Sayonara Ryuusei Konnichiwa Jinsei Volume 1 – Chapter 2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

  • Translator : Eliane Grandys
  • Editor : Scraba

Waktu telah berlalu sejak diriku mati sebagai Naga dan dilahirkan kembali menjadi Manusia. Aku berdiri di lapangan terbuka, sungguh pemandangan dunia seperti biasanya. Hembusan angin dingin berhembus ke wajahku. Masih terasa aroma musim dingin sebelumnya, sebagaimana mestinya, sekarang sudah waktunya musim semi. Kakiku menggigil kedinginan selagi diriku berdiri di lapangan ini. Yang terisi dengan kehijauan, tanda kesegaran. Aroma bunga yang samar redup juga ikut terbawa angin.

Sekarang, apa yang tergantung di tanganku adalah keranjang anyaman. Di dalamnya terdapat beberapa ramuan herbal.

(Dran bergumam) Fumu. Panen hari ini cukup memuaskan kataku pada diriku sendiri.

Sebagai kebiasaan sembari mengingat salah satu kalimat favorit ras para Naga, aku mengisi diriku dengan kebanggaan dan kepuasan. Sambil melakukannya, aku mendengar suara yang memanggilku dari belakang.

(Airi) “Mas Dran, ayo kita kembali”

(Dran) “Ah, baiklah. Sepertinya memang sudah saatnya, dan juga hari sudah mulai senja.”

Saatku berpaling, sesosok gadis dengan rambut merah yang panjang, terkibar, dan bergelombang di belakang punggungnya tercermin dalam bola mataku. Dia mengenakan kemeja kain berjumbai dan rok panjang, selain itu, di punggungnya, dia membawa keranjang seperti yang kubawa. Penampilan seperti ini wajar bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil, dan mereka yang tinggal di daerah perbatasan desa. Bagaimanapun juga, dia memiliki senyuman manis yang cerah seperti matahari, dan bintik-bintik di sekitar pipinya semakin memancarkan pesonanya. Namanya Airi. Airi yang senang bermain, di dataran berumput, adalah empat anak manusia. (ini adalah pengucapan nama kanji di jepang sepertinya)

Aku dan Airi adalah bagian dari sebuah desa kecil bernama Bern yang terletak di ujung benua. Mereka bukan hanya anak kecil yang sedang bermain. Mereka adalah anak-anak manusia, orang. Penyebab aku hidup kembali sebagai manusia pasti adalah perbuatan Tiga Dewi yang mengatur Nasib. Aku, yang merupakan Naga terkuat yang pernah ada, yang memiliki kekuatan tak tertandingi, yang terkuat, termasuk ras terkuat, dilahirkan sebagai manusia. Ketika diriku terbunuh di tangan Pahlawan, dengan menggunakan beberapa teknik terlarang, jiwa dan ingatanku, dilahirkan kembali ke dalam tubuh baru yang juga menekan kekuatanku. Itu tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya, aku juga tidak tau siapa yang menginginkanku untuk bereinkarnasi. Yang pastinya, aku telah menerima kenyataan bahwa inilah yang terjadi dan inilah hidupku sekarang.

Semua teori yang terpikir olehku, sejak aku masih bayi, hanyalah dugaan belaka. Aku masih tidak mempunyai bukti yang cukup kuat mengapa diriku terlahir kembali sebagai manusia. Kemungkinan saat diriku mati sebagai naga, seseorang menggunakan semacam mantra sihir kepadaku. Aku meyakini hal itu, karena tubuh fisikku tidak tersisa sedikitpun. Para pahlawan atau mereka yang ingin untuk menaklukanku pasti sudah mengetahui hal ini, tetapi mereka hanya melemahkan jiwaku melalui reinkarnasi.

Jadi, alih-alih pergi ke Sea of Souls, jiwaku akan dipaksa untuk berulang kali mencoba untuk berpindah, dan menjadi lemah seiring dangan hilangnya ingatanku dan kekuatan naga milikku. Ketika mencapai peringkat tertinggi dalam suatu kekuatan spiritual, bahkan, jika tubuh mereka terpecah belah, ingatannya akan terekam kedalam jiwa mereka. Dengan hal itu, orang dapat membangun atau menciptakan kembali tubuh mereka dari awal. Bagiku, tubuh hanyalah sebuah wadah, dan selama jiwaku aman, aku dapat menciptakan dan menyembuhkan tubuhku kapanpun aku mau. Ketika pahlawan menusukku dengan pedang pembunuh naga, yang kuinginkan hanyalah kematian, dan saat itu, kejadian itu terjadi kepadaku. Apa yang terjadi selanjutnya hanyalah sebuah pengecualian.

Mereka yang menginginkanku mati, hanyalah orang-orang yang takut akan kebangkitanku, sebelum itu terjadi mereka melakukan sesuatu kepadaku dan memaksa jiwaku untuk merasakan sihir khusus yang mereka buat yang entah bagaimana dapat mengganggu proses reinkarnasi pada saat aku mati. Faktanya, tidak lama setelah aku terlahir sebagai manusia, aku menyadari bahwa jiwaku melemah drastis. Itu membuatku benar-benar kagum. Baik kualitas maupun kuantitas kekuatan magic yang dihasilkan oleh jiwaku sangat berbeda dari waktu sebelum diriku bereinkarnasi.

Produksi kekuatan magicku saat ini sangatlah berbeda dibandingkan saat sebelumnya. Dulu rasanya seperti air hujan yang turun dan sekarang mirip seperti kabut pagi yang berubah menjadi teteasn air yang menetes dari dedaunan, menetes sedikit demi sedikit. meskipun begitu, volume magic yang dihasilkan oleh jiwa nagaku sangat jauh, jauh, melampaui akal sehat manusia. Untungnya, aku belum lupa bagaimana cara mengendalikan jumlah magic tersebut sehingga aku tidak akan mati dalam waktu dekat, ataupun melihat orang yang sekarat, dan orang yang terbaring lemas karena kekuatanku yang tak terkendali. Selain itu, tubuh manusia sama seperti “wadah” lainnya, dengan magic yang cukup, seseorang dapat menyembuhkan luka sekaligus menyimpan sejumlah magic. Aku memilih untuk menekan kekuatanku dan hanya berpura-pura menjadi manusia pada umumnya, berhati-hati untuk tidak menyalahgunakan kekuatanku, dan tetap berada dalam jarak aman dan tidak terlalu mencolok bagi manusia lain.

Ketika aku mengikuti Airi kembali pulang ke desa, sembari berjalan anak-anak sedang bermain riang di depannya. Desa ini dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari batu. Dengan populasi penduduk sekitar 300, itu hanyalah sebuah desa kecil di ujung benua. Karena letaknya yang berada di ujung benua, desa ini sering diserang oleh Demon dan penjahat, sehingga dinding berfungsi sebagai pertahanan garis depan. Ada dua cara untuk memasuki desa melalui jalan biasa. Yaitu melalui gerbang utara dan gerbang selatan. Tiap gerbang memiliki dua pintu kayu besar yang diperkuat dengan besi. Disana selalu ditempatkan dua prajurit untuk berjaga di setiap gerbang. Satunya dilengkapi dengan tombak dan pedang, dan satunya lagi dilengkapi busur dan panah.

Di sekitar desa, hal yang biasa melihat Goblin dengan tinggi seperti anak kecil, Kobold dengan kepala seperti anjing, dan Lizardmen bersenjata yang memiliki penampilan luar seperti kadal dan berjalan dengan dua kaki. Meskipun dua ras pertama memiliki kekuatan yang lebih rendah dari manusia, akan tetapi mereka memiliki tingkat reproduksi yang sangat tinggi serta pertumbuhan yang cepat, mereka dapat meningkatkan jumlahnya dengan kecepatan yang menakjubkan. Di antara mereka, ada juga yang dapat mengendalikan roh, yaitu para Shaman. Mereka tidak dapat dianggap remeh. Lizardmen di sisi lain, memiliki tingkat kelahiran yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan dua ras kaumnya tetapi kemampuan tempur individual mereka jauh lebih tinggi. Para penduduk di desaku berlatih dengan tingkatan tertentu, dan semua orang memiliki waktu yang sangat panjang untuk memenangkan duel satu lawan satu. Apalagi ketika melawan petugas komando dari suku Lizard. Itu adalah pertandingan yang sangat, sangat berat. Bahkan prajurit ahli atau seorang kesatria terlatih yang memegang tombak harus siap untuk kelelahan.


Ketika diriku masih menjadi naga, sangat sulit untukku mempertimbangkan pentingnya karakteristik dari ketiga ras ini, namun ketika menghabiskan waktu sebagai manusia, aku telah mempertimbangkan kembali cara berpikirku. Untungnya, hubungan antara manusia dan Lizard, serta ras lain sangat akur. Orang-orang desa Bern membantu ras Lizard ketika dibutuhkan dan begitu juga sebaliknya, dengan demikian, kedua ras mampu membentuk hubungan yang baik. Ini bukanlah pemandangan umum yang sering kau lihat dimana-mana  bahwa manusia dan ras Lizard memiliki hubungan yang baik.

Dalam perjalanan pulang, aku mengobrol santai dengan yang lain tentang hari itu, meskipun beberapa kejadian lucu yang mereka ceritakan sangat tidak masuk akal bagiku. Di sisi lain, anak-anak masih berlarian di depan kami. Anak-anak manusia sangatlah aktif. Dengan semangat seperti itu, benua ini pasti akan makmur. Tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bayi Naga yang baru menetas dari telurnya, sangat membosankan.

Setelah kami memasuki desa dan sampai di persimpangan pertama, aku berpisah dengan anak-anak. Aku kembali ke rumah unik yang kubangun. Dindingnya terbuat dari pohon dengan lumpur sebagai isiannya. Atapyna terbuat dari jerami yang dicampur rumput.

Di negara ini dan di desa, seseorang akan dianggap dewasa pada usia lima belas tahun. Dalam sebuah keluarga dengan seorang anak laki-laki sebagai putra tertuanya, pada usia lima belas tahun, anak itu akan mulai bekerja di ladang yang akan disediakan oleh orang tua atau desa. Setelah satu tahun, daripada menumpang di rumah orang tuanya, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk membangun rumah sendiri, dan menjadi mandiri sepenuhnya.

Tahun ini aku akan berusia enam belas tahun. Sudah cukup lama ketika aku meninggalkan orang tuaku, dan aku menikmati kehidupan mandiriku. Aku berjalan keluar dari rumahku, aku memutuskan untuk membalas kunjungan orang tuaku karena panen hari ini sangat bagus, dan aku mempunyai waktu luang. Hanyalah perjalanan singkat ke rumah mereka, karena aku membangun rumahku masih di area yang sama. Membuka dan menutup kembali pintu kayu dengan suara decitnya, akupun memasuki rumah.

(Dran) “Hai Bu! Panen hari ini sangt melimpah, aku akan pergi ke toko dan menukarnya dengan beberapa herbal dan roti, tapi sepertinya aku mempunyai lebih.”

Aku mengatakan tujuanku datang dan meyerahkan herbal ke ibuku.

(Aracena) “Kau sudah pulang! Kualitas herbal ini sangat tinggi. Dengan ini aku bisa membuat obat yang bagus.”

(Dran) “Ini berjalan dengan baik, seperti yang ku perkirakan.”

Aracena, ibuku menyapaku saat aku memasuki rumah. Ibuku adalah satu-satunya yang berada di rumah, dan sepertinya ayah dan adikku masih bekerja di ladang. Ibuku memiliki rambut keemasan yang diikatnya dengan kuncir. Ia mengenakan celemek pudar bersamaan dengan syal berwarna putih. Di sekitar pinggangnya sedikit kotor. Begitulah penampilan ibu yang kukenal.

Kehidupan di sini sangatlah sulit. Hidup yang dipenuhi dengan masalah, bahaya, kesialan, dan situasi yang tak masuk akal, tetapi jika seseorang dapat menahannya, mereka akan menemukan kebahagian tersendiri. Punggungnya berpaling dariku, ia memutar kepalanya dan menunjukan senyuman cerah padaku. Perempuan di desa ini memiliki tekad yang kuat, dan hati yang kokoh, akan tetapi mereka sangat lembut terhadap keluarga mereka.

Dengan ingatan Nagaku yang masih melekat, aku menyadari bahwa itu sangat menggelikan bagaimana cara ibu memperlakukanku dan adikku sangatlah berbeda. Bagaimanapun, tindakanku tidak sesuai dengan umurku, jadi ia memperlakukanku sebagai orang dewasa lebih awal ketimbang adikku.

Ada banyak hal yang perlu diperhatikan untuk merawat seorang anak, dan orang yang bertanggung jawab atas semua hal itu tidak lain adalah seorang istri. Aku mengetahui bahwa wanita sangatlah terhormat, dan aku sangat menghormati ibuku. Tentu saja, tidak semua manusia layak dihormati. Sesuatu yang tidak mudah adalah saling menghormati, mereka harus mempelajarinya. Orang tuaku memilikinya, tetapi di desa ini, kebanyakan orang memiliki pemikiran yang lemah. Namun, itu tidak berarti mereka tidak berharga, tetapi itu adalah kelemahan dari setiap individu.

Walaupun ada Dewa, dan mereka disembah oleh manusia yang mencari pertolongan. Aku juga memuja mereka, tentu saja hanya untuk sandiwara saja. Aku pernah tertawa pada Dewa dan menghancurkan banyak mimpi. Aku seharusnya juga mencatat di balik tiap-tiap dan semua Dewa ini memiliki wajah buruk yang mereka tidak ingin untuk mengungkapnya kepada siapapun.

Setelah memberikan herbal dan roti lebih kepada ibuku, aku kembali pulang ke rumah.

Makan malamku tidaklah mewah. Aku memasak sayuran dan memakannya dengan roti yang kudapatkan dari toko. Ini adalah makan malamku seperti biasanya, tetapi rasa makanan manusia yang bercampur dengan indera Naga selalu memberiku rasa segar yang tidak pernah gagal menghiburku selama enam belas tahun terakhir dalam hidupku sebagai Manusia.

Dari waktu ke waktu, indera Nagaku mengganggu indera Manusiaku. Contohnya, ketika aku makan, aku selalu menemukan sesuatu yang hilang. Kelihatannya itu karena aku tidak bisa melihat mulutku saat mengunyah dan itu cukup menggangguku. Sudut pandangnya sangatlah berbeda dari Naga. Aku memiliki banyak masalah dengan penglihatanku sejak lahir, tetapi aku sudah terbiasa. Aku penasaran apakah ada Naga lain yang bereinkarnasi di sekitar sini yang memiliki masalah yang sama. Rasa dan indera penciuman dari jiwaku yang terhubung dengan tubuh manusiaku tidak sepenuhnya terhubung dengan baik, aku bertanya-tanya apakah mereka juga begitu? Tetapi karena hal itu, aku dapat mengalami banyak hal yang menarik.

Tidak ada tanda-tanda serangan Demon malam ini, jadi aku mengucapkan terima kasih dalam doaku karena semuanya berjalan lancar hari ini. Aku menghabiskan waktu dan upaya membuat tombak dan panah untuk pertahanan diri dari pohon-pohon yang aku tebang ketika membangun rumahku. Aku menggunakan setiap sumber daya dari pohon, mulai dari cabang hingga ke akar.

Rumahku secara keseluruhan memiliki tiga ruangan, ruang makan, kamar tidur, dan ruang penyimpanan. Ketika aku pergi tidur, aku menyebarkan lapisan jerami tebal di atas lantai dan meletakkan lapisan bulu binatang di atasnya, dan begitulah aku membuat tempat untukku tidur. Hidupku sebenarnya cukup sederhana.

Cuaca di sini sangat kejam. Di musim panas, sangatlah panas, dan di musim dingin, jika tidak berhati-hati, seseorang mungkin akan mati kedinginan. Hukum Alam tidak pernah bercanda. Aku melakukan pencegahan tiap masalah ini terjadi dengan menyiapkan beberapa lapis bulu di musim dingin dan sedikit di musim panas. Meski terkadang, sangat sulit rasanya untuk tidur.

Setelah bekerja selama setahun, aku percaya bahwa suasana di dunia ini sangat indah, dan merasa sedih terhadap apa yang manusia lakukan kepada lingkungan sekitarnya. Terutama kondisi di dalam desa. Ketika aku lahir di dunia ini, ada perasaan hangat dan setiap kali ibuku memandikanku sinar matahari, aku bersenandung dan bernyanyi, atau sejenisnya. Hanya ada segelintir orang yang tahu rahasiaku, bahwa aku suka berjemur.

Saat matahari terbit, dan mewarnai langit dengan warna emas, penduduk desa mulai bangun dan bersiap untuk bekerja. Aku bangun lebih awal dari yang lain dan menghangatkan makanan sisa makan malamku tadi malam. Setelah sarapan, aku pergi ke ladang untuk bekerja lagi.

Sejak bayi, aku selalu tertarik tentang bagaimana orang tuaku mendapatkan pekerjaan di ladang dekat desa di luar kota pada usia muda, karena hanya sebentar untuk pergi ke sana, dan juga lebih mudah. Sebagai kebiasaan, setiap kali aku mempunyai waktu luang saat bekerja, aku akan berkeliling di sekitar lingkungan, dan mengamati orang lain bekerja keras. Mengapa aku dapat memiliki waktu luang, itu karena jiwaku menghasilkan banyak energi Magic, aku terkadang menggunakannya untuk membantuku menyelesaikan pekerjaanku. Ini hanya spekulasiku saja tapi sepertinya jiwa Nagaku juga memperkuat seluruh indera dan kekuatan fisikku.

Aku mencurahkan seluruh banyak waktuku dalam pekerjaan di ladang dan aku bertujuan untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar di bidang pertanian. Tentu saja aku hanya akan menggunakan sedikit sihir dan kekuatan manusia saja. Setiap orang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri, tetapi kebiasaanku tidak mengganggu siapapun karena penduduk desa sudah mengetahuinya.

Aku dapat menghasilkan tanaman yang setara dengan kerja keras 100 orang Manusia dewasa permusim jika aku menggunakan sihir di ladangku. Jadi menunjukannya di depan orang banyak adalah hal yang percuma. Orang yang dapat menggunakan sihir tidaklah jarang di daerah yang lebih padat penduduknya, akan tetapi untuk daerah di sekitar ujung benua, jarang sekali ada orang yang dilahirkan dengan karunia sihir. Untungnya bagiku, ada keluarga penyihir yang menetap di desa. Jadi pada dasarnya, aku mendatangi mereka dan belajar sihir manusia. Tetapi sebagian besar dari sihir mereka sederhana dan aku menjadi cepat bosan.

Jadi, setelah aku menyelesaikan sarapanku, aku pergi bekerja, dan memeras keringat untuk mencari nafkah.

Saat aku berjalan menuju dataran hutan, aku melihat seseorang yang memimpin sekelompok anak-anak. Berbagai pikiran muncul di benakku, tetapi mereka mungkin hanya membantu anak-anak itu berburu. Sembari berpikir begitu, aku melanjutkan perjalananku ke ladang.

Pada hari yang sama, aku memutuskan untuk pergi ke daerah Timur Laut desa, di mana desa suku Lizard berada. Hubungan persahabatan antara suku Lizard dan desa adalah hal lumrah di sekitar sini, dan ketika bencana melanda desa mereka, penduduk desa membantu suku Lizard membangun desa baru di dekat danau di sekitar sini. Semua ini terjadi sekitar sepuluh tahun lalu, Namun, sebelum aku pergi ke desa suku Lizard, aku mengemasi beberapa persedian karena aku akan menghabiskan beberapa waktu di sana, untuk mengetahui apa yang telah terjadi di sana.

Beberapa hari kemudian, ketika semua persiapan selesai, dan aku juga bersiap pergi. Aku melihat saudaraku, Marco, di depan rumahku, dan di belakangnya ada dua wanita yang saling berhadapan. Kedua wanita itu memiliki ekspresi wajah yang lembut, dan rupa mereka sangat mirip dengan ibuku. Suasana di sekitar keduanya tampak sangat berbahaya. Mereka mengeluarkan aura membunuh yang cukup untuk menakut-nakuti satu atau dua Goblin. Itulah alasan mengapa Marco berada di sini, aku memintanya untuk mengurus rumah dan ladangku ketika aku pergi. Ini seharusnya dapat memberinya pengalaman yang cukup untuknya, jadi dia dapat memulai hidupnya sendiri.

(Dran) “Aku akan pergi ke rawa. Aku tidak akan kembali sampai besok setidaknya paling lambat malam. Aku akan menitipkan rumahku dan ladangku untuk kau rawat.”
(Marco) “Baiklah, saudaraku, kau dapat menyerahkannya padaku. Lagipula, kau merawat rumah dan ladangmu dengan sangat baik. Daripada mencemaskan hal itu, kau seharusnya lebih mencemaskan perjalananmu, berhati-hatilah, akan sangat berbahaya di sana.”

Sudah sekitar sepuluh tahun sejak bencana itu terjadi kepada suku Lizard, mungkin ada Demon yang mengintai di sekitar sana.  Manusia tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di sana dan juga dari suku Lizard. Ketika aku mengatakan bahwa aku ingin pergi ke sana dan memeriksanya, orang tua dan saudaraku benar-benar menentangnya. Keributan terjadi tidak seperti yang biasanya. Pada akhirnya, aku dapat meyakinkan mereka, dan hari ini aku akan berangkat.

(Dran) “Jika kau melakukannya dengan baik, aku akan membawakanmu beberapa souvenir dari rawa”

(Marco) “Kembalilah dengan selamat, akan lebih baik jika kembali tanpa luka”

Aku mengucapkan selamat tinggal kepada Marco, lalu pergi. Aku membawa tas kulit besar yang didalamnya sudah kusiapkan air dan persiapan makanan sekitar dua hari. Aku membawa pedang dan belati untuk berjaga-jaga jika ada suatu hal buruk yang terjadi di perjalanan. Meskipun sudah sepuluh tahun sejak bencana terjadi, jalan pemukiman yang lama masih bisa digunakan untuk menuju Northeast. Ada beberapa cerita tentang orang-orang yang melewatinya secara misterius menghilang.

Saat aku pergi lebih jauh ke utara, banyak Goblin dan Kobold bermunculan, tetapi itu bukanlah sesuatu hal yang mengejutkan, mengingat fakta bahwa ini adalah tempat tinggal mereka. Hanya saja, sangat aneh melihat begitu banyak Goblin. Sesekali, aku melihat satu atau dua serigala yang terpisah dari rombongan mereka. Aku tidak segan-segan untuk membunuh mereka jika mereka mencari masalah denganku, tetapi mereka cukup pintar untuk menghindariku. Saat matahari mulai terbenam, aku sudah sampai di tempat tujuanku. Aku mendirikan tenda di dekat lokasi. Jika dipikir lagi aku telah selamat di hari pertama, kekhawatiran Marco sangatlah sia-sia.

Orang-orang suku Lizard menghindari pembicaraan tentang apa yang terjadi pada desa mereka, meskipun mereka tahu bahwa ada sesuatu yang tidak wajar. Namun, di sisi manusia, tidak ada yang tahu pasti apa yang menjadi penyebabnya. Tempat berawa ini adalah tempat di mana suku Lizard pernah tinggal. Namun untuk beberapa alasan mereka meninggalkannya dan tak pernah kembali. Manusia sebenarnya tidak ada urusan untuk datang ke sini. Seharusnya tidak membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyelidiki, setidaknya maksimal hanya setengah hari saja.

Sebelum matahari tenggelam sepenuhnya, aku memutuskan untuk melihat rawa.  Pertumbuhan di sekitar sini berkembang dengan liar. Rumput sangat tinggi dan tanahnya becek. Udara dipenuhi dengan embun, dan ketika embun itu bersentuhan dengan pipiku, itu terasa tidak nyaman. Bukan karena udara di sekitar sini lembab, tetapi memang seperti itulah di sini, tetapi ada sesuatu yang tidak beres.

Berdiri di tepian rawa, ada bau busuk yang datang dari sana. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sekitarnya. Ditengahnya, terlihat desa lama Lizard yang porak-poranda. Terekspos elemen selama puluhan tahun, atap rumah-rumah runtuh dan dinding lumpur menjadi lumpur seutuhnya. Di tanah, diluar dugaan, tergeletak senjata berkarat yang ditinggalkan oleh suku Lizard. Satwa liar hampir sepenuhnya mengambil alih tempat ini.

(Dran) “Hmm . . .”

Aku menghela nafas sambil berdiri di tepi rawa. Aku menemukan jejak sihir beratribut Bumi.
(Dran bergumam) Suku Lizard mungkin membuat rumah mereka menggunakan sihir, jika tidak mereka tidak akan mampu bertahan di lingkungan semacam ini.

Memanfaatkan kekuatan roh dan memanipulasi elemen, suku Lizard cukup terampil. Sebagai seekor Naga aku dapat mengubah elemen-elemen dengan sedikit usaha atau bahkan tanpa usaha sekalipun. Hal yang sama berlaku untuk semua Naga, ini tidak hanya berlaku untuk diriku sendiri.

Fenomena alamiah di dunia ini, dunia Material, sangat dipengaruhi oleh roh-roh dari dunia Roh. Kedua dunia terhubung satu sama lain. Aku tidak tertarik dengan dimensi itu. Pemandangan di depanku sekarang menunjukan efek dari kegiatan roh di dunia ini. Di sekitar sini, atribut elemen air melemah, dan atribut elemen tanah telah menguat. Ini membuat rawa menjadi tidak seimbang dan menyebabkan sekitarnya menjadi becek. Selagi melihat-lihat, aku ingat bahwa ayahku memberitahukan bahwa tempat ini mengalami gempa bumi besar. Mungkinkah itu yang mengubah unsur dasarnya ke tingkatan ini?

Kau hampir tak akan bisa lagi menyebut bahwa ini adalah rawa. Ini lebih seperti medan berlumpur, ya, ini adalah lapangan lumpur. Jika aku menggunakan kekuatanku, lapangan lumpur ini akan menjadi rawa yang berkehidupan lagi. Tetapi apakah orang-orang akan senang untuk kembali lagi ke tempat seperti itu? Sejauh yang ku tahu, gaya hidup suku Lizard saat ini berjalan dengan baik.
(Dran bergumam) Benar juga , sebaiknya  aku harus pergi memancing di tepi sungai di pagi hari? Lalu setelah itu aku bisa mengembalikan tempat ini menjadi seperti sebelumnya.

Yang membuatku bertanya-tanya, bagaimana suku Lizard hidup di sini? Dengan ikan? Mungkin saja, tetapi begitu musim memancing berakhir, mereka harus mendapatkan sumber makanan baru. Aku berpikir, hidup di utara sangatlah sulit.

Meskipun tidak ada Demon yang akan menyerang, aku harus mempertimbangkan peluang dan membuat serangan balik. Makanan dan keamanan, salah satu dari itu dapat dibuang jika seseorang menyerah untuk hidup. Tapi hidup ini menyenangkan, tidak akan mungkin aku akan meninggalkannya di tengah perjalanan.

Aku menyilangkan tanganku dan terus berpikir tentang apa yang harus kulakukan, tapi kemudian aku mendengar suara dari ular besar merayap di sisiku. Itu berhenti tepat sebelum tepi dari lapangan lumpur. Aku melihat ke arah ular yang berhenti di reruntuhan suku Lizard.

(Dran) “Weh?”

Secara spontan aku mengeluarkan rasa takjubku.

Rambutnya lurus, panjang, dan berwarna keemasan yang bahkan lebih indah ketika dipantuli sinar matahari. Posisi matanya, dan hidungnya tidak terlalu sempurna. Jika seseorang melihatnya tidak diragukan lagi mereka akan mengatakan bahwa ini adalah karya seniman yang sangat berbakat. Dengan mata biru yang bersinar seperti Safir. Mengenakan jubah putih dan gaun biru pucat sambil membawa tas yang terselempang di bahu kirinya. Memberikan kesan misterius di wajahnya, dia tampak seperti gadis polos yang berada di ujung masa remajanya. Lidah ularnya terus keluar dan masuk dari bibir merahnya.

Kami saling menatap untuk beberapa saat, wajah gadis itu terlihat dari kejauhan sedang menilaiku. Tubuhnya adalah ular besar. Tubuh ularnya ditutupi dengan sisik hijau. Dari pinggang sampai ke bawah dekat tanah, sehelai baju menutupinya. Tubuh ularnya meliuk di belakangnya.

Aku bergumam pada diriku sendiri “Lamia” saat ku teringat bahwa dia adalah tipe Demon, tetapi tidak pernah ada Demon dengan wajah seindah itu. Aku mendengar dari kepala desa bahwa pernah ada Demon yang mengutuk Putri Kerajaan dan dia diasingkan karena fakta bahwa penampilannya berubah,  dan Lamia yang di sana adalah keturunannya. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa seorang Lamia akan tinggal di sekitar sini. Tapi apa yang menjelaskan bahwa seseorang adalah Demon? Apakah itu dari penampilan mereka? Apakah dari kekuatannya? Atau apa yang ada di pikiran mereka? Jika benar demikian, maka aku adalah yang terburuk dari mereka semua.

Bagaimanapun juga untuk ras Lamia, karena kemampuan mereka yang kuat untuk memanipulasi kekuatan sihir, bersamaan dengan setengah kekuatan ular mereka, yang dapat menghancurkan tulang manusia dewasa menjadi berkeping-keping dengan sangat mudah. Sebuah desa dapat dengan mudahnya hancur bahkan hanya dengan sorang Lamia. Bagi manusia, mereka dijuluki monster. Rumor mengatakan bahwa bagian atas manusia ras Lamia umumnya memiliki penampilan perempuan yang sangat cantik. Gadis yang berada di depanku sekarang sangat cocok dengan deskripsi itu.

Selain itu, ada perasaan kedewasaan seorang wanita yang terpancar dari tubuh gadis itu. Khususnya warna dari tubuh bagian bawahnya, pesona yang dipancarkan sisik hijau tersebut. Aku merasa bahwa dia sangat menarik dan sulit untuk memalingkan pandangan darinya. Rasanya seperti perawakanku saat masih menjadi Naga/Reptil. Dengan pengalaman masa laluku, aku dapat mengetahui persis dari mana dia berasal hanya dengan melihat sekilas, lekukan yang halus, dan fleksibilitas dari sisik-sisik itu. Sisik yang bergelombang itu sangat menarik. Dalam hal ini, gadis itu memiliki kedua kecantikan sebagai seorang manusia dan reptil. Lamia mungkin satu-satunya ras yang aku dapat memberikan nilai penuh kepada penampilannya baik Manusia maupun Naga.

Setelah beberapa saat berbagi tatapan canggung, Lamia itu menunjukan senyum di wajahnya dan kemudian menjilat manja bibirnya dengan lidahnya yang panjang, sambil menatapku dengan tatapan yang tidak menyenangkan. Dengan bibirnya yang sekarang basah oleh air liurnya, dia terlihat lebih menarik dari sebelumnya. Semua makhluk hidup, tanpa terkecuali manusia, akan tertarik kepadanya. Bagiku, penampilannya itu memberikan kesan seolah-olah aku adalah mangsa. Faktanya, Lamia hanyalah memakan kekuatan hidup, khususnya jiwa hewan. Mereka membuat mangsa mereka tertarik dan memakan kekuatan hidup mangsanya. Dan juga, favorit mereka adalah lelaki dewasa.

Jika dia mengincar nyawaku, maka aku akan membuatnya merasakan sesuatu yang mengerikan.

(Selia) “Sangat bodoh bagi seorang manusia untuk datang ke tempat seperti ini sendirian. Aku ingin tahu, apakah ada orang lain yang ikut bersamamu?”

Betapa luar biasa indahnya suaranya. Terdengar seperti melodi yang dinyanyikan oleh penyanyi terbaik, semanis madu, betapa indah nadanya. Pemilik suara ini tidak lain adalah gadis yang berada di depanku, yang bahkan belum selesai melalui masa pubertasnya. Dia menggunakan sedikit sihir pemikat saat menanyakanku pertanyaan itu. Maksud dari trik itu adalah untuk memikat mangsanya, binatang ataupun manusia. Namun, kedengarannya seperti sebuah kata yang sering terdengar. Seolah-olah dia mengambil kalimat itu dari sebuah buku. Selain itu, aktingnya bagus tapi masih agak kasar di ujungnya, sepertinya lidahnya bekerja lebih banyak. Meskipun demikian, aktingnya akan sangat sia-sia jika dia hanya menggunakannya untuk mendapatkan makanan.

Aku menjawabnya dengan santai.

 “Tidak ada orang lain selain aku.”

 “Jika benar. Baguslah kalau begitu”

Setelah mendengarkan jawabanku, dia meletakan tangannya di sekitar dadanya dan menghela nafas lega.

Dalam situasi seperti ini, sebagai Manusia, aku takut untuk kehilangan hidupku sekarang. Menyadari bahwa aku sangat tenang, gadis itu mungkin mencurigai bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sebagai kelegaanku, gambaran tentang Lamia yang berada di kepalaku benar-benar teralihkan oleh pesona gadis ini. Terima kasih banyak.

Lalu gadis itu memintaku untuk memberitahukan alasanku berada di sini.

Aku memberinya penjelasan singkat mengenai perjalananku, dan alasanku untuk melihat rawa dan rencanaku untuk bermalam di sekitar sini. Sambil mengamatiku, aku dapat merasakan bahwa dia sangat waspada, atau lebih tepatnya takut kepadaku.
Aku tampak tenang, terlalu tenang, meskipun faktanya Lamia sangat berbahaya bagi Manusia, saatku menggerakkan tangan kananku dan perlahan-lahan meletakkannya di gagang pedangku. Menyadari gerakanku, wajah gadis itu sepenuhnya mengungkapkan rasa ketakutan dan perlahan menjauh dariku. Bagiku, dia memiliki sifat pribadi yang lemah dan tidak menyukai perkelahian. Aku semakin mengenal Lamia ini jauh lebih dalam.

(Dran) “Tunggu, anu, maksudku . . .”

Tanpa menunggunya untuk menyelesaikan kalimatnya, aku menarik pedangku dan memotong lengan lumpur yang terhubung ke tanah di belakangku. Lengan itu jatuh ke tanah dan berhenti bergerak.

(Selia) “. . . Jangan menyer- Eh?”

Butuh beberapa saat untuk gadis itu mengetahui apa yang baru saja terjadi,  jadi aku menyarungi pedangku dan menunjukan bahwa aku berada di pihaknya. Lalu aku menjelaskan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi pada rawa ini, dan bagaimana unsur-unsur elemennya menjadi tidak seimbang di sekitar area tersebut.

(Dran) “Suku Lizard dahulu tinggal di sekitar sini, tetapi mereka terpaksa pindah setelah bencana yang melanda desa mereka. Kakuatan elemen Bumi di sekitar area ini tidak normal, roh menjadi tak terkendali dan menyebabkan bencana di dunia Material. Ada kemungkinan bahwa ini akan menjadi tambah buruk. Adalah keputusan yang tepat bahwa para Lizard itu meninggalkan rawa.”

Saat aku menceritakan kejadian itu kepada gadis itu, sepasang lengan lainnya menyebar keluar dari tanah, tetapi aku memotongnya sesaat setelah mereka muncul ke permukaan. Sepertinya lengan itu tertarik kepada sumber sihir yang kuat. Aku meningkatkan indera perasaku, aku mencoba mencari petunjuk mengapa roh-roh ini menjadi liar. Aku juga mencoba untuk memasuki jaringan sihir di dalam Bumi untuk mencari roh-roh liar. Tiba-tiba aku merasakan bahwa tanah yang berada di bawah kakiku berubah menjadi rawa, tubuhku secara spontan melompat ke kiri Lamia.
(Selia) “Eh, oh, HAH!”

Lamia itu mendadak kebingungan.

(Dran bergumam) Fumu. Betapa lucunya.

(Dran) “Katakan padaku, sihir apa saja yang Lamia bisa gunakan?”

Aku bertanya kepada gadis itu sambil memandangnya. Gadis itu menggerakan tubuh bagian bawahnya karena malu, lalu mulai berpikir.

(Selia) “Ermm. Orang-orang dari sukuku sebagian besar menggunakan sihir jenis air, lalu musuh adalah roh Bumi  . . .”

Setiap jenis elemen atau atribut sihir memiliki interaksi tersendiri antara satu dengan yang lainnya. Atribut Bumi cenderung bekerja dengan baik melawan Air, yang artinya gadis itu akan mengalami kesulitan menggunakan sihirnya melawan roh-roh itu. Jika lawannya adalah sihir Bumi, maka hal yang masuk akal untuk melawannya adalah dengan menggunakan sihir Angin.

(Selia) “Berbicara kepada Lamia seolah-olah kita sama. Bukankah akan sulit bagimu untuk melawan roh Bumi dengan kekuatan Manusiamu? Fumu.”

Sepertinya aku sedang diremehkan sekarang. Bukanlah sebuah kebohongan bahwa seorang anak Manusia berusia enam belas tahun yang hanya memiliki daging dan tulang tidak bisa menang melawan roh.

(Dran bergumam) Oh oke. Aku bermaksud, ketika aku berbalik dan ingin melihat ekspresi putus asa di wajahnya. Di tanah ada satu, dua, tiga . . . sambil menghitungnya, aku merasa bahwa itu akan menjadi tindakan yang sia-sia dan memotong tangan-tangan itu.

(Selia) ” Sukuku mempunyai sihir yang khusus bekerja untuk melawan roh, tetapi itu memerlukan waktu untuk mempersiapkannya. “

(Dran) “Benarkah. Baiklah, begini rencananya, aku akan pergi ke depan menjadi tameng untuk melindungimu selagi kau bersiap untuk menembakkan sihirmu. Aku ahli dalam pertarungan jarak dekat, jika kau bergabung denganku dalam pertempuran kau hanya akan menjadi penghalang.”

Dia mengangguk.

Meskipun kami baru saja bertemu, dengan lawan yang sulit untuk dikalahkan seperti ini, aku dengan gegabah mengusulkan rencana seperti itu. Waktu yang kami habiskan untuk berbicara satu sama lain sangat singkat, tetapi aku percaya bahwa gadis ini adalah kunci untuk memecahkan masalah. Paling tidak, kami tidak membenci satu sama lain.

Sejujurnya, aku hanya sedikit mengharapkan jawaban untuk kembali.

(Selia) “Kalau begitu, sebelumnya ijinkan aku untuk mengucapkan berterimakasih.”

(Dran) “Kata-kata itu hanya diucapkan dalam pernikahan.”

(Selia) “Eh? Ah, oh, maafkan aku.”

Dia orang yang cukup lucu. Itu pikirku, lalu mulai berlari ke arah segerombolan tangan yang keluar dari dalam tanah.

Lengan-lengan lumpur itu hanyalah bagian yang dikendalikan oleh roh Bumi. itu hanyalah bagian dari roh. Tanpa keraguan, aku memotongnya satu per satu, mengulur waktu untuk gadis itu. Untuk menyucikan roh Bumi dari kemurkaannya, ada beberapa cara. Tetapi dalam situasi ini, kami memutuskan untuk mengalahkan roh itu dan mengirimkannya kembali ke dunia Roh.

Jika gadis itu tidak muncul, aku berencana untuk memasukkan energi sihirku ke dalam bumi dan menarik keluar roh-roh. Setelah mereka memakan umpan, aku akan mengalahkan bentuk fisiknya dan melepaskannya ke dunia Roh. Dengan cara itu aku memerlukan banyak energi sihir, jumlah yang hanya penyihir berbakat dan terlatih yang dapat mengeluarkannya. Atau salah satu dari Seven Heroes juga mampu mengeluarkan sihir sebanyak itu. Bukannya manusia normal tidak bisa memproduksi energi sihir, mereka bisa, karena inti mereka adalah jiwa dan jiwa dapat menghasilkan energi sihir, tetapi tingkat produksi sihir Manusia sangat lambat.

Untuk menjauhkan lengan-lengan itu dari gadis itu, aku menggunakan sedikit kekuatan sihir kelas Dragon dan menebas lengan-lengan  itu begitu mereka muncul. Di satu sisi, ini terasa seperti permainan. Tetapi tidak peduli seberapa cepat aku memotong mereka, lengan-lengan ini akan terus berdatangan, karena mereka dipasok menggunakan sihir dari roh. Akan semakin sulit untuk mengimbangi kekuatan sebesar ini.

Saat bertarung, aku menyadari lengan itu mendekati gadis itu melewati titik buta ku tetapi tentu saja aku tahu hal itu karena aku sudah meningkatkan inderaku. Aku tidak pernah memiliki titik buta saat memulai ini jadi hal ini tidak perlu dikhawatirkan.

Aku terus menari di medan perang dan memotong semua lengan yang masuk dan keluar dari penglihatanku. Tanpa beristirahat, aku menekan dan melakukan yang terbaik untuk menjauhkan para penyerang dari gadis itu. Akhirnya aku mulai kelelahan, karena ada batasan untuk tubuh Manusia ini, ini sudah kuperkirakan. Tetapi lengan-lengan itu terus berdatangan dan selama itu, aku akan melanjutkan tugasku.

Meskipun aku meningkatkan kekuatan fisikku dengan sihir, ini telah menjadi pertempuran ketahanan. Di masa lalu, ada seseorang yang bertarung denganku menggunakan kekuatan yang pada dasarnya tidak terbatas, dan itu sangat mudah dilakukan, tetapi aku sedikit terbatas pada saat ini. Karena pada tingkatan ini lengan-lengan yang terus bermunculan setelah ditebas tetap tidak berubah, melodi nyanyian gadis itu semakin membuat roh-roh itu menjadi semakin liar. Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai.

(Lamia Spell) 「Aku, Sang Keturunan Putri Kerajaan, Memanggil Serpent God Yang Agung. Sekarang Saatnya, Berilah Aku Kekuatan Sehingga Aku Bisa Mengalahkan Lawanku」

Dahulu kala, Serpent God, mengutuk seorang gadis, yang mengubah tubuh bawahnya menjadi tubuh ular, dan karena keadaannya itu, dia diasingkan. Ketika gadis itu terus melantunkan melodi, sosok ular mulai samar-samar terlihat di tanah berlumpur. Segera, lengan-lengan itu menyadari bahwa ular itu adalah musuh dan mulai mengalihkan perhatian mereka dariku. Ular itu sangat besar sehingga dapat menelan dua atu bahkan tiga pria dewasa sekaligus. Lengan-lengan itu bukanlah apa-apa bagi ular itu. Selain itu, setiap kali menyentuh lengan-lengan itu, mereka hancur lebur dan tidak kembali.

(Dran) “Fumu.”

Aku menghela nafas kecil.

Dengan kekuatan seperti itu, tentu sangat sulit untuk mempertahankannya, apalagi mengendalikannya. Sihir yang dimiliki gadis Lamia itu lebih kuat dari yang ku perkirakan. Mengesampingkan fakta itu, gadis ini tidak hanya mempertahankannya tetapi juga terus mengendalikannya secara akurat. Dia pasti memiliki potensi untuk menjadi penyihir hebat.

Setelah beberapa saat, semua lengan-lengan yang menyerang ular tidak ada lagi, semuanya berubah menjadi lumpur dan berjatuhan ke tanah. Itu adalah keputusan yang tepat untuk memintanya bekerja sama karena dengan keterampilan berpedangku saat ini, untuk mengalahkan semua lengan-lengan itu akan sulit. Di ujung penglihatanku, aku melihat gadis Lamia itu beristirahat. Setidaknya aku akan mengamati area ini untuk terakhir kalinya sebelum aku beristirahat.

(Dran) “Jangan kendurkan penjagaanmu. aku memiliki perasaan bahwa roh itu akan menunjukan bentuk aslinya kepada kita.”

(Selia) “Ah, baiklah.”

Sementara aku terkesan dengan aksinya, lumpur terus-menerus meningkat di tengah-tengah lapangan. Permukaannya benar-benar hitam, dan itu terus membesar mencapai puncak bukit. Roh Bumi yang mengamuk akhirnya memutuskan untuk menunjukkan wujudnya. Hal ini yang kemungkinan menyebabkan gempa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu, dan inilah yang membuat rawa ini tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Alasan mengapa itu begitu besar dan kuat mungkin karena faktanya bahwa itu menyedot kekuatan air dan tanah di sekitarnya selama sepuluh tahun terakhir.

Aku menduga bahwa lengan-lengan yang sebelumnya itu hanyalah tubuh sementara, dan sepertinya aku benar. Bentuknya yang sekarang ini seperti tubuh manusia yang terbuat dari lumpur, tingginya sekitar dua lantai. Ada beberapa bagian yang menyerupai tubuh bagian atas manusia. ada dua lubang di bagian atasnya, aku pikir itu adalah matanya.

Sesosok lumpur hitam mulai mendekati kami dengan kecepatan yang tak terduga. Tekanan yang terpancar oleh roh itu cukup mengintimidasi. Khususnya terhadap gadis Lamia itu, tekanannya mulai mempengaruhi dirinya. Jika seseorang terkena efek itu untuk waktu yang cukup lama, mereka akan secara bertahap menjadi gila. Bahkan gadis yang memanggil ular raksasa tadi, sepertinya dia tidak akan mampu untuk mengalahkan benda itu. Aku berhenti sejenak dan berhati-hati agar tidak memaksakan diri, lalu berlari mengejar gadis itu setelah dia berusaha melakukan sesuatu sambil berteriak beberapa hal bodoh. 

(Selia) “Biarkan aku pergi, benda itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Roh yang kupanggil.”

(Dran) “Ah, tetapi itu terlalu berbahaya.”

Tanahnya sangat berlumpur dan licin, jadi aku merasa bahwa sangat sulit untuk berlari, tetapi aku memaksa berlari. roh yang mengamuk mendekati tepian dari tengah rawa dan mulai menembakkan bola lumpur ke arah kami. bola lumpur itu dipenuhi dengan sihir sehingga terkena satu bukanlah hal yang menyenangkan. Aku menghindari mereka dengan mudah karena mereka terbang cukup lambat.

Roh itu terus menembakkan bola lumpur ke arahku dan aku menghindari semuanya. Beberapa bola lumpur hampir mengenaiku. Melihat ke arah roh itu, matanya terfokus kepadaku. Akulah target utamanya, itulah yang terpikir olehku. Setiap kali bola lumpur menyentuh tanah, itu membuat lubang yang cukup besar di tanah. Jika ini berlanjut terus, daerah di sekitarnya mungkin menjadi lapangan saat ini berakhir nanti. Cara tercepat untuk menghentikan benda itu adalah menghancurkan tubuh fisiknya.

(Lamia Spell) 「Racun Dari Taring Serpent God Yang Mengalir Di Dalam Darahku. Seranglah Musuhku Dengan Kekuatanmu」

Sebuah nyanyian yang tak asing terdengar dari gadis di belakangku. Sesaat setelah itu, sekali lagi, keluar ular transparan yang tak asing, menunjukkan wujudnya di dunia Material. Tanpa basa-basi, ular itu menyerang roh yang mengamuk, mencoba merobeknya. Saat keduanya bertarung, aku melihat cairan ungu keluar dari taring ular. itu pasti racun terkutuk. Racun terkutuk itu tampaknya menyebabkan roh yang mengamuk berubah menjadi gerombolan sihir padat, dan mulai bergetar di depanku.

Aku gegabah karena berharap untuk mengalahkan benda itu hanya dengan racun ular saja. Di sisi lain, kecepatan roh yang mengamuk itu perlahan menurun. saat aku mendekat, roh itu mengangkat lengannya yang terluka karena racun, lengannya terangkat ke atas dan membantingnya ke arahku. Pukulan seperti itu dapat menghancurkan sebuah rumah, apalagi tubuh manusia. Terlepas dari itu, karena kecepatannya melambat, aku melompat ke samping, dan menghindarinya.

Gadis Lamia itu berteriak kecil, dia berpikir bahwa aku telah remuk.

Menggunakan pedangku, dengan menambahkannya sihir, aku memotong lengan kirinya dengan satu tebasan. Pedang, yang dilapisi sihir tingkat Dragon God, menjadi pedang terbaik yang pernah ada. Lengan yang terputus jatuh ke tanah dan berubah menjadi lumpur sembari hilangnya warna hitamnya. Sementara tumpukan lumpur ini masih berdiri tegak, aku menendang tanah dan terbang ke sisi kanannya tepat ke tempat di mana matanya berada. Aku tahu hal itu, meskipun terlihat kosong, mata itu menatapku dengan sangat dekat.

(Dran bergumam) Pikiranmu telah tercemar. Lingkungan di sekitar sini menderita karenamu. Aku telah memutuskan untuk mengirimkanmu kembali ke dunia Roh dimana dirimu berasal. Aku berpikir pada diriku sendiri saat aku memutuskan untuk mengalahkan benda ini.

Roh yang mengamuk merubah bagian tubuh lumpurnya menjadi bentuk seperti tombak dan mencoba menusukku. Namun, meskipun berada di udara, aku lebih cepat. Saat aku melapisi pedangku dengan lebih banyak sihir, pedangku mulai bersinar, dan dengan tebasan cepat lainnya, aku memotong roh itu menjadi dua bagian.

(Selia) “Kau berhasil!”

Setelah melakukan pendaratan, aku mendapatkan sorak dari gadis Lamia itu. Setelah mendengar itu, aku mengeluarkan kalimat favoritku dengan bangga, menunjukkan sedikit rasa iba terhadap roh itu.
(Dran) “Fumu”

Dengan ini, aku berhasil menemukan dan menghilangkan penyebab bencana sepuluh tahun yang lalu. Untuk keseimbangan alam di sekitar sini, perlu waktu untuk membuatnya kembali pulih. Aku harus membiarkannya mengikuti proses alamiahnya. Tubuh roh ini terbelah menjadi dua gumpalan lumpur. Ketika tubuh lumpur roh itu jatuh ke rawa itu menciptakan cipratan lumpur, dan mengenai gadis itu. Untukku, aku membungkus tubuhku dengan sihir, jadi lumpur itu tidak akan masuk ke wajah ataupun bajuku. Gelombang menyebar dan berhenti sekitar tujuh detik atau lebih. Sementara sepatuku dipenuhi dengan lumpur dan air, aku mulai berjalan kembali ke tepian di mana gadis itu berdiri.

(Selia) “Uhh . . . Ue, sepertinya ada lumpur di mulutku, dan pakaianku tertutup lumpur semua.”

Tidak sepertiku, gadis itu tertutupi lumpur, bersamaan dengan rambut emasnya, dan pakaiannya basah. Dari tas kulitku, aku mengeluarkan botol kulit, dan menyerahkannya kepada gadis itu.

(Dran) “Ini, kau harus membersihkannya dengan air.”

(Selia) “Oh, terima kasih.”

(Dran) “Tidak perlu. Justru aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Kau telah menyelamatkanku dari berbagai masalah. Ngomong-ngomong, namaku Dran, aku datang dari desa ke Southwest. Akan sangat menyenangkan jika kau mau memberitahu namamu.”

Sambil memegang botol yang kuberikan padanya, dia menggoyang-goyangkan bagian bawah tubuhnya agar sesuai dengan pandanganku, dan membungkuk sambil memberitahu ku namanya.

(Selia) “Aku Selia. Seperti yang kau lihat, aku berasal dari Suku Lamia.”

(Dran) “Fumu, Selia. Itu nama yang bagus yang kau terima dari orang tuamu.”

Selia tersenyum malu setelah mendengar kata-kataku. Dia tampaknya sangat senang mendengar pujian terhadap orang tuanya, hubungan mereka pasti sangat dekat. Adalah hal yang bagus ketika anak dan orang tua dekat. Setelah hidup sebagai Manusia selama enam belas tahun, aku sudah cukup faham. Setelah kami berusaha sekuat tenaga untuk memecahkan masalah, wajar jika aku memperkenalkan diriku. Sebagian dari diriku merasa terganggu karena gadis ini, bagaimanapun juga, gadis ini berasal dari ras yang dijauhi oleh Manusia.

[Bersamboeng]

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded