Re:Zero Arc 4 Chapter 99.1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: Herasel

Editor: Sukseskanlah “Ridho Ilahi.” Amin

Korektor: Anisha Dayu

Sendirian di Tempat yang Sempit, bagian 1

—Dua karakter utama telah menghilang.

Tentu saja, menghadapi situasi yang tidak pernah terjadi selama perulangan kehidupannya selama ini, rasa panik membakar Subaru.

Berlari melintasi Sanctuary, Subaru menuju ke kediaman Lewes—kabin kecil di ujung desa yang ia tempati semenjak ia meminjamkan rumahnya kepada Emilia.

[Garfiel: …. Lihat siapa yang memutuskan ‘tuk datang!]

Ketika Subaru membuka pintu dan bergegas untuk masuk, Subaru mendapati Garfiel sangat gelisah—menunggunya, dia berdiri di sana dengan meta melotot, tangan bersedekap, hidung berkerut, dan ekspresi kekesalan tampak jelas di wajahnya.

[Garfiel: Kau lama sekali! Berapa lama lagi kau ingin membuatku menunggu?!]

[Subaru: Yah, aku berlari kesini secepat yang ku bisa…. Tapi ,… lupakan itu, apa-apaan semua ini? Lewes menghilang?]

[Garfiel: Kau buta ya?!]

Garfiel menyentakkan dagunya, memberi tanda ke ruangan kecil itu. Jika dicermati ruangan ini cukup luas, walaupun sebenarnya kabin sementara Lewes hanyalah gubuk sederhana tanpa satupun perabot kecuali sebuah ranjang.

Jika Lewes tidak berada di ranjang itu, maka ia tidak ada di rumah ini.

Berusaha mengatur napasnya, Subaru dengan kasar menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju.

[Subaru: Jelas sekali dia tak ada di sini, tunggu dulu? … …, tidakkah berlebihan untuk menganggapnya hilang…? Lewes memang tidak terlihat sesuai usianya, tapi dia sebenarnya sudah dewasa dan tua. Mungkin saja dia hanya berjalan-jalan sedikit untuk berolahraga, atau sesuatu … tidak. Tidak perlu berprasangka…]

[Garfiel: –Diam! Kau tahu apa? Nenek enggak akan pernah ,… enggak muncul sarapan tanpa alasan yang bagus. Aku juga enggak pernah lihat nenek sakit atau ketiduran, dan kau bilang nenek pergi jalan-jalan? Kau mau aku makan?!]

[Subaru: Cara yang kasar untuk mengatakannya—tapi… … hidup dengan Lewes terdengar cukup nyaman, ya….]

Bahkan dengan keadaan sekarang, sebab asal menghilangnya Lewes sebenarnya agak tidak masuk akal. Subaru menjadi lesu setelah mengatakannya, tetapi Garfiel tampaknya tidak memedulikan kerisauan Subaru. Ia malah memamerkan taringnya saat berjalan ke arah Subaru—yang pada akhirnya menegakkan punggungnya.

[Garfiel: Enggak pernah terjadi sebelumnya, tapi terjadi “pagi ini,” kalau ada hal aneh terjadi di sini, itu pasti karena semua orang-orang seperti kalian terlibat, bahkan orang tolol tahu itu.—Brengsek! Kau lakukan sesuatu pada nenek, kan?!]

Meskipun Garfiel tampaknya memiliki bakat luar biasa untuk membuat tuduhan yang tidak berdasar, kali ini, kecurigaannya tepat sasaran.

Hilangnya Lewes yang saat ini adalah Lewes Theta, hampir pasti karena tindakan yang dilakukan oleh Subaru. Meskipun demikian, sulit membayangkan bahwa seseorang akan menculiknya, dan Emilia secara bersamaan pergi dengan kemauannya sendiri tanpa mengatakan apa pun kepada Garfiel. Barrier di Sacntuary tidak mengizinkan Lewes Theta untuk keluar, jadi kemungkinan besar dia tidak bisa melarikan diri ke luar. Dengan kata lain, dia dengan sengaja berniat untuk bersembunyi.—Dan batas waktu untuk menemukannya lebih mendesak daripada Emilia.

[Subaru: Jika aku tak menemukan Theta secepatnya pada akhir hari ini.…]

Jadwal rotasi akan menukarnya dengan Lewes besok hari—Alpha, Beta atau Sigma akan menggantikannya. Jika itu terjadi, Subaru tidak akan memiliki kesempatan lain untuk berbicara dengan Theta dalam batas dua hari, dan jalan mulusnya untuk menyelesaikan rute Sanctuary akan berantakan.

[Garfiel: They…ta?]

Mendengar Subaru memanggil Lewes dengan sebutan itu, wajah Garfiel dipenuhi dengan ekspresi penuh tanda tanya.

Subaru hendak meminta bantuan Garfiel dalam menemukan Theta, tetapi dia memutuskan menyerah pada gagasannya saat dia melihat ekspresi Garfiel.

Pertanyaan yang muncul di dalam diri Subaru membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.

[Subaru: —-]

Pertanyaan itu sederhana, tetapi dia belum pernah memastikannya.

―Apakah Garfiel benar-benar tahu tentang empat kepribadian perwakilan Lewes?

Garfiel tentu tahu tentang Lewes Meyer di dalam kristal di lahan eksperimen yang ditinggalkan jauh di dalam hutan. Dia telah menantang ujian, bertemu Echidona, dan memenuhi syarat sebagai Perwakilan Keserakahan. Tentu saja, memegang Otoritas Komando atas replika, Garfiel menyadari keberadaan tiruan Lewes yang tampak identik.

Bagaimana dengan yang lainnya? Apakah Garfiel tahu tentang empat kepribadian Lewes, Alpha, Beta, Sigma dan Theta?

[Garfiel: Apa-apaan kau?! Berhenti bicara begitu aja. Kalau dapat petunjuk, bilang sekarang, pernahkah kau mendengar ungkapan ini: “Lib-Lib yang terus terang dan jujur akan senang-senang walau dia ditipu”, kata mereka]

[Subaru: Kedengarannya Lib-Lib akan terus-terusan ditipu, kalau begitu…]

Membayangkan kisah bahagia dari seorang pangeran yang entah siapa, Subaru tidak yakin bagaimana ia harus menjawab Garfiel.

Konfrontasinya dengan Garfiel seharusnya menjadi alat perintang terakhir yang dibuat khusus untuk menghambat kemajuan musuh demi menyelesaikan rute Sanctuary dengan mulus. Jujur, Subaru hampir tidak cukup siap untuk menghadapinya tanpa mendengar apa yang dikatakan Theta. Namun, jawaban apa pun yang Subaru berikan di sini dapat secara tidak sengaja mempengaruhi hasilnya.

—Hanya saja, bagaimana ia harus meresponsnya? Setelah mempertimbangkan di dalam kepalanya, Subaru menjawabnya,

[Subaru: …Hey, Garfiel. Tidak bisakah kau summon* saja Lewes semaumu?]

(*Summon: Memanggil/menggunakan Otoritas Komando/Perwakilan Keserakahan memegang Otoritas Komando atas replika/tiruan Lewes)

[Garfiel: —-gh!!]

Sesaat kemudian, Subaru melihat ekspresi Garfiel berubah secara kasar ketika dia menerjang maju, meskipun begitu, sorot mata Garfiel terlihat ragu-ragu ketika meraih kerah Subaru.

Pada jarak yang sangat dekat sehingga dahi mereka hampir bersentuhan, mata hijau alami Garfiel mendidih dengan api-api kemarahan yang begitu kuat sehingga seolah dia dapat membakar siapa pun begitu saja hanya dengan tatapan itu.

[Garfiel: Kau bilang apa barusan…. Demi Milfram, aku enggak ngerti sama sekali apa yang barusan kau katakan!]

[Subaru: A-aku tak tahu siapa itu Milfram, tapi ,… ini jelas bukan sikap seseorang yang tak mengerti apa pun, bukan? Jadi cepat lepaskan tanganmu dari kerahku–bodoh!]

Mungkin tindakan Garfiel barusan adalah cara untuk menenangkan diri sendiri. Kata-kata Garfiel ketika dia mencoba untuk menutupinya terdengar seperti omong kosong.

Pengamatan Subaru yang tepat sasaran membuat cengkeraman Garfiel mengendur, dan menggunakan kesempatan ini untuk membebaskan diri. Membetulkan pakaiannya yang kusut, Subaru mengambil langkah mundur untuk membuat jarak di antara mereka.

[Subaru: Itulah maksudku. Aku tahu kau tak sebodoh itu untuk dapat mengerti. Kau bisa melakukannya. Kau punya cara tercepat dan termudah untuk melakukannya. Kenapa kau tak menggunakannya?!]

[Garfiel: Kau bilang itu mudah… tch!]

Pipi Garfiel mengerut jijik ketika ia menatap Subaru dengan kebencian meluap-luap.

Akan tetapi, dibalik kemarahan dan permusuhan yang terpancar di kedua mata itu, Subaru jelas bisa melihat bayangan kesedihan yang tercampur di dalamnya.

Melihat hal itu, ekspresi Subaru melunak, tetapi Garfiel, berdecak dan memalingkan wajah–menyadari bahwa kesedihan dibalik emosinya telah terlihat.

[Garfiel: Inilah kenapa aku enggak bisa santai di depan brengsek pemegang kualifikasi sepertimu. Aku enggak tahu penyihir sialan itu lakukan apa pada otakmu. Tapi, jangan macam-macam denganku. Jangan macam-macam!]

[Subaru: —-]

[Garfiel: Jadi kau tahu soal lahan eksperimen nenek? Jadi kau pasti tahu nenek yang asli di dalam batu… bukan sesuatu yang bisa kau pakai sesuka hati]

Garfiel mencengkeram dadanya sendiri, seolah-olah ia berusaha menyembunyikannya dari Subaru. Meskipun secara fisik tidak terlihat, Subaru menebak ia pasti sedang menunjukkan otoritas komando tak kasat mata yang ia miliki.

Dengan tangan masih di dadanya,

[Garfiel: Aku bukan seperti kau dan Roswaal. Aku enggak akan memakai sesuatu cuma karena itu bisa kupakai… aku enggak akan pikir seperti itu]

 [Subaru: ….Garfiel]

[Garfiel: Aku saja cukup. Selama aku ada, enggak butuh lainnya. Aku enggak akan pakai kekuatan ini … kecuali keadaannya sangat, sangat …. Sangat terdesak.—Nenek, dia … dia ,… nenekku]

Kalimat terakhir itu berubah menjadi bisikan.

Subaru pernah mendengar ia memanggilnya “Nenek” sekali sebelumnya. Tapi kali ini, panggilan itu lebih lembut daripada kapan pun.

Tanpa niat di baliknya, apa yang menyelinap keluar pastilah pikiran sejati Garfiel.

[Garfiel: —tch!]

Menyadari perasaannya meluap keluar, Garfiel menendang lantai dengan frustrasi. Kekuatan besar itu membuat seluruh gubuk berguncang, membuat debu-debu beterbangan di atas kepala Subaru sementara dia menunggu tindakan Garfiel selanjutnya.

Menyadari bahwa dia adalah satu-satunya di sini yang sedang marah, ekspresi Garfiel semakin tidak nyaman ketika dia mendorong Subaru dari jalannya.

[Garfiel: Minggir. Aku enggak mau ngomong denganmu lagi. Kalau kau enggak bilang padaku di mana nenek, aku cari sendiri saja. Saat kutemukan nenek, aku enggak akan mengizinkanmu menyentuhnya lagi!]

[Subaru: Kenapa begitu? kenapa itu terdengar seolah-olah semuanya salahku?]

[Garfiel: Sebelum kau … sebelum kalian para brengsek datang, semuanya damai dan enggak ada yang terjadi di sini. Aku ingin mengembalikan ke masa-masa itu. Aku enggak butuh apa-apa, di sini, dan di luar sana… aku enggak butuh!]

Dengan kata-kata penuh emosi itu, Garfiel berderap keluar dari kabin kecil. Menekuk lututnya begitu dia keluar dari pintu, dia melompat keluar dengan kekuatan kaki yang di dalamnya mengalir darah setengah binatang–dan meskipun jalannya lurus, dia menghilang dari pandangan hanya dalam hitungan detik.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded