Re:Zero Arc 4 Chapter 91.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Pura-Pura Tidur, bagian 1

Mendengar keinginan Emilia dengan berlinang air mata, Subaru merasakan penyesalan menusuk seluruh tubuhnya. Rasa bersalah karena telah mengungkit-ungkit ingatan masa lalu Emilia sehingga membuatnya menangis—menyiksa batinnya tanpa ampun.

Dari cerita Emilia, Subaru tidak mungkin tahu perasaan mereka yang terjebak di dalam es. Namun, Subaru dapat merasakan cinta dan syukur yang Emilia rasakan kepada orang-orang yang tinggal bersamanya di Hutan Elior. Tapi walau bagaimanapun, semua itu telah berubah pada hari di mana salju pertama turun, ketika ingatannya digantikan oleh kebencian dan kedengkian mereka semua, dan pada akhirnya, hari-hari Emilia yang hangat dan penuh kebahagiaan telah membeku bersama dengan mereka semua di dalam es.

[Subaru: …. Kenapa mereka mengatakan hal-hal itu padamu?! Dari apa yang barusan kau katakan padaku … kemungkinan besar yang membekukan hutan itu adalah …, kau? Tapi, untuk melakukan hal sehebat itu…? Apakah mungkin kau sekuat itu saat kecil?]

[Emilia: —Aku tak tahu. Dulu, pengetahuanku tentang dunia jauh lebih sedikit daripada sekarang. Aku bahkan tak tahu apa yang bisa dan tak bisa kulakukan, dan aku selalu kagum dengan kebaikan semua orang. Tapi…, tanpa Puck, aku ragu aku punya cukup kekuatan untuk membekukan seluruh hutan sendirian, bahkan sekarang]

[Emilia: Tapi kalau ada Puck… kau bisa?]

[Emilia: —-]

Mendengar pertanyaan Subaru, Emilia mengangguk tanpa kata.

Penegasannya terlihat setengah hati, mungkin karena ia takut Subaru akan menuduhnya sebagai biang kerok di balik membekunya hutan. Tapi sama sekali bukan itu yang dipikirkan Subaru.

Bukan karena kecurigaannya, tetapi karena masalah urutan sederhana.

[Subaru: Tak usah khawatir begitu, aku tak akan menuduhmu. Kau bertemu Puck setelah hutan membeku sangat lama … kurang-lebih seratus tahun, bukan? Peristiwa membekunya hutan dan pertemuanmu dengan Puck jelas di urutan yang berbeda…]

[Emilia: M-mn…. Iya, tapi…]

Merasakan kekhawatirannya, Subaru menyimpulkan dengan ringan. Mendengarnya, Emilia mengangguk, meskipun ekspresinya masih terlalu tegang untuk disebut lega.

Menolak keinginan untuk mengerutkan alisnya pada reaksi gadis itu, Subaru berusaha keras untuk menjaga ekspresinya tetap tenang. Ia pun melipat tangannya.

―Subaru memiliki perasaan yang samar-samar bahwa ada sesuatu yang salah bahkan setelah ia mendengarkan cerita Emilia secara langsung. Tetapi, di sinilah … pada saat inilah, ia merasakan keganjilan yang lebih besar dari sebelumnya.

Karena Subaru telah merasa puas hanya dengan memanjakannya dan menyayangi karakter luarnya yang seperti anak-anak, wajar saja, Natsuki Subaru tidak pernah mencari tahu lebih dalam mengenai masa lalu Emilia atau pemikirannya sebelum ini.

Jadi, ini adalah ujian Subaru―yang harus ia mulai.

Sekarang, setelah kehilangan kualifikasi untuk menantang ujian makam, Subaru meyakini ini akan menjadi ujian yang akan menentukan apakah ia memiliki hak untuk berdiri di depan Emilia, dan untuk mendukungnya di sisinya.

[Subaru: Aku mengerti adegan seperti apa yang kau lihat di ujian sekarang …. Jadi, kalau kita membalikkan ini, apa yang menurutmu harus kau lakukan untuk mengalahkannya?]

[Emilia: Itu… um, itu…]

Tatapan Emilia berkeliaran. Bukan karena ia ragu-ragu akan jawabannya, tetapi karena jawaban itu sendiri sangat sulit diartikan sehingga ia berjuang untuk menemukan kata-kata.

Emilia tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang cara menyelesaikan ujian. Pada upaya pertamanya, ia tiba-tiba dihadapkan dengan dilema yang sudah berlangsung lama, dan sekarang ia diminta untuk memberikan jawaban yang sempurna.

Tapi, pada dasarnya, ujian pertama hanya mengharuskan penantang untuk memberikan jawaban atas masa lalu yang selalu mereka hindari—kemudian melakukannya, dan mereka akan lulus ujian, itulah yang Echidona katakan pada Subaru.

Tegaskan, atau tolak, di antara keduanya sudah menjadi jawaban yang cukup.

Emilia telah menerima ingatan sedih karena penolakan semua orang yang baik padanya. Jadi, apakah itu berarti ia harus melupakan masa kecilnya? Untuk lulus ujian pertama?

Untuk melupakan sesuatu yang berharga di masa lalumu—bagaimana bisa seseorang melakukan hal seperti itu?

Subaru tidak punya jawaban pasti untuk diberikan kepada Emilia. Tapi, setelah mengatasi ujian pertama dan mengalami ujian kedua, satu hal yang Subaru tahu pasti. Walaupun hanya melalui beberapa interaksi dengan seseorang bernama Echidona, ia tahu ini:

—Sejatinya, ujian tidak akan memberikan persoalan yang mustahil kepada penantangnya.

Hal ini wajar, mengingat penciptanya adalah Echidona.

Apa yang menjadi tujuan akhir Echidona adalah “hasil” untuk memuaskan keingintahuannya, harta yang bersinar paling terang ketika dicapai melalui penaklukan ujian makam. Setidaknya, itulah yang dipikirkan si penyihir.

Dalam hal ini, hasilnya adalah apakah penantang menegaskan atau menyangkal masa lalu mereka.

Dengan kata lain, Emilia seharusnya sudah memiliki semua yang ia butuhkah untuk lulus ujian. Jika Emilia bisa mengetahui apa kondisinya dan memberikan jawabannya, itu akan menjadi solusinya. Jadi, kendala di sini bukanlah ujian itu sendiri, tapi—

[Subaru: Kalau kau terus menantangnya tanpa memiliki jawaban apapun… hasil akhirnya akan selalu sama]

[Emilia: —Jadi, bagaimana menurutmu, Subaru?]

[Subaru: .…]

[Emilia: Setelah mendengar ceritaku … tentang ujian dan masa laluku … bagaimana menurutmu? Apakah kau punya ide tentang cara mengalahkannya? Aku masih bertanya-tanya apa yang harus kulakukan … .…]

Alih-alih tidur, tadi malam setelah ujiannya, Emilia pasti telah menghabiskan sepanjang malam bertanya pada dirinya sendiri soal hal ini.

Pasti seperti itu, terperangkap dalam pusaran pikiran yang melemahkan jiwanya, sampai akhirnya Emilia tertidur di lantai.

[Subaru: Emilia … sebelumnya kau bilang ingin melelehkan es dan berterima kasih pada semua orang… bukan?]

[Emilia: Mm]

[Subaru: Tapi kenapa kau sampai terbebani seperti ini?]

Emilia diperlakukan dengan kejam oleh orang-orang yang dulunya dekat dengannya.

Jadi mengapa ia ingin menyelamatkan mereka semua yang terjebak di dalam es?

[Subaru: Kenangan terakhirmu tentang mereka adalah bagaimana mereka mengutuk dan menolakmu, kan? Setelah hal-hal yang kejam dan penuh kebencian, kenapa kau masih ingin membantu mereka setelah mereka berkata seperti itu padamu?]

[Emilia: —Subaru… kalau aku mengatakan hal-hal jahat padamu, apakah kau tidak ingin menolongku lagi?]

[Subaru: —-]

Subaru terdiam.

Mata ungu Emilia menatap Subaru, penuh ketulusan, dan kelemahan ragu-ragu pada kedua matanya telah menghilang saat ia menjawab.

[Emilia: Ya, kenangan terakhirku tentang semua orang memang menyakitkan… walaupun pada akhirnya berakhir seperti itu, waktu yang kami habiskan bersama tetaplah saat-saat yang paling berharga. Kami juga berbagi banyak kenangan yang menyenangkan]

[Subaru: ….]

[Emilia: Aku tak ingin melupakan itu, jika kuingat bagaimana mereka menyakitiku…. ​​Aku semakin ingin menyelamatkan semua orang sehingga kami dapat tertawa dan tersenyum bersama lagi … …. Aku tahu itu terdengar serakah, tapi itulah yang kuinginkan…]

Dengan tangannya Emilia menutupi bibirnya saat ia mengintip reaksi Subaru.

Emilia tampak gelisah seolah-olah ia baru saja secara tidak sengaja menyuarakan keburukannya dan takut, kalau-kalau ia akan dihina.

Memahami kegelisahan Emilia, Subaru berpikir sendiri,

—Emilia itu tipe orang yang memikirkan hal seperti ini sebagai sebuah keserakahan, yah.

[Emilia: ―Subaru?]

[Subaru: Tidak ada, aku hanya berpikir … bahwa kau sepenuhnya benar]

Bahkan jika mereka menyakiti Emilia pada akhirnya, bukan berarti semua ikatan dan ingatan yang terjalin di antara mereka telah menghilang.

Rem dan Ram sama-sama pernah mencoba untuk membunuh Subaru di masa lalu, tetapi hal itu tidak menghentikannya dari berusaha sebaik-baiknya untuk menyelamatkan mereka, dan perasaan yang sama itulah yang membuatnya memutuskan untuk tetap bertahan selama perulangan yang dimulai di Ibukota.

Apa yang dirasakan Emilia adalah apa yang dirasakan Subaru sendiri—itu saja.

[Subaru: —-]

Tapi ketika ia merasakan kelegaan membanjiri hatinya, Subaru juga melihat keganjilan terbesar yang pernah ada.

Bagaimana ia bisa mengabaikan perbedaan yang begitu jelas?

[Emilia: ―Subaru?]

Melihat Subaru menatapnya dengan wajah kaku, mata Emilia ragu-ragu. Namun, meskipun menyadari bahwa Emilia mengkhawatirkannya, Subaru masih tidak bisa menenangkan diri. Karena,

―Di dalam hati Emilia, ia sudah mencapai jawabannya di masa lalunya.

[Subaru: —-]

Jauh di dalam Hutan Elior, suku Elf yang pernah menghabiskan waktu bersama dengan Emilia, tertidur, membeku di dalam tebalnya es. Di masa lalu yang ia ingat, pada hari hutan terkubur oleh salju, Emilia telah menahan semua kekejaman orang-orang yang ia percayai, namun, ia menyatakan tanpa ragu-ragu bahwa ia ingin menyelamatkan mereka, dan berterima kasih kepada mereka.

“Berusaha ia hindari” itu adalah jawabannya atas masa lalu.

Jika Subaru sanggup memutuskan untuk mengakui kebodohannya dan mengucapkan selamat tinggal kepada orangtuanya di masa lalu, maka tekad Emilia di sini harus dianggap sama layaknya, agar dapat memenuhi persyaratan untuk melewati ujian pertama.

Namun, ujian makam menolak untuk mengakui bahwa ia telah memenuhi persyaratannya.

Mungkin, itu karena Subaru telah membangunkannya dan mengganggu ujiannya. Tetapi bahkan dalam kehidupan sebelumnya setelah malam pertama, ketika Subaru tidak ada di sana untuk membangunkannya, tidak pernah sekalipun ia melewati ujian pertama.

Apakah jawaban Emilia tidak sesuai dan tidak memenuhi syarat?

[Subaru: Tapi, itu…]

Jika Echidona adalah satu-satunya yang menilai ujian itu, dapatkah kelayakan jawabannya bergantung pada suasana hati si penyihir pada saat itu? Namun, Echidona sendiri telah menyatakan bahwa tidak masalah jawaban apa yang diberikan, ia akan menerimanya.

Bukan sifat Echidona untuk menolak jawaban penantang. Namun, dengan anggapan itu benar-benar terjadi—Subaru mau tidak mau berpikir bahwa mungkin, untuk alasan apa pun, ia hanya menolak jawaban Emilia.

Mempertimbangkan hal itu membuat hati Subaru tersiksa.

Karena untuk mempertimbangkan itu adalah untuk mendapati kemungkinan bahwa

“Hanya Emilia yang tidak pernah bisa melewati ujian makam.”

[Subaru: Memangnya aku akan menerimanya begitu saja…! Kumohon, Echidona….]

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded