Sayonara Ryuusei Konnichiwa Jinsei Volume 1 Chapter 3 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Eliane Grandys

-Selia-

Aku menahan perasaan menjijikan dari air becek dan berlumpur yang menempel pada baju dan sekujur tubuhku, sambil memegang botol kulit dan membasuh mulutku. Dran yang melihatku dalam keadaan itu merasa bersalah. Tidak sepertiku, yang menderita karena terselimuti air berlumpur di sekujur tubuhku, di sisi lain Dran terlihat benar-benar kering dari kepala hingga ke ujung kaki.

Saat aku menatapnya dengan tatapan penasaran, dia mengangkat bahunya dan tertawa kecil. Aku ingin tahu apakah aku melakukan hal aneh? Atau ada sesuatu yang lucu saat aku membasuh mulutku?

(Dran) “Kau harus cepat-cepat menyingkirkan lumpur itu darimu, atau kau akan terkena flu. Kau memiliki pakaian ganti kan?”

Dran memberitahuku dan matanya menunjuk kearah tas yang kubawa di pundakku. Karena air berlumpur yang menutupi tas, aku tidak merasa yakin bahwa isi di dalamnya aman.

(Selia bergumam) Tetapi tidak apa-apa!

Ketika aku memutuskan untuk menyusuri rawa ini, aku dengan sangat hati-hati mengemas makanan dan pakaian di dalam tasku untuk berjaga-jaga kalau mereka basah. Dan kau tau apa? Itu akan sangat membantu jika dipersiapkan di kesempatan seperti ini.

Ketika aku mencoba berkumur lagi untuk yang terakhir kalinya, dan memastikan agar Dran tidak melihatnya, aku meludahkannya dan mengelap bibirku dengan cepat. Apakah itu terlalu kasar? Ibuku mungkin akan marah jika dia melihatnya.

(Selia) “Ya, karena ada tempat di dalam rumah Lizard, aku mungkin bisa mengganti pakaianku.”

Ketika aku mengatakan itu dengan sedikit kebanggaan, Dran tersenyum lagi. Itu bukan hal yang aneh untuk dikatakan, lalu mengapa dia tertawa? Apakah lelaki ini memiliki sifat yang buruk?

Ketika aku mendekatinya untuk mengembalikan botol kulit, dia mengambilnya sambil berkata.

(Dran) “Karena Selia berbeda dari apa yang kubayangkan seperti apa Lamia seharusnya, itu cukup menarik. Oh, dan sejak saat kita bertemu, Selia memasang tatapan yang sulit ditebak, tetapi karena keadaan, itu memudar. Aku piker itu akan menjadi ide yang bagus untukmu agar lebih waspada terhadap Manusia.”

Mendengar apa yang telah dikatakan Dran, aku setuju dengannya. Dran adalah Manusia. Sementara aku adalah iblis, Lamia. Ketakutan ras Manusia kepada Lamia adalah hal turun-temurun, Dran yang mengarahkan pedangnya padaku bukanlah suatu hal yang sulit dipercaya. Setelah bertarung dengan Roh Bumi yang mengamuk beberapa saat yang lalu, dengan ceroboh aku melupakan sesuatu yang seharusnya tak kulakukan. Faktanya adalah aku tidak berniat untuk menjadi begitu dekat dan mengulurkan tanganku untuk menyerahkan botol kulit itu kepadanya.

(Selia) “Oh, eh, anu tolong, anu maafkan aku.”

Meskipun aku tidak tahu harus berkata apa, aku meminta maaf kepada Dran. Kemudian Dran mengangkat bahunya. Gerakan itu sangat cocok untuknya.

Dran memiliki mata biru yang cerah, dan lembut. Dengan warna yang sama seperti setiap hari yang cerah, itu adalah warna yang dapat menenangkan pikiran seseorang. Jika kau melihat mata Dran, hati dan pikiranmu pasti akan menjadi tenang. Aku bertanya-tanya Dran dapat menyerangku dengan mudah tetapi mengapa dia tidak melakukannya. Apakah dia mempunyai motif lain?

(Dran) “Tidak perlu meminta maaf. Aku juga tidak berniat bekerja sama denganmu. Selain itu, cepatlah ganti pakaianmu.”

Tampaknya, Dran tidak berniat untuk menggodaku.

Karena orang tuaku mengajariku untuk tidak mendekati seorang pria sembarangan, Manusia yang jujur ini cukup menakutkan. Akan tetapi, aku dapat merasa lega dengan kata-kata lembut dan ekspresi Dran.

Sekarang kedua belah pihak telah memahami bahwa tidak ada niat buruk, aku dapat pergi ke kediaman Lizard di mana aku menyimpan pakaian ganti. Tentu saja Dran bersamaku. Tidak ada yang tinggal di desa kecil Lizard ini lagi, kebanyakan rumah memiliki atap yang sudah runtuh, dinding yang rusak, tidak lagi memiliki lantai, dan secara keseluruhan, itu bukanlah tempat yang bagus untuk ditinggali. Namun, aku berhasil menemukan rumah yang paling bersih bagiku untuk menyimpan pakaianku dan aku dapat memastikan dari tampilannya, itu pasti adalah rumah kepala desa.

Ketika aku mengganti pakaianku dan membasuh air berlumpur dari rambutku, Dran menungguku di luar. Meskipun aku mengatakan bahwa ini adalah rumah yang cukup bagus, sebagian dindingnya rusak dan aku gugup mungkin Dran bisa saja mengintip, tetapi Dran tetap berada di luar dan tidak menunjukkan tanda-tanda memeriksa kedalam.

Setelah mengganti pakaian, aku berjalan ke arah Dran dengan satu tangan membawa tas yang ditutupi lumpur dan menggendong tas yang di mana tempatku menyimpan barang-barangku yang lain. Ketika aku melihatnya, dia memalingkan tatapannya ke arah barat. Itu mengingatkanku bahwa matahari terbenam di barat dan senja menjelang dengan cepat. Karena masih awal musim semi, ini masih terlalu cepat, bahkan saat matahari terbenam.

(Dran) “Sebaiknya siapkan kemah sesegera mungkin. Aku akan menyiapkan beberapa makanan dan kemudian mengeringkan pakaianku. Rencanaku sekarang adalah berkemah di sini malam ini. Selia, apa rencanamu?”

(Selia) “Aku juga berencana untuk bermalam di sini. Karena seluruh keluargaku memiliki elemen atribut air yang kuat, tempat ini, di mana air dan bumi bercampur, sangat kuat jadi ini terasa nyaman.”

Ketika aku mengatakan bahwa pakaian itu mungkin akan basah dengan mudah, Dran melihat ke belakang dengan sedikit ekspresi cemas dan melangkah pergi untuk melihat sekitar. Untuk menyiapkan makan malam, api sangatlah penting dan semakin jauh dari tanah yang basah akan semakin bagus. Aku menunjuk kea rah pohon yang tumbang di kejauhan. Pohon itu tidak benar-benar kering tetapi itu cukup kering untuk menahan api. Setelah matahari terbenam sepenuhnya, akan sangat berbahaya jika perkemahan tidak disiapkan dengan segera, jadi sebaiknya kami berdua menyelesaikan semuanya sebelum itu.

(Dran) “Ayo bergegas.”

(Selia) “Baiklah!”

Ketika aku melihat makanan yang kubawa dari rumah aman dan cukup untuk berbagi dengan Dran, aku merasa sedikit bahagia. Kami menyiapkan perkemahan jauh dari rawa, di tempat yang terlihat kering. Ada juga batu besar yang berada tepat di samping perkemahan, panas memancar dari batu itu.

Untuk tidur, yang dibutuhkan hanyalah selembar kain yang terhampar di tanah dan selimut. Dan Juga, kami memiliki api yang menyala di tengah perkemahan sehingga tidak akan terasa dingin saat malam hari. Pada malam hari, agar api tetap menyala, Dran dan aku harus bergiliran untuk mempertahankannya.

Lamia adalah spesies yang lemah terhadap dingin. Jadi, aku menekukkan bagian tubuh ularku dan meletakkan selimut di atasnya dan juga memakaikan selimut lain yang lebih kecil untuk menutupi bagian tubuh manusiaku. Selimut untuk tubuh bagian bawahku-lah yang menempati sebagian besar barang bawaanku. Untuk membawanya sangatlah melelahkan karena berat, tebal, dan juga besar. Tetapi itu adalah sesuatu yang tidak dapat ku buang karena dinginnya malam. Aku melihat Dran sekilas saat berada dalam selimutku, dia memakan daging kering dengan sup sayuran, dan duduk dengan nyaman di atas batu.

Biasanya, suatu hal yang berbahaya bagi manusia untuk mendirikan kemah setelah senja dan memasak dengan api karena bau dari masakan hewan buas biasanya lebih tertarik pada api ketimbang takut akannya. Namun malam ini akan baik-baik saja karena kehadiranku. Karena hawa iblisku yang menakutkan, tidak ada binatang buas yang berani mendekat. Terkadang, aku merasa sangat kesepian karena mengetahui bahwa tidak ada hewan yang berani mendekati-ku dengan keinginan mereka sendiri.

Sambil berbalut selimut hangat, dan berbaring di dekat api, aku merasa sangat senang memiliki seseorang untuk diajak berbicara setelah sekian lama. Ini mengejutkanku sampai pada titik di mana aku bertanya-tanya kapan aku ingin memulai berbicara dengan orang lain. Makanya, aku mulai menceritakan kisahku kepada Dran.

Aku lahir dan dibesarkan di desa Lamia di gunung jauh di utara. Seorang bayi Lamia lahir dari seorang Lamia dan suaminya, yang merupakan ras lain, yang tinggal di desa. Di dalam desa, ada hukum untuk seorang Lamia setelah ia mencapai usia tujuh belas tahun. Pada usia itu, dia harus keluar dari desa untuk mencari suaminya. Ketika aku berusia tujuh belas tahun, aku meninggalkan desa dan sekarang sedang mencari seorang suami berdasarkan hukum itu.

Lamia adalah spesies dengan ciri khusus yang dimana hanya terdiri dari wanita. Anak lelaki juga bisa terlahir dari seorang Lamia tetapi anak itu memiliki peluang 100% untuk menjadi ras yang sama seperti ayahnya, tanpa terkecuali. Karena hal itu, perlu bagi Lamia untuk mengambil pasangan dari ras lain, tetapi bukan sembarang lelaki.

Dahulu, suku Lamia berasal dari Manusia, dan dikutuk oleh Dewa. Nenek moyang Lamia yang terkutuk menurunkan kutukan mereka ke seluruh Lamia, mulai dari bagian tubuh ular, hingga, darah beracun, keringat, air liur, dan sebagainya. Seorang Lamia memilih suaminya berdasarkan apakah dia dapat menahan racunnya atau tidak.

Jika tidak, jika aku . . . bagaimana mengatakannya . . . ya . . atau . . menciumnya ketika berhubungan badan, dia mungkin akan mati karena racun, dan itu akan menjadi kematian yang mengerikan. Uhh, wajahku terasa sangat panas. Karena Dran adalah pendengar yang baik, aku tidak bermaksud untuk membicarakan hal itu sembarangan. Ketika ceritaku selesai, makanan juga habis dan pancinya kosong.

Ada yang mengatakan bahwa ikatan kuat antara kakak dan adik masing-masing memainkan perannya dalam mendengarkan cerita lain dari seseorang di rumah. Selain itu, dengan bangga aku juga menyebutkan bahwa aku pandai merawat anak-anak di desa. Tetapi apakah itu terlalu kekanak-kanakan? Aku merasa telah bersikap kasar padanya. Dran tahun ini berusia enam belas tahun dan aku belum lama ini menjadi tujuh belas tahun, karena hal itu, apakah aku bisa disebut lebih tua darinya?

Selagi aku menahan rasa ketidakpuasan itu di dadaku, Dran sedang membersihkan panci dan sendok untuk menyimpannya, sambil berkata.

(Dran) “Saat kau mengembungkan pipimu seperti itu, kau terlihat sangat kekanak-kanakan.”

(Selia) “Oh, apakah ada sesuatu yang keluar dari mulutku?”

Ketika aku menjawab tanpa sadar dengan terburu-buru, Dran sudah tertawa! Reaksiku pasi sangat menggelikan.

(Dran) “Tidak, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk mengejekmu Selia. Hanya saja kau terlihat imut”

(Selia) “Aku tidak akan tertipu oleh pujian seperti itu.”

(Dran) “Aku benar-benar minta maaf, sejujurnya aku tidak bermaksud untuk mengejek Selia. Mohon terimalah maafku.”

(Selia) “Hmph.”

(Dran) “Aku pikir akan sedikit menyusahkan. Selama Selia kesal … Astaga! Cara pusarmu menekuk terlihat tidak alami, Selia?”

Aku berpaling dan masih kesal karena caranya memperlakukanku seperti anak kecil. Jika aku berpaling ke arahnya, dia kemungkinan besar akan mengangkat bahunya dan melihatku seperti anak yang manja.

Mmmm, entah mengapa aku merasa bahwa aku bertingkah lebih dan lebih kekanak-kanakan.

Jika aku memikirkannya kembali, apa yang kukatakan kepadanya tentu membuatku terlihat kekanak-kanakan. Yah … Mustahil. Jika aku mengibarkan bendera putih di sini, aku hanya akan menggali kuburanku sendiri. Sekali lagi, aku berbalik ke arah Dran dan menatapnya.

(Selia) “Aku mengaku kalah. Aku kekanak-kanakan, Oke? Untuk pusarku, itu dikarenakan di situlah tubuh Lamia mulai berbentuk seperti ular.”

Setelah aku menjawab, aku meletakkan tanganku di dalam selimut dan membalut bagian tubuh manusiaku dengan erat. Aku bertanya-tanya seberapa panjang kakiku jika aku adalah seorang Manusia. Setiap Lamia memiliki pusar yang sama, ibuku, aku, dan semua Lamia yang ada di suku kami. Lagipula, kami adalah vivipar dan bukan ovipar.
FYI buat yg masa SMPnya cabut ke warnet :
– Vivipar adalah salah satu cara perkembangbiakan hewan dengan cara beranak atau melahirkan
– Ovipar adalah salah satu cara berkembang biakkan hewan dengan cara bertelur, yang pada umumnya mempunyai ciri-ciri telurnya dierami sampai menetas

Sembari terbalut selimut, aku terus menceritakan tentang keluargaku kepada Dran. Ibuku, tentu saja seorang Lamia, dan ayahku adalah seorang Manusia. Ibuku bepergian ke luar desa dan berburu, sementara ayahku bekerja di ladang di desa, akhirnya, pekerjaan rumah tangga dibagi menjadi tiga orang termasuk aku.

(Selia) “Ibuku pernah melakukan apa yang pernah kulakukan sekarang. Pergi mengembara dan bertemu ayahku, menjadi pasangan, dan kembali ke desa. Fufufu, mama dan papa adalah pasangan yang bahagia.”

Meskipun aku belum menemukan “seseorang”, aku berharap bahwa aku akan menemukan orang baik dan memulai sebuah keluarga seperti ibuku. Ketika orang tuaku bercerita tentang masa lalu mereka, keduanya memiliki hawa kepahitan. Menikahi lelaki dari ras Manusia itu mudah bagi Lamia, tetapi tidak sama bagi Manusia. Bahkan jika mereka saling mencintai, ada halangan yang berada di depan mereka. Aku berhenti bertanya tentang masa lalu ayahku setelah menyadarinya. Ibu dan ayahku saling mencintai dan bukan hal yang menyenangkan membawakan mereka kesedihan.

(Dran) “Benarkah begitu? Pernikahan antara Manusia dan ras lain hampir tidak pernah terdengar. Ngomong-ngomong, apa kau mirip seperti ibumu? aku dapat membayangkan bahwa dia sangat cantik.”

(Selia) “Dia memang wanita yang cantik, tapi aku tidak persis mirip dengannya. Jika yang lainnya, aku akan mengatakan bahwa mata dan kepribadianku mirip dengan ayahku. Mengapa kau bertanya begitu?”

(Dran) “Tidak, tidak ada hal khusus, aku bertanya hanya karena rasa penasaranku. Ketika aku melihatmu tadi di rawa, kau memiliki gerakan yang memikat, dan daya tarik juga. Katakanlah, apakah kau belajar semua itu dari ibumu?”

Uuu, Aku bergumam pada diriku sendiri setelah menyadari bahwa aku ketahuan.

Meskipun hal wajar bagi seorang Lamia untuk menggoda lawan jenisnya, karena itu adalah sebuah karakteristik. Pesonaku terhadap pria tampaknya lemah. Meskipun mungkin untuk menggunakan Magic (Demon) Eyes dan memasang mantra pada pasangan, tapi yang bisa ku lakukan adalah memikat orang lain melalui senyuman dan membuat gerakan. Ibuku memberikanku pelajaran mendetail sebelum aku meninggalkan desa tetapi hanya itu yang dapat ku pelajari, aku adalah murid yang payah.

(Selia) “Ibu sangatlah baik! Aku hanya kurang berbakat. Aku pikir pergi sambil berpikir dapat melakukan sesuatu entah bagaimana caranya, tetapi tampaknya aku tidak begitu berguna dalam perjalanan ini.”

Aku mulai merasa sedih, dan Dran menunjukkan wajah yang lembut dan penuh perhatian, sama seperti ayahku.

(Dran) “Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kita belum mengenal satu sama lain bahkan untuk satu hari penuh, dan meskipun begitu, aku pikir Selia adalah wanita yang sangat menarik. Kau cukup cantik untuk menjadi dirimu sendiri. Sepanjang perjalananmu, Kau pasti akan menemukan ‘seseorang’ spesialmu. Aku jamin itu.”

Aku melihat kedalam mata biru Dran, dan aku dapat mengatakan dia tidak berbohong.

Meskipun dia adalah Manusia pertama yang kutemui dalam perjalananku, aku percaya bahwa aku dapat mempercayai Dran tanpa keraguan.

Pipiku memerah karena mendengar hiburan dan pujian Dran. Aku gembira.

Dran melakukan sejauh itu hanya untuk mengatakan hal-hal memalukan itu kepadaku, aku tidak bisa menunjukkannya penampilan memalukanku.

(Selia) “Uhh, Kau memujiku lagi. Tapi, yah. Jika kau berpikir demikian maka itu bagus. Aku pasti akan menemukan suami yang baik, dan memperkenalkannya kepada orang tuaku.”

(Dran) “Itu baru Semangat!”

Kemudian giliran Dran untuk menceritakan tentang keluarganya. Dia memberi tahu ku semuanya mulai dari makanan favorit orang tuanya, sampai bagaimana mereka merayakan ulang tahunnya. Keluarga Dran berjumlah lima orang, ibunya, ayah, adik laki-laki, kakak laki-laki, dan yang terakhir tidak terakhir juga, dirinya sendiri. Tetapi sepertinya kakak lelakinya dan dia sudah tinggal berbeda rumah dengan orang tua mereka. Mereka tidak perlu melakukan perjalanan, tidak seperti kami. Meskipun ia tinggal di desa yang sama dengan orang tuanya, untuk hidup terpisah, pasti terasa menyedihkan dan kesepian. Menurutku.
(TL : Ya, beda kultur soalnya sih sama Selia yg musti cari laki keluar desa)

(Selia) “Apakah kau tidak kesepian sendirian, Dran?”

(Dran) “Aku bohong jika mengatakan tidak, tetapi rumahku dekat dengan orang tuaku dan aku selalu berkunjung ke tempat mereka. Dibandingkan denganku, aku pikir Selia jauh lebih mengagumkan. Untuk meninggalkan rumahmu, desamu, dan menjelajahi dunia, sendirian.”

(Selia) “Fufufu, itu adalah sesuatu yang ku ketahui sejak aku masih kecil, jadi aku siap secara mental untuk itu. Selain itu, aku pergi dan menemukan suamiku dengan mataku sendiri sehingga itu tidak terlalu buruk.”
(Dran) “Benarkah? Selia adalah seseorang yang kuat.”

Dran menjawab dengan senyum ramah.

♦ ♦ ♦

Melihat wajah tidur Selia saat seluruh tubuhnya terbalut dalam selimut dan berbaring di helai kain di tanah, aku mengambil nafas, merasa lega, dan pergi tidur. Berusaha untuk tidur, aku menyadari bahwa diriku menjadi jauh lebih banyak bicara seiring berjalannya waktu. Aku menatap langit di atas, bulan berada di tengah angkasa, bersinar dengan warna perak cemerlang bagai ratu di langit malam.

Aku banyak bercerita

Meski begitu, Aku dan Selia masih belum mengenal satu sama lain bahkan untuk satu hari pun, tapi dia telah mengendurkan kewaspadaannya terhadapku dan menunjukkanku wajah tidur yang damai. Jika aku adalah seorang Lamia berada dalam situasi ini, bahkan setelah bekerja sama melawan Berserk-Spirit, aku tidak akan dengan mudah membiarkan diriku mempercayai Manusia. Bagaimanapun juga, dia sudah memikatku melalui perbuatan dan bakat sihirnya, namun apakah itu sikap yang seharusnya tidak kumiliki terhadap rekanku?

Ketika kami berpisah setelah ini, Selia mungkin akan menjumpai Manusia yang tanpa ragu menghusungkan pedang ke arahnya. Bisakah dia melindungi dirinya sendiri? Jika aku ayahnya, tidak, ayahnya mungkin mengkhawatirkannya.

Ayah yang kusayangi sangatlah ramah, tanpa ada niat jahat, tetapi semua Manusia tidaklah sama sehingga aku merasa cemas. Tentunya ketika orang lain melihat pertemuanku dengan Lamia, mereka akan mengatakan bahwa itu sangat konyol. Aku tidak begitu perduli jika itu adalah Lamia yang lain, tetapi jika dengan kepribadian Selia. . . . .

Aku mengalihkan pandangan dari wajah Selia, bernafas pelan, aku menatap langit malam. Ketika aku masih seekor Naga, langit malam dipenuhi oleh bintang-bintang, permata yang tak terhitung jumlahnya tersebar di seluruh langit, tetapi sekarang, beberapa permata itu nampaknya menghilang. Apa yang terjadi pada mereka? Apakah mereka menjalani kehidupan mereka, dihancurkan oleh kelompok mereka sendiri, atau dihancurkan oleh pendatang?
(TL : Inhibitor adalah zat yang menghambat atau menurunkan laju reaksi kimia. Tapi di sini inhibitor digunakan sebagai kiasan atau perumpamaan makanya translatenya agak berbeda)

Itu hal yang biasa seiring waktu berlalu, namun itu hal yang tak dapat dihindari tetapi sedih rasanya ketika hal-hal yang indah menghilang. Tapi apa itu penting? Bahkan jika bintang di langit berkedip, kehidupan di dunia ini masih berjalan seolah tidak terjadi sesuatu. Aku memikirkan subjek yang dapat diperdebatkan dan menemukan jawaban yang tidak sebanding dengan waktu, jadi aku menutup pandangan itu dalam pikiranku.

Menengok kembali pada wajah tidur Selia, ujung ekornya menarik pandanganku. Tiba-tiba aku memiliki dorongan untuk menggapai dan menyentuh ekornya. Semua persepsi dari beberapa saat yang lalu menghilang dan yang terpikirkan olehku sekarang hanyalah ekornya yang bersisik.

Lalu, ujung ekornya berayun ke kiri dan kanan.

. . . .

(Selia) “Mmm, Kyaa.”

Selia menaikkan suara dalam tidurnya, mulutnya mengatup rapat dan alisnya bergerak naik. Bulu mata emasnya sedikit berkedut, sekilas seperti putri ular yang bisa terbangun kapan saja. Reaksi kekanak-kanakkan Selia memang sangat menarik, aku terus menyentuh ekornya sambil memastikan agar dia tidak terbangun. Di bawah rembulan, suara Seila semakin mengeras tetapi juga sedikit melambat, sangat disayangkan, aku juga bersenang-senang, tetapi aku harus mengakhirinya.

Keesokan paginya, matahari mewarnai merahnya ufuk, aku memutuskan untuk meninggalkan tenda selagi Selia masih tidur. Untungnya, Selia tidak bangun ketika aku sedang bersenang-senang dengan ekornya tadi malam. Aku tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan kegirangan yang aku miliki.

Karena Lamia adalah spesies berdarah dingin, mereka tidak akan banyak bergerak sampai tubuh mereka hangat. Jadi, aku menambahkan lebih banyak kayu bakar ke dalam api, cukup sampai Selia terbangun. Aku membereskan selimut, panci, sendok, dan garpuku, lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah itu aku menaruh pisauku ke dalam sarungnya dan mengikatnya dengan pedangku di ikat pinggang. Akan menjadi masalah ketika Selia bangun dan tidak melihat sosok ku, pilihan yang bagus untuk meninggalkan catatan agar dia tidak sedih.

(Dran) Ini harus dilakukan

Aku menjauh dari perkemahan dan berjalan menyusuri tempat dimana pertempuran melawan Berserk Spirit terjadi. Semua jejak keseimbangan yang tidak alami tampaknya telah menghilang tetapi ada bijih yang bersinar di tanah. Kristalnya jernih, jika ingatanku benar, ini pasti adalah Spirit Stone. Kemungkinan besar setelah roh dikalahkan kemarin, batu itu tercipta dan jatuh ke tanah. Roh mengumpulkan kekuatan magis selama sepuluh tahun, dan kristal ini menyimpan sebagian besar kekuatan itu, dan juga kristal itu sendiri memiliki kualitas yang sangat tinggi. Dikarenakan Berserk-Spirit yang dulunya berada di sini, tidak ada hewan yang berani tinggal di tempat ini. Namun, saat aku menyusuri area tersebut, aku melihat jejak kaki hewan liar.

Aku menggunakan sihir Manusia yang aku pelajari dari Penyihir di desa untuk membiaskan air sehingga dapat menopang berat badanku. Aku meletakkan kaki kiriku ke air, melihat bahwa baik-baik saja. aku kemudian menggerakkan kedua kakiku ke permukaan air. Lalu aku berjalan menuju tengah rawa.

Ketika aku mencapai pusat, aku menggulung lengan bajuku, membentangkan telapak tanganku dan mengarahkannya ke rawa itu. Apa yang sedang kulakukan sekarang adalah mencari tahu apakah ada kehadiran Roh di sini. Aku mengirim beberapa gelombang sihir hanya untuk memastikan.

Setelah beberapa saat, aku merasakan tanda-tanda kehidupan kecil, tidak terlihat oleh mata, hidup di sini. Aku tidak mengharapkan ikan berada di sini, tetapi, kehidupan telah kembali ke rawa ini. Ini akan memakan waktu lama, aku yakin hal itu. Aku senang melihat bahwa tidak ada kejanggalan lebih lanjut.

Melihat Spirit Stone yang kupegang, aku tidak membutuhkan hal semacam itu. Akan lebih baik jika kekuatan di dalam kristal ini digunakan untuk mempertahankan rawa ini. Lalu, aku mengambil bekas dari Spirit Stone lainnya. Aku mengumpulkan mereka menggunakan sihir. Ketika aku memikirkannya kembali, banyak orang melihat kemampuan berjalan di atas air sebagai kemampuan telekinesis.

Mengubah atau mengendalikan berat suatu objek adalah definisi dari telekinesis sehingga tidak ada banyak kejutan di sana. Aku mempelajari sihirku ini dari keluarga penyihir di desa, dan mereka memiliki bagian atas pengetahuan sihir Manusiaku.

Spirit Stone akan bercahaya meskipun di dasar rawa sekalipun. Beberapa kerikil kecil mengapung ke permukaan di tempat dimana aku berada. Cahaya yang dipancarkan oleh Earth Spirit Stone berwarna coklat redup. Setiap Spirit Stone memiliki warna yang berbeda, misalnya Water Spirit Stone yang memancarkan warna Sapphire. Ukuran normal dari Spirit Stone adalah seukuran kerikil, Kau dapat mengatakan bahwa Earth Stone dengan ukuran seperti ini sangatlah langka. Ada tujuh Earth Spirit Stone dan empat Water Spirit Stone, totalnya ada sebelas. Aku membungkusnya dengan kain untuk mengeringkannya. Ini akan menjadi suvenir untuk perjalanan ini.

(Selia) “Selamat pagi Dran! Apa kau mendengarku?”

Dengan semua barang bawaannya yang dikemas, dan juga di punggungnya, Selia berhenti di pinggiran sungai dan memberikan salam. Dia melambaikan tangannya padaku dengan senyuman di wajahnya. Hubungan kami menjadi sangat baik meskipun hanya untuk satu hari. Aku berjalan ke tempatnya berada, tangannya tergenggam di belakang punggungnya.

(Selia) “Bukankah itu Spirit Stone? Waw besar sekali!”

(Selia) “Mungkin itu karena faktanya bahwa roh itu menyerap kekuatan di sini selama satu dekade.”

Melihat Earth Spirit Stone di tangan kiriku, Selia terlihat takjub. Selia mungkin telah melihat banyak Spirit Stone sebelumnya, melihat ukuran batu yang abnormal ini tidak membuatnya begitu terkejut. Dia pasti pernah melihat yang lebih besar. Karena dia banyak membantu selama pertempuran kemarin, ada benarnya dia juga layak mendapatkan Spirit Stone ini.

(Dran) “Selia, terimalah.”

Aku menyerahkan empat Earth Spirit Stone dan dua Water Spirit Stone. Pada awalnya, dia ragu untuk menerimanya, tetapi karena kepribadiannya yang lemah, setelah aku sedikit memaksa, dengan terpaksa dia menerima semuanya. Karena aku telah memecahkan masalah yang ada di rawa, tidak ada lagi alasanku untuk tetap tinggal. Jika aku ingin kembali sebelum terlambat dan memberi tahu Marco dan yang lainnya tentang apa yang terjadi, aku harus segera pergi.

(Dran) “Hei Selia, aku akan kembali ke desaku sekarang. Apa yang kau rencanakan setelah ini?”

(Selia) “Eh? Aku akan meneruskan perjalanan jauh ke Selatan untuk mencari suami idaman.”

(Dran) “Fumu, meskipun aku ramah terhadapmu, manusia lain tidak akan begitu mudahnya bermurah hati terhadap seorang Lamia. Ingatlah baik-baik.”

(Selia) “Ya, orang tuaku juga memperingatkanku sebelumnya. Aku senang bertemu dengan orang yang baik sepertimu, Dran.”

(Dran) “Selia adalah gadis yang sangat ramah, yang sulit dijumpai. Aku berharap kau akan menemukan orang yang kau sukai. Lagipula, rentang hidup Lamia jauh lebih lama daripada Manusia. Aku pikir kau harus menghabiskan lebih banyak waktumu untuk memahami manusia daripada terburu-buru dengan masalah perjodohan ini.”

(Selia) “Ya.”

Selia mengangguk pada perkataanku, dan aku mengulurkan tangan kananku. Selia melihat tindakanku dengan wajah terkejut, tetapi dia menggenggam tanganku dengan senyuman segera setelah itu, dia menunjukkan wajah tersipu malu. Senyumannya menawan, lembut dan hangat seperti kuncup bunga. Melihat pemandangan itu sebagai hadiah, aku mentransfer sebagian besar energi spiritualku melalui tangannya yang hangat dan lembut.

(Selia) “Eek!”

Aku memberinya energi Dragon God Class ketimbang energi Manusia dan itu sedikit mengejutkannya. Ketika dia berada di desanya, tidak diragukan lagi bahwa dia hanya merasakan energi Manusia, energi dari kekuatan Naga adalah sesuatu yang tidak pernah dia duga.

Apakah aku terlalu ceroboh?

Ekspresi kepuasan dapat terlihat dari wajah Selia dan ekornya bergerak liar saat dia menerimanya.

(Dran) “Maafkan aku. Kuharap aku tidak terlalu mengejutkanmu. Dalam perjalanan kembali, aku berdoa kepada tuhan agar malapetaka tidak menimpamu.”

(Selia) “Oh, ya tentu, Dran juga.”

(Dran) “Terima kasih. Kuharap kau akan menemukan pria yang kau sukai. Aku mendukungmu sepenuhnya.”

Kami melepaskan tangan satu sama lainnya, aku beranjak pergi, dan mulai kembali ke Bern. Setelah beberapa saat, aku melihat ke belakang dan melihat Selia masih berdiri di tempat yang sama. Aku melambaikan tanganku kepadanya, dan dia melambai balik kearahku. Aku tertawa dan terus berjalan dan Selia melihatku hingga sosokku tidak terlihat lagi.

Dia itu, adalah Lamia yang menarik.

Dalam perjalananku kembali ke Bern, aku menebas dua beruang besar yang menyerangku di perjalanan. Setelah hal itu, perjalananku kembali normal.

Akhirnya, aku tiba di Gerbang Utara desa. Melihat dua penjaga gerbang tertawa dan bercanda, aku masih tidak bisa menyingkirkan rasa khawatirku. Meskipun aku berpisah dengan Selia, dan juga memperingatkannya tentang berbagai hal. Tidak dapat dipungkiri bahwa aku merasa prihatin kepadanya. Mengingat kemampuan Selia, dia seharusnya tidak memiliki masalah untuk mengusir bandit atau semacamnya.

Tak perlu cemas ok? Aku meyakinkan diriku.

Meskipun kami memiliki hubungan yang baik, tidak ada perasaan lebih dari itu. Tapi aku merasa seperti sepenuhnya terikat dengan Selia. Aku tidak tahu apakah jalan hidup kami saling bertemu di masa yang akan datang, tetapi akan menyenangkan jika bertemu dengannya lagi.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded