Re:Zero Arc 4 Chapter 94.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Pengabaian, bagian 1

―Hal pertama yang Emilia rasakan sesaat setelah terbangun dari tidurnya adalah rasa kesunyian menyelimuti genggaman tangan kanannya yang kosong.

Kantuk masih menguasainya karena tekanan darah belum merata ke seluruh tubuh dan bahkan otaknya. Namun ketika kesadarannya akhirnya kembali sepenuhnya, gadis itu menyadari betapa egoisnya perasaan yang ia alami barusan, dan pipinya serta-merta memerah oleh amarah dan rasa malu.

Alih-alih duduk, ia bergulung seperti bola di atas tempat tidur, menyembunyikan dirinya di bawah selimut. Mencerminkan sifat-sifat dangkalnya sendiri ketika ia berbaring di sana, ia sudah mengulur-ngulur waktu untuk dirinya sendiri di pagi hari.

[—Egois, egois, egois. Aku… … sangat egois]

Emilia–seorang gadis yang meringkuk di tempat tidur–bergumam lalu menghembuskan nafas panjang pada kondisi buruknya.

Ia mengepal-ngepalkan tangannya di bawah selimut, mengingat sensasi yang digenggamnya tepat sebelum ia tertidur.

Jari-jarinya tebal dan tidak rata, dan kulit di ujung jemarinya terasa sedikit lebih keras, sama sekali tidak seperti tangannya yang ramping dan lembut, begitulah yang dipikirkan Emilia setiap kali ia memiliki kesempatan untuk memegang tangan orang itu.

Sentuhan pemuda yang peduli padanya–seorang pemuda yang mengucapkan kata-kata hangat itu kepadanya, dan yang telah duduk di samping tempat tidurnya menggenggam tangannya sampai ia tertidur “sentuhan tangan Subaru yang kikuk dan menenangkan.”

Pikiran bawah sadar pertamanya saat bangun tidur adalah hilangnya sentuhan tangan itu. Untuk merasakan kesepian sedalam ini hanya dari kekosongan pada jari-jemarinya, sebegitu besarkah keputusasaannya?

Apakah karena ia tidak menghargai masalah yang tidak dapat diperbaiki atau mungkin karena kelemahannya sendiri dan dosa-dosa yang telah ia bawa kepada semua orang di sekitarnya? Selalu ingin bersandar padanya, sebesar itukah hasratnya untuk menumpuk lebih banyak beban pada pemuda itu?

Ini sudah hari keempat sejak kedatangan mereka di Sanctuary, mereka tiba pada hari pertama, dan Emilia telah mengaplikasikannya kemarin dan sehari sebelumnya untuk ujian jauh di dalam makam.

Bagi Emilia, yang bertujuan untuk menjadi pemenang dalam seleksi kerajaan dan naik ke singgasana Lugnica (kursi duduk resmi/penguasa resmi. Seorang penguasa/raja/ratu monarki. Kerajaan Lugnica/ Kingdom of Lugnica/ The Dragon Kingdom of Lugnica), mendapatkan dukungan dari Sanctuary adalah langkah pertama yang sangat diperlukan.

Penguasa tanah ini–Roswaal, adalah pendukung Emilia, dan semua penduduk di sini berada dalam keadaan yang mirip dengan dirinya, yang merupakan setengah-elf. Jika ia tidak bisa mendapatkan penerimaan mereka bahkan dengan kondisi yang begitu mendukungnya, apa yang ia pikir dapat ia lakukan ke depannya?

Dibandingkan dengan kandidat seleksi kerajaan lainnya, kekurangan Emilia tidak dapat disangkal. Sama sekali tidak berdaya, ia akan membutuhkan bantuan orang-orang di sekelilingnya untuk menang. Dan kepercayaan yang dibutuhkan untuk mendapatkan bantuan itu harus diperoleh melalui tindakannya sendiri.

Emilia sangat memahami posisinya, apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia buktikan di Sanctuary sangat jelas. Ia tidak meragukan hal itu.

Tapi, apa yang membuat tirai hitam ini membayangi matanya adalah—

[Emilia: ….Ujian makam]

Satu-satunya syarat yang tidak dapat dinegosiasikan untuk mendapatkan pengakuan para penduduk Sanctuary adalah dengan menyelesaikan ujian makam.

Berkat barrier yang didirikan oleh eksistensi makam “si penyihir–Echidona” tidak ada penduduk Sanctuary yang dapat menjelajahi hutan di sekitarnya. Untuk membawa mereka ke dunia luar dan berjuang bersamanya, ia harus menghapus barrier itu dengan menyelesaikan ujian makam. Dan itu juga masalah perasaan. Karena bagaimana ia bisa meminta mereka untuk mendukungnya jika ia bahkan tidak bisa melakukan hal ini untuk mereka?

Baik itu fisik atau pun perasaan, semuanya hanya dapat diselesaikan dengan melewati ujian itu. Dan pada masalah sejelas ini, tidak ada ruang untuk argumen atau alasan.

Masalahnya sekarang adalah isi ujian, yang mirip seperti pedang bermata dua “suatu istilah yang mematikan dan beracun” bagi Emilia.

―Suara tidak berperasaan di dalam makam menyuruhnya untuk “menghadapi masa lalunya”.

Setiap kali ia menutup matanya, ia akan melihat dunia putih itu seketika tercipta.

Emilia seolah-olah dilempar telanjang ke udara yang membeku, seluruh tubuhnya akan menggigil ketakutan.

Apakah rasa takut ini menjalari tubuhnya karena dia mengingat rasa dingin yang menusuk pada hari itu? Atau karena ia masih belum melupakan ketakutannya pada hari itu? Bahkan sekarang?

Apa yang dipikirkan Subaru saat ia mendengar cerita masa lalu Emilia yang menyedihkan ini?

Masa lalu yang tidak terlupakan, masa lalu yang masih mengikat, masa lalu yang membelenggunya dalam rantai rasa bersalah sampai hari ini …. Masa lalu yang telah ia ceritakan sekitar tengah hari ketika matahari melewati meridian langit (waktu siang hari ketika mencapai titik kulminasi/sekitar pukul 12.00) ia ungkapkan seluruhnya kepada Subaru.

Malam sebelumnya, ia melakukan percobaan pertamanya di ujian makam dengan jantung yang berdetak tak karuan. Emilia telah menangis dalam pelukan Subaru setelah ia membangunkannya, meratap, berteriak, sampai suara Subaru dan sapuan lembut di punggungnya berhasil menenangkannya. Setelah itu, Emilia mengumumkan kepada semua orang yang menunggu di luar bahwa ia telah gagal dalam ujiannya.

Ia tidak ingat ekspresi apa yang muncul di wajah semua orang ketika mereka mendengar hal itu.

Emilia tidak keberatan melihat wajah mereka satu per satu. Tidak apa kalau mereka menghujaninya dengan penghinaan dan kekecewaan. Ia hanya harus memasang wajah yang tegar, mengucapkan selamat malam, dan menuju ke rumah yang disediakan untuknya. Dan ketika ia menyadari bahwa ia benar-benar sendirian, teror yang tidak tertahankan menelannya tanpa ampun.

Tidak kuasa berdiam diri dalam mimpi buruknya sendiri, ia bergegas keluar dari rumahnya dan menggigil dalam angin malam ketika ia bertemu dengan Subaru yang sedang berjalan di bawah sinar rembulan.

Kemudian, ketika Subaru mengakui tekadnya dan apa yang akan dilakukan pemuda itu untuknya, Emilia menolaknya dengan setumpuk alasan idealis dan melarikan diri.

Betapa sedihnya Subaru ketika mendengar apa yang dikatakan Emilia? Sama-sama terkejut oleh kata-katanya sendiri, Emilia juga tidak tahu.

Ia tidak dapat mengingat bagaimana ia kembali ke rumahnya setelah itu.

Kali berikutnya ia terbangun, suara Subaru–lah yang memanggil-manggil namanya, dengan wajah pucat pasi saat dilihatnya Emilia pingsan di lantai.

Dia memberi tahu Subaru yang khawatir tentang ujiannya, dan mau tidak mau, percakapan itu berubah menjadi cerita masa lalunya.

Saat itu, Emilia menghubungkan masa lalunya dengan Subaru tanpa sedikit pun menambahkan bumbu-bumbu kebohongan atau rekayasa.

Ingatan yang tidak terlupakan dan bekas luka yang dikoyak kembali, bagaimana ia dibuat untuk menyaksikan kejahatan yang ia lakukan, seolah-olah membuka luka-lukanya yang menyakitkan pada hembusan angin, ia mengungkapkan semuanya pada Subaru.

Pada saat yang hampir bersamaan, Emilia juga mengakui tujuan egoisnya untuk berpartisipasi dalam seleksi kerajaan.

Bukannya ia tidak takut.

Sebagai konsekuensi atas kesalahan yang ia lakukan di masa kanak-kanaknya, Emilia telah membuat banyak orang menjadi korban. Namun ia tidak pernah membayar harga apa pun, dan bahkan sekarang ia menikmati waktu yang ia miliki sendiri.

Yang lebih buruk, cara yang dipilihnya untuk menebus dosa-dosanya hanya berakhir dengan menyeret lebih banyak orang ke dalam kekacauannya.

Dicerca, dihina, dan dikucilkan telah menjadi hal yang biasa bagi Emilia.

Namun, entah bagaimana, ia percaya dengan keyakinan penuh bahwa Subaru tidak akan pernah meninggalkannya.

Tidak peduli seberapa buruk masa lalunya, atau seberapa egoisnya kerinduannya kepada penebusan dosa, Natsuki Subaru tidak akan pernah, “meninggalkannya”.

Tidak peduli seberapa parah pemuda itu tersakiti, dan bahkan jika ia merintih dalam keputusasaan, Subaru akan terus melindunginya. Berkali-kali, Emilia telah melihat hal ini dalam tindakannya.

Pemuda yang baik hati, setia, dan penuh perasaan ini: Yang meski memikul banyak beban–masih menolak untuk mengesampingkan apa pun, akan terus berjuang terlepas dari lukanya.

Dan selama Emilia tetap menjadi salah satu bagian dari beban yang dibawanya, tidak peduli seberapa aneh sifatnya, Subaru tidak akan pernah membiarkannya pergi.

―Itu … dalam arti yang sebenarnya, merupakan pemikiran yang kejam dan mengerikan.

Bahkan jika Subaru menggeleng kuat-kuat, mengaku tidak pernah berpikir seperti itu, hal itu akan menjadi sebuah kebohongan untuk mengatakan bahwa “tidak pernah terlintas di benaknya” dan jika sebagian dari hati Emilia berharap akan hal tersebut, maka sama saja seperti seluruh keberadaan Emilia menyetujui pemikiran semena-mena itu.

Karena alasan itu, menempatkan keyakinannya pada seseorang yang tidak akan bisa membencinya, Emilia telah mengakui masa lalunya yang tercela.

Ketika semua dikatakan dan dilakukan, itu saja.

Pada akhirnya, meskipun Subaru tidak bisa menyembunyikan keterkejutan dan kekecewaannya, ia tidak menghakimi kejahatan Emilia.

Ketika Emilia lelah dengan pengakuannya dan dikuasai oleh rasa kantuk, sentuhan Subaru saat ia memegang tangannya masih penuh dengan perhatian, tidak berbeda dari sebelumnya.

Fakta bahwa Subaru melakukan segalanya persis seperti yang diharapkan oleh bagian dari dirinya yang memuakkan membuat Emilia kesal sekali.

Mata Subaru yang biasanya tajam melunak karena khawatir, memperhatikan tubuh dan pikirannya. Kebaikannya seperti racun yang manis bagi Emilia.

Kebaikan itu meluluhkan hatinya, melunturkan tekadnya, dan membuat seluruh keburukan dalam dirinya terlihat jelas.

Andai saja Emilia dapat menyerahkan semua itu pada Subaru dan membiarkan pemuda itu membantu menanggung rasa sakit yang menggerogoti hatinya.

Jika saja Emilia dapat mengatakannya dengan lantang seperti rengekan anak kecil yang merajuk pada hal-hal yang ia benci, Subaru pasti tidak akan ragu sedikit pun untuk menjual seluruh hidupnya pada Emilia.

—Namun hal itu akan menjadi sangat tidak termaafkan.

 Sejak mereka pertama kali bertemu, Emilia telah menerima bantuan Subaru.

Dari rumah pasar gelap di ibu kota, mabeast yang mengancam suatu wilayah, tatapan-tatapan sinis di aula seleksi kerajaan, hingga para penyerang tak dikenal yang mengepung desa dan mansion, selalu saja seperti ini.

Emilia selalu berpegangan erat pada tangan Subaru. Emilia pernah menolak dan membuang tangan itu karena hatinya tidak tahan melihat Subaru terluka, dan perasaannya mengatakan bahwa ia tidak pantas menerima kebaikan itu.

Namun meski begitu, Natsuki Subaru tidak pernah meninggalkan Emilia.

Bukan hanya itu, ketika sang pemuda akhirnya mengatakan alasannya menyelamatkan Emilia, ia berkata:

“Aku mencintaimu, karena itu aku ingin menjadi kekuatanmu”

Emilia tidak pernah sekalipun menerima pengakuan cinta, apalagi itu dilakukan dengan sepenuh hati dan tak berdasar seperti itu.

Satu-satunya orang yang pernah menunjukkan kasih sayang kepada Emilia adalah para elf yang tinggal bersamanya di Hutan Elior, dan setelah tidur nyenyaknya yang panjang, satu-satunya orang yang menunjukkan kasih sayang kepadanya adalah Puck dan pada akhirnya menjadi keluarganya.

Dipikat keluar dari hutan oleh Roswaal, ia sekali lagi diingatkan tentang realitas kejam sebagai setengah-elf, dan dua kunjungannya ke ibu kota hanya memperjelas kesadaran itu.

Sebagian alasannya menerima tawaran Roswaal adalah untuk memenuhi tujuan pribadinya, tetapi Emilia juga berharap bahwa ia mungkin bisa mengubah prasangka yang mengakar terhadap setengah-elf, walaupun hanya sedikit. Namun harapan itu terasa begitu samar dan jauh sehingga ia sendiri hampir tidak percaya bahwa hal itu mungkin untuk dilakukan.

Jadi, seberapa besar dampak yang ditimbulkan pada Emilia ketika Subaru—pemuda yang selalu bertekad pada tujuannya itu—mengabaikan fakta bahwa ia adalah setengah-elf yang menyedihkan dan tanpa harapan, mengatakan kepadanya bahwa ia mencintainya?

Mereka tidak berasal dari golongan yang sama, Subaru juga bukan orang yang dilahirkan dengan tujuan dan takdir untuk melindungi Emilia. Pemuda itu hanya seseorang yang Emilia temui secara kebetulan, menjadi dekat, dan, setelah semua yang mereka bagikan bersama, datang untuk menjaganya. Bayangkan seberapa banyaknya Subaru telah menyelamatkan hati Emilia hanya dengan mencintainya?

Dan justru karena hal itu, Emilia tidak boleh bergantung pada Subaru lagi.

Setiap kesulitan yang ia tanggung untuk Emilia berarti luka lain yang terukir di tubuhnya. Bukan hanya luka pada daging, tapi juga hati.

Tubuh dan pikiran Subaru tidak sekuat itu, Emilia sangat tahu.

Bahkan dengan hati yang dipenuhi tekad untuk menjaga orang-orang di sekitarnya, sejatinya Subaru bukanlah orang yang istimewa.

Dia bisa terluka oleh kesedihan, dia akan menangis ketika ia terluka, dan jika dia terlalu banyak ter-sakiti dia akan mati.

Begitulah Subaru “manusia biasa”.

Emilia tidak ingin pemuda biasa saja itu menanggung rasa sakit lagi atas namanya.

Jika Subaru bisa tinggal bersamanya dan mendukungnya saat Emilia terus melangkah maju, maka ia tidak menginginkan apa pun lagi. Meskipun itu adalah keinginan egois sehingga Emilia tetap saja merasa malu.

Jika ia memiliki Subaru di sisinya untuk mendukungnya ketika tekadnya akan runtuh, maka pasti, Emilia dapat mengatasi hambatan apa pun tanpa gagal.

Dan ia sendiri yang harus melawan hambatan di hadapannya.

[Emilia: Lagi pula, kalau aku tidak … …]

Jika Emilia terus bergantung pada Subaru, menyerahkan segalanya padanya, menempel padanya, memaksakan semuanya padanya, akhirnya, Subaru akan menganggap Emilia sebagai beban hidup.

Memikirkan bahwa hari itu akan datang membuatnya tenggelam dalam ketakutan.

Hal ini adalah sesuatu yang Emilia tidak ingin percaya bahwa ia menginginkannya. Sesuatu yang ia tahu meskipun ia menginginkannya, ia tidak akan pernah mendapatkannya. Sesuatu yang berusaha ia lupakan, namun diam-diam ia rindukan.

Dan sekarang ia memilikinya, sekarang sesuatu itu telah diberikan kepadanya, dan ia telah meraih tangan yang menggapainya itu … Emilia tidak ingin kehilangannya lagi.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded