperti petir di siang bolong.

Tujuh tahun setelah ia dilahirkan, ia menghabiskan hampir seratus tahun untuk tidur, kemudian menghabiskan tujuh tahun berikutnya untuk bangun.

Yang artinya—

—Emilia berusia 107 tahun, dengan tubuh seorang gadis 18 tahun. Sementara secara mental, ia berusia 14 tahun.

[Subaru: Usia sebenarnya, usia yang tampak, dan usia mentalnya … semuanya kacau ….]

Perbedaan seperti itu hanya mungkin terjadi karena Emilia adalah seorang elf.

Semua kebingungan dan pertanyaan Subaru mengenai perilaku kekanak-kanakan Emilia sampai sekarang tiba-tiba menjadi masuk akal.

Subaru menemukan Emilia agak terlalu kikuk terhadap pujian untuk elf berusia seratus tahun lebih, dan ia tidak dapat menolong dirinya sendiri dari berpikir bahwa perilaku canggung Emilia di sekitar orang lain, dan kelucuan tingkah kekanak-kanakannya selalu cukup mencurigakan.

[Subaru: Empat belas … tidak… beda jauh dengan Felt…]

Mengapa seorang gadis semuda ini harus memikul tanggung jawab yang begitu besar? Kekesalan Subaru terhadap seleksi kerajaan dan Roswaal meningkat begitu tajam.

Kemudian, merenungkan bagaimana topik yang dibawanya untuk meringankan suasana hati telah benar-benar gagal, Subaru memotong ke topik lain yang sama sekali tidak berkaitan.

[Subaru: Sebelumnya, kau bilang kau tak tahu bagaimana hutan itu membeku. Jadi apa yang kau lihat dalam ujian makam? Kenangan samar sebelum kau dibekukan… itu yang kau lihat, kan?]

[Emilia: …. Aku pikir begitu. Pemandangan itu jelas dari sebelum aku tertidur … jadi itu mungkin adalah kenangan tentang kejadian yang nyata]

[Subaru: Jadi, mungkin fakta bahwa kau begitu takut dengan ingatan itu karena di dalamnya kau menemukan sesuatu seperti pembekuanmu dan elf lainnya, dan kau secara tidak sadar menolaknya….]

[Emilia: —Bukan itu…]

[Subaru: Maksudku, tidak lebih menakutkan dari itu, kan? Ujiannya menunjukkan penyesalan terbesamu. Jadi mungkin yang kau lihat adalah …]

[Emilia: Sudah kubilang bukan itu!]

Emilia berteriak, menghancurkan kereta pikiran Subaru yang terlalu panas.

Tapi Emilia segera berkedip seolah menyesal telah meninggikan suaranya, dan kemudian menutup matanya untuk menghilangkan keraguannya saat ia mengalihkan matanya yang berair ke Subaru.

[Emilia: Itu bukan … apa yang  kulihat di ujianku. Bukan seperti itu. …. Apa yang kulihat adalah….]

[Subaru: E-Emil….]

[Emilia: —Anak Iblis]

Rasa dingin merambat menusuk di sepanjang punggung Subaru.

Emilia membenamkan wajahnya di tangannya, menyembunyikan ekspresinya. Dari balik wajahnya yang tertutup, suaranya berlanjut dengan tenang, tanpa emosi.

[Emilia: Benih bencana. Si perak yang keji. Makhluk yang seharusnya tidak dilahirkan. Sumber semua kebencian. Jiwa yang tak termaafkan. Iblis. ―Putri Penyihir]

[Subaru: —-]

[Emilia: Semua orang yang baik padaku, yang tersenyum padaku, mengatakan hal itu kepadaku saat salju membekukan hutan, dan…]

Tangan, kaki dan seluruh tubuh Emilia sedikit gemetar.

[Emilia: Aku tak ingat apa pun yang terjadi setelah aku berada di dalam es. Tapi aku tak bisa melupakan bagaimana semua orang pasti mengutukku, membeku di sana. Dan bagaimana mereka mungkin terus mengutukku sampai sekarang]

[Subaru: —-]

[Emilia: Jadi, aku ingin membebaskan semua orang dari dalam es …. Dan meminta maaf]

Tanpa sadar, dengan wajah berlinangan air mata, Emilia mendongak, seolah mereka ada di hadapannya, dan ia sedang menatap pada mereka, sebelum dengan tenang menundukkan kepalanya.

[Emilia: Maaf karena aku telah memberikan banyak masalah. —Teman-teman, aku menyayangi kalian semua]

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded