The New Gate Volume 5 Chapter 3 – Part 1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Scraba 

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

“Ahh, aku ingin kembali …”

Di kereta yang menuju kastil tuan Taul, Shin menghela nafas.

Sudah beberapa hari sejak ‘Banjir Besar’. Investigasi di pinggiran, ekstraksi bahan baku monster dan pemindahan mayat mereka dan sebagainya, sebagian besar sudah berakhir. Shin dan yang lainnya menerima undangan.

Rupanya setelah peristiwa ‘Banjir’, Sebuah pesta diadakan dan orang yang memiliki pencapaian paling luar biasa akan diberikan penghargaan. Dikatakan bahwa mereka ingin semua Orang Terpilih (The chosen one) juga datang.

Setelah perang berakhir, Shin diminta untuk tinggal sementara. Dia setuju karena dia bermaksud membantu pekerjaan pembersihan. Ide mereka untuk menyuruh “tetap” meskipun tampaknya berbeda dari apa yang Shin bayangkan.

“Seharusnya aku yang mengatakan itu.”

Di sebelah Shin tampak Tiera yang terlihat suram. Dia bukan yang Terpilih (The chosen one), tetapi banyak pasukan telah menyaksikan sosoknya menembak monster dari atas benteng. Jadi wajar kalau dia diminta untuk hadir juga.

Meskipun mereka mencoba menolak karena mereka mengaku terlalu sibuk dengan pekerjaan, orang-orang yang bekerja dengan mereka beralasan dengan mengatakan “Kami tidak apa-apa di sini, jadi kalian pergi saja”

Bagi penduduk Balmel, tidak mungkin bahwa seseorang yang telah begitu banyak memiliki pencapaian dan mereka yang mendapat medali kehormatan karena pelayanan mereka akan pergi tanpa menerima ucapan terima kasih yang tepat, atau begitulah yang mereka katakan.

“Karena semua orang yang menyuruhku untuk pergi memiliki senyuman yang luar biasa, aku tidak bisa menolak.”

“Kau juga?”

Karena mereka semua mengatakannya dengan niat baik, dia merasa mustahil untuk menolak. Shin berada di perahu yang sama jadi dia mengerti apa yang dia maksud.

“Prestasi Shin dilaporkan oleh skuadron ksatria, kan? Orang-orang yang tinggal di sini, melakukannya tanpa gagal. ”

“Itu tidak berarti ini akan menjadi upacara formal. Jika kau terlalu khawatir tentang itu, kau akan membuat dirimu lelah sendiri. ”

“Pikirkan tentang kita yang bisa makan-makanan gratis. Sama seperti pesta bangsawan, tidak ada orang iri yang mencurigakan yang akanmendekatimu. ”

Schnee, Shadow dan Holly, yang pernah mengalami pesta semacam ini sebelumnya, mencoba meyakinkan mereka. Hibineko tidak mengungkapkannya dengan kata-kata tetapi dia juga ingin mengatakan hal yang sama.

“Aku belum pernah menghadiri upacara seperti ini sebelumnya, kau tau?”

“Yah, tidak ada waktu seperti sekarang untuk terbiasa dengan ini. Kami telah melalui ini beberapa kali. Lebih baik jika kau terbiasa dengan ini sekarang saat kau masih muda. Ini mungkin berguna di masa depan. ”

Meskipun Hibineko mengatakan itu, hampir tidak akan ada upacara seperti ini di kehidupan nyata, pikir Shin. Di sisi lain, dia sudah berkomitmen dan tidak bisa lagi mundur karena dia sudah sampai sejauh ini. Dia memutuskan untuk menerima nasibnya. Untuk jaga-jaga, dia dengan ringan memeriksa ulang pakaiannya untuk memastikan dia tidak terlihat kotor.

Adapun apa yang dikenakan Shin, itu adalah pakaian formal Kalkia, pakaian yang sama yang dikenakannya saat dia pergi ke istana kerajaan Bayreuth. Setelah membersih kotoran dari bajunya, sekarang dalam kondisi baik.

Adapun Tiera duduk di sampingnya, dia mengenakan gaun hijau cerah. Rambut hitamnya berkumpul di bagian belakang kepalanya dan dia memakai make-up yang cerah. Perpaduan itu membuat kecantikannya terlihat lebih halus. Untuk gaun one-piece-nya, sebuah bagian dari bahunya ke lengan atasnya dipotong dan roknya lebih panjang di sisi kanan daripada di sebelah kiri. Itu adalah gaun jenis asimetris. Itu menempel erat di pinggangnya, yang menonjolkan kelangsingan pinggang Tiera. Satu-satunya yang salah dengan pakaian itu adalah orang yang memakainya, karena dia memiliki bahu yang melorot dan ekspresi yang depresi.

Meskipun dia tampak tertekan, dia masih tampak luar biasa. Jika seseorang telah mengumumkan bahwa dia adalah puteri sebuah negara, tidak ada yang akan meragukannya.

Holly dan Shadow yang duduk di depan mereka, mengenakan gaun putih dan setelan hitam. Itu memang pakaian yang tepat untuk upacara. Gaun Holly adalah rok tipe panjang yang disebut gaun jenis putri duyung. Tali di bahu kirinya terdapat permata yang memancarkan cahaya biru yang menekankan kehadirannya. Dengan busana yang memperlihatkan garis tubuh lebih banyak daripada Tiera, gaya pandang Holly yang baik menonjol. Shadow yang berpakaian rapi dengan jasnya, tidak memiliki peluang.

Though Hibineko also wore a suit, he gave off a slightly comical impression due to the nature of his physique. However, it was clear, that he was used to wearing a suit. Like Shin, he typically didn’t feel the need to dress up in clothes like this, but in such a place, at such a time, his experience meant that he was comfortable dressed up.

Konon, yang paling bersinar ada Schnee. Karena diketahui secara luas bahwa Schnee Raizar jarang berpartisipasi dalam acara seperti ini, dia hadir sebagai Yuki, tunangan Shin.

Sebagai bagian dari penyamarannya, rambutnya telah berubah dari perak menjadi emas dan matanya telah berubah dari biru menjadi merah. Karena skill yang dia gunakan mencegahnya untuk diperhatikan ketika dia menggunakannya pada dirinya sendiri, tingkat penyamaran itu sudah cukup.

Rambutnya yang diikat ringan di belakang kepalanya dijepit oleh jepit rambut hias. Jepit rambut termasuk permata merah untuk mencocokkan warna matanya yang baru. Gaun putih yang dikenakannya dengan berani memperlihatkan punggungnya dari pundaknya ke pinggangnya.

Karena gaun itu dirancang untuk mengencangkan kain di bawah lengannya, dadanya sangat ditekankan. Karena payudara Schnee secara alami sudah besar, ini menarik perhatian sekelompok pria meskipun itu bukan gaun berpotongan pendek.

Namun, warna gaun yang dikombinasikan dengan sikap alami Schnee tidak mencerminkan perasaan daya tarik seks yang berlebihan. Tampilan rapi dalam kombinasi dengan daya tariknya, malah membuatnya menjadi sosok mempesona yang memancarkan pesona.

Schnee sejak awal sudah menjadi wanita cantik, tapi kecantikannya naik satu peringkat ketika dia berdandan. Melihatnya seperti ini untuk pertama kalinya, Shin terpesona olehnya.

“Baik Tiera-san dan Schnee-san mengenakan gaun. Gaun yang kalian berdua kenakan, apakah mereka pakaian tradisional untuk elf atau semacamnya? ”

“Eh? Oh, aku baru saja meminjam baju ini. Apakah desainnya bagus? ”

“Mereka sangat langka. Aku telah belajar banyak tentang pakaian karena aku pikir aku ingin melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan pakaian. Kebanyakan dari mereka adalah desain yang sangat mirip untuk beberapa alasan. ”

Kaede adalah elf yang dibesarkan di Balmel. Dia tidak tahu gaya pakaian apa yang mungkin normal di taman elf.

Meskipun Holly adalah High Elf juga, dia mungkin tidak memiliki pengetahuan seperti itu karena dia adalah mantan pemain.

Apa yang Holly miliki dibuat oleh pemain, tetapi Kaede melihat gaun-gaun berbagai desain namun, sepertinya terpesona padanya. Kaede sendiri mengenakan gaun one-piece kuning sederhana. Itu cocok dengan karakter Kaede dan menciptakan suasana yang baik juga.

Ketika mereka berbicara, kereta melewati gerbang. Mereka berada di dekat tujuan. Di dalam kereta, ada Shin, Schnee, Tiera, keluarga Kurosawa, dan dua binatang, Yuzuha dan Kagerou. Kagerou seperti biasa di dalam bayangan Tiera. Yuzuha juga berada di posisi yang biasa, di atas kepala Shin.

Karena akan ada banyak petualang yang menghadiri pesta itu juga, aturan berpakaiannya tampak cukup fleksibel, dengan banyak jenis pakaian yang berbeda sebagai bukti. Ada juga banyak yang sepertinya mengakui bahwa Shin adalah Kelas Terpilih (The chosen one) juga.

Tak lama kemudian, kereta berhenti.

Jika seseorang melihat ke depan dekat Holly dan Shadow, Hibineko bisa terlihat mengambil tangan Kaede. Menirukan Hibineko, Shin juga mengulurkan tangannya untuk membantu Schnee turun dari kereta. Meskipun dia sering melihat hal-hal seperti ini di film, tidak ada yang tahu betapa sangat malunya Shin untuk melakukannya secara nyata.

“Nona muda, tolong berikan aku tanganmu. Atau semacam itu..”

“Fufu, terima kasih banyak.”

Apakah Schnee ingin bermain bersama? Dia mengambil tangan Shin sambil tersenyum kecut.

Apakah karena adegan-adegan serupa terjadi di sekitar mereka? Shin sepertinya bisa berbicara dengan lancar sekarang.

“Sekarang nona muda berikutnya juga.”

“Bagaimana aku harus mengatakan ini, sepertinya tidak sesuai denganmu.”

“Jangan katakan itu!”

Tidak seperti Schnee, Tiera menahan mulutnya untuk menahan diri agar tidak tertawa.

Ketika semua orang turun, mereka pergi ke aula pertemuan.

“Maukah kamu mengantar aku juga?”

“Jika kamu baik-baik saja denganku.”

Schnee secara kausal menghubungkan lengannya dengan Shin. Lalu lengan lainnya juga ditarik.

Tentu saja, itu Tiera.

“Apakah kamu benar-benar akan membuatku pergi sendiri? Karena lenganmu yang lain juga tersedia, biarkan aku memakainya juga, oke? ”

“Apakah baik-baik saja?”

“Karena Tiera dan aku berdua berpura-pura menjadi tunanganmu hari ini, bukankah itu baik-baik saja?”

“Kamu diberkati oleh dua wanita cantik, tahu? Kau boleh menikmatinya. ”

Karena baik Schnee dan Tiera berada dalam suasana hati yang luar biasa baik, Shin berhenti membicarakannya. Tidak perlu menjadi downer.
[Note : Downer  adalah Sesuatu yang membuat depresi, seseorang yang sedang depresi]


Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded