Re:Zero Arc 4 Interlude 2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Penerjemah: Herasel

Editor: Ridho Ilahi

Korektor: Anisha Dayu

Setelah Para Tamu Pergi

[Sekhmet: Apakah benar-benar baik-baik saja, haa…. Membiarkan mereka pergi seperti itu … huu…?]

[Echidona: Aku tidak bisa bilang kalau aku baik-baik saja dengan cara dia pergi sambil memegang tangan makhluk itu, namun, aku  ingin tetap menghargai keputusannya, pilihannya. Aku menghargainya.]

Mengangkat bahunya, Echidona menanggapi suara lesu Sekhmet.

Seperti biasa, mereka berada di dalam Benteng Mimpi dengan padang rumput dan langit biru yang tidak berubah. Angin dingin berembus, membelai rambut para penyihir dengan lembut.

—Setelah dunia yang sebelumnya pecah menelan Subaru dan Satella, melepaskan mereka dari mimpi, dunia terbentuk kembali.

Tentu saja. Ruangan yang tak dapat dihancurkan ini ditenun langsung dari jiwa Echidona, karenanya, ruangan itu akan tetap kekal bersamaan dengan kehadiran Echidona. Apa yang baru saja terjadi tidak lebih dari sebuah kemewahan cuma-cuma untuk mengiringi kepergian para tamu.

[Echidona: Tetap saja, ketika seseorang melepaskan skill seperti itu, energimu mau tak mau akan terkuras, kau tahu, kan? Aku akan sangat menghargai kalau kau mau menahan diri dari penyembuhanmu yang di luar kemampuanku sekarang]

[Minerva: Aku mengikuti keyakinanku, kalau aku lihat luka, aku akan menyembuhkannya. Baik itu manusia, penyihir, hewan, burung, ikan, serangga, atau monster, tidak ada bedanya, luka pada makhluk hidup adalah musuhku!]

[Echidona: Ya, tapi tidak seperti di dunia nyata, apa pun yang kau lakukan di sini adalah beban untukku. Ketika kau masih hidup, dunialah yang akan menanggung beban itu, tapi sekarang semuanya jadi tanggung jawabku. Coba bayangkan betapa sulitnya bagiku untuk menanggungnya sendirian?]

[Minerva: Beban atau apa pun itu, aku tidak bisa tidak peduli dengan apa yang tidak bisa aku lihat. Kalau tindakanku menyembuhkan luka memperpendek umur dunia dan sejenisnya, itu bukan urusanku]

Minerva menyilangkan lengannya, menopang payudaranya yang besar, sementara dua penyihir lainnya dengan masam tersenyum.

Sekilas, The Witch of Warth Minerva mungkin tampak seperti penyihir dosa yang paling ramah atau paling tidak, penyihir yang paling tidak berbahaya.

Faktanya, ia selalu menyembuhkan orang sepanjang hidupnya, dan jumlah nyawa yang dia selamatkan semasa hidupnya pasti telah melampaui puluhan ribu.

—Bagaimanapun, penyembuhan Minerva yang terlihat tidak berbahaya secara tak langsung menyebabkan kerusakan yang setara bagi dunia.

Setiap pukulan, tendangan, dan gigitan Minerva mengandung energi yang bersifat destruksi. Di tangan Minerva energi itu akan berubah menjadi penyembuhan. Ini merupakan prosedur sistematis dari Otoritas Wrath, tidak ada orang selain Minerva yang bisa melakukannya. Bahkan Echidona, yang bisa memahami konstruksinya, tidak bisa meniru itu.

Tinju Minerva dapat menyembuhkan siapa pun tanpa terkecuali, bahkan ketika makhluk itu berada di ambang kematian.—Namun, untuk berpikir bahwa otoritas itu sangat kuat akan menjadi sebuah kesalahan.

Kekuatan penyembuhan pukulannya adalah hasil dari suatu prosedur sistematis yang memutarbalikkan sebab dan akibat secara paksa serta mengeluarkan jumlah mana (Mp/mana points) yang luar biasa besar untuk dapat diaktifkan.

Mana yang dibutuhkan jauh melebihi kapasitas manusia, dan, bahkan untuk penyihir, Minerva tidak mungkin bisa mengelolanya sendiri.

Lalu, dari mana ia mendapatkan mana yang cukup?

Jawabannya sederhana; mana itu didapat dari inti dunia.

Biasanya, ketika manusia menggunakan sihir, mereka menarik mana dari atmosfer melalui gerbang diri mereka masing-masing, mengubahnya menjadi energi sihir, lalu melepasnya sekali lagi sebagai mantra.

Dalam kasus Minerva, gerbangnya  tidak terhubung ke atmosfer, tetapi langsung ke inti dunia. Sulit untuk menjelaskan apa itu inti dunia, singkatnya itu adalah kumpulan mana yang sangat besar—orang bahkan mungkin mengatakan bahwa dari situlah mana tercipta.

Minerva menarik mana tepat dari tempat itu, dan mengubah serangan menjadi kekuatan penyembuhan.

Dengan berulang kali melakukan itu, mana yang harusnya dikirim ke suatu tempat di dunia tidak akan pernah sampai, dan dengan mengeringnya mana pada titik itu, yang bertanggung jawab untuk mempertahankan struktur dasar dunia adalah alam itu sendiri, yang pada akhirnya melahirkan bencana alam.

Minerva mungkin telah menyembuhkan puluhan ribu orang dengan pukulannya—dalam kejadian bencana alam yang secara tidak langsung disebabkan oleh tindakannya, sama seperti banyak orang akan kehilangan nyawa mereka.

Oleh karena itu, The Witch of Warth Minerva menjadi salah satu yang paling berbahaya di antara ketujuh penyihir yang menyandang julukan Dosa-Dosa Besar, sehingga ia dianggap musuh oleh setiap negara.

[Minerva: Aku hanya bisa menyerap mana apa pun yang kau punya, Echidona. Aku hampir tidak dapat menyembuhkan apa pun bahkan kalau aku menghisap manamu sampai habis, sungguh mengecewakan]

[Echidona: Seharusnya tidak ada yang terluka di sini sejak awal. Semuanya jadi di luar kendali karena keributan yang terjadi barusan]

[Minerva: Benar … ya. Yang tadi itu cukup gaduh juga, meski sesaat]

Kata-kata Echidona entah bagaimana agak menyurutkan amarah pada intonasi suara Minerva. Wajahnya yang menggemaskan tampak suram saat sang penyihir berambut pirang memandang ke langit,

[Minerva: Kau pikir dia akan baik-baik saja? Aku sangat khawatir]

[Echidona: Tenang saja. Dia telah menolak tawaranku, bocah itu akan berjuang dengan semua yang ia miliki untuk memastikan keberhasilannya. Meskipun sepertinya dia belum punya jawaban atas pertanyaannya]

[Minerva: Apa-apaan ungkapan itu? Kau sendiri yang menggodanya untuk menolak tawaran itu, dan sekarang kau pura-pura tidak melakukannya ketika kita semua tahu isi kepalamu? Apa gunanya!?]

[Echidona: Bukannya aku sengaja membuatnya menolakku.—Lagi pula aku senang dengan apapun pilihannya]

Menjawab keberatan Minerva, Echidona duduk menghadap meja yang muncul secara ajaib. Ia menjentikkan jari, menciptakan secangkir teh, dan menghirup aroma berasap itu.

[Echidona: Aku menyetujui pilihan apa pun yang dia buat. Dan aku tidak melihat adanya masalah apa pun akibat dari pilihan itu. Fakta bahwa dia memilihnya, atau fakta bahwa dia tidak memilihnya; itulah bagian yang terpenting, terlepas dari baik atau buruk hasilnya, aku cukup bangga dengan kemampuanku untuk merasa senang dengan hasil apa pun yang dia dapat nantinya]

[Daphne: Tapi…. Bukan berarti kau tidak berpihak kepada salah satunya, kan….]

Ketika Echidona meminum tehnya, sebuah peti mati gelap muncul di sampingnya. Daphne, yang telah masuk ke dalam peti mati sekali lagi, tertarik oleh berbagai macam manisan di atas meja.

[Daphine: Kau bilang kau menghormati apapun hasil akhirnya, tapi Dona-dona tidak akan ragu mengarahkan ke hasil yang ia inginkan, bukan …. Mungkin benar kalau kau senang dengan pilihannya, tapi pasti ada salah-satu pilihan yang lebih kau inginkan, bukan begitu…?]

Echidona: Kau hampir tidak memiliki minat pada orang lain, namun, tebakanmu selalu tepat sasaran, ya, kan, Daphine?]

[Daphne: Dibandingkan dengan rasa lapar yang tidak pernan berhenti di pikiranku … aku tidak ingin terjebak pada hal-hal yang tidak penting. Haa-haa, nyam-nyam]

Daphine langsung mengunyah manisan bersamaan dengan piringnya. Melihat itu, Echidona menghela nafas sebelum mengalihkan pandangannya ke penyihir lainnya yang kini bergabung dengan mereka di meja.

Yang satu bosan, di sampingnya terlihat marah, lalu yang lainnya lagi malu-malu—dan yang terakhir menatapnya dengan mata berkilauan.

[Echidona: Kau terlihat marah, Typhon]

[Typhon: Karena Dona tidak jujur….Tidak jujur​​… itu tandanya kau pembohong? Dan pembohong… apakah seorang pendosa? Dona… apakah kamu seorang pendosa….?]

[Echidona: Aku selalu bertindak sesuai dengan apa yang kuinginkan, dan saat ini, atau beberapa saat yang lalu, aku tidak ingat kalau aku ingin berbohong]

Echidona menjawab pertanyaan polos Typhon dengan wajah datar.

Ucapan Echidona yang berputar-putar mungkin terlalu rumit untuk dipahami anak-anak seperti Typhon. Lagi pula, Echidona tahu betul kalau ia menjadikan Typhon musuhnya, semua orang di sini akan berada dalam bahaya yang mengerikan.

Menghukum penjahat dan mengadili pendosa hanyalah sebagian kecil dari otoritas dan kekuatan Typhon.

Namun, melihat Typhon menggembungkan pipinya, setuju pada jawaban hati-hati Echidona, yang menjawab kali ini adalah penyihir yang terkubur di bawah gumpalan rambut.

[Sekhmet: Menyembunyikan niatmu yang sebenarnya saat berbicara,  haa… bukan berarti berbohong…. Enak sekali ya, huu….]

[Camilla: E-Echidona, benar-benar… tidak ada harapan, bukan begitu…?]

[Echidona: Kalian berdua….]

Melihat Echidona cemberut karena terjebak dalam rentetan pertanyaan, para penyihir lainnya tersenyum.

Satu-satunya yang masih merajuk adalah Minerva, memelototinya dengan sudut matanya miring ke atas.

[Sekhmet: Minerva juga, berapa lama kau ingin mempermasalahkannya , haa…. Bukankah kita semua sepakat sebelumnya, huu…? Kau tahu kita akan melakukan itu ketika calon sage datang … haa….]

[Minerva: Ugh, aku tahu, aku tahu. Aku tahu semua orang menyetujuinya. Tapi aku tidak bisa hanya terima begitu saja seperti kalian. Kuharap kalian memahamiku disitu]

[Daphne: Met-Met selalu bertahan dengan Ty-Ty, dia tidak akan mengerti. —Kalian menghabiskan terlalu banyak waktu dalam hidup untuk mengkhawatirkan hal-hal selain makanan—buang-buang waktu sekali….]

Daphne menyela, membuat Minerva dan Sekhmet mendengus tidak senang.

Ada keseimbangan sempurna tertentu pada pesta teh para penyihir, yang seharusnya merupakan kumpulan ego yang disengaja. Mereka saling tidak setuju dalam segala hal, dan tidak jarang mereka berakhir di pertengkaran seperti ini.

Terutama antara Minerva, yang mudah tersinggung oleh siapa pun, dan Sekhmet, yang membenci pertikaian, tidak ada yang dapat mencegahnya. Sering kali, Daphne akan menengahi mereka, secara blak-blakan mengatakan intinya dengan salah satu komentar tidak pekanya. Dan kemungkinan besar, percakapan akan berakhir seperti ini, tanpa kesimpulan nyata yang dibuat.

Minerva marah, Sekhmet memperburuknya, Daphine datang menggoda, Camilla menenangkan Typhon sehingga penyihir kecil itu tidak meledak marah, dan Echidona mengawasi mereka, diam-diam merasa senang—sementara Satella melihat keenamnya dari kejauhan, tersenyum karena mereka semua aman.

Itu adalah hari-hari dari empat ratus tahun yang lalu yang tidak pernah lagi terulang.

Satella kehilangan kewarasannya karena gen penyihirnya, Minerva mati karena gila dalam perangkap, Camilla tewas ditelan lautan api, Daphine kelaparan sampai mati di lautan pasir, Typhon tenggelam dalam sebuah banjir, Sekhmet jatuh dari air terjun besar saat melawan naga, dan Echidona mengumpulkan jiwa mereka bahkan ketika ia sendiri juga tidak memiliki raga.

Semua ini hanyalah tiruan yang tidak sempurna dari hari-hari yang telah hilang selamanya.

[Camilla: Kau terlihat sedih…. Echidona…? Sangat … sedih?]

[Echidona: Haruskah aku terlihat sedih? Aku tidak punya alasan untuk bersedih. Kalian semua di sini bersamaku, dan aku punya kesempatan untuk berinteraksi dengan dunia luar.―Kenapa aku harus sedih?]

[Camilla: Benarkah … kau baik-baik saja? Ka-kami semua hanyalah….Jiwa, jadi, bu-bukan diri kami se-sepenuhnya, kan? Kita se-semua… su-sudah mati. Kita semua… ti-tidak bisa benar-benar bersama de-dengan Echidona la-lagi… kan?]

Kata-kata Camilla yang terbata-bata membuat Echidona terdiam.

—Kekuatan Echidona-lah yang memberikan para penyihir tubuh sementara yang dibentuk dari pikiran mereka setelah mereka mati dan kehilangan tubuh mereka.

Dia telah menyiapkan wadah, dan menempatkan jiwa mereka di dalamnya.

Tetapi jiwa mereka membeku pada saat kematian mereka, tanpa satu perubahan pun setelahnya. Jadi, apakah Camilla yang dilihat Echidona sekarang benar-benar Camilla sendiri?

Membuat berdasarkan reaksi jiwa mereka yang mereka buat dalam kehidupan, dan menggunakannya untuk menghidupkan tubuh ini—apakah mereka semua hanyalah boneka yang Echidona ciptakan berdasarkan keinginannya sendiri?

Kenyataannya, mereka semua berbagi dalam pengetahuan Echidona.

Jadi penjelasan apa yang lebih masuk akal, kecuali fakta bahwa mereka diciptakan oleh Echidona sendiri? Pertanyaan ini berputar di kepala Echidona setiap waktu.

[Echidona: Untuk orang yang terlalu narsis sepertimu, sangat tidak biasa untukmu mengkhawatirkanku, walau aku ini temanmu…. Jangan bilang kepribadian bocah itu yang keras kepala dan lembut telah menular kepadamu?]

[Camilla: Aku, tidak…… tahu, apa pun, tentang, itu …… Echidona …… bodoh]

Menjawab pertanyaan Echidona yang agak mengganggu, Camilla bergumam dengan ekspresi sedih.

Mendengar hal itu, Echidona tidak bisa menahan tawanya.

Melihat Echidona seperti ini, para penyihir lain, yang sedari tadi tidak memperhatikan, semua berbalik untuk menatapnya.

Echidona merentangkan tangannya, menyambut tatapan mereka.

[Echidona: Sekarang, hanya akan ada kita para penyihir di pesta teh untuk sementara waktu. Dengan menyesal aku berpikir, dia—Natsuki Subaru mungkin tidak akan menginjakkan kaki lagi di sini]

[Minerva: Dan kau tidak apa-apa dengan itu? Bukannya aku khawatir kau akan merasa kesepian atau apa, tetapi biasanya kau tidak mengatakan apapun pada akhirnya? Kau selalu bersikeras untuk mendapatkan kompensasi atau apalah itu]

[Echidona: Kompensasi …… ah, benar. Akankah kalian tertawa kalau aku memberitahu kalian bahwa itu adalah hadiah perpisahanku padanya karena mempertimbangkan kesengsaraannya yang tidak terduga?]

Sementara Echidona memegang dagunya dan merenung, para penyihir lainnya saling memandang.

Kemudian, mengangguk satu sama lain, mereka semua menjawab sekaligus,

[—Tentu saja tidak!]

[Echidona: Ya ampun, aku tidak pernah tahu kalian begitu memikirkanku.…]

[Minerva: Tidak, itu karena tidak mungkin kau membantu seseorang tanpa menerima imbalan apa pun]

Minerva kembali bersedekap, sementara penyihir lainnya mengangguk setuju.

Echidona memejamkan matanya menanggapi pendapat frontal mereka, ia lalu berdeham.

[Echidona: Kupikir kita kita masih memiliki banyak hal untuk dibicarakan. Tapi sungguh, apakah itu yang benar-benar kalian pikirkan tentangku?]

[—-]

[Echidona: Yah, tapi…]

Di hadapan para penyihir yang tidak bersuara, Echidona menghabiskan sisa cairan di cangkirnya, dan kemudian, menjilat bibirnya dengan lidahnya,

[Echidona:—Paling tidak, pendapat itu tidak salah]

 

***

 

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded