Re:Zero Arc 4 Chapter 97.3 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Sukseskanlah “Ridho Ilahi.” Amin

Korektor: Anisha Dayu

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

Sebelum Fajar, bagian 3

―Setelah mereka mengakhiri pembicaraan dengan Roswaal, meskipun sulit untuk mengatakan apakah pembicaraannya barusan berarti atau tidak, Subaru berpisah dengan Otto lalu menuju ke kediaman Emilia.

[Ram: —Kau datang juga, Barusu]

[Subaru: Iya, aku datang. Maaf telah membuatmu menunggu cukup lama]

Melihat Subaru memasuki ruangan, Ram, yang telah mengawasi Emilia, memberinya ekspresi lemah, lelah dan tidak bersemangat. Sementara ekspresi kurang bersemangat semacam ini cukup sering dipasangnya, Subaru mengira ia melihat sekilas sesuatu yang lebih gelap dari sisi wajah si pelayan, meskipun mungkin itu hanya perasaannya saja.

[Subaru: Kami sudah berbicara dengan Roswaal. Aku akan menggantikanmu menjaga Emilia sekarang, jadi kau bisa pergi]

Tanpa berusaha memperpanjang topik itu, Subaru menarik kursi di sebelah Ram di tempat ia dapat mengawasi Emilia. Ram menatap Subaru saat ia duduk di sampingnya, dan,

[Ram: Aku khawatir Barusu akan melakukan hal-hal tidak senonoh pada Nona Emilia yang sedang tertidur]

[Subaru: Aku tak ingin berpikir bahwa kepercayaanmu kepadaku serendah itu sehingga kau mencurigaiku melakukan sesuatu yang tidak pantas]

[Ram: Dengan alasan apa aku harus mempercayaimu? Kau membelot terhadap tuanmu—Tuan Roswaal, dan mengangkat panji-panjimu sendiri di Sanctuary yang sangat terbatas ini]

[Subaru: … … … …]

Tidak diragukan lagi, Ram tahu tentang kontrak antara Subaru dan Roswaal―serta rincian taruhan mereka, meskipun tampaknya Ram pura-pura tidak tahu.

Lagipula, dia adalah Ram, pelayan setia Roswaal yang merelakan hidupnya hanya untuk melayani si badut. Bahkan jika, bagi Roswaal, Ram hanyalah bidak untuk merealisasikan ramalan kitabnya dan satu-satunya orang yang dapat ia pakai sesuka hati tanpa curiga.

[Subaru: Jadi, bagaimana menurutmu?]

[Ram: —-]

Ram tidak menjawab pertanyaan tanpa subjek itu. Ia hanya membalikkan tubuhnya ke arah Subaru, menunggunya untuk melanjutkan, sementara Subaru memilah-milah emosinya dan memilih kata-katanya,

[Subaru: Aku tak yakin sejauh mana kau tahu isi kitab Roswaal, tapi jika Roswaal merealisasikan ramalan kitabnya, Sanctuary akan hancur. Kita tak akan tahu apakah Garfiel atau Lewes atau bahkan mungkin yang lainnya bisa sela….]

[Ram: –Kalau kau berpikir kata-katamu barusan bisa membujukku, pengetahuanmu tentang hal itu terlalu dangkal, Barusu]

Ram menusuknya dengan tatapan tegas yang tak tergoyahkan, memotong kata-kata Subaru dengan cepat sehingga seolah-olah itu terefleksikan dengan sangat jelas di dalam mata merah pucatnya.

[Ram: Hanya ada satu orang berharga yang menempati tempat tertinggi di hatiku. Fakta itu tidak akan pernah goyah. Tidak ada yang bisa mempengaruhi posisi itu. Jadi, jangan pernah berharap kata-kata dangkalmu itu akan merubah pikiranku]

[Subaru: … … … …]

[Ram: —Selain itu …, masalah Ram sudah dipercayakan di tempat lain]

Sementara Subaru menyesali pilihan kata-katanya yang buruk, Ram diam-diam bergumam. Subaru mendongak ketika ia mendengar hal itu, berniat bertanya padanya apa maksudnya, tapi Ram berdiri sebelum ia sempat menanyakannya.

Merapikan roknya, Ram memandangi Emilia yang sedang tidur sebelum kembali berbicara pada Subaru,

[Ram: Aku tinggalkan Nona Emilia bersamamu. Aku akan berkunjung lagi pagi-pagi sekali untuk menunggunya]

[Subaru: I-iya … baiklah. Um, barusan tadi, apa maksud…]

[Ram: –Yah, entahlah]

Memberikan pengandaian tegas “aku tidak akan menjawab” sebagai balasannya, Ram meninggalkan ruangan. Meskipun ia ingin memanggilnya, Subaru tidak bisa memikirkan apa yang harus dikatakan pada si pelayan yang sudah mengurungkan niatnya, gadis itu kemudian berlalu pergi.

Ram menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Subaru dan Emilia sendirian di kamar.

Karena Emilia masih tertidur di ranjangnya, yang harus Subaru lakukan hanyalah mengawasinya.

Sudah sekitar sepuluh jam sejak Subaru menenangkan Emilia yang bingung dan meratap sampai ia pingsan karena kelelahan, satu-satunya kelegaan Subaru adalah ekspresi Emilia yang tampaknya tidak terganggu oleh mimpi buruk dalam tidurnya.

Jika masa lalu mengejarnya bahkan ke dalam mimpinya, maka hati gadis itu akan benar-benar kehilangan perlindungan terakhirnya.

Saat gadis itu akan terbangun nantinya, sekali lagi ia akan dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa ikatannya dengan Puck telah terputus. Berapa banyak waktu yang dia butuhkah sebelum dia bisa menerima kenyataan pahit itu?

Subaru tidak tahu seberapa besar kehadirannya dapat membantu meringankan rasa sakit itu. Dan meskipun, tanpa ragu, Subaru ingin menjadi kekuatannya, seberapa banyak kekuatan yang dapat ia berikan?

[Emilia: … …ru]

[Subaru: ―Huh?]

Tenggelam dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba, kesadaran Subaru kembali setelah mendengar panggilan samar.

Kembali ke kenyataan, ia melihat kepala Emilia menoleh perlahan, kedua mata ungunya menatap Subaru. —Emilia terbangun.

[Subaru: Kau sudah bangun …. Emilia, apa kau baik-baik saja?]

[Emilia: —Subaru]

[Subaru: Ya, ini aku–Subaru. Bagaimana perasaanmu? Kau sudah tertidur selama … …, tunggu sebentar, akan kuambilkan air…]

[Emilia: –Tidak apa]

Subaru berdiri, berniat untuk bergegas keluar, tetapi panggilan Emilia menghentikannya.

Terkejut oleh kekuatan paksaan dari kata-kata itu, Subaru tanpa sadar duduk kembali ke kursinya.

[Subaru: … … Emilia?]

[Emilia: Tak apa. Aku baik-baik saja… tetaplah di sini]

Subaru merendahkan suaranya, dan Emilia membalas dengan tegas.

Peristiwa selama beberapa hari terakhir telah membuat Subaru percaya bahwa Emilia akan sedikit kacau dan rapuh di pagi hari. Setelah bangun, pikiran biasanya perlu waktu untuk pulih, terutama setelah tidur dalam jangka waktu yang cukup lama, namun saat ini kelelahan tidak terpancar pada kedua mata ungu cemerlang gadis itu.

[Subaru: Kau tahu … apa yang terjadi?]

[Emilia: … …. Mn. Aku tidur sepanjang hari. Meskipun semua orang telah menungguku, apa yang kulakukan… …, aku minta maaf]

[Subaru: Itu …! Tidak ada yang akan menyalahkanmu untuk itu … Jadi … …. Maksudku adalah … ….]

Menghadapi permintaan maaf Emilia, Subaru ragu, apakah ia harus membahas tentang Puck sekarang. Itu harusnya menjadi topik pertama yang terlintas di benak gadis itu sesaat setelah kesadarannya pulih sepenuhnya dari tidur panjangnya. Tapi, alih-alih ingin membahas hal itu, perhatian gadis itu malah tertuju pada orang lain—demi orang lain. Kecuali, mungkinkah keterkejutan yang gadis itu alami begitu hebat sehingga ia lupa bahwa perjanjiannya dengan Puck telah terputus—

[Emilia: Jangan khawatir, Subaru]

[Subaru: u, e… …?]

[Emilia: Aku tidak …, melupakan bahwa Puck telah pergi. Aku mengingatnya. Aku tak akan pernah melupakannya dan berlari menjauh]

[Subaru: Emilia, kau tidak akan…?]

[Emilia: Mn…]

Emilia mengangguk kecil, dan Subaru menyadari bahwa Emilia tidak melupakan fakta itu. Tetapi, lalu, mengapa ekspresi Emilia begitu tenang sekarang?

Untuk Subaru, yang telah melihat keadaan Emilia segera setelah gadis itu mengetahui bahwa Puck telah meninggalkannya, melihat ketenangannya sekarang terasa hampir tidak nyata.

Tapi, sementara Subaru kesulitan menerima alasannya yang sesederhana kelihatannya,

[Emilia: Maafkan aku, Subaru. Aku memperlihatkan begitu banyak hal buruk kepadamu …, Subaru pasti saaaaangat khawatir]

[Subaru: Tidak, aku tak masalah dengan itu, kau bisa membuatku khawatir sesukamu. Aku tidak… …, tapi… kaulah yang sekarang sedang…]

[Emilia: –Banyak hal. Yang kupikirkan. Di dalam mimpiku]

Emilia dengan tenang memotong kata-kata kusut Subaru. Di depan mata Emilia yang tertunduk, Subaru secara tidak sengaja menelan napasnya tanpa membuang muka. Ia melihat bulu mata Emilia yang panjang bergetar ketika Emilia melihat ke arahnya sekali lagi,

[Emilia: Aku pasti akan baik-baik saja di pagi hari …. Aku ingin percaya itu, jadi … … Subaru…, kumohon padamu]

[Subaru: … …a, mhm]

[Emilia: Genggamlah tanganku. Bisakah Subaru tinggal di sini sampai pagi? Kalau Subaru bisa, aku akan saaaaangat…]

Ujung jari-jemari pucat Emilia dengan takut-takut terulur di bawah selimut. Melihat tangan itu meraih padanya, Subaru segera menggenggamnya, membungkus jemari lembut itu di telapak tangannya sendiri.

[Subaru: Jika itu yang kau butuhkah, maka tidak ada masalah sama sekali. Tapi, Emilia … …]

[Emilia: –Maaf, Subaru. Aku tahu pasti ada banyak hal yang ingin Subaru katakan dan tanyakan. Tapi … … tolong, tunggu sampai pagi. Karena pada saat itu, aku bisa melakukan yang terbaik]

[Subaru: —-]

[Emilia: Jadi tolong, tetaplah seperti ini sampai pagi―Subaru]

Dihadapkan dengan suara Emilia yang hampir seperti menangis saat memohon, Subaru tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Ia hanya menarik kursinya lebih dekat ke tempat tidur dan meletakkan tangan Emilia yang masih menggenggamnya di samping bantalnya. Setelah melakukan itu, Subaru mengangguk pada Emilia, yang mengawasinya dengan mata ragu-ragu,

[Subaru: Baiklah, aku mengerti, Emilia]

[Emilia: Mn… terima kasih]

Dengan interaksi singkat itu, mata Emilia tertutup sekali lagi.

Tidak seperti kehilangan kesadaran dan pingsan pada pagi ini, kali ini, gadis itu jatuh ke dalam tidur nyenyak atas keinginannya sendiri. Ketika ia bangun lagi, apa yang akan ia katakan padanya?

Dengan kekuatannya sendiri, Emilia telah menaklukkan yang terburuk dari apa yang dibayangkan Subaru. Sangat lega dengan fakta ini, Subaru mengawasi wajah mengantuk Emilia.

[Emilia: ….Aku mempercayaimu]

Tiba-tiba mendengar gumaman Emilia yang setengah tertidur, Subaru sedikit menghela nafas.

—Situasinya akan mulai bergerak lagi pada pagi hari.

Pagi yang menentukan segalanya itu hanya beberapa jam lagi.

Dan—

 

 

[Ram: Ada hal yang Anda dapatkan dari percakapan Anda dengan Barusu?]

[Roswaal: Subbab* yang menyakitkan … akan menjadi penggamba~ran yang tepat. Sepertinya baik aku dan dia mendapatkan keuntungan dari saling mengurangi tuntutan masing-masing. Meskipun, pada awalnya aku memang tidak berencana untuk ikut campur]

(*Subbab: Sub·bab n bagian bab; anak bab/ bagian atau anakan dari bab yang menjelaskan secara lebih spesifik tentang hal-hal yang ada dalam bab. Penomoran dalam subbab akan mengikut pada nomor bab dengan diikuti tanda titik (.) diikuti nomor urutan subbab)

Di ruang gelap itu, tuan dan pelayan berbicara pada jarak yang lebih dekat dari yang diperlukan.

Sambil memeluk Ram di samping tempat tidurnya dengan kepala si pelayan bersandar di dadanya, Roswaal mengingat kembali percakapan sebelumnya.

Faktanya, memang tidak mudah untuk membengkokkan Subaru setelah ia menegaskan tekadnya. Meskipun tidak jelas apa yang akan terjadi di masa depan Subaru, Roswaal jelas bisa merasakan kehendak hati baja pada pemuda itu.

Kehadiran Otto di sisi Subaru juga tidak menyebabkan masalah sama sekali bagi Roswaal. Dengan objektif memahami situasi dan mengekang Subaru secara efektif ketika ia melakukannya, Otto dengan sempurna memenuhi perannya sebagai penyeimbang dengan menjaga agar Subaru dan Roswaal tidak melangkah terlalu jauh.

Jika Otto tidak hadir, Roswaal bisa saja memutarbalikkan pemikiran Subaru hanya melalui beberapa bujukan—

[Roswaal: Dia tampak seperti penonton yang tidak pernah naik panggung … tapi sebaliknya, ternyata dia sa~ngat licik dan cakap. Nak Subaru telah mendapatkan teman yang luar biasa]

[Ram: …. Jika dia menghalangi, apakah Tuanku mau aku melakukan sesuatu padanya?]

[Roswaal: Tidak perlu. Kalau aku ingin membuat keputusan itu, aku sudah akan melakukannya selama percakapan tadi. Setelah aku melewatkan kesempatan itu, tentu saja itu karena aku sudah kehilangan alasan untuk melakukannya. Lebih penting lagi … bagaimana tugas yang kuberikan padamu?]

Menutup satu mata, Roswaal menatap Ram melalui mata kuningnya. Di lengan dan pelukan tuannya, Ram menggelengkan kepalanya, mendongak dari dadanya,

[Ram: Tanpa masalah apa pun. Aku sudah mengirimkannya sesuai keinginan Anda, Tuan Roswaal]

[Roswaal: Begitu …, bagus sekali. Aku harap waktunya akan sesuai … apa yang akan terjadi sekarang, aku ingin tahu]

Mendengar penegasan Ram, Roswaal mengangguk puas dan menepuk kepala gadis itu dengan telapak tangannya sementara Ram menerimanya dengan ekspresi mabuk dan terpesona.

Untuk sesaat, tatapan Roswaal ke arah gadis yang memujanya dalam pelukannya hampir seperti mengasihani.

[Roswaal: Jangan berpikir buruk tentangku, Nak Subaru. Aku memang berjanji untuk tidak ikut campur secara langsung. Aku berjanji, tapi …. Setidaknya aku diperbolehkan untuk melakukan keisengan da~ri tempat tidurku, kan?]

[Ram: —-]

[Roswaal: Sekarang, apa yang akan terjadi…]

Senyum gembira merekah di bibir Roswaal.

[Roswaal: …Ketika ia mengetahui bahwa gadis yang mencintai kebajikan itu mendengar percakapan yang berbahaya itu … seperti apa wajah Nak Subaru?]

 

 

—Ruangan itu gelap.

Dengan semua lampu padam, ruangan itu telah jatuh ke dalam kegelapan dan akan tetap seperti itu di jalur mimpi dan malam sampai fajar datang di luar jendela.

Pintu yang tertutup memisahkan ruangan itu dari seluruh dunia, menjaga keheningan di dalamnya.

Di sana, di tengah kegelapan, sebuah ranjang ada di sana—di tengah ruangan, dan di atasnya, terbaring seorang gadis dengan mata terpejam.

Ketika keheningan tanpa cela—dirusak oleh sebuah suara.

[???: … …. Pembohong]

Bisikan yang lemah dan kabur.

Keluhan yang sangat samar dari bibir gadis di atas ranjang.

[???: Subaru, kau pembohong]

Mengepalkan tangan kosongnya, sekali lagi, gumaman itu berulang.

Ditinggalkan sendirian di kamar, Emilia mengecam kebohongan pemuda yang tidak ada di sana.

—Kedatangan pagi yang menentukan segalanya tinggal beberapa jam lagi.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded