Re:Zero Arc 4 Chapter 96 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Sukseskanlah “Ridho Ilahi.” Amin

Korektor: Anisha Dayu

Bibir Merah

[Subaru: Serpihan … masa lalu yang dilihat Garfiel … .…]

[Sigma: Begitulah, mereka hanya bagian dari kepingan-kepingan yang menjadi serpihan-serpihan kecil. Akulah yang membawanya keluar dari makam sementara ia menggerutu, mengigau dan menangis. Dan aku tahu garis besarnya]

Subaru menghadap menoleh ke Sigma, kemudian menelan ludahnya.

Masa lalu Garfiel… bukan. Tapi apa yang ingin ia bicarakan dengan Sigma, meskipun demikian, tetap merupakan salah satu masalah yang perlu Subaru selesaikan.

Yang pada kenyataannya, seharusnya Subaru sangat tidak harus keberatan mendapatkan informasi ini lebih awal sekarang.

[Subaru: Bisakah kau mengatakannya padaku? Apa yang ora… apa yang Garfiel lihat pada masa lalunya yang membuatnya ingin menyerah membebaskan Sanctuary? Apa yang dilihatnya sehingga ia sangat menentang para penduduk yang ingin pergi keluar?]

[Sigma: ―Apa yang dilihat bocah itu … adalah perpisahannya dengan ibunya]

[Subaru: Perpisahan…, dengan ibunya?!]

Subaru merasakan sesuatu mengorek-ngorek dadanya.

Perpisahan Garfiel dengan ibunya–terdengar mirip … ,dan berhubungan dengan ujian Subaru sendiri.

Tapi tidak seperti Subaru, yang bisa melihat kembali perpisahannya dengan lapang dada, Garfiel mungkin tidak begitu merasa senang. Dan itu sebabnya ia sangat terikat pada Sanctuary.

[Sigma: Su-bo, kau tahu tentang ibu bocah itu?]

[Subaru: …. Aku mendengar sedikit dari Frederica sebelumnya. Ibu mereka adalah manusia biasa, dan lalu para darah campuran … yah, banyak hal terjadi, dan mereka berdua lahir … jadi dia memutuskan meninggalkan mereka di Sanctuary]

[Sigma: Intinya, ibunya pergi meninggalkan mereka dan mencari kebahagiaannya sendiri, tanpa perasaan]

Lagi-lagi menyuarakan bagian cerita yang tidak dipertanyakan oleh Subaru, senyum sekilas muncul di wajah Sigma.

Informasi tambahan itu adalah apa yang telah Frederica katakan kepada Subaru tentang ibunya, tentang sebuah cerita kehidupannya yang berantakan dengan serangkaian peristiwa malang yang membawa mereka sampai berakhir di sini.

Jika dia ingat dengan benar, Frederica dan Garfiel masing-masing mengambil salah satu nama keluarga orang tua mereka. Frederica mengambil nama ayahnya “Baumann,” sementara Garfiel mengambil milik ibunya, “Tinsel”.

[Subaru: Tapi, Frederica bilang ibu mereka meninggalkan mereka ketika mereka masih sangat kecil… bahkan jika ia melihat ingatannya saat itu, sejelas apa ingatan masa kecil itu?]

[Sigma: Apakah kau lupa bahwa ujian itu dibuat oleh Echidona, yang memegang Kitab Kebijaksanaan? Alih-alih menampilkan sisa-sisa ingatan yang tersamarkan dan tidak dapat diandalkan, ujian itu membentuk dunia menggunakan ingatan asli orang tersebut …. Seharusnya tidak jauh berbeda dari pemandangan yang dia lihat saat dia masih kecil]

[Subaru: … … … …]

Tanpa dasar untuk membantahnya, Subaru merenungkan kata-kata Sigma.

Memang benar, dengan hanya mengambil dari ingatan Subaru, Echidona mampu mereplika kota dan sekolah dari dunia asal Subaru, yang keduanya tidak ada di dunia ini. Subaru telah merasakan ingatannya sendiri disadap secara langsung.

[Subaru: Benar. Kurasa itu masuk akal. Tapi masalah sebenarnya adalah … ketika Garfiel melihat adegan perpisahannya dengan ibunya, kenapa itu sangat menyakitkan baginya sampai-sampai ia harus menangisinya?]

[Sigma: … … … …]

[Subaru: Ini mungkin terdengar kasar, tapi ibunya meninggalkannya ketika dia masih sangat kecil, jadi dia menghabiskan lebih banyak waktu sendirian daripada bersama ibunya. Terjebak pada masa lalu yang sudah lama sekali, hal ini seperti bukan dirinya saja…]

[Sigma: Su-bo, apakah kau benar-benar berpikir luka karena ditinggalkan oleh ibumu saat kau masih kecil sesederhana itu?]

Menjelaskan sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh Subaru, kata-kata Sigma mengiris (tipis-tipis) seperti pisau.

Merasakan tenggorokannya tercekat oleh kata-kata itu, tanpa sadar Subaru terdiam. Dan, melihat ini, Sigma menurunkan pandangan sedihnya.

[Sigma: Tentu saja, Frederica (saudara tiri perempuan/kakak Garfiel) dan aku sangat menyadari seberapa dalam duri yang telah ditancapkan di hati bocah itu. Tapi Gar-bo mungkin tidak pernah menyadari hal itu sampai masa lalu yang dilihatnya dalam ujian menyadarkannya…. Kurasa kepanikannya yang berlebihan disebabkan oleh itu]

[Subaru: …. Tapi, kenapa? Jadi penolakan Garfiel untuk membebaskan Sanctuary dan ketakutannya terhadap dunia luar, semua karena perasaan negatifnya terhadap ibunya …, karena ibunya memilih dunia luar dibanding dirinya?]

[Sigma: Ini lebih seperti kebencian terhadap dunia luar. Kebencian terhadap dunia yang mencuri ibunya lalu meninggalkannya, dan sebanyak apa pun keinginannya untuk mengejar ibunya, barrier melarang kami semua untuk ikut bersamanya. Antara ibunya atau penduduk Sanctuary, yang keduanya tak tergantikan baginya, pilihan itu terlalu kejam]

[Subaru: Apakah ia mungkin membenci ibunya? Ibu yang meninggalkannya dan pergi ke dunia luar sendirian?]

Bagi Subaru, yang tidak pernah diabaikan oleh orangtuanya, itu adalah rasa sakit yang tidak dapat ia mengerti.

Tidak peduli bagaimana dia mengabaikan dirinya sendiri dengan tidak tahu malu, tidak peduli betapa tidak bergunanya dirinya, mereka tidak pernah sekalipun berpikir untuk menyerah padanya.

Dia diselamatkan oleh kehangatan, namun kehangatan yang sama menyiksanya bahkan sampai sekarang.

[Sigma: Yah, siapa yang tahu…]

Sigma menghindari pertanyaan Subaru.

Tatapannya berkeliaran, seolah mencari kata-katanya, sebelum ia menghela napas kecil.

[Sigma: Aku belum pernah bisa bertanya apa yang sebenarnya dia rasakan tentang ibunya. Lagi pula aku ini pengecut. Setiap kali aku ingin bertanya … aku memikirkan bocah itu menangis di makam, dan kata-kataku hilang begitu saja]

[Subaru: Sigma… …]

[Sigma: Namun, bahkan setelah bocah itu mengetahui masa lalunya, dia masih mengatakan Garfiel Tinsel setiap kali dia ditanya namanya. Kupikir dia melakukan ini sehingga ia tidak melupakannya]

[Subaru: Tidak melupakan…]

Mengangguk kecil pada kata-kata Subaru, Sigma menatap gudang bobrok di sekitarnya dengan tatapan penuh rasa kasihan. Gudang yang telah dibangun Garfiel dengan kedua tangannya sendiri.

[Sigma: Jadi dia tidak melupakan emosi yang dia rasakan ketika ia melihat masa lalunya.—Apakah itu kemarahan, atau kesedihan, aku bahkan tak yakin lagi sekarang]

 

 

[Otto: Kau terlihat kacau sekali, Natsuki. Kau tahu itu?]

Melihat Subaru di tengah desa, Otto memanggil dengan senyum masam.

Mendengar ucapan tak tanggung-tanggungnya itu, Subaru mengangkat bahu dan memandang ke arahnya.

[Subaru: Kau, kan tahu. Baru setengah hari aku tak melihatmu dan kau sudah berlumur lumpur. Masih berguling-guling di hutan di umurmu yang sekarang, bukankah kau sudah terlalu tua untuk melakukan hal-hal seperti itu?]

[Otto: Aku juga tak berusaha membuat diriku berlumur lumpur!]

[Subaru: Jangan berteriak. Teriakan membuat otakku yang kurang tidur ini jadi tambah pusing. Berbicara soal kurang tidur, kau juga punya lingkaran hitam di bawah matamu. Pergi bermain lumpur ketika kau seharusnya tidur … mungkinkah kau terbebani dengan keinginan untuk memperbaiki penyesalan sebanyak yang kau bisa dalam batas waktu usiamu yang tersisa?]

[Otto: Bisakah kau berhenti mengaitkanku dengan alur cerita fiksi populer yang ketinggalan zaman seperti itu?!]

Dari keberatan Otto, sepertinya dunia ini memiliki mode fiksi tentang pasien yang sakit parah yang mencoba menjalani hari-hari terakhir mereka sepenuhnya. Hanya pengetahuan yang lebih berguna untuk ditambahkan ke koleksi.

Bahkan, setelah semua ini selesai, mungkin cukup menguntungkan untuk mengimpor semua jenis cerita dari dunia aslinya ke sini. Lalu, Subaru melanjutkan,

[Subaru: Bercandanya cukup dulu sekarang…, jadi bagaimana hasilnya?]

[Otto: Aku tak dapat menyangkal bahwa ini jauh lebih sulit tanpamu di sini, Natsuki …, tapi tetap saja, ku pikir aman untuk menyebutnya sukses. Kau boleh memujiku sekarang]

[Subaru: Kerja bagus, kerja bagus, kau satu-satunya harapanku, lakukan saja!]

[Otto: Apa-apaan pujian kurang semangat itu! Garing sekali!]

Melihat Otto mengayunkan lengannya ke atas dan ke bawah, Subaru diam-diam mengakui rasa terima kasihnya yang tidak ada habisnya atas bantuan pemuda ini. Tapi karena terlalu memalukan untuk mengatakannya dengan kejujuran, Subaru bertekad untuk menyimpan rapat-rapat terima kasih itu sampai ke alam baka.

[Subaru: Baiklah, senang mendengar persiapanmu lancar-lancar saja. Omong-omong, bagaimana perkembangan di sisi lainnya? Menurutmu itu bisa digunakan?]

[Otto: Yang itu … agak rumit dengan jangka waktu terbatas yang kita miliki. Bisa dibilang tak ada cukup waktu. Kupikir jika aku memotong jam tidurku, aku mungkin bisa mengusahakannya untuk lusa, tapi ….]

[Subaru: Kau merelakan waktu tidurmu untukku? Ketekunanmu benar-benar membuatku kagum]

[Otto: Nngggahh! Jadi merepotkan nih…!]

Otto memeluk kepalanya, menyesali tawarannya barusan. Tetapi, bahkan jika Subaru tidak bersikeras, Otto mungkin masih akan memilih untuk meninggalkan tidurnya demi menebus waktu yang dibutuhkan.

Ketulusan seperti inilah yang membuat Subaru memercayainya sebagai teman.

Tanpa pernah menyadari betapa bersyukurnya Subaru, meskipun begitu Otto menghapus ekspresi sedihnya dan menoleh ke Subaru,

[Otto: Apakah panggungmu sendiri sudah kau atur, Natsuki? Jujur, mengingat masalahmu dengan Nona Emilia, aku bertanya-tanya apakah aku harus segera mengemasi barang-barangku dan bergegas pergi di malam hari]

[Subaru: Aku cukup yakin aku dapat mendapatkan semua bagian yang hilang dan merangkainya bersama-sama. Walaupun ini masih agak mengkhawatirkan, sih. Tak tahu gambaran seperti apa di akhir]

[Otto: A-apakah kita akan baik-baik saja? Tak banyak waktu yang tersisa … …]

[Subaru: Kalau aku tak sanggup merangkai semuanya sebelum batas waktu, kita hanya harus menebusnya dengan cinta, keberanian, dan persahabatan. Setidaknya, berdasarkan buku yang kubaca, pasti akan berhasil entah bagaimana]

[Otto: Kau tahu, Natsuki. Meskipun aku mengatakan bahwa aku bersedia untuk menentang peluang, dengan asumsi ada kesempatan bertarung, tetapi mengambil taruhan dengan nol peluang untuk menang bukan hanya bodoh, itu lebih seperti mencari mati…!]

Otto terus bergumam, tetapi Subaru mulai berjalan tanpa banyak memedulikannya. Dengan enggan, Otto mengikuti dan menyamai langkahnya.

Tidak terlalu khawatir pada kecemasan Otto, Subaru berjalan menuju ke bangunan tempat Roswaal menunggu—hendak melaporkan perkembangannya pada Roswaal meskipun hal itu tidak diperlukan.

Setelah mengakhiri percakapannya dengan Lewes Sigma, Subaru telah mempelajari bagian-bagian dari masa lalu Garfiel.

Meskipun Sigma tidak memberinya banyak informasi, ia telah mengklarifikasikan posisinya pada pembebasan Sanctuary, penolakan Garfiel terhadap masa lalunya, dan fakta bahwa ia beralih dengan Theta selama situasi kacau di makam.

Menurut jadwal rotasi para tiruan Lewes, Theta akan muncul besok.

Apa yang dilihat Theta dalam ujian makam pastilah ingatan akan interaksi Lewes Meyer dengan Echidona, tetapi ingatan seperti apa yang dilihatnya sampai-sampai ia begitu membenci pembebasan Sanctuary?

Hanya dengan mengetahui hal inilah Subaru akan dapat memahami alasan kegigihan Theta. Dan, setelah mengetahuinya, barulah ia bisa mulai melenyapkan eksistensi yang telah memberi instruksi pada Garfiel dan memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya tanpa memicu kemarahannya.

Terlepas dari topeng Garfiel yang kasar dan ceroboh, sifat aslinya masih cukup rasional dan bukannya menyukai kekerasan. Setidaknya, begitulah menurut Subaru.

Tanpa Puck di sisi Emilia dan dengan Roswaal yang sedang melemah, tidak ada seorang pun yang memiliki kekuatan untuk bersaing dengan amukan Garfiel.

Saat ini, tidak diragukan lagi bahwa Garfiel adalah orang terkuat di Sanctuary, dan jika dia memilih untuk menggunakan taring dan cakarnya, dia akan dapat mengatasi semua masalah dengan kekerasan sendirian.

Namun ia tidak melakukan hal itu, justru karena, di balik topengnya, sifatnya masih menginginkan untuk mencari solusi rasional.

[Subaru: Pada dasarnya, kita mengambil keuntungan dari kenaifannya untuk membuat rencana di belakang punggungnya ya. Hampir membuat kita terdengar seperti orang jahat]

[Otto: Aku tak punya masalah dengan menggunakan apa pun yang bisa kita dapatkan, tetapi aku setuju bahwa kita sebenarnya bukan protagonis dongeng di sini]

Menjawab gumaman Subaru, orang yang mengaku sebagai bajingan B mengangkat bahu pada rekannya, si bajingan A. Mendengar hal ini, Bajingan A dengan tulus merasa senang pada ucapan si bajingan B.

Bagaimanapun, Garfiel adalah titik temu dari banyak masalah di sekitar Sanctuary. Jika mereka berhasil membujuknya, hal itu sama seperti menyelesaikan seluruh sisi B pada rencana mereka.

Dan untuk sisi-A, itu adalah ujian―dan Emilia.

[Subaru: Aku harus pergi menemuinya sekali lagi setelah ini]

Saat itu sudah menjelang malam, dan lampu-lampu malam telah menyala di Sanctuary. Matahari telah setengah terbenam di langit barat, mewarnai dunia dengan pancaran jingga dan oranye, gradasi warna-warna senja.

Malam sudah dekat, dan, dengan asumsi tidak ada yang terjadi, waktu untuk menantang ujian akan segera tiba.

Tetapi Subaru belum mendengar laporan tentang Emilia terbangun.

Bahkan jika ia bisa bangun tepat waktu untuk ujian, mengingat waktu yang ia butuhkah untuk memilah-milah emosinya, tidak diragukan lagi tantangannya harus dilewati untuk malam ini.

Bahkan, jika kemungkinan terburuk terjadi, ia bahkan mungkin akan melewatkan ujian pada hari penting Subaru besok.

Bahkan Puck—yang bertanggung jawab atas kesedihan Emilia, hanya berbicara tentang kepasrahan reaksi gadis itu, bukan membicarakan berapa lama biasanya Emilia akan berkabung.

[Subaru: Aku tahu semuanya tergantung pada seberapa baik aku menghiburnya setelah ia terbangun, tapi …, karena aku tak tahu seberapa dalam luka hatinya, aku mau tak mau jadi merasa seperti sedang berbohong]

[Otto: Kau pikir kau bisa menghiburnya … atau sesuatu seperti itu? Aku hanya orang luar, jadi aku tak bisa mengatakan apa-apa]

[Subaru: Untuk saat ini, yang kutahu adalah Emilia sangat bingung sehingga ia hampir tak bisa mengenali orang-orang di sekitarnya. Ini pertama kalinya aku melihatnya mengamuk seperti anak kecil. Kalau kau bertanya kepadaku apakah aku bisa menghiburnya atau tidak …  jujur, aku hanya bisa mencoba]

[Otto: Jadi kita masih berjalan di atas seutas tali, yah…]

Otto mengomentari jawaban sederhana Subaru dengan desahan, namun tidak menunjukkan tanda-tanda akan kabur. Menyadari bahwa ia membuat Otto bergabung dengannya dalam pertarungan yang nyaris tanpa harapan, Subaru dengan tulus ingin meminta maaf.

Namun meski begitu, fakta bahwa Otto tidak meninggalkannya sampai sekarang benar-benar seperti anugerah bala bantuan yang sangat besar bagi Subaru.

[Otto: …Kalau itu situasi untuk Nona Emilia, bagaimana kabar Garfiel? Sudahkah kau memperoleh bahan perundingan yang bisa digunakan untuk melunakkannya?]

[Subaru: Aku cukup yakin aku mendapatkan bagian kunci yang kita butuhkah, ya. Masalahnya adalah aku masih perlu waktu sebelum aku bisa membawanya ke meja negosiasi]

Bagaimana ia berurusan dengan Garfield akan tergantung pada bagaimana pembicaraannya dengan Theta besok. Apa pun yang terjadi dalam pembicaraannya dengan Theta, Subaru harus memfokuskan strateginya pada hal itu.

Subaru merasa frustrasi karena satu-satunya pilihannya adalah mengulang informasi apa pun yang diberikan Theta kepadanya.

Untuk saat ini, tidak ada pilihan selain terus berjalan di atas seutas tali itu perlahan-lahan.

[Subaru: —Kita sampai. Kau akan ikut denganku kali ini]

Subaru berkata kepada Otto di sampingnya ketika mereka tiba di depan kediaman Roswaal. Otto menanggapi perkataan Subaru dengan ekspresi tidak nyaman, tapi,

[Otto: Ehhh, baiklah, baiklah. Kupikir tak ada alasan bagiku untuk tetap berada di luar saat ini. Kalau aku pergi bersamamu …. Auaaagh! Bukankah itu sama dengan menyatakan perang terhadap Margrave?! Kau yakin kepalaku masih akan berada pada tempatnya setelah semua ini selesai?]

[Subaru: Jangan khawatir. Kalau kepalamu tak selamat, kepalaku juga tak akan selamat dan berakhir menjadi makanan kelinci. Aku tidak akan membiarkanmu mati sendirian!]

[Otto: Perkataanmu sama sekali tak menenangkan!]

Otto meratap ketika Subaru menembaknya dengan jempol teracung.

Dan ketika mereka terus bersenda gurau di luar pintu gedung, pintu terbuka dari dalam― menampakkan seorang pelayan, menatap mereka dengan tatapan dingin.

[Ram: Apa yang kalian berdua bicarakan di sore hari dengan suara keras begini? Orang-orang akan meragukan tuanmu, integritas Tuan Roswaal. Perlakukan dirimu dengan lebih bermartabat]

[Subaru: Maaf … tapi, apa yang kau lakukan di sini? Kau meninggalkan Emilia sendirian?]

Meminta maaf atas kritik pedas Ram, Subaru menegaskan keberadaannya yang salah tempat. Mendesah kecil, Ram mengangkat bahu dengan pura-pura bingung, dan,

[Ram: Jangan khawatir, aku akan kembali sekarang. Karena kau datang berkunjung, aku dipanggil ke sini untuk membantu Tuan Roswaal bersiap.―Kau ini mengganggu sekali, menempatkan beban ini pada Nona Emilia]

[Subaru: Kau barusan berbalik menyalahkanku, ya?! …. Dan lagi pula apa yang perlu Roswaal persiapkan? Apa karena ia tak bisa bangun dari tempat tidur jadi tak banyak yang bisa dilakukan, bukan?]

Sementara Subaru tahu bahwa Roswaal sebenarnya bisa bangun dari tempat tidur dan sebenarnya cukup sehat untuk menendang Garfiel hingga menjadi serpihan, ia berpura-pura tidak tahu untuk saat ini.

Melihat ini, Ram menyipitkan matanya dengan kesal sebelum berjalan melewati Subaru dan Otto.

[Ram: Cukup. Tuan Roswaal menunggumu, jadi cepatlah masuk. Perhatikan dengan baik agar kau tak merepotkan Tuan Roswaal dengan berbicara lama-lama…. Setelah kau selesai, segaralah datang ke kediaman Nona Emilia untuk menggantikanku]

[Subaru: Kau terlihat sibuk yah. Aku juga terkejut begitu kau khawatir tentang Roswaal ketika ia cukup sehat pada saat ini. Aku masih berharap kau bisa memprioritaskan Emilia sedikit lagi. Jika ia menemukan dirinya sendirian ketika dia bangun, ia akan … …]

[Ram: Saat Nona Emilia bangun, bukan Ram yang harusnya berada di sisinya. Tak tahukah kau hal sesederhana itu?]

Kali ini, Ram menatap Subaru dengan tatapan tulus seolah-olah ia baru saja memandangi orang idiot. Diam-diam mengawasinya saat si pelayan pergi, Subaru merasa Otto menyikutnya kecil.

[Otto: Tadi itu percakapan yang buruk, kecuali kau memang berniat membuatnya marah]

[Subaru: …. Ya aku tahu. Aku hanya ingin tahu seperti apa reaksinya]

[Otto: Kau ini benar-benar tambah busuk saja, kau tahu?]

Sambil mendorong siku Otto, Subaru masuk ke pintu yang terbuka. Otto mengikuti di belakangnya, dan bersama-sama, mereka menuju ke ruang terdalam di gedung. Mengetuk pintu dengan ringan,

[Subaru: Roswaal, ini aku. Bisakah kami masuk ke dalam?]

[Roswaal: Oo~oya, kau di sini. Masukla~h, masukla~h]

Suara si badut dari balik pintu—kembali ke intonasi normalnya, sedikit mengejutkan Subaru ketika ia membuka pintu.

Dan—

[Subaru: Aah, jadi begitu]

Melihat Roswaal di tempat tidur, Subaru sedikit mengangguk seolah memahami sesuatu.

Ini pasti “Persiapan” yang disebutkan Ram.

Di sisi Subaru yang mangut-mangut paham, Otto mengeluarkan suara “Hgk!” ketika dia melihat wajah Roswaal. Ini pasti pertama kalinya Otto melihat wajah Roswaal yang seperti itu.

[Roswaal: Menye~mpatkan diri mela~porkan kema~juanmu, sangat terpuji. Aku su~ka sifatmu yang sa~tu itu]

Terkekeh dengan nada badutnya yang kasar, dengan dandanan yang sudah lama absen dari wajahnya kini kembali, Roswaal merentangkan tangannya, menyambut kedatangan mereka.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded