Re:Zero Arc 4 Chapter 95.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Sigma, bagian 1

[Ram: Barusu. Ada kemajuan dengan rencana jahatmu?]

Setelah meninggalkan Emilia yang ketiduran sehabis lelah menangis, Subaru berpapasan dengan Ram tepat ketika ia baru saja meninggalkan kediaman Emilia.

Dengan tangannya masih memegangi gagang pintu, Subaru memicingkan matanya pada Ram, yang tampaknya sedang menunggunya keluar.

[Subaru: “Rencana jahat” terdengar super jelek dan agak menakutkan jadi bisakah kau menghentikannya?!]

[Ram: Dua pria dewasa mengendap-endap ke sana kemari jelas sekali merencanakan sesuatu, sebutan lain apa yang cocok? Karena Tuan Roswaal telah memberikan persetujuannya, aku tak akan protes soal si pedagang yang bertindak seenaknya di dalam Sanctuary, tapi…]

“Pedagang” yang dibicarakan Ram mungkin adalah Otto.

Meskipun mereka berdua tinggal di dalam Sanctuary, Ram, yang menghabiskan sebagian besar waktunya merawat Roswaal, jarang berinteraksi dengan Otto. Satu-satunya waktu di mana mereka dapat berinteraksi pastilah saat Ram menunggu Emilia keluar dari ujiannya.

Sedangkan Otto, ia benar-benar hanya di sini karena Subaru membawanya. Jadi, tanpa memiliki cukup informasi terkait kepribadian Otto, Ram sama sekali tidak memiliki keyakinan pada pemuda itu.

Dan bahkan … kalaupun mengesampingkan kepribadiannya, Subaru masih sempat mempertanyakan kompetensi Otto sebagai pedagang keliling. Melihat hanya dari pertemuannya dengan Roswaal, jelas sekali bahwa Otto lebih cocok menjadi straight man (asisten komedian/ menyeimbangi lelucon komedian dengan sifat tenang dan stabil).

Meskipun demikian, memang benar bahwa Roswaal telah memberikan izin kepada Otto untuk tinggal di Sanctuary, dan karena tidak dapat mengusirnya secara terang-terangan, Ram menjadi agak sedikit jahat kepadanya.

[Subaru: Yah, itu sesuatu yang harus ia usahakan sendiri sepenuh hatinya. Aku tak akan mencoba untuk mengubah pendapatmu soal itu]

[Ram: Barusu? Kata-katamu barusan tidak mencerminkan pertemanan sama sekali. Saat ia begitu ingin membantumu, bukankah setidaknya kau harus membalasnya]

[Subaru: Teman… huh. Maksudku, aku tak akan membantahnya, tapi, apakah kami terlihat seperti “sepasang teman” di matamu?]

[Ram: Ketika kau tak menahan diri di sekitarnya dan berbicara seakrab itu… apakah kau berniat menyangkalnya? Kalau itu adalah cara berinteraksimu dengan semua orang, tidak peduli teman atau bukan, pemikiran itu cukup mengerikan]

Ram memeluk bahunya dan bergidik. Mendengar reaksinya, pipi Subaru sedikit mengendur ketika ia tertawa dari dalam tenggorokannya. Seolah tersentak oleh tawa Subaru yang tertahan, Ram mundur selangkah sambil masih memegang pundaknya, membuat jarak di antara mereka,

[Ram: Sekarang, Barusu, kuulangi pertanyaanku—ada kemajuan dengan rencana jahatmu?]

[Subaru: Yah… bisa dibilang kalau rencanaku menunjukkan perkembangannya, tetapi masih banyak masalah yang perlu diselesaikan]

Terlepas dari detailnya, niatnya yang sejati sanggatlah jelas.

Ini adalah Ram, tangan kanan lawan taruhan Subaru, Roswaal. Meskipun Subaru tidak yakin sampai sejauh mana ia bisa memercayai si pelayan, kemungkinan besar, ia sedang bertugas sebagai mata dan telinga Roswaal yang sedang terbaring di tempat tidur.

Jadi, jika itu adalah Ram, tentu saja ia akan menaruh minat pada pergerakan mereka. Sedangkan pertanyaan langsung dan menuntut seperti ini sudah menjadi ciri khas si pelayan.

[Subaru: Dan bagaimana denganmu? Kau datang ke sini untuk Emilia, kan? Kau seharusnya tidak berbicara denganku dan membuang-buang waktumu di sini]

[Ram: Karena Barusu sudah keluar, pasti sudah memastikan bahwa Nona Emilia tertidur, bukan? Tertidur setelah begitu banyak menangis, Nona Emilia tidak akan bangun dalam waktu dekat]

[Subaru: …. Itu pendapat yang cukup jahat!]

[Ram: Itu pendapat jujur dan objektif. Barusu harus mengingatnya untuk referensi di masa depan]

Melontarkan pernyataan tumpul itu, Ram menatap sisi wajah Subaru yang lebih rendah.

Merasakan tekanan tatapannya, Subaru menahan desahan yang barusan hendak dikeluarkannya.

―Pembatalan perjanjian Emilia dan Puck telah terjadi sekitar dua setengah jam yang lalu.

Meskipun telah membahas masalah ini dengan Puck sebelumnya dan telah mempersiapkan diri untuk kebingungan, kesedihan, dan keterkejutan yang akan menimpa Emilia setelah kejadian itu, ketika Subaru benar-benar melihatnya secara langsung dengan mata kepalanya sendiri, penyesalan yang Subaru rasakan tidak terlukiskan.

Seolah-olah kehilangan satu-satunya kunci yang menahannya, Emilia meratap hampir seperti orang gila.

Rambut peraknya yang indah berantakan, kuku jarinya telah mencakar kulit indahnya, dan ia membanting semua benda di sekitarnya tanpa pandang bulu, melepaskan emosinya seperti anak kecil yang mengamuk.

Untungnya, di dalam kemalangan itu, Emilia tidak dapat menggunakan sihir saat ia mengamuk, hal ini merupakan kabar baik untuk dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

Bagaimanapun, setelah mengetahui apa yang akan terjadi, Subaru telah bersiap menunggu di luar, dan ketika Subaru mendengar jeritan Emilia, ia akan melesat masuk dan memeluk gadis itu erat-erat.

Lalu, untuk dua setengah jam setelahnya, Subaru sendirilah yang menemani Emilia dalam tangisan, ratapan, dan kemarahannya yang lemah, sampai akhirnya Subaru membaringkan gadis itu di tempat tidurnya, dan pergi keluar.

Tepat ketika Subaru ingin meminta Ram untuk membantu mengganti pakaian Emilia dan membersihkan tubuhnya, ia menabrak pelayan itu tepat di luar pintu. Mungkin Ram memikirkan hal yang sama dan telah menunggunya keluar. Ketika ia melihatnya di sana dengan ember air dan handuk, kelegaan serta merta membanjiri Subaru.

Sementara Subaru sibuk dengan pikirannya sendiri, Ram berbisik,

[Ram: Barusu.—Apakah kau sungguh menaruh harapan padanya?]

[Subaru: … … …]

[Ram: Dengan hanya melihat kondisi Nona Emilia hingga semalam, sangat jelas bahwa Nona Emilia tidak memiliki apa yang diperlukan untuk menyelesaikan ujian. Dan ketika keadaan sepertinya tak dapat menjadi lebih buruk lagi, terjadilah ini. Jadi sang “Roh Agung” telah meninggalkan Nona Emilia?]

[Subaru: ….Jadi kau juga tahu soal itu, huh]

[Ram: Ketika berita itu diteriakkan, berulang-ulang kali, sangat keras sampai kau bisa mendengarnya dari luar bangunan, bahkan orang bodoh pun akan tahu. Dan kalau Barusu saja tahu, maka Ram sudah pasti tahu. Bukankah itu jelas?]

[Subaru: Aku merasa bahwa aku disamakan dengan orang bodoh di sini, tapi aku tak bisa membantah apa yang kau katakan. Situasi Emilia baru saja memburuk, tidak ada penyangkalan untuk itu….]

Sejujurnya, kekhawatiran yang disuarakan Ram persis mencerminkan kecemasan Subaru sendiri.

Meskipun ia tidak menelan seluruh kata-kata Puck, Subaru menyetujui usulannya. Itu adalah kebenarannya.

Klaim Puck bahwa keberadaannyalah yang menghentikan Emilia menghadapi masa lalu sejatinya, perubahan kecil pada perulangan kehidupan, kekhawatiran Subaru tentang kitab Roswaal, jeritan Beatrice, dan kesaksian Emilia, semua hal itu menjadi alasan Subaru menerima tawaran Puck, ketidakmampuan Subaru–lah yang sebenarnya menuntun Emilia ke dalam penjara kesendiriannya. Hasilnya adalah untuk pertama kalinya dalam hidupnya, gadis itu benar-benar sendirian.

Untuk menghindarinya, yang butuhkah Subaru hanyalah waktu dan kesempatan.

Namun Emilia tidak memiliki kedua hal itu sekarang. Keadaan tidak akan memberinya keringanan hukuman untuk memilah perasaannya, dan kekuatan untuk memulai proses itu hanya ada dalam dirinya sendiri.

Jalan keluarnya benar-benar ada di tangan Emilia sendiri. Ram memahami hal ini, tapi ia tidak percaya Emilia dapat menyelesaikan ujian itu.

Selain bagian terakhir itu, Subaru setuju dengan Ram sepenuhnya.

[Subaru: Meski begitu, aku masih menaruh harapanku padanya, dan aku selalu percaya padanya]

[Ram: …. Barusu, ekspresimu optimis sekali. Dan apa yang mendasari harapan tinggimu, tepatnya?]

[Subaru: Aku sudah memutuskan untuk percaya pada apa yang ingin kupercaya, itu saja. Dan terima kasih kepada “teman” yang sudah berusaha sangat keras untuk membantuku dan naga tanah yang selalu menyelamatkanku…, aku menjadi sedikit lebih percaya diri]

[Ram: Dan apa hubungannya dengan percaya pada Nona Emilia…?]

[Subaru: Karena aku sudah mulai percaya pada diriku sendiri, apa salahnya percaya pada orang yang kusukai? Aku “mencintai Emilia”, dan aku ingin menjadi kekuatannya. Aku menyukainya, sebagian karena ia sangat cantik dan lain-lain…. tapi alasan sebenarnya … adalah sesuatu yang lain]

Membalas tatapan curiga Ram, Subaru mengangkat bahunya.

Pertama kali Subaru mulai memiliki perasaan cinta terhadap Emilia adalah ketika ia pertama kali dipanggil ke dunia paralel ini, tidak punya harapan dan tidak punya siapa pun untuk bergantung, Emilia adalah orang pertama yang berbaik hati kepadanya.

Ia telah menyelamatkan hidupnya, dan seiring waktu yang dihabiskan bersama, Subaru mulai mengenal gadis bernama Emilia, dan mulai ingin menolongnya. Sebagian karena hutang budi, tetapi, pada saat itu, bahkan Subaru tidak sepenuhnya sadar akan kebenaran di baliknya.

Dan kemudian Subaru kehilangan gadis itu, dan ketika ia melewati Return by Death dan memutar ulang dunia, kenangan bersama tentang pertemuan mereka hilang. Tapi tetap saja subaru mengingat kenangan itu, Subaru mengubah masa depan dan menyelamatkannya dari kematian.

Segala sesuatu yang terjadi di mansion, di Ibu kota, dan dalam pertempuran melawan para Pemuja Penyihir, semua dimulai dari hasrat melalui perasaan pertama yang membakar setiap langkahnya itu.

Emilia menyelamatkannya di Ibu kota.

Emilia menyelamatkannya di mansion ketika ia akan hancur.

Dan untuk menyelamatkan nyawanya dan hatinya, Subaru ingin membalasnya, tetapi, dalam kesombongannya, ia hanya melukai Emilia.

Dalam waktu yang mereka habiskan sendiri, kesenjangan timbal balik tumbuh di antara mereka. Namun, diberi kesempatan untuk merenungkan kembali tindakannya, Subaru berdiri sekali lagi.

Mengalahkan Paus Putih, mengalahkan Betelgeuse, dan bertarung sampai sekarang, untuk apa semua itu?

Setelah menyadari hubungannya yang mendalam dengan sang penyihir, setelah melepaskan masa lalunya dan mengucapkan selamat tinggal kepada orangtuanya, mengapa dia masih berjuang, didorong oleh kekuatan yang tidak dapat ia paham sampai sekarang?

[Subaru: Karena aku mencintainya]

[Ram: —-]

[Subaru: Gadis yang kucintai… adalah seseorang yang gigih, keras kepala, sama sekali tidak jujur dengan perasaannya, dan tidak akan mengakui bahwa ia ingin menangis bahkan ketika ia sudah berada di ambang batas …, seseorang yang tidak akan ragu mempertaruhkan nyawanya untuk orang lain]

[Ram: Kau yang meyakinkan dirimu tentang itu, Barusu. Ya, Nona Emilia memiliki kecenderungan untuk menempatkan orang lain di atas dirinya sendiri … tapi itu hanya caranya menjaga hatinya sendiri, bukan? Itu adalah mekanisme untuk melindungi dirinya dari penghinaan orang-orang di sekitarnya, bukan? Kau jatuh cinta padanya terus menerus, jadi apakah Barusu tidak masalah “dimanfaatkan” terus menerus?]

[Subaru: Tidak!]

Mendengar pertanyaan panjang yang dijawab dengan satu suku kata, Ram terdiam.

Merasa puas dengan reaksi langka ini, Subaru melihat kembali ke gedung di belakangnya.

Pikirannya beralih ke Emilia, yang saat ini tertidur di ranjangnya.

[Subaru: Aku tak keberatan ia memanfaatkanku sesuka hatinya! Dan bahkan jika, jauh di lubuk hatinya, ia menganggapku sebagai alat yang tidak akan pernah meninggalkannya tidak peduli sebanyak apa pun aku digunakan, aku tidak apa-apa dengan hal itu!]

[Ram: Kau tidak keberatan diperlakukan sebagai alat?]

[Subaru: Bukan itu. Itu karena selama ia menggunakanku, itu berarti Emilia masih memiliki keinginan untuk tetap berdiri dan bergerak maju…, dan itu membuatku senang. Selama Emilia masih memiliki kekuatan untuk mengangkat kepalanya…. Aku akan melakukan apa pun untuk membantunya. Jadi ia bisa menggunakanku bagaimanapun juga]

[Ram: —–]

Ram menyipitkan matanya dengan tidak senang pada pernyataan Subaru.

Itu adalah pengalaman yang agak berbeda bagi Subaru untuk melihat ini dari seorang gadis yang jarang menunjukkan emosi. Untuk tanpa ragu menerima digunakan sebagai alat, itu hampir seperti ia sendiri―

[Subaru: Dan aku pikir kau yang paling mengerti soal ini]

[Ram: —Kenapa kau berpikir seperti itu?]

[Subaru: Aku baru saja membayangkan, dari apa yang kulihat tentang sikap dan perilakumu sampai sekarang …. Kau sendiri tidak jauh berbeda. Kupikir kau akan mengerti ketika orang lain merasakan hal yang sama]

[Ram: –Ketika kau menghubungkan masalahmu sendiri yang belum terselesaikan ke orang lain, kau akan berpikir semua orang merasakan hal yang sama denganmu. Terutama ketika kau menyadari bahwa orang lain telah menyelesaikan masalah yang tidak dapat kau selesaikan]

Setelah menjawab pendapat Subaru dengan kecekatan yang mengerikan, Ram memalingkan wajahnya, seakan-akan malu pada apa yang barusan dikatakannya. Kemudian, ia menghela nafas kecil dan melambai agar Subaru menjauh dari pintu,

[Ram: Baiklah, cukup. Kalau Barusu ingin menjadi alat, maka jadilah alat dan lakukan yang terbaik untuk tuanmu. Sementara itu, Ram akan berperilaku sesuai keinginan Ram. Itu adalah kebebasan Ram, bukan?]

[Subaru: Ya. Lakukan apa yang kau inginkan. —Hanya saja…]

Ketika Ram lewat di sampingnya dan meletakkan tangannya ke pintu, Subaru memanggilnya. Ram berhenti dan memandangnya sekilas, mengangguk seolah mendorongnya untuk melanjutkan,

[Subaru: …Aku tak mengabdikan diriku pada Emilia tanpa mengharapkan imbalan apa pun, kau tahu?]

[Ram: ….]

[Subaru: Ada beberapa hal yang kucoba dapatkan dari Emilia. Hal-hal yang kuinginkan, hal-hal yang tidak akan diperoleh tanpa bantuan Emilia. Sebelumnya, aku bilang bahwa aku rela-rela saja menjadi alatnya, tapi … aku pasti berencana menggunakannya juga]

Ini cara yang buruk untuk mengatakannya, tetapi berinteraksi dengan orang-orang dengan rencana dalam pikiran tidak bisa dihindari.

Pada akhirnya, masa depan yang diinginkan Subaru adalah yang akan dijangkau semua orang di sini. Dengan kata lain, pada saat Subaru mencapai masa depan itu, ia harus menggunakan semuanya secara maksimal.

Subaru ingin digunakan oleh Emilia. Sama seperti bagaimana … untuk mencapai masa depannya yang sempurna–ia akan menggunakan Emilia, memeluknya erat, dan tidak pernah melepaskannya.

[Ram: —–]

Tanpa sepatah kata pun, Ram berbalik dan berjalan ke dalam rumah.

Tapi tepat sebelum pintu penutup benar-benar menyembunyikan sosok kecilnya dari belakang—

[Subaru: Banyak hal sudah menyimpang dari kitab yang ditulis. ―Di dunia ini, Roswaal sudah bebas]

Tidak ada jawaban yang menandakan apakah Ram mendengar kata-kata itu atau tidak.

Dengan suara pintu tertutup, Subaru sekarang terputus dari semua yang terjadi di dalam.

Karena itu, sangat tidak mungkin Emilia akan bangun dan tiba-tiba berteriak pada Ram. Hal ini sebagian karena ia menilai bahwa, setelah menangis sampai tertidur, Emilia seharusnya tidak memiliki energi untuk melakukan hal semacam itu. Tetapi yang lebih penting, itu karena akan butuh jauh lebih lama sebelum tubuh gadis itu siap untuk bangun.

[Subaru: Besok adalah hari besarku. Sehari setelah istirahat…  bagaimanapun juga, kejadian ini mempercepatnya]

Pada akhir batas waktunya, Roswaal akan membawa salju, dan Kelinci Besar akan datang. Akhir dari Sanctuary akan ditetapkan. Kehidupan ini akan berakhir dengan kegagalan, dan, yang paling penting, Subaru akan terikat oleh sumpahnya.

Sesuai dengan perjanjiannya dengan Roswaal L Mathers, Natsuki Subaru akan dipaksa untuk mengorbankan segalanya untuk menyelamatkan satu hal yang paling penting baginya.

―Dan, pada pemikiran itu, Subaru bertanya-tanya mengapa ia sangat terlambat menyadarinya.

[Subaru: Berjuang untuk satu masa depan yang tidak bisa kulepaskan … itulah yang sudah aku lakukan, bukan]

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded