Re:Zero Arc 4 Chapter 94.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Pengabaian, bagian 2

[Emilia: —-]

Dosa Emilia karena telah melukis hutan menjadi putih dan membungkam semua teman dan keluarganya di bawah es dan salju.

Tanpa sedikit pun menyadari kejahatannya, Emilia sendiri juga tertidur di dalam es itu dan menghilang selama hampir seratus tahun sebelum Puck membangunkannya

Dosa yang menjijikkan dan mengerikan itu hanya diperburuk oleh kenyataan bahwa Emilia sendiri tidak dapat mengingat satu pun detail nyata tentang perbuatannya.

Segala sesuatu di antaranya hampa, dan, selain dari pengetahuan bahwa tindakannya telah menjerumuskan semua orang ke dalam kebekuan putih, ia tidak dapat mengingat apa pun tentang mengapa, atau bagaimana di dalam pikirkannya.

“Putri Penyihir” julukan itu terasa pantas bagi Emilia.

Setelah Puck membangunkannya dari es, ia menghabiskan tujuh tahun di Hutan Elior. Karena tidak dapat menemukan atau membuat makanan di dalam hutan yang membeku, ia akan berjalan ke desa-desa terdekat di luar hutan dan mengemis belas kasihan mereka.

Emilia tidak dapat melupakan tatapan ketakutan mereka atau bagaimana mereka memanggilnya “Penyihir Hutan Es”.

Penyihir. Penghinaan itu cocok untuknya.

Ia ragu dalam memiliki tekad yang diperlukan untuk mengatasi ujian, tetapi bahkan ia merasa bahwa kata-kata itu adalah omong kosong. Emilia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana ia bisa mengalahkan masa lalunya. Jadi ia hanya menghindari pertanyaan Subaru dengan kata-kata yang menyenangkan dan memilih untuk melarikan diri ke dalam mimpinya.

Diyakinkan oleh sentuhan telapak tangan Subaru yang menenangkan dan nyata, ia tertidur tidak lama kemudian.

—Sepertinya Emilia tidak memimpikan apa pun saat itu.

Ketika ia terbangun, Subaru masih dalam posisi yang sama seperti sebelumnya, mengawasinya saat ia tidur. Emosi yang tidak tertahankan menyerang hatinya ketika ia melihat ini, dan… masih memegang tangannya.

Pergi…. Mereka melangkah keluar, ke Sanctuary―untuk menantang ujian itu.

Hasilnya jelas. Emilia gagal.

Subaru dan Ram melepasnya tepat di luar makam. Dan dengan Garfiel, Lewes, dan para penghuni Sanctuary memandangi punggungnya, ia berjalan masuk. Tapi tanpa satu pun petunjuk tentang apa yang harus dilakukannya, ujian itu dengan tanpa perasaan menolaknya.

Setelah disiksa, dicampakkan, diinjak-injak oleh masa lalunya yang tidak dapat diubah, Emilia kembali dilemparkan.

Ketika ia tersadar di atas lantai makam yang dingin dan keras, Emilia menyadari bahwa pipinya basah. Bahkan air matanya terasa konyol, dan ia membenci kedangkalannya sendiri.

Tidak dapat memahami satu petunjuk pun untuk mengatasi ujian, Emilia meninggalkan makam dengan jiwa yang lemah dan raga yang gemetaran, untuk kemudian disambut oleh kekhawatiran Subaru dan kekecewaan semua orang.

Kemudian, seperti malam sebelumnya, ia tertidur di rumahnya, kehilangan kesadaran setelah jatuh ke tempat tidur—yang baru ia sadari pagi ini.

[Emilia: Pada akhirnya, tak ada kemajuan sama sekali …. A-Aku sangat tidak berguna… …]

Jika ia mempelajari sesuatu kemarin, itu adalah fakta bahwa ia adalah anak manja tidak ada harapan yang selalu menyebabkan masalah bagi Subaru dan semua orang di sekitarnya, dan bahkan dengan keadaan seperti itu, masih belum memiliki sedikit pun harapan untuk menjadi lebih baik. Itulah dirinya—lemah dan tidak berdaya.

[Emilia: Puck … …]

Liontin yang tergantung di dadanya, dan kilau hijau batu yang menghiasi ujungnya, adalah jangkar perjanjian spiritual Emilia dengan Puck.

Kapan pun ia dengan lembut memanggil namanya, roh kucing itu akan menjawab dengan nada riang, “ada apa?” sesuai dengan perjanjian.

Tapi ini sudah hampir dua minggu sejak Puck berhenti menjawab.

Pada awalnya, ia pikir Puck hanya dalam periode hibernasi, yang Puck lakukan setiap beberapa bulan sekali. Ada juga saat-saat sebelumnya ketika Puck tiba-tiba berhenti menjawab, dan setiap kali itu terjadi, Emilia akan mencoba untuk menahan kesepian sambil ditunggunya Puck terbangun.

Namun, periode hibernasinya biasanya berakhir setelah tiga atau empat hari, dan ini adalah pertama kalinya selama ini. Terlebih lagi, bahkan jika Puck sedang hibernasi, jika Emilia benar-benar mencoba memanggilnya dengan paksaan, Puck pasti terbangun dari tidur dan menjawabnya.

Tapi sekarang, ia bahkan tidak bisa merasakan reaksi itu dari Puck yang terasa jauh.

Mungkinkah sesuatu terjadi padanya?

Apakah ada perubahan selama hibernasinya yang mencegahnya menunjukkan diri lagi? Dan jika itu masalahnya, apa yang harus ia lakukan?

Bahkan setelah waktu yang sangat lama yang Emilia habiskan bersama Puck, ia masih tidak bisa memikirkan cara untuk menghubunginya begitu ia meninggalkannya seperti ini.

Maupun itu ujian, Subaru, penyelesaian masa lalunya, atau Puck yang hilang, Emilia sama sekali tidak punya solusi untuk semua masalah ini.

[Emilia: … …. A-Aku, sangat bodoh]

Menghadapi jalan buntu ini, tepat ketika ia akan mengeluh tentang tidak adanya orang yang seharusnya ada untuknya, ia menghentikan dirinya sendiri.

Karena, jika ia melakukan itu, maka ia benar-benar menjadi seseorang yang tidak ada harapan.—Meskipun pendapat Emilia tentang dirinya sendiri sudah lebih rendah dari sebelumnya, ia tidak ingin berpikir bahwa ia bisa tenggelam bahkan lebih rendah dari ini.

[Emilia: Nnn, sudahlah. Bahkan jika aku terus berpikir seperti ini … … dia tetap tidak akan muncul hari ini. Tapi Puck pasti punya alasan. Dan masih belum ada kemajuan pada ujian ini. Aku harus tetap fokus]

Emilia mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk pipi pucatnya, seolah-olah sedang menyemangati diri sendiri.

Kemudian, sambil mendongak, ia mengambil sisir dan menyisir rambutnya yang berantakan.― Repot rasanya melakukannya sendirian. Itu karena Puck selalu melakukan hal itu untuknya, dan Emilia tidak pernah mengambil inisiatif untuk merapikan dirinya sendiri.

Sambil menyisir rambutnya dengan tangannya, ia memastikan bahwa kepangannya telah berantakan. Ia tidak menggunakan cermin. Dan cermin yang ada di sana sudah terbungkus kain dan diletakkan di sudut ruangan sehingga tidak memantulkan apa pun.

Mengutak-atik ujung rambutnya, Emilia memutuskan bahwa ia, setidaknya, telah menata rambutnya dengan layak. Kemudian, menyapu dengan jarinya, ia membagi rambut peraknya menjadi beberapa bagian, ini adalah persiapan untuk kepangnya.

Puck adalah orang yang bertanggung jawab atas gaya rambut Emilia tiap hari, dan karena itu adalah salah satu pasal dalam perjanjian mereka, sangat penting baginya untuk mematuhinya. Itu sebabnya, selama dua minggu sejak Puck menghilang dan membebaskannya memilih gaya rambutnya, Emilia terus mengikuti gaya yang Puck lakukan selama ini.

Dan tentu saja, ia juga terus melakukan berbagai ketentuan membosankan lain seperti berolahraga sebelum dan sesudah mandi dan berbicara dengan roh-roh kecil setiap hari. Lagi pula, jika ia berhenti mematuhi ketentuan-ketentuan itu, hubungannya dengan Puck yang hilang akan lenyap sepenuhnya, dan itu sangat membuatnya takut.

[Emilia: ―Oke]

Membagi rambutnya di tengah dan menjalinnya menjadi dua kepang adalah tatanan sehari-harinya. Tapi hari ini, ia menjalinnya menjadi kepang panjang yang mengalir di punggungnya.

Setelah mempertahankan bagian perjanjian dengan Puck untuk hari ini, ia berdoa untuk kelanjutan perjanjian.

Mengonfirmasi koneksi yang pasti di dalam dirinya, ia―

[Emilia: … … ha?!]

Berniat mengganti pakaiannya sebelum Ram muncul dengan seember air, Emilia meneteskan sedikit air mata.

Mata ungunya melebar karena terkejut ketika tatapannya mendarat tepat di liontin di dadanya.

Sama seperti saat ia memeriksa liontin itu sebelumnya, kristal hijau masih tergantung di ujung liontin sebagai bukti keberadaan Puck, tapi kali ini sebuah celah telah terbentuk di permukaannya.

[Emillia: apa… … tidak, ha……?! Tunggu… … ap, apa… …?!]

Menggenggam kristal yang mulai retak dengan sendirinya, Emilia mengeluarkan suara-suara yang tidak bisa dianggap sebagai kata-kata.

Matanya memancarkan kepanikan yang liar saat ia dengan takut membelai permukaan kristal itu dengan jari-jari gemetaran. Dari ujung jarinya muncul sensasi retakan yang melebar, mendorongnya untuk melepaskan tangisan kecil yang tercekik.

[Emilia: Tidak! Tidak…! Tidak, jangan… … tolong, tunggu… … tidak, Puck, tunggu…!!]

Sebanyak apa pun, sekuat apa pun ia menggeleng dengan penolakan sepenuh hati, usahanya tidak menghentikan keretakan pada kristal.

Emilia mengerahkan seluruh upayanya untuk menjaga agar tangannya tetap stabil agar tidak merusak kristalnya lebih lanjut, tetapi gemetarannya yang tidak terkendali hanya membuat kristal itu hancur lebih cepat di tangannya.

Apa yang akan terjadi jika kristal itu hancur dan pecah?

Menghadapi kemungkinan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, situasi yang tidak pernah dibayangkan ini, kepala Emilia menjadi sangat kopong.

Tapi ada satu hal yang dia tahu. Dan itu adalah,

[Emilia: Jika ini terus berlanjut…?! Puck akan…!]

Itu berarti perpisahan antara Emilia dan makhluk yang ia anggap sebagai satu-satunya keluarganya.

[Emilia: ——-!!]

Ia mengangkat kepalanya. Melihat sekeliling. Tidak ada orang di sana. Saat itu masih pagi, dan tidak ada tanda-tanda aktivitas dari orang-orang yang terbangun. Bahkan jika ia berteriak, kemungkinan tidak akan ada yang akan mendengarnya. Jika ia berlari ke luar untuk meminta bantuan, guncangannya mungkin akan menghancurkan kristal itu seketika, dan karenanya, Emilia tidak bergerak.

Menahan suaranya, menghentikan napas, Emilia menatap kristal yang hancur di tangannya.

Ia tidak punya solusi. Pada titik ini, daripada mencegah akhir yang akan datang, yang bisa ia lakukan adalah dengan panik mencoba untuk menunda semuanya sambil merasa ngeri dengan keputusannya.

[Emilia: –a]

Sebagai hadiah atas kelambanannya, suara keras kristal pecah terdengar.

Di telapak tangannya, saat matanya melebar dengan heran, kristal hijau itu kehilangan bentuknya. Batu itu pecah ke segala arah, serpihan-serpihan itu kehilangan warnanya, dan, tanpa sirkulasi kehidupan, kilau itu perlahan-lahan memudar.

[Emilia: He-y! … Puck, kau … … hanya bercanda, kan?]

Seolah menempel pada untaian harapan terakhir, Emilia terus memanggil-manggilnya, telapak tangannya bahkan bergetar dengan suara goyah.

Tetapi permata di tangannya yang telah hancur berantakan, sekarang tidak lebih dari tumpukan pasir berwarna pirus (gabungan warna biru dan hijau dengan sedikit sentuhan kuning). Jangankan sebuah roh, bahkan kapasitasnya untuk menyimpan sedikit beban sihir telah hilang. Yang tersisa hanyalah debu berwarna hijau, menunggu untuk ditiup oleh angin.

Siapa pun dapat melihat bahwa harapan Emilia yang singkat berlalu sia-sia.

Satu-satunya yang tidak menerima kenyataan kesia-siaannya adalah Emilia sendiri.

[Emilia: T-tidak! Tidak ini tidak boleh… …. ini tidak mungkin terjadi… … setelah semuanya…! Puck … ketika kita pertama kali bertemu, kau bilang… … kau akan menjadi keluargaku … … dan aku tidak akan pernah sendirian lagi … …]

Mengingat kembali persetujuan mereka, menggumamkan kembali janjinya, Emilia mengulangi kata-kata itu seperti anak kecil.

―Tapi sebelum permohonannya sampai, batu bubuk itu hanya menjawab dengan diam.

[Emilia: … … pe…mbohong]

Disodorkan dengan kenyataan yang tidak dapat diterima itu, seolah-olah tidak sanggup menahan keheningan, dan dengan mata yang mulai dipenuhi oleh pemahaman, ia menengadah ke langit-langit dengan tatapan liar dan menangis,

[Emilia: Puck … … Ayah, kau pembohong!!]

Jatuh berlutut, Emilia melemparkan pecahan-pecahan yang berserakan di lantai dan dinding.

Suara pecahan batu yang menghantam permukaan kayu telah memastikan pemisah Emilia dan Puck yang terlalu tiba-tiba.

Emilia membenamkan wajahnya di tangannya sementara isak tangis terus merembes dari telapak tangannya.

Tapi, tidak ada air mata yang mengalir.

Yang ada hanyalah perasaan hampa yang menyedihkan di dalam dadanya yang harusnya terisi.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded