Re:Zero Arc 4 Chapter 92.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Kebohongan, bagian 2

{Puck: … …}

{Subaru: Kau ini bicara apa?! Emilia telah menangis tersedu-sedu, memanggilmu, meminta bantuanmu … jadi! Bagaimana kau bisa…! Bukan aku, bukan orang lain, namamulah yang ia panggil ketika ia berada di ambang kehancuran! Jadi kenapa kau hanya bungkam…!}

{Puck: ……. Ah, benar. Kau akan menjadi orang pertama yang kesal mendengar Lia memanggil nama orang lain sebelum namamu, Subaru}

{Subaru: —Cih!!}

Pernyataan Puck barusan benar-benar tidak penting, tetapi, menyadari bagaimana pernyataan itu sangat tepat sasaran, tenggorokan Subaru tercekik oleh kemarahan yang tidak dapat dimengerti. Dengan harapan menjadi orang terpenting di hati Emilia, ia telah bekerja sangat keras dan berjuang sejauh ini. Dan fakta bahwa ia tidak memegang tempat itu di dalam hatinya mengganggunya tanpa henti. Itulah kebenarannya.

Di waktu yang bersamaan, kemarahan memenuhi hatinya ketika melihat orang-orang yang berharga bagi Emilia, orang-orang yang memiliki kekuatan jauh melebihi Subaru di atas segalanya dan dapat menyelamatkan Emilia, gagal mengambil tindakan apa pun demi Emilia.

Jadi, ketika Puck mengatakan bahwa Emilia yang bertanggung jawab atas fakta itu, bagaimana mungkin Subaru bisa menerimanya?

{Subaru: Jadi, apa … maksudmu setiap kali hati Emilia hancur oleh ujian itu, dicerca oleh kesepian, tersenyum dalam air mata ketika ia mengenang masa lalunya yang menyakitkan, itu semua hanya kebohongan semata?—Kau ingin aku percaya dengan semua itu?!}

Jika air mata, tangisan, dan ratapan itu semuanya adalah tindakan untuk menipu orang-orang di sekitarnya, maka Emilia pastilah seorang aktris berbakat. Alih-alih membidik Tahta, ia seharusnya membidik Piala Oscar sebagai gantinya.

Jika seseorang dapat mengabaikan fakta bahwa Emilia sama sekali tidak memiliki bakat untuk menipu Subaru, atau siapa pun.

{Subaru: Tidak mungkin! Lupakan soal terus membodohi orang-orang di sekitarnya, Emilia adalah tipe orang yang sangat merasa bersalah bahkan hanya karena mengatakan kebohongan terkecil. Begitulah Emilia!}

{Puck: Subaru, tenang. Aku tak sedang menjelek-jelekkan Emilia seperti dalam imajinasi terburuk. Jadi tenang saja}

{Subaru: Imajinasi terburuk…? Imajinasi terburuk…. Brengsek! Berhenti berbicara dalam kepalaku! Semuanya tidak ada hubungannya dengan ini…! Tidak peduli apa yang terjadi, aku tidak akan pernah berpikir  tentang Emilia seperti…}

{Puck: ―Natsuki Subaru!}

Tubuh Subaru tak dapat digerakkan, suara tajam Puck menusuk menembus kekalutan Subaru.

Kekuatan emosi yang terbungkus dalam panggilan singkat itu cukup untuk membekukan tubuh Subaru. Namun, di ujung tatapan keras Subaru bukanlah sosok kucing kecil itu, tetapi batu yang tidak bergerak di dada Emilia, bersinar dengan pendar yang aneh.

{Puck: ….Sudahkah kau tenang?}

{Subaru: …. Jadi, bagaimanapun juga, kau bisa menaikkan suaramu …. Aku selalu mengira kau hanya makhluk berbulu tanpa beban yang tidak peduli dengan situasi serius}

{Puck: Aku jarang berteriak seperti ini. Hanya ketika menyangkut Lia… atau ketika aku perlu memarahi beberapa anak nakal yang tidak patuh, aku akan marah, tentu saja}

{Subaru: Anak nakal… huh?!}

Mendengar penjelasan yang berlebihan itu, Subaru menghela nafas kecil.

Subaru tidak bisa menyangkalnya. Ia bisa melihat bahwa sikapnya yang barusan memang sedikit bermasalah di sini.

Berapa kali sejak awal pembicaraan yang ditunggu-tunggu ini Subaru gagal untuk tetap tenang? Dan berapa kali Puck harus menegurnya agar pembicaraan kembali ke jalurnya? Sangat menyedihkan bagaimana ia tidak dapat menahan diri. Dan hati baja yang sangat ia idam-idamkan itu, apakah tidak ada serpihannya di dalam dirinya?

{Puck: Tapi, jujur ​​saja, aku senang ada seseorang yang bisa menjadi sangat emosional atas Lia dengan cara ini. Kau harus memberi Lia kekuatan yang tidak sedikit juga}

{Subaru: ―huh?!}

{Puck: Belum ada yang berhasil melangkah sejauh ini ke dalam hati Lia sebelumnya. Bahkan Roswaal, yang membawa Lia keluar dari hutan untuk seleksi kerajaan, tak pernah menyentuh inti terdalam dari pikirannya. Tapi, karena pria itu hanya bermaksud menempatkan Lia di atas takhta sebagai sarana untuk tujuan lain, itu tidak begitu mengejutkan}

{Subaru: ―Apakah kau… tahu apa tujuan Roswaal?!}

{Puck: Untuk mengikuti kitabnya, kan? Mungkin, ia sangat mirip Betty dalam hal itu. Padahal, kitab Roswaal berisi banyak tulisan, sedang milik Betty sama sekali kosong. Mirip tetapi berbeda, mungkin ini cara yang lebih baik untuk menjelaskannya}

Sepertinya Puck sudah tahu detail tentang keadaan Roswaal dan Beatrice. Subaru meragukan bahwa informasi itu akan disampaikan ke Emilia, dan hanya membuatnya semakin gelisah memikirkan alasan Puck menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Tapi Subaru sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan Puck jika ia bertanya tentang hal itu.

{Subaru: Kalau itu tak terkait dengan Emilia, kau tidak terburu-buru untuk melakukan apa pun, kan?}

{Puck: Jika maksudmu Betty, aku ingin melakukan semua yang aku bisa untuknya. Tapi… sekarang setelah Lia terikat dengan Roswaal, aku tak punya pilihan selain fokus padanya}

{Subaru: Ya itu salahmu sendiri karena tak mengatakan apa-apa ketika kau tahu apa yang akan terjadi, bukan?}

{Puck: Aku tidak ingin berkomentar tentang itu. Meskipun kupikir itu agak tidak adil untuk membuatmu berurusan dengan konsekuensinya}

Terlepas dari niatnya, tampaknya penolakannya untuk memprioritaskan apa pun selain Emilia adalah alasan utama di balik semua ini. Jika membungkamnya adalah apa yang menyebabkan Emilia kesulitan saat ini, maka itu akan menjadi kesalahan yang terlalu besar untuk ditertawakan sebagai kesalahan sederhana.

{Subaru: Bagaimanapun aku akan menghancurkan rencana Roswaal, jadi tak usah memikirkan hal itu untuk sekarang. Dan Beatrice…. Aku tak berniat untuk menyerahkan masalahnya padamu. Satu-satunya masalah yang ingin kudiskusikan padamu adalah Emilia}

{Puck: Tidak apa-apa. Sekarang ini, aku tidak punya banyak tenaga untuk dihabiskan kepada siapa pun selain Lia. Mengusahakan hal lain selain untuk sesuatu yang benar-benar kusayangi, aku akan melakukannya dari belakang}

{Subaru: Kalau begitu katakan padaku. Apa maksudmu Emilia mencegahmu keluar? Aku tak akan percaya walaupun hanya sedetik bahwa Emilia berakting kepada semua orang}

Terakhir kali, ia telah lari dari emosinya, tetapi pikiran-pikiran itu tetap sama bahkan sekarang. Meskipun tidak mungkin Subaru dapat mengetahui segala sesuatu di dalam hati Emilia, ia jelas bukan tipe orang yang akan menipu orang-orang di sekitarnya dan meludahi pertimbangan mereka dengan cara ini.

Mendengar hal ini, Puck mengeluarkan respons seperti desahan lega di dalam kepala Subaru.

{Puck: Aku tak dalam posisi untuk mengatakan sesuatu seperti “kau tidak perlu khawatir”. Tapi, meskipun atas kehendak Lia aku dihalangi untuk pergi keluar… bukan Lia yang mencegahku keluar}

{Subaru: ….Maaf, aku tak mengerti maksudmu}

{Puck: Susah menjelaskannya. Lia meminta pertolonganku, memanggil-manggilku, dan tak dapat mendengar suaraku, semuanya benar. Fakta bahwa ia ketakutan, kesepian dan goyah tanpa ada siapa pun yang menolongnya juga benar. Tapi…}

{Subaru: —-}

{Puck: …Alam bawah sadar Lia menolak membiarkanku terwujud atau berkomunikasi dengannya. Dua sisi dalam hatinya sedang berselisih… mungkin begitulah cara termudah untuk menggambarkannya}

Dua sisi hatinya. Subaru menelan ludah mendengar istilah itu.

Tentu saja, itu bukan kepribadian ganda, kan? Yang berarti, setiap kali Subaru berada di ambang keputusasaan di dunia ini, semuanya adalah berbagai variasi dari hatinya yang berkhianat.

Jika hal itulah yang dialami Emilia, maka,

{Subaru: Kau tidak bisa mempengaruhi Emilia?}

{Puck: Rumit. Kegigihan satu sisi hatinya lebih banyak daripada yang lainnya. Dan bahkan jika aku dapat menembusnya, itu akan jadi masalah baru bagi Emilia}

{Subaru: Apa yang membuatmu berpikir itu akan merepotkan? Seperti, apakah ada sesuatu yang membuatnya kesal jika kau keluar …}

{Puck: –Tapi kau sudah tahu jawabannya, bukan?}

Memutus pertanyaan Subaru secara terus menerus, terdapat sedikit ejekan dalam nada suara Puck.

Menerima pemikiran ini, Subaru terdiam sesaat sebelum menurunkan pandangannya,

{Subaru: —Sudah, sepertinya}

{Puck: Hm, lanjutkan. Mari kita dengarkan. Aku memang mengatakannya, bukan? Aku mengharapkan hal-hal besar darimu, Subaru}

Puck menyetujui gumaman Subaru. Merasakan suasana hatinya sedikit lebih baik bahkan dari jaminan yang sedikit itu, Subaru melanjutkan,

{Subaru: Jika kau mewujudkan diri, maka Emilia akan…}

{Puck: Mhm, mhm?}

{Subaru: …harus menerima bagian masa lalunya yang menyakitkan. —Itu sebabnya Emilia secara tidak sadar menghentikanmu dari ikut campur}

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded