Re:Zero Arc 4 Chapter 91.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Pura-Pura Tidur, bagian 2

[Emilia: Subaru, ada apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh lagi…?]

[Subaru: Tidak,… bukan kau, Emilia. Yang aneh itu si penguji …. Sekarang, kau bilang kau ingin melelehkan es dan menyelamatkan semua orang, tapi … bukannya kau tidak bisa? Buktinya, sebelum Roswaal membawamu keluar, kau dan Puck tinggal di dalam hutan, kan? Pasti ada banyak waktu untuk mencoba…]

Meskipun ia tahu itu adalah pertanyaan yang kejam, Subaru masih menanyakannya.

Setelah mendengar masa lalu Emilia, Subaru mengerti bahwa membebaskan orang-orang itu dari es berarti hanya akan membiarkan mereka mengutuk dan membenci Emilia lagi.

Emilia sendiri pasti mencemaskan hal ini terus-menerus. Kuku jarinya menancap ke dalam pelukannya saat ia menurunkan pandangannya,

[Emilia: Aku sudah berusaha mencobanya berkali-kali bersama Puck, tapi … aku tak sanggup melelehkan esnya]

[Subaru: Ketika kau mengatakan tak sanggup melelehkannya… maksudmu tidak bisa secara mental,… atau secara fisik…?]

Bahkan jika alasannya adalah mental, Subaru tidak berniat menyalahkannya.

Tidak mudah bagi siapa pun untuk melakukan sesuatu yang kau tahu pasti itu akan berbalik menyakiti dirimu sendiri.

Namun, atas pertanyaan Subaru tadi, Emilia dengan lemah menjawab,

[Emilia: Sepertinya … tidak bisa secara fisik…]

[Emilia: …Es itu terbuat dari material khusus… tak akan mencair, tak peduli usaha apa pun yang kami lakukan dari luar. Mungkin, hanya orang yang membekukannyalah yang bisa melelehkannya, atau kita membutuhkan sesuatu yang lebih kuat…? Itu sebabnya aku menerima tawaran Roswaal….]

[Subaru: Tawaran…?]

[Emilia: Ah! … ,…]

Melihat alis Subaru berkedut, Emilia menutup mulutnya seolah-olah ia baru saja mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan.

Namun, dihadapkan dengan tatapan tajam Subaru, bahu Emilia langsung turun,

[Emilia: …Roswaal dan aku, kami…. Membuat perjanjian]

[Subaru: —-]

[Emilia: Dia datang dan membawa “lencana” dan memintaku untuk memegangnya… dan begitu ia melihat permatanya bersinar merah, ia memberi tahuku tentang seleksi kerajaan… dan bilang…]

Mungkin, fakta bahwa Roswaal dengan pasti akan menemukan Emilia di hutan dan bahwa lencana itu akan bersinar ketika Emilia memegangnya juga ditulis dalam kitabnya.

Dalam imajinasinya, Subaru hampir dapat melihat senyum aneh Roswaal ketika dia mendapatkan  Emilia berada di pihaknya dan berkata:

[Emilia: ――“Jika kau bisa naik takhta, maka pastinya, keinginanmu untuk melelehkan es di hutan ini juga dapat terpenuhi”]

[Subaru: …. Dan kau mempercayainya?]

[Emilia: Sepertinya, waktu itu aku sangat putus asa. Roswaal bahkan tak memberitahuku detail tentang cara melelehkan es, tapi… aku menerima tawarannya, dan meninggalkan hutan bersama Roswaal, dan Puck … tak keberatan, tapi … ia mengikutiku tanpa komentar apa pun]

[Subaru: Sebelumnya, ketika kau mengatakan kau memiliki alasan yang egois … inikah yang kau maksudkan? Dan karena itulah kau memutuskan untuk berpartisipasi dalam seleksi kerajaan….]

Emilia pernah mengatakan bahwa, tidak seperti kandidat lainnya, ia berpartisipasi dalam seleksi kerajaan karena alasan yang sangat egois. Subaru sejauh ini menghindari untuk menyelidiki lebih jauh apa alasan Emilia mengikuti seleksi itu, tapi sekarang semua akhirnya jelas.

[Emilia: …. Subaru pasti berpikir aku ini buruk sekali, kan?]

Selagi Subaru menyatukan semua fakta yang baru didengarnya ini dalam benaknya, Emilia bergumam pelan.

Ketika Subaru mendongak, ia melihat Emilia dengan harap-harap cemas mengawasinya dengan bibir bergetar.

[Emilia: Semuanya,  selain aku … semua kandidat memiliki tekad yang luar biasa untuk bersaing di seleksi kerajaan, tetapi … milikku hanyalah masalah pribadi yang tak kunjung selesai]

[Subaru: Tapi aku pikir keyakinan untuk membantu semua orang di desa itu sudah luar biasa. Jumlah orang yang kau bantu juga tak mengurangi betapa luar biasanya alasanmu itu … dan kau tak berbohong ketika kau mengatakan tujuanmu di aula seleksi kerajaan, kan?]

[Emilia: Apa yang kukatakan di aula seleksi kerajaan ….]

[Subaru: Bahwa kau ingin melihat semua orang diperlakukan setara …. Aku tak berpikir kata-kata itu bohong]

Pada awalnya, mungkin Emilia hanya mencari resolusi dari keadaan yang berada di luar kendalinya. Tetapi, ketika Emilia belajar tentang betapa luasnya dunia luar dan betapa lamanya seratus tahun itu untuk diukur, tentu saja, ia akan memiliki kesempatan untuk berpikir.

Subaru tidak merasa bahwa kata-kata yang Emilia umumkan di aula seleksi kerajaan hanyalah hasil dari keputusan akhir yang dibuat-buat.

Jika itu adalah pikirannya yang tulus, dan alasannya ingin memenangkan seleksi kerajaan tetap sama, bahkan sekarang, Subaru tidak akan memiliki alasan untuk memandang rendah dirinya.

[Subaru: Jangan khawatir. Aku di pihakmu dan kau bisa mengandalkanku, aku akan tetap sama. Jadi tidak apa-apa bahkan jika kau mengatakan bahwa kau baik-baik saja, aku akan selalu ada untukmu]

[Emilia: Ah … um, tentang semalam ….]

[Subaru: Jangan, aku akan merasa tak enak kalau kau meminta maaf. Baiklah, aku hanya akan mengatakan ini…. Aku akan selalu berada disisimu, dan kau bisa bersandar padaku kapan pun kau mau. Meskipun aku senang melihatmu berdiri sendiri, tidak apa-apa untuk menjadi lemah sesekali]

Mengayunkan tangannya ke dadanya, Subaru melemaskan bibirnya, dan melihat Emilia menghela napas lega. Lalu seketika, seolah-olah dikalahkan oleh kelegaan itu, tubuhnya mulai goyah,

[Emilia: Sekarang aku merasa lega … Tapi, tiba-tiba, aku ….]

[Subaru: Itu karena kau baru saja bermimpi buruk dan tak bisa tidur nyenyak. Jangan memaksakan diri, tak apa-apa untuk tidur sebentar. Aku tak akan melakukan apa-apa, aku di sini hanya untuk menjagamu saja]

[Emilia: Meskipun bagian tentang tidak akan melakukan apa-apa saaangat menggangguku…]

Sementara, entah kenapa membahas pernyataan yang tidak perlu itu, rambut perak Emilia terus bergoyang ketika ia berjuang melawan godaan untuk tidur. Subaru meletakkan jari-jarinya di dahi Emilia, dan dengan lembut mendorong tubuh rampingnya ke bawah.

[Emilia: …Aa]

[Subaru: Jangan khawatir, tidur saja]

Tanpa memberi kesempatan pada gadis itu untuk membantahnya, Subaru membaringkan Emilia di tempat tidur.

Sambil menarik selimut ke atas tubuh Emilia, Subaru menarik kursi lebih dekat ke tempat tidur dan duduk di tempat ia bisa lebih baik mengamati wajah Emilia ketika dia tidur.

[Subaru: Emilia–ku, kau sudah bicara tanpa henti, dan pikiranmu pasti lelah, jadi jika apa yang aku katakan bisa membuatmu sedikit tenang, maka istirahatlah dengan baik. Karena kita semua membutuhkanmu untuk melakukan yang terbaik lagi malam ini]

[Emilia: …. Benarkah tidak apa-apa untuk memanjakanku seperti ini?]

[Subaru: Tentu saja. Teruslah manja. Aku akan memanjakanmu sampai kau begitu manja sehingga hatimu menjadi ketergantungan padaku]

Melihat Subaru mengangkat bahu, Emilia diam-diam tertawa ketika ia berbaring di tempat tidur. Kemudian, masih mempertahankan tatapannya pada Subaru, Emilia perlahan mengulurkan tangannya dari bawah selimut,

[Emilia: ――tangan]

[Subaru: Hm?]

[Emilia: Kalau subaru ingin memanjakanku, maukah Subaru… memegang tanganku? Sampai aku tertidur, aku mohon?]

[Subaru: Ooho! Serahkan padaku]

Subaru meraih tangan Emilia yang imut-imut dan lembut, tersenyum ketika ia menikmati keindahan telapak tangannya. Emilia balas tersenyum ketika ia mengikuti saran Subaru dan dengan elegan menutup matanya.

Tidak butuh waktu lama sebelum Emilia jatuh tertidur dengan napas teratur.

[Subaru: …. Aku harap kau dapat memiliki mimpi yang indah, walau hanya sesaat]

Mengamati Emilia ketika ia berbaring dengan tenang di tempat tidur, Subaru dengan lembut menyibakkan beberapa helai rambut perak di dahi Emilia dan beralih ke tangan yang masih memeganginya.

Jika merasakan keberadaan orang lain seperti ini dapat membebaskan Emilia dari rasa sepi di mimpinya, maka Subaru akan dengan senang hati menemaninya. Karena jika Emilia dibiarkan sendirian di ruangan ini, ditambah disiksa oleh mimpi buruk tanpa akhir, hal itu terlalu kejam bagi gadis itu.

[Subaru: Yah, bagaimanapun juga … aku belajar banyak hari ini]

Duduk di sana, memegangi tangan Emilia, Subaru meluruskan punggungnya ketika ia mencari makna dari pembicaraan mereka.

Masa lalu Emilia, dan alasannya untuk bersaing di seleksi kerajaan. Tawaran Roswaal saat ia membawanya keluar dari hutan, dan mengapa Emilia tidak punya pilihan selain menerimanya.

Dan yang paling penting adalah ujian Emilia, motif sebenarnya di balik penolakannya, meskipun seharusnya ia sudah mendapat jawabannya, tapi pada akhirnya malah membuat jawabannya mengambang dan membuat gadis itu berpikir keras lalu membuatnya tertidur, inilah sifat Emilia.

[Subaru: —-]

Diam-diam, Subaru menatap Emilia saat dia tidur.

Melihat Emilia begitu lemah, membuat Subaru sedih, jadi ia memutuskan untuk menunda rencananya sekarang–tetapi, meski begitu, itu bukan alasannya. Ada alasan sesungguhnya dibalik mengapa Subaru menunda mendapatkan jawaban penting itu dan secara praktis memaksanya tidur yaitu: “sesuatu yang tidak mungkin dilakukan Emilia jika ia masih dalam keadaan terjaga”.

[Subaru: Tapi, mempertimbangkan semua hal … hanya ini yang bisa aku pikirkan]

Pada kehidupan sebelum-sebelumnya, detail yang menarik dan bukti tidak langsung lainnya memaksanya untuk mempertimbangkan kemungkinan ini. Tetapi hanya ada satu cara untuk memastikan, dan itu dapat dengan mudah dilakukan sekarang.

Dan, jika ia benar, itu pasti akan menjadi cahaya untuk menembus kegelapan ini.

Subaru menarik napas, menahannya, kemudian menghembuskannya.

Sambil mendengarkan debaran jantungnya sendiri dan merasakan darah yang terpompa mengalir ke setiap pembuluh darahnya, Subaru mengulurkan tangan untuk mengonfirmasinya.

Di seberang tangan kanannya, yang memegangi tangan Emilia, Subaru mengulurkan tangan kirinya ke tengah leher Emilia yang ramping dan pucat sementara ia tertidur nyenyak, dan,

[Subaru: Kau tidak benar-benar tidur, kan?!]

Ia merasakan sentuhan dingin dan keras di ujung jarinya.

Sambil mengeraskan suaranya saat mengatakan ini, kata-kata itu keluar begitu saja.

Beberapa saat berlalu dalam keheningan, dan tepat ketika hati Subaru mulai berkobar dengan rasa tidak sabar yang membakar – tiba-tiba,

{Ah, kau memperhatikannya. Aku senang sekali, Subaru}

Dari dalam kristal hijau di ujung jarinya, sebuah suara dari sesosok roh menggema langsung di dalam tengkorak kepala Subaru.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded