Re:Zero Arc 4 Chapter 95.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Sukseskanlah “Ridho Ilahi.” Amin

Korektor: Anisha Dayu

Sigma, bagian 2

—Pertarungan Subaru di Sanctuary memasuki hari ketiga.

Batas akhir perjanjiannya dengan Roswaal adalah enam hari. Tetapi karena pada hari keenam malapetaka akan mengancam mansion dan Sanctuary tanpa ampun, batas akhir sebenarnya adalah di malam pada hari kelima.

Yang artinya, termasuk malam ini, Emilia hanya memiliki tiga kali kesempatan lagi untuk menantang ujian makam.

Bagaimanapun, kemungkinan pertama dari peluang kecil ini—

[Subaru: Malam ini sepertinya Emilia akan gagal lagi]

Setelah kehilangan Puck dan menangis sepanjang hari, hari sudah hampir siang saat Emilia pingsan kelelahan. Tidurnya begitu dalam sehingga ia tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.

Bahkan jika ia terbangun sebelum malam, berapa banyak lagi waktu yang ia butuhkah sebelum ia bisa menghadapi kenyataan bahwa Puck sudah pergi? —Ikatannya dengan Puck bukanlah komitmen dangkal yang dapat dilupakan bagitu saja.

Ketika mereka benar-benar tidak punya waktu untuk dibuang, masalah seperti ini malah muncul, masalah yang mau tidak mau harus diselesaikan oleh waktu. Subaru mengutuk siapa pun Dewa yang dikenalnya, walaupun tahu bahwa hal itu sama sekali tidak ada gunanya.

[Subaru: Melihatnya menangis seperti itu saat kehilanganmu…. Sejujurnya aku sedikit cemburu, tapi aku tetap membencimu seratus kali lebih banyak, Puck]

Subaru menggeleng kuat-kuat dan melihat ke depan sekali lagi ketika bayangan seekor kucing abu-abu muncul di benaknya.

Untuk saat ini, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk Emilia yang sedang terlelap dalam mimpi buruknya. Yang terbaik yang bisa ia coba lakukan adalah menggenggam tangan gadis itu. Jika tindakan ini dapat melindungi Emilia dari mimpi buruknya, maka Subaru akan dengan senang hati melakukannya selama yang diperlukan.

Tapi, sama seperti bagaimana Emilia tidak punya banyak waktu, begitu pula Subaru.

Ia belum mendapatkan semua yang ia butuhkah untuk memenangkan taruhan ini.

Dari awal, rencananya memang melibatkan beberapa faktor yang tidak pasti, bahkan setelah mengumpulkan semua sumber daya potensial dan mengusahakan segalanya sampai pada batas absolutnya, peluangnya masih terjebak pada perbandingan setengah-setengah. Sebenarnya, bahkan perbandingan itu bisa dibilang cukup percaya diri.

[Subaru: Jadi, aku berharap banyak dari percakapan ini, Lewes]

[???: Dan aku juga menaruh harapan tinggi padamu, Su-bo…. Bagaimanapun dua orang tiruan sebelumku telah memberitahuku banyak hal tentang dirimu]

Dengan suara kerikil yang berderak-derak di bawah kakinya, sesosok kecil–Lewes, muncul di pintu tempat pertemuan mereka.

Ekspresi masamnya tidak cocok dengan penampilan kekanak-kanakannya, ia melihat-lihat daerah yang dipilih Subaru, dan kemudian, dengan [Meskipun….]

[Lewes: …Memilih tempat ini untuk pertemuan kita …. Kau bisa juga menjadi agak jahat, Su-bo]

[Subaru: Ku pikir ini adalah tempat terbaik untuk menghindari gangguan. Kalau kita bertemu di depan kristal, perhatianku akan terlalu teralihkan untuk bicara. Dan tidak peduli berapa kali pun aku pergi ke sana, bau menyengat tempat itu benar-benar membuatku muak]

Subaru memencet hidungnya, mengekspresikan rasa jijiknya terhadap bau yang menyengat dari tanah eksperimental. Lewes memang menyebutkan bahwa itu adalah rumahnya, tetapi, sepertinya ia setuju pada pendapat Subaru. Lewes tertawa kecil, mengangguk mengakui.

[Lewes: Kau benar Su-bo, tapi aku agak tidak senang kau memilih tempat rahasia Gar-bo sebagai gantinya. Kalau kau ingin tempat rahasia … harusnya ada banyak pilihan lainnya]

[Subaru: Tapi kalau kita ke desa, kita tak akan tahu siapa yang mungkin mencuri dengar. Rumah masa kecil Garfiel dan Fredericha, bagaimanapun … itu agak jahat, mungkin, tapi aku yakin kau juga tidak ingin seseorang mencuri informasi rahasia?]

[Lewes: Tentu saja]

Subaru mengangkat bahu, mencari persetujuannya, sementara Lewes mengangguk dengan sedikit senyum di wajahnya. Dengan ini, Lewes melangkah ke kabin kecil dan jelek yang dibangun dari reruntuhan dan kayu-kayu bobrok.

[Subaru: Maaf aku tak sempat menyiapkan sofa yang nyaman sebelumnya. Terlepas dari pertimbangan mendalamku untuk orang tua, aku merasa sedih karena aku tidak punya kursi untuk ditawarkan]

[Lewes: Ya ampun, jadi kau akan membuatku berdiri di sini dan berbicara? Menyiksa orang tua seperti ku, anak-anak zaman sekarang benar-benar tidak tahu sopan-santun tidak seperti zaman dahulu]

[Subaru: Oh, kata-katamu barusan benar-benar seperti orang tua. Kau tidak membiarkan daya tarik tuamu itu luput, ya]

Subaru tersenyum masam ketika Lewes menepuk-nepuk punggungnya yang sangat baik-baik saja seolah-olah dia punya penyakit encok. Kemudian, Subaru mengundangnya ke tengah pondok kecil itu sementara ia bersedekap dan bersandar ke dinding.

[Subaru: Sebenarnya, sejauh pengalamanku, bergosip dengan gadis cantik tidak terdengar terlalu buruk]

[Lewes: Hm. Penampilanku masih terlalu muda untuk dipanggil seorang gadis, bukan?]

[Subaru: Kalau kita membicarakan usia, heroine utamaku cukup tua juga. Penampilannya dan usia mentalnya tidak cocok dengan usia aslinya sama sekali, itu pun aku baru tahu sekarang]

Usia sebenarnya lebih kira-kira: ~ 100 tahun. Usia berdasarkan penampilan: 18. Usia mental: 14.

Genre Emilia sangat rumit, sehingga Subaru tidak pernah bosan memamerkan fakta itu. Awalnya ia mengira Emilia itu nenek-nenek loli, tetapi ternyata ia seorang loli nenek-nenek.

Sekarang Subaru akhirnya bisa mengerti mengapa Emilia tampak begitu tidak dewasa, pemalu, dan idealis untuk penampilannya, tetapi cenderung mengatakan hal-hal seperti nenek-nenek.

[Subaru: Dan demi Emilia juga, aku ingin melakukan semua yang kubisa. —Jadi, aku akan bertanya padamu tentang banyak hal, Lewes Sigma]

[Lewes: Sig… apa?!]

[Subaru: Maaf, hanya sesuatu yang kubuat sendiri. Agak bingung ketika aku memanggil kalian berempat, Lewes, jadi aku asal saja melabelmu Alpha, Beta, Sigma dan Theta, untuk mempermudah]

[Lewes: … ….]

Mendengar penjelasan Subaru, Lewes meletakkan tangannya ke bibirnya dan berpikir.

Subaru mengerutkan alisnya pada reaksi yang tidak bisa disebut tidak senang, dan, melihat bahwa Lewes tidak mengajukan keberatan, Subaru mengangkat satu jari,

[Subaru: Ngomong-ngomong, aku senang kita akhirnya mendapat kesempatan untuk berbicara. Lagipula, mempertimbangkan posisimu, Sig …. Lewes hari ini, kupikir kau mungkin tidak ingin bicara]

[Lewes: Panggil saja Sigma kalau Su-bo bingung. Melihat bagaimana kau ingin menganggap kami sebagai individu yang berbeda satu dengan lainnya, wajar saja kalau kau memanggil kami berbeda-beda.… Walaupun sebenarnya kami tak pernah benar-benar membutuhkannya sampai hari ini]

[Subaru: Sungguh? Baiklah, aku akan menurutimu. Kalau kau ingin nama yang lebih imut, aku juga bisa mengganti tiga yang lainnya]

[Lewes: —Tidak usah, Sigma saja. Sebenarnya, kumohon gunakan “Sigma” saja]

Lewes merevisi jawabannya dengan sedikit perubahan nada.

Mendengar jawaban itu, Subaru berkedip. Lewes tidak tertarik untuk melanjutkan topik itu. [Sekarang] lanjut sosok kecil itu, mengganti topik pembicaraan,

[Sigma: Aku cukup yakin aku sudah tahu, tapi …, apa yang ingin kau bicarakan, Su-bo? Berapa banyak yang kau ketahui tentang keadaan yang mengikat Sanctuary?]

[Subaru: Yah, kurasa aku ingin tahu banyak hal yang belum kuketahui… tapi, untuk sekarang, aku ingin tahu tentang apa yang kau lihat di dalam makam, Sigma. Aku dengar dari Alpha kemarin bahwa ada dua Lewes yang menantang ujian itu. Sigma, kau adalah salah satunya, kan?]

[Sigma: Benar, aku salah satu Lewes yang pernah memasuki makam. Tapi meski begitu, aku hanya pergi ke sana satu kali, dan sebentar…. Aku hanya melangkah masuk ke sana untuk mengeluarkan Gar-bo setelah ia melanggar perjanjian dan pergi ke dalam makam]

Apa yang Lewes Sigma sampaikan hanyalah apa yang Subaru dengar dari Frederica sebelumnya.

Berharap untuk membebaskan Sanctuary, Garfiel memasuki makam, tetapi ketika ia tidak kembali, saudara perempuannya pergi untuk meminta bantuan Lewes. Lewes yang dimintai tolong Frederica pastilah Sigma, yang berdiri di depan Subaru sekarang.

[Subaru: Hanya melangkah masuk… tapi, kau pasti melihat sesuatu setelah kau berada di dalam, kan? Seperti… seperti masa lalumu, mungkin?]

[Sigma: —-]

[Subaru: Jika makam itu benar-benar membencimu seperti saat ia membenci Roswaal, tubuhmu akan langsung tersiksa begitu kau melangkah masuk. Roswaal hampir meledak, dan Patrasche penuh luka ketika ia masuk untuk menyeretku keluar. Jadi pergi ke dalam makam tanpa kualifikasi membutuhkan resolusi yang sama berbahayanya seperti menantang ujian itu sendiri]

[Sigma: Akan sangat mungkin kalau aku telah mempersiapkan tubuhku untuk terluka, bukan?]

[Subaru: Itu akan menjadi cerita yang indah… tapi bagaimana kau menjelaskan fakta bahwa Sigma menentang pembebasan Sanctuary? Itu tidak masuk akal]

[Sigma: —-]

Itu adalah informasi yang tidak pernah diakui olehnya, baik Lewes Sigma maupun Theta tidak pernah secara terbuka menyatakan ketidaksetujuan mereka pada pembebasan Sanctuary. Tetapi, Sigma memilih untuk tetap diam, tanpa penyangkalan.

Dan, dalam praktiknya, kebisuannya menandakan persetujuan.

[Subaru: Kau melihat masa lalumu di dalam makam. Dan karena itu, kau membenci kemungkinan membebaskan Sanctuary. Jadi, apa yang sebenarnya kau lihat?]

[Sigma: .…]

[Subaru: Kemungkinan… kau melihat bagaimana kau terlahir, mungkin? Hal itu bisa berupa kejadian ketika kau terlahir dari kristal, atau bahkan sesuatu yang lain….]

[Sigma: Masa lalu Lewes Meyer, maksudmu?]

Sebelum Subaru bisa selesai, Sigma langsung menghantam inti pembicaraan mereka.

Tanpa kata-kata, Subaru merapatkan bibirnya, diam-diam mengakui hal itu.

Dengan nama Lewes Meyer sejak mereka lahir, keempat replika Lewes ini telah mengambil peran sebagai perwakilan dari Sanctuary. Jika ada sesuatu di masa lalu mereka yang patut disesali, Subaru membayangkan itu pasti terjadi sebelum kehidupan ini, sebelum mereka menjadi tiruan Lewes seperti sekarang.

Dan sekarang ini, ekspresi Sigma menunjukkan bahwa pemikiran Subaru tidaklah salah.

[Subaru: Jika masa lalu yang kau lihat adalah masa lalu Lewes asli di dalam kristal…, … aku bisa membayangkan alasan ketakutanmu, Sigma. Alasan ia disegel di dalam kristal juga pasti menjadi alasan di balik ini, kan?]

[Sigma: … … … …]

Orang yang menyegel Lewes Meyer di dalam kristal adalah Penyihir Keserakahan–Echidona.

Mengingat peristiwa bagaimana ia disegel oleh si penyihir seharusnya lebih dari cukup untuk membuat Sigma menyerah pada ujian. Tapi,

[Sigma: Oh, Su-bo, berapa banyak yang sudah kau ketahui?]

[Subaru: … …]

[Sigma: Apa yang terjadi pada Lewes Meyer di dalam kristal hanya diketahui oleh beberapa orang terpilih di Sanctuary. Dan aku sangat meragukan bahwa siapa pun yang tahu akan mengungkapkannya kepadamu, Su-bo]

Ada keraguan tertentu yang membayangi ekspresi Sigma. Tanpa mengalihkan perhatiannya dari Subaru yang terdiam, Sigma melihat ke langit-langit.

[Sigma: Aku tak berpikir bahkan Ros-bo, atau Lewes lain yang tahu tentang makam … …, akan memberitahumu. Jadi dari mana kau mendengar hal itu, Su-bo?]

[Subaru: —-]

Subaru tidak yakin bagaimana ia harus merespons.

Pertanyaan ini sangat sederhana, tapi juga rumit.

Rasa gatal menjalari belakang leher Subaru saat ia merasakan perubahan suasana. Itu adalah atmosfer berbahaya yang Subaru alami beberapa kali sebelumnya, dan meskipun masalahnya bukan hidup dan mati, itu adalah “momen” yang akan menentukan hasil dari perhitungan fatal setelahnya.

Sensasi ini mengingatkannya pada pemandangan di mansion Nona Crusch ketika ia meminta bantuannya dalam pertempuran melawan Paus Putih.

Dengan kata lain, hasil percakapan instan ini akan mengguncangkan seluruh masa depan Sanctuary.

[Subaru: —-]

Jatuh diam sekali lagi, Subaru dengan susah payah merenungkan jawabannya.

Jawaban Sigma yang diminta darinya akan menentukan segala yang muncul sesudahnya.

Subaru tidak pernah pandai membaca karakteristik emosional orang lain. Faktanya, ia sangat tidak tahu tentang seluk beluknya. Jadi, tugas ini bukan hanya sekedar memutar otak, tapi tugas ini membuat setiap sel otak Subaru kebakaran hanya untuk membaca emosi orang lain seperti orang normal pada umumnya.

Dalam hal ini, jawaban yang dipilih Subaru adalah—

[Subaru: Aku mendengarnya dari Echidona. Di makam]

[Sigma: —Dari sang Penyihir?!]

Mendengar nama sang penyihir, ekspresi Sigma sedikit menegang.

Seiring waktu yang dihabiskannya di Sanctuary, Subaru menjadi sangat mengerti makna penting nama Echidona. Roswaal benci mendengar sebutan “Penyihir Keserakahan,” sementara Garfiel dan Lewes sama-sama menghindari memanggilnya “Echidona”.

Nama “Echidna” kemungkinan besar tabu bagi mereka. Dan apakah itu dalam arti baik atau buruk, itu pasti akan tergantung pada jenis trauma apa yang mereka alami di masa lalu mereka.

Subaru mengambil kesempatan untuk melihat bagaimana Lewes akan bereaksi ketika ia mendengar tabu dilanggar, namun, Subaru telah membuat pilihannya.

[Subaru: Ya, kualifikasiku dicabut sekarang, tetapi aku pernah memiliki kualifikasi itu. Jadi aku tahu satu atau dua hal tentang bagaimana rasanya mengikuti ujian. Sama halnya dengan apa yang direncanakan Echidona, mengapa ia menciptakan Sanctuary, dan mengapa ia membuat replika sepertimu Sigma]

[Sigma: …. Aku punya firasat kau tahu terlalu banyak untuk mendengarnya daripada Ros-bo]

[Subaru: Dan itulah sebabnya aku tahu sedikit lebih banyak daripada yang kau perkirakan, Sigma. Sekarang setelah aku mengatakan padamu semua hal yang kutahu, aku berharap itu akan membantumu memutuskan apa yang ingin kau katakan dan sembunyikan dariku]

[Sigma: Selalu memuji-muji]

Sigma dengan masam tersenyum pada keluhan Subaru. Kemudian, ia meletakkan telapak tangannya yang kecil ke dahinya dan menghela nafas panjang.

Itu adalah ritual yang diperlukan baginya untuk mengambil keputusan.

[Sigma: Karena kau sudah tahu hubungan sang Penyihir dengan Sanctuary dan tentangku dan Lewes Meyer, mungkin akan aneh jika aku terus menyembunyikannya darimu…]

[Subaru: …Jadi…]

[Sigma: …Jangan terburu-buru. Aku mengerti perasaanmu, Su-bo … …, tapi ini bukan hal sederhana. ―Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku adalah “apa yang Lewes lihat di dalam ujian,” benar?]

Subaru hendak mengkonfirmasi dengan “Ya” ketika kesadaran yang tajam menahan kata-katanya.

Sigma mengatakan “Lewes” bukan “aku” barusan. Tapi ketika Subaru mengerutkan alisnya, merenungkan niat sejatinya, Sigma secara bersamaan bergumam [Cermat juga],

[Sigma: Jika pertanyaannya adalah tentang “masa lalu yang kulihat di dalam makam,” jawabanku adalah “aku tidak tahu,” lagi pula aku tidak mengambil ujian di dalam makam. Meskipun jelas dirikulah yang kembali dari dalam makam]

[Subaru: …dan apa… maksudnya itu?]

[Sigma: Sederhana saja. Tidakkah kau menganggapnya aneh, Su-bo? Seharusnya hanya ada satu kesempatan bagi Lewes untuk memasuki makam untuk membawa Gar-bo keluar. Namun, ada dua replika Lewes Meyer yang telah memasuki makam. Jumlah peluang dan jumlah orang tidak cocok sama sekali]

[Subaru: a….]

Ketika hal itu ditunjukkan kepadanya, barulah Subaru menyadari kebodohannya. Memang, Sigma benar sekali. Ada dua Lewes yang memasuki makam, namun hanya satu kesempatan untuk masuk, hanya ada satu penjelasan untuk menghilangkan kontradiksi ini.

[Subaru: Lewes yang masuk… bukanlah Lewes yang keluar….]

[Sigma: Tepat. Berdasarkan pengaturanmu… Lewes yang keluar adalah Lewes Sigma, diriku sendiri. Dan Lewes yang masuk, itu adalah Lewes Theta. Orang yang melihat masa lalunya adalah Lewes Theta, sementara aku hanya membawa Gar-bo ke luar. Adapun sikapku, bukannya menentang pembebasan Sanctuary, proses eliminasi harus membuatku netral…]

Maka begitulah, ia melihat ke arah Subaru yang murung dan melanjutkan.

[Sigma: ―Jika ada yang bisa kukatakan, maka itu adalah apa yang Gar-bo sembunyikan dengan susah payah. Masa lalu yang dilihat anak itu… atau serpihan-serpihannya]

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded