Re:Zero Arc 4 Chapter 97.2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Sukseskanlah “Ridho Ilahi.” Amin

Korektor: Anisha Dayu

Sebelum Fajar, bagian 2

Perubahan topik itu datang seperti pukulan dari atas tepat ketika pikiran Subaru mulai mengendur.

Meluruskan punggungnya, Subaru memberi isyarat atas pertanyaan Roswaal dengan [Ya],

[Subaru: Terjadi sesuatu dengan kontrak Emilia dan Puck, dan sebagai akibatnya hubungan mereka telah terputus. Sekarang ini, Emilia tidak dapat lagi disebut sebagai pengguna seni-roh]

[Roswaal: Aku juga mendengar bahwa Nona Emilia sedang terpuruk dalam jurang kesedihan… dengan semua masalah yang berbahaya ini, dan hatinya menerima luka yang begitu besar, apakah Nona Emilia akan baik-baik saja?]

[Subaru: … Entahlah. Sepertinya, ujian malam ini kemungkinan besar tak akan terjadi. Adapun bagaimana itu akan mempengaruhi masa depan dan lain sebagainya, kita tak akan tahu sampai Emilia bangun]

Sebenarnya, meskipun Puck telah memperingatkan Subaru tentang betapa sedihnya Emilia setelah pembatalan kontrak sepihak, ratapan Emilia sangat menyedihkan sampai-sampai Subaru ingin menutup matanya dan memalingkan wajah.

Dengan hanya dua hari tersisa, memojokkan Emilia seperti ini telah membuat peluang tipisnya bahkan lebih tipis lagi ketika gerbang harapan ditutup di sekitar mereka.

Tapi, yang dibutuhkan Subaru hanyalah lubang kunci kecil di sekitar gerbang tertutup itu untuk mencurahkan semua keyakinan dan harapannya.

[Subaru: Masalah ini benar-benar membuatku sakit kepala. Tapi, dengan satu atau lain cara, aku…]

[Roswaal: –Masalah itu terdengar mena~rik…]

[…Lagi pula], Roswaal menyela Subaru, mengibaskan jemarinya yang terangkat ke kiri dan ke kanan. Subaru tanpa sadar terdiam melihat gerakan tersebut, dan Roswaal melanjutkan,

[Roswaal: Berusaha membuat Nona Emilia bangkit kembali …, kau memang terlihat kerepotan, tapi… ada yang aneh, kau tidak terlihat terkejut sama sekali, mengetahui fakta bahwa Roh Agung memutus perjanji~annya dengan Nona Emilia. Kena~pa?]

[Subaru: —-]

Pernyataan dan pertanyaan blak-blakan Roswaal membungkam Subaru seketika.

Subaru tidak tampak terkejut karena Subaru sudah mengetahui detail yang akan terjadi setelahnya. Seandainya ia tidak mendiskusikannya dengan Puck sebelumnya, ia mungkin akan lumpuh tak berdaya di depan jeritan dan ratapan Emilia.

Meskipun, pada akhirnya ia masih saja lumpuh tak berdaya dalam artian lain, kendati sudah mengetahuinya.

[Roswaal: Bagaimanapun caramu mempelajarinya… itu terlihat …. Apakah kau …, mungkin sudah mengetahui tentang hal itu sebelumnya? Kau tahu bahwa Roh Agung akan meninggalkan Nona Emilia?]

[Subaru: Bahkan jika, secara hipotesis, aku tahu…, tak masuk akal jika kau memprotes hal itu! Aku hanya melakukan apa pun yang kubisa untuk memenangkan taruhan ini. Jadi meskipun kau…]

[Roswaal: –Tidak~ tidak. Itu cukup. —Aku telah mendengar apa yang ingin kudengar]

Roswall mengangkat telapak tangannya dengan anggukan puas. Mendengar ini, Subaru terhenti di tengah kalimat, mengeluarkan dengusan menyedihkan melalui lubang hidungnya.

[Roswaal: Ba~gaimanapun… Roh Agung telah benar-benar meninggalkan Nona Emilia, hal itu~ akan menjadi masalah yang seri~us untukku]

[Subaru: ….Sungguh? Mempertimbangkan tujuanmu, bukankah kejadian ini menjadikan rencanamu lebih ba…]

[Roswaal: –Tidak sama sekali. Kesedihan Nona Emilia yang seperti itu memang dapat membakar hatimu dan membuatmu tak tahan, itu memang sesuai dengan tujuanku… tapi, jika Nona Emilia kehilangan kekuatannya sebagai pengguna seni-roh, ia tidak akan bisa menjadi tersangka di balik peristiwa badai salju yang akan terjadi di Sa~nctuary. Itu akan menjadi masa~lah besar buatku]

[Subaru: a….]

Roswaal sedang membicarakan penyimpangan kitabnya dari kenyataan.

Dalam tiga hari, badai salju di Sanctuary akan menarik Kelinci Besar ke sini. Untuk mencocokkan isi ramalannya, Roswaal harus mengubur Sanctuary di salju.

Tapi, itu berarti—

[Subaru: Roswaal, aku telah memikirkannya untuk beberapa waktu… ….]

[Roswaal: Hm? A~pa itu?]

[Subaru: Tentang bagaimana kitabmu yang sempurna itu juga mungkin dapat salah]

[Roswaal: —-]

Senyum tipis di bibir Roswaal menghilang. Udara seolah-olah mengering seketika, dan bulu roma di sekujur tubuh Subaru meremang saat ia merasakan tatapan tajam ahli sihir itu padanya.

Di sisinya, Otto terlihat seolah-olah menciut karena ketakutan, dan untuk sesaat, Subaru merasakan tenggorokannya tercekat oleh tekanan. Sementara itu, kedua mata Roswaal yang berlainan warna terkunci pada Subaru.

[Roswaal: Lanjutkan, Nak Subaru. Tentang kesalahan kitabku… yang kau sebutkan]

Meraih ke dalam bantal di punggungnya, Roswaal memunculkan sebuah buku dengan sampul hitam—kitabnya. Sama seperti kitab yang dimiliki oleh Beatrice di Perpustakaan Terlarang, keberadaannya saja membuat atmosfer di sekelilingnya jadi terasa berat dan pekat.

[Subaru: Selalu ada… yang tidak pas saat kau membicarakan ramalan kitab. Sebelumnya aku terlalu kacau untuk memperhatikannya …. Namun, sekarang setelah aku punya kesempatan untuk tenang dan memikirkannya kembali… aku menyadari sesuatu]

[Roswaal: Hm, katakanlah?]

[Subaru: Kitab yang dimiliki oleh para Pemuja Penyihir… tidak lengkap dan sulit dibaca, tapi mengesampingkan hal itu, kitab yang kau miliki juga memiliki kelemahan tertentu]

[Roswaal: —-]

“Kelemahan,”  sesaat setelah mendengar kata itu, alis Roswaal berkedut.

Keingintahuannya akan kelanjutan teori Subaru membuatnya menahan komentar. Kitab Roswaal secara harfiah adalah tuntunan hidup baginya.

Ia tak punya alasan untuk tidak mendengarkan ketika ia mendengar kata-kata seperti “kesalahan” dan “kelemahan”.

Mengambil napas kecil dari diafragma* nya yang terlanjur kaku karena tekanan yang menyumbat tenggorokannya, Subaru menatap Roswaal dengan segenap usahanya dan berbicara.

(*Diafragma: Otot utama yang digunakan dalam proses menarik dan mengeluarkan napas, terletak di bawah rongga dada dan berbentuk seperti kubah otot. Organ tubuh ini memisahkan jantung dan paru-paru dengan organ perut)

[Subaru: Dari apa yang kau bilang, sepertinya kitabmu telah menggambarkan rantai peristiwa yang akan terjadi di Sanctuary sampai akhir. Kau sepertinya berpikir untuk “membuatku menantang ujian makam setelah Emilia gagal,” atau sesuatu seperti itu. Untuk memojokkan Emilia dan memastikannya gagal, kau akan mendatangkan badai salju di Sanctuary, membuat Kelinci Besar tertarik datang ke sini. Sementara itu, kau mendorong mansion ke dalam situasi yang mustahil untuk memaksaku menguatkan tekad dan melepaskan bagian-bagian “tidak berguna” dari dalam diriku. ―Intinya seperti itu, kan?!]

[Roswaal: Kurang lebih begitu. Dan keku~rangannya?]

[Subaru: ….Kau tak tahu dengan pasti apakah badai salju akan mengundang Kelinci Besar ke sini. Artinya kitabmu tidak menyebutkan hasil dari badai salju tersebut. Jadi bila ramalannya mengatakan “salju akan turun” dan kau mempercayainya dan bertindak untuk mewujudkannya—maka kau benar-benar hanya menjadi boneka dari kitabmu itu!]

[Roswaal: Aku tahu. Meski begitu, aku tak keberatan. Selama aku mengikuti kitab ini, masa depan yang aku inginkan akan aku dapatkan. Kalau begitu, kenapa aku harus ragu-ragu pada ramalannya yang tidak berperasaan dan tidak berwujud?]

Roswaal mengonfirmasi alasan Subaru dengan tenang.

Keraguan memenuhi mata Subaru, tidak yakin apa yang harus ia katakan selanjutnya. Tetapi sekarang, setelah penalarannya dikonfirmasikan, hal itu membawa rasa kebenaran yang pasti pada hipotesis dalam benaknya.

― Dan jika hipotesisnya benar, maka,

[Subaru: Kita berdua benar-benar seorang badut]

[Roswaal: —Ho?]

Roswaal menyipitkan matanya saat atmosfer ruangan menjadi pekat. Perasaan Subaru tentang penurunan suhu tubuhnya pastilah karena gelombang emosi si tukang sihir yang menyebabkan menurunnya mana di atmosfer secara signifikan.

Bagaimanapun, bahkan jika Roswaal akan tersinggung karenanya, membahas masalah kitabnya masih diperlukan. Baik untuk menghilangkan keraguan Subaru ataupun untuk melemparkan keraguan ke dalam hati Roswaal yang keras.

[Subaru: Kembali ke intinya. Jika catatan kitabmu menyatakan bahwa “salju akan turun,” aku menganggap Emilia–lah yang seharusnya melakukannya. Tetapi, karena Emilia tak bisa, atau tidak akan pernah bisa, kau harus menggantikannya menurunkan salju itu. Untuk mengikuti ramalan kitabmu]

[Roswaal: Kau berputar-putar. Katakan intinya. Di mana kesalahan kitabku, dan di mana kegagalannya…]

[Subaru: Pada dasarnya, jika Emilia tak bisa menyebabkan salju turun, dan kitabmu tak memberitahumu kapan dan di mana tepatnya salju akan turun… salju tidak akan pernah turun di Sanctuary]

Itu adalah kesimpulan yang sederhana.

Roswaal menurunkan salju hanya karena kitabnya meramalkan hal itu. Jadi jika hal itu tidak pernah ditulis dalam kitab, atau jika kitab itu tidak pernah ada, maka Roswaal tidak akan memiliki alasan untuk mengambil tindakan seperti itu.

Pada dasarnya, alasan kenapa Emilia akan menurunkan salju di Sanctuary sudah tidak jelas—namun jika kitab Roswaal benar, Emilia harusnya punya alasan tertentu untuk mendatangkan badai salju ke Sanctuary. Tanpa mengetahui alasan “apa” itu, badai salju itu sendiri menjadi sia-sia. Belum lagi bahwa semua kejadian itu tidak akan ada jika kitab,  tidak pernah ada—

[Subaru: Ramalan yang tidak akan terwujud kecuali dilakukan―ramalan macam apa itu?!]

[Roswaal: —-]

[Subaru: Ramalan seharusnya memprediksi peristiwa-peristiwa, tak peduli seaneh atau semustahil apa pun itu. Kitab tidak sempurna yang diterima para Pemuja Penyihir diperbaharui seiring terungkapnya perkembangan dunia. Tapi, bagaimana dengan kitabmu? Yang dimahkotai dengan sebutan “sempurna”?]

[Roswaal: —-]

[Subaru: Kau hanya berusaha menyangkalnya, Roswaal]

Subaru menuding Roswaal dengan telunjuknya bersamaan dengan pernyataan itu.

Saat dihujani kata-kata itu, Roswaal tidak mengatakan sepatah kata pun. Tetapi tekanan yang menyelimuti ruangan itu telah lenyap, sementara Otto, terlepas dari suasana yang mencekam, menghela napas pendek dengan cepat untuk menenangkan detak jantungnya.

Menutup kedua matanya, Roswaal tenggelam dalam keheningan yang mendalam. Subaru berpikir ia melihat sedikit kedutan di bibir Roswaal yang dicat merah, tetapi mungkin itu hanya hasil dari angan-angannya—berharap bahwa kata-katanya telah menggoyahkan hati sang badut.

Namun, ia tidak akan diberi waktu untuk mengonfirmasi hal itu,

[Roswaal: Untuk mencapai kemajuan dunia… yang mengandaikan adanya ramalan……, dari kitabku… tentu saja, seseorang juga harus mengandaikan bahwa ada seseorang yang akan bertindak sesuai dengan ramalan itu……]

[Subaru: –Ya. Aku tahu kau akan membuat bantahan semacam itu.―Jadi aku sudah menyiapkan bantahanku sendiri]

Di depan pernyataan Roswaal yang goyah—tidak seperti kepribadian badut itu biasanya, Subaru memotongnya, setelah menebak-nebak reaksi ini sebelumnya.

Menutup satu matanya, Roswaal mengintip Subaru melalui mata kuningnya, memancarkan sinar menakutkan yang sama yang telah ia layangkan ke Subaru berkali-kali sebelumnya.

Namun sinar sekarang ini mungkin yang tersamar yang pernah Subaru rasakan. Diam-diam menyadari hal ini, Subaru melanjutkan,

[Subaru: Tunjukkan padaku isi kitabmu. Jika aku bisa melihat ramalan apa yang tertulis di dalamnya, aku akan setuju denganmu]

[Roswaal: ――gh! Aku khawatir itu tidak mungkin. Kitab tidak akan pernah mengungkapkan isi sejatinya kepada orang lain selain pemilik yang diakuinya. Aku adalah pemilik kitab ini. Jadi, bahkan jika aku menunjukkannya kepadamu, kau tak akan dapat memahami isinya, dan bahkan ada risiko pikiranmu hangus ketika kitab ini menolak mengakuimu… …]

[Subaru: –Kau jadi banyak bicara, Roswaal. Akankah masalah menjadi sebesar itu jika aku melihat kitabmu?]

Melihat Roswaal terpojok, mata Subaru melebar karena terkejut.

Meskipun riasan putih itu membuat warna wajahnya tidak terlihat, penolakan Roswaal begitu kuat sehingga bahkan bisa disebut reaksi berlebihan.

Perubahan cepat dalam sikap Roswaal ini memberi tahu Subaru bahwa ia telah menyudutkannya lebih dari yang ia bayangkan.

Ada sesuatu dalam kitabnya yang disembunyikan Roswaal, bahwa ia tidak bisa membiarkan orang lain tahu. Apakah ketaatannya yang keras kepala pada ramalannya ataukah karena didorong oleh sesuatu yang tersembunyi?

Jika tidak, lalu bagaimana mungkin seorang seperti Roswaal gagal menyadari kontradiksi dalam kitabnya?

[Otto: Natsuki, tindakanmu sudah…]

Merasakan perubahan dalam sikap Roswaal dan menilai bahwa sudah waktunya untuk mundur sedikit, Subaru tiba-tiba dihentikan oleh Otto, yang diam-diam mengamati mereka.

Subaru melihat ke belakang, berniat untuk menolak saran Otto, tetapi ketika ia melihat keseriusan tatapan Otto, ia merasakan dorongan untuk tidak membahas masalah ini lebih jauh lagi.

Otto melihat sesuatu yang Subaru–dalam hasratnya, gagal untuk melihatnya. Dan mata itu dengan jelas mengatakan kepadanya bahwa sudah waktunya untuk mengakhiri percakapan ini.

Dengan sembarangan memaksakan hal ini sekarang hanya akan merusak semua yang mereka sudah upayakan untuk didapatkan di sini.

[Subaru: —Roswaal, masih ada tiga hari lagi. Besok, lusa. Dan, hari terakhir. Kita akan menyelesaikannya sebelum itu. Duduklah dengan tenang dan pikirkan apa yang baru saja kukatakan]

[Roswaal: Maksudmu, kau memberi~ku kesempatan? —Kalau begitu kita benar-benar harus berterima kasih pada temanmu, Nak Otto. Karena telah mencegah hubungan kita menjadi lebih buruk lagi]

Dengan wajahnya yang masih tanpa emosi, Roswaal kembali menyembunyikan kitabnya di belakang punggungnya. Kemudian, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu sebagai penutupnya, Roswaal mengangkat bahu,

[Roswaal: Aku akan mempersiapkan sihir manipulasi cuaca–ku mulai sekarang. Dan aku akan membuat ramalan kitabku menjadi kenyataan.—Itu adalah satu-satunya kompas yang menuntunku]

[Subaru: Lakukan apa yang kau mau. Silakan dan letakkan kepercayaan bodohmu pada kitab itu sesukamu…]

Dengan tangannya di atas gagang pintu, Subaru berbalik, membalas tatapan Roswaal.

Dan, ketika tatapannya bertemu kembali dengan tukang sihir itu,

[Subaru: …Setelah semua ini selesai, aku akan mencelupkan kitabmu itu ke dalam tinta sampai semuanya basah dan hitam.―Dan akhirnya kau akan bisa melihat masa depan dengan kedua matamu sendiri]

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded