Re:Zero Arc 4 Chapter 98.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Sukseskanlah “Ridho Ilahi.” Amin

Korektor: Anisha Dayu

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

Ranjang Tanpa Kehangatan, bagian 1

―Setiap kali ia menutup matanya, ingatannya akan kembali hidup, bahkan sekarang.

Putih. Dunia putih.

Bangun, sembari mengembuskan napas yang dengan cepat berubah menjadi uap di udara, Emilia muda mendapati dirinya berada dalam lautan salju.

“Kenapa”, tanya hatinya. Tidak ada jawaban.

Tidak ada ingatan sebelum ini, dan kesadarannya kabur.

Bangun dari tempat tidur, ia berlari untuk melihat pemandangan di luar jendela. Desanya yang familier di tengah-tengah hutan hijau yang rimbun sekarang benar-benar tertutup oleh salju putih yang membeku.

Karena ini adalah pertama kalinya Emilia melihat salju, ia bahkan tidak menyadari bahwa ini adalah fenomena yang disebut “Salju”. Tetapi naluri dingin dan ketakutan yang jelas tetap membakar citra itu ke dalam ingatan mudanya.

Masih tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi, pipi Emilia menegang dan tenggorokannya tercekat saat ia berlari.

Saat ia berlari keluar dari rumah tua yang dibangun di dalam pohon besar berongga itu, tubuhnya dihempaskan angin ketika dingin menusuk solnya seperti pisau dalam kali pertamanya berjumpa dengan es.

Salju menangkap kaki-kakinya saat ia terjerembap jatuh. Dingin langsung mendekapnya, dingin dari butiran salju keperakan. Merasakan butiran-butiran itu di kulitnya—Kengerian merayapi punggung Emilia. Salju itu sangat indah, namun dinginnya mematikan.

Pakaiannya yang sederhana tidak lebih dari balutan kain tipis yang beradu dengan dinginnya salju, tubuh Emilia gemetaran—karena dingin dan rasa takut.

Salju mengusir panas tubuhnya dengan cepat saat kristal putih itu merobek hatinya. Tetapi Emilia, mengerang saat ia menyibakkan salju itu, mulai berlari sekali lagi.

Kepingan salju yang jatuh menari tanpa henti dari langit. Mendongak ketika ia terengah-engah, serpihan salju menempel di belakang tenggorokannya. Ia terbatuk ketika ia berlari, air mata mengalir di sisi pipinya.

Emilia muda tidak menyadari bahwa ia menangis.

Ia takut. Ia takut. Kenapa ia di sini sendirian? Ke mana orang lain pergi? Setiap orang yang baik padanya, yang tersenyum padanya, dan mereka yang menawarinya tempat bernaung, ke mana mereka semua pergi?

Emilia mencoba mengingat wajah mereka, tetapi sesuatu menyumbat pikirannya.

Wajah semua orang dalam benaknya—wajah mereka, senyum mereka, dilukis oleh bayangan hitam seolah-olah bayangan itu hendak merampas semua ingatan tentang mereka dari otaknya.

[Emilia: —–hk]

Menggelengkan kepalanya dengan panik, air mata mengalir di wajahnya saat ia berlari.

Ia tidak boleh berpikir. Jika ia memikirkan mereka, bayangan hitam itu akan melahap mereka. Setiap orang yang berharga baginya akan lenyap dari benaknya.

Tetapi jika ia tidak memikirkan mereka, ia akan sendirian. Dalam dunia putih yang dingin dan tak berujung, sendirian—adalah teror yang tidak bisa ditanggung Emilia muda.

Tidak berdaya dan tidak mengerti apa pun, yang bisa dilakukan Emilia muda di dunia putih tak berujung ini hanyalah berjuang.

Tetapi seolah-olah mengejek perjuangannya yang sia-sia, salju yang jatuh membungkus tubuhnya sampai tubuh mungilnya tenggelam ke dalam jurang keperakan yang tidak terhindarkan.

—Tidak ada seorang pun di sini. Tidak ada siapa-siapa. Sekarang, ia bahkan tidak bisa [――――] semua orang lagi.

[Emilia: —Tidak—!!]

Terperangkap di dunia putih itu, tubuhnya mulai mati rasa dan sulit digerakkan. Emilia terjatuh ke salju—menangis seperti bayi yang baru dilahirkan.

Lututnya merosot ke salju yang lembut, dan meskipun seharusnya ia merasa dingin, ia tidak bisa merasakan apapun. Kulitnya, yang sering disebut “seputih salju”, sekarang terbakar kemerahan dalam dinginnya “Salju”.

Persis seperti itu, berlari dari segala sesuatu, Emilia memeluk kepalanya ketika ia tenggelam ke dalam salju.

Salju yang turun tanpa ampun menumpuk di atas gadis kecil itu ketika tubuh kecil Emilia menghilang ke dalam putih—

[???: ―Emilia!!]

Saat ia memejamkan mata dan kesadarannya mulai hilang dalam tidur abadi, sebuah jeritan membelah keheningan, memanggil namanya.

Berusaha membuka matanya, Emilia bangkit. Dan seketika, tubuh ringannya ditarik dari salju dan jatuh ke dalam sebuah dekapan.

[Emilia: ――――a]

[???: Kau baik-baik saja, Emilia. Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja. Syukurlah… aku menemukanmu…]

Emilia ingin berbicara, tetapi tenggorokannya, membeku karena hawa yang sangat dingin, hanya mengerang. Namun, memahami kondisi Emilia, orang tersebut tetap mendekap Emilia muda di pelukannya, suaranya dipenuhi oleh sukacita atas keselamatan Emilia.

Emilia, hidungnya merah dan terisak, mengusap wajahnya ke rambut perak pendek orang itu, mencoba mengomunikasikan emosinya melalui seluruh tubuhnya. Menyampaikan melalui tindakan itu, seperti cinta tak terbatas yang diarahkan padanya, ia merasakan hal yang sama sebagai balasannya.

Ia bahagia karena telah dipeluk, dan karena dapat berbicara lagi dengan mereka. Di salju putih dan putus asa yang membuat Emilia kecil bertanya-tanya apakah semuanya sudah berakhir, ada kehangatan yang pasti di sini dan sekarang.

Masih memeluk Emilia, menggigil karena kegembiraan dan kedinginan, wanita dengan rambut perak pendek itu memandang sekelilingnya ketika ekspresinya yang lega menegang dan ia mulai berlari.

Dia mendekatkan bibirnya di dekat telinga Emilia, menghembuskan napas putih,

[???: Emilia, kau mendengarku? Aku tahu kau khawatir, dan aku tahu kau tidak mengerti, tapi …… semuanya baik-baik saja. Dengan satu atau lain cara, aku akan membuatnya baik-baik saja. Bahkan jika kita terpisah di sini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian ……]

Emilia tidak memahami kata-kata penuh tekad itu, tetapi, memikirkan bahwa ia akan berpisah dengan siapapun orang yang memeluknya ini membuatnya sangat ketakutan. Jari-jarinya yang kebas mencengkeram kerah wanita itu, matanya berkaca-kaca saat Emilia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Bagi Emilia yang muda dan bodoh, memikat emosi orang lain adalah satu-satunya yang dapat ia pikirkan untuk dilakukan.

Selama ia melakukan ini, Emilia akan dicintai dan dipuja oleh semua orang di sekitarnya. Selalu seperti ini. Jadi apakah itu di sini, atau di sini—

[Emilia: ――――!]

[???: Tidak, itu tidak akan berhasil, Emilia. Bahkan jika caramu itu berhasil sampai sekarang, kau tidak boleh melakukannya lagi. Kau harus menjadi gadis yang kuat, pintar, dan berani. Atau kau tidak akan dapat menerima dirimu sendiri, dan kau pasti akan menemui akhir yang tragis. Dan itu akan membuatku …… saudaraku, dan semua orang, sangat, sangat sedih]

[Emilia: ――――gh]

Emilia mati-matian menggelengkan kepalanya. Namun demikian, wanita itu dengan hati-hati mengabaikan permohonannya. Memberitahukan padanya bahwa ia tidak harus melakukan ini, ia menegur ketergantungan Emilia pada orang lain.

Emilia tidak bisa mempercayainya. Tentu saja itu menyakitkan.

Bahkan ketika ia diberitahu bahwa ia tidak bisa, dengan satu atau lain cara, ia akan selalu berhasil pada akhirnya. Tapi mengapa ia tidak berhasil saat ini?

Mengapa cara itu harus gagal sekarang, ketika ia menghadapi saat yang paling menyakitkan, sulit, dan menakutkan dalam hidupnya? Jika ada cara yang lebih benar untuk melakukan ini, bagaimana mungkin tidak ada yang pernah memberitahunya tentang hal itu? Ia mulai membenci semua orang.

[Emilia: ――――!]

[???: Maaf, Emilia. Maafkan aku. Karena tidak pernah mengajarimu bahkan satu hal penting, karena menyembunyikan segala sesuatu darimu…… karena memanjakanmu seperti putri kecil yang manis, tolong maafkan aku…… maafkan kami ……]

—Aku tidak mau memaafkan. Tidak mau memaafkan. Tidak mau memaafkan. Tidak mau memaafkan Tidak mau memaafkan Tidak mau memaafkan Tidak mau memaafkan.

[???: Semua orang di sekitarmu yang mencintai senyumanmu, dan kebohongan lembut yang mereka katakan … tolong jangan membenci mereka ……]

― Benci mereka. Aku benci mereka. Aku benci mereka. Aku benci mereka. Aku benci mereka. Aku benci mereka. Aku benci mereka. Aku benci mereka. Aku benci mereka.

[Emilia: ――――]

Ia membenci kebohongan. Ia sangat membenci kebohongan. Kebohongan hanya menyebabkan kesedihan. Kebohongan adalah alasan semuanya terbalik. Kebohonganlah yang meninggalkan Emilia sendirian. Jadi, ia membenci kebohongan.

Karena dia membenci kebohongan. Karena dia membenci pembohong. Semua orang seharusnya [――――] saja.

[???: Emilia sayang …… suatu hari nanti, kau akan ……]

[Emilia: ――――!]

Emilia menjerit tanpa kata. Ia tidak ingin mendengar lagi. Tidak peduli apa yang ia dengar, itu tidak akan mengubah apa pun.

Angin ribut dan jeritan Emilia menenggelamkan kata-kata terakhir wanita itu dari dunia ini.

Wanita berambut perak itu memandang sedih pada penolakan Emilia dan rontahan gadis itu dalam pelukannya, tetapi, berusaha mengabaikan emosinya, ia menghadap ke depan sekali lagi—

[???: ――Ah]

―Dan di sanalah, akhir yang sebenarnya datang.

Wanita yang berlari dengan Emilia di lengannya menangkap kehadiran di depannya dan berhenti.

Didorong oleh sentakan samar, Emilia melihat ke atas, dan di bagian atas penglihatannya―ia melihat wajah wanita yang menggendongnya, terlihat lebih tegang daripada yang pernah dilihat Emilia.

Dalam ekspresinya ada kejutan dan kesedihan, kemarahan dan kesedihan, jijik dan takjub―dan bahkan sedikit kelegaan.

Angin dingin bertiup lebih kencang, menampar pipi Emilia dengan keras.

Dalam badai salju yang begitu kuat sehingga bahkan membuka matanya pun sulit, diliputi teror, Emilia memegang telinganya yang nyaris beku dan menjerit.

Dan–

Dan–

――――――――

――――――――――――――――――

 

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded