Re:Zero Arc 4 Chapter 92.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Kebohongan, bagian 1

{Puck: Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kita berbicara seperti ini}

{Subaru: Iya, benar …, dan kau tak dapat ditemukan di mana pun hampir selama dua minggu sejak kau menghilang, pemilikmu sangat khawatir dan mencarimu ke mana-mana}

Rasanya aneh sekali, alih-alih getaran suara merambat dari udara, ini terdengar lebih seperti ada suara yang masuk langsung ke tengkorak kepalanya. Namun, meski begitu, mendengarkan suara Puck, masih riang seperti biasa, Subaru berjuang untuk menahan amarahnya agar tidak meresap ke dalam jawabannya. Melihat reaksi Puck yang tenang—tidak sesuai harapannya—membuat Subaru kesal.

{Puck: Sepertinya, selama dua minggu kita tak berbicara …. Kau telah membangun sedikit kebencian terhadapku}

{Subaru: Jangan membuatku mengatakannya padamu, kau tahu sebabnya, kan?!}

{Puck: Benar. Hal-hal yang kukatakan di depan gadis berambut biru sebelum aku berhenti keluar …. Sekarang setelah kupikiri kembali, itu adalah tindakan yang tidak masuk akal. Aku sungguh-sungguh merenungkannya kembali}

{Subaru: ….! Bukan itu maksudku!}

Yang tidak masuk akal itu adalah terus-menerus menggali-gali kesalahan yang sudah Subaru lupakan. Dan yang lebih mengejutkan, hal ini menyimpang dari topik yang harusnya mereka bicarakan sekarang.

Puck cemberut.

{Puck: Subaru, jangan marah begitu…}

{Puck: …Kau tahu? Aku hanya ingin meminta maaf. Kalau kita tak menyelesaikan masalah di antara kita sebelum membicarakan topik utama, kita tak akan bisa berbicara dari hati ke hati, bukan…? Terutama sekarang, ketika ada banyak yang perlu kutanyakan padamu}

{Subaru: Oke, tidak masalah? Kau tahu? Kalau kau sudah puas memenuhi kepuasan dirimu itu, mari bicara. Hal yang kau dan aku ingin bicarakan–topik utama}

Mengakui permintaan maaf Puck dengan sedikit acuh tak acuh, Subaru memelototi kristal ketika ia langsung menuju ke topik utama.

Dalam pendar cahaya hijau gelap, batu kristal di dada Emilia itu memantulkan tatapan Subaru.

Subaru berdecak, dan,

{Subaru: Omong-omong, ini bukan tempat yang baik untuk berbicara. Untuk sekarang, mari kita pergi ke luar. Kita tak tahu kapan Emilia akan bangun. Akan lebih baik ubah lokasi sebelum…}

{Puck: –Maaf, tapi aku tak bisa.—Dan alasannya juga merupakan topik utama}

Saat menatap Emilia yang sedang tidur, Subaru mendengar tawarannya ditolak mentah-mentah oleh kata-kata telepati Puck. Untuk sesaat, Subaru membuat ekspresi seolah-olah hidungnya sedang dipencet,

{Subaru: Itu bukan penolakan “Tidak mau” atau sejenisnya… Tapi kau tidak bisa? Apa maksudnya?}

{Puck: Itulah maksudnya. Dengan kondisiku yang sekarang, keluar dari kristal … atau, lebih tepatnya, mewujudkan diriku di dunia luar, itu mustahil. Kalau saja aku bisa, kau pikir aku akan diam saja di sini dan membiarkan Lia sendirian—dalam kesedihannya seperti ini?}

{Subaru: —-}

Mendengar Puck mengatakan hal itu seolah-olah itu adalah masalah kecil, pikiran Subaru menjadi kosong.

Faktanya adalah, mengingat segala sesuatu yang terjadi antara dirinya dan roh ini sampai sekarang, sejujurnya Subaru merasa seperti meragukan kebenaran kata-kata Puck.

Tapi selain dari kecenderungan Puck untuk selalu muncul terlambat di saat-saat penting, pada dasarnya―ia ada semata-mata hanya demi Emilia, dan perasaannya terhadap Emilia sangat tulus. Subaru tidak meragukan hal itu.

Yang berarti,

{Subaru: Beberapa persyaratan, atau alasan … mencegahmu keluar?}

{Puck: Benar. Aku bisa berkomunikasi dengan pikiran seperti ini. Dan beruntungnya, kau merasakanku dan memanggilku dari dalam kristal. Aku ragu orang lain akan mendapatkan kesempatan yang sama}

{Subaru: Orang lain…?}

{Puck: Sederhana saja, satu-satunya orang yang bisa dekat seperti ini dengan Lia saat ia tidur adalah dirimu. Selain itu, bahkan jika kebetulan seseorang menyentuh kristal, ada masalah apakah kecocokan kami akan memungkinkan kami berkomunikasi melalui pikiran. Tapi kita pernah melakukan ini sebelumnya, jadi aku tahu aku bisa berbicara denganmu seperti ini}

{Subaru: …. Sekarang setelah kau mengatakannya, kita pernah, bukan? Jadi, apa yang kau inginkan dariku?}

{Puck: Hm……?}

{Subaru: Sekarang seseorang akhirnya telah memenuhi prasyarat ini, dan dengan kesempatan ajaib, menyadari keberadaanku dan memanggilku …. Kau harus siap untuk tidak membiarkan kesempatan satu-satunya ini lenyap. Jadi, dengan waktu singkat yang kita miliki, apa yang ingin kau katakan kepadaku?}

{Puck: —-}

Kata-kata Subaru disambut dengan keheningan yang khidmat. Dalam benaknya, ia hampir bisa membayangkan roh berbentuk kucing yang tak terlihat tersenyum lebar seperti manusia.

Tanpa mengkhianati imajinasi Subaru, Puck tertawa, suaranya tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

{Puck: Jadi, aku benar untuk mengharapkan hal-hal besar darimu… meskipun aku merasa sedih untuk berpikir bahwa aku harus mempercayakan Lia kepada orang lain selain diriku}

{Subaru: …. Aku bisa menyampaikan apa yang kau pikirkan kepada Emilia, kalau kau mau?}

Bagian terakhir dari kata-kata Puck yang penuh sukacita menjadi penuh dengan kegelapan. Merasakan perubahan ini, Subaru menunduk. Sarannya tidak lebih dari sekadar kata-kata menghibur. Tapi, setelah mengatakannya, itu mungkin ide yang bagus.

Menjadi sangat resah setelah kehilangan Puck, yang merupakan segalanya bagi seorang gadis bernama Emilia. Emilia menanggung banyak beban pikiran untuk saat ini, tetapi seiring berlalunya waktu dan kegagalannya yang berulang dalam ujian, perlahan-lahan mengikis tubuh dan pikirannya, kelemahannya akan mulai terlihat. Kalau keadaannya terus seperti ini, maka mungkin menawarkan bantuan kepadanya—

{Puck: Lebih baik jangan. Kalau ia tahu aku telah berbicara dengan orang lain di belakang punggungnya, kemungkinan terburuk, hati Lia akan hancur}

Tapi, sebelum Subaru memikirkan ide tersebut lebih jauh, ia dihentikan oleh suara sedih Puck. Mencoba memahami arti kata-kata itu, Subaru mendesah gusar pada kenyataan,

[Subaru: Haahhh…]

{Subaru: Jadi… apa maksudmu?}

{Puck: Itulah artinya. Kalau kau bertindak sebagai perantara dan menyampaikan kata-kataku pada Lia, ia akan mengetahui bahwa aku tidak benar-benar tertidur dalam kristal. Kalau dia sadar bahwa aku tidak sepenuhnya tertidur dan tidak dapat mewujudkan diriku di dunia nyata, hal itu akan menghancurkan keseimbangan pikirannya}

{Subaru: Tu-tunggu sebentar—!}

Subaru menggeleng kuat-kuat, berteriak dalam pikirannya pada Puck agar ia menghentikan omongannya.

Karena Puck tidak memiliki tubuh, dengan hanya kedipan kristal, Subaru mengetahui keberadaannya, ekspresi Puck tidak terlihat. Tapi, setidaknya dari suara Puck, Subaru menilai bahwa Puck berkata jujur.

{Subaru: Apakah kau… menyadari apa yang kau katakan? Baru saja… sepertinya kau mengatakan bahwa Emilia sendirilah yang mencegahmu keluar…}

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded