The New Gate Volume 7 Chapter 4 – Part 1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Lyle
  • Editor : Scraba

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Suruh Mbak Google Baca”]

“Oke, sekarang setelah kita memutuskan tindakan, mari kita bergerak. Jangan membuang-buang waktu.”

Mengatakan demikian, Shin melihat ke arah pintu masuk.

Mereka menggunakan satu-satunya jalan masuk ke ruangan tempat Filma ditahan. Karena tujuan pertama mereka adalah menyelamatkan Hermie, mereka tidak perlu lagi tetap berada di sana.

“Hei, Shin. Aku ingin tahu apakah ada jalan rahasia di ruangan ini? Seperti rute pelarian darurat… mungkin lebih baik menghancurkannya jika kita menemukannya.”

“Aku juga mencoba mencari itu, tetapi tidak dapat menemukan apa pun. Bagaimana denganmu, Yuki?”

“Aku juga tidak menemukan apa-apa. Ruang pengorbanan berikutnya, mungkin mereka membatasi jumlah pintu masuk untuk mencegah kunjungan tak terduga?”

Shin dan Schnee memeriksa sekitarnya lagi sebelum menjawab pertanyaan Milt. Ketika mereka memastikan tidak ada yang perlu diperhatikan di ruangan itu, mereka memutuskan untuk pergi.

Setelah pergi, Shin menutup pintu dan memasang salah satu kunci yang dibuat khusus. Sekarang pintu hanya bisa dibuka dengan menyuntikkan sejumlah kekuatan sihir tertentu atau dengan memaksanya terbuka.

“Baiklah, untuk rute kita… di atas, ada lorong selain yang kita ambil.”

Shin berbicara sambil menunjuk bagian atas ruangan, yang tampak seperti ruang yang disediakan untuk kursi penonton.

“Lorong itu mengarah ke area tempat duduk untuk menonton area di bawah. Ada juga ruangan yang agak besar di sisi lain juga.”

“Itu membuatnya terdengar seperti ruangan bos.”

“Iya. Aku juga bisa merasakan kehadiran Wilhelm dari ruangan itu.”

Shin mengangguk pada kata-kata Filma dan membagikan apa yang telah dia deteksi.

Peta menunjukkan 5 titik di ruang besar yang melewati lorong. Salah satu dari mereka terdapat nama Wilhelm yang ditampilkan.

“Jika Wilhelm ada di sana, mungkin saja Hermie didekatnya juga.”

“Tapi jika mereka berkumpul di tempat yang sama, pasti ada sesuatu di belakangnya.”

Semua orang sepertinya berbagi prediksi dengan Schnee dan Filma, jadi tidak ada keberatan untuk segera mulai bergerak lagi.

Kursi penonton berada pada ketinggian jauh di luar kemampuan orang normal, tetapi Shin, anggota tim Tsuki no Hokora lainnya dan Milt meraihnya dengan mudah dengan 1 lompatan.

Masalahnya hanya ketidakmampuan Konig dalam melompat, tetapi itu diselesaikan dengan cepat.

“Ehm, aku minta maaf.”

“….tidak, dia adalah binatang suci. Mau bagaimana lagi.”

Tiera berbicara dengan Konig dengan nada minta maaf, tetapi dia menjawab dengan serius dan mengangguk.

Saat dia berpikir bahwa dia akan memanjat tali yang dijatuhkan Shin dari atas, Kagerou melompat ke atas… dengan Konig di mulutnya.

Tiera atau Shin tidak akan menjadi masalah, tetapi untuk saat ini sepertinya membiarkan Konig naik ke punggungnya bukanlah suatu kemungkinan.

Konig berbicara dengan serius saat berada di mulut Kagerou dan Tiera menunggangi Kagerou akan menjadi sangat nyata jika seseorang tidak mempertimbangkan konteksnya.

Suasana yang sedikit aneh yang terbentuk kemudian dipatahkan oleh pertanyaan serius dari Milt.

“…Aku merasakan sesuatu yang jahat dari ruang sebelah.”
Matanya tertuju ke arah lorong yang menuju lebih dalam ke dalam gua.

“Ya, itu lebih jelas.”

Shin mengerti arti kata-kata Milt.

Mungkin karena kurangnya pencahayaan, bagian terjauh dari lorong itu gelap gulita. Kehadiran jahat yang dibicarakan Milt terpancar dari bagian terdalam koridor.

Tidak ada yang terlihat di mata mereka, tetapi mereka masih bisa merasakan sensasi tidak menyenangkan yang merayap di kulit mereka.

“Aku merasa sakit… miasmanya terlalu tebal.”

Tiera yang menahan dirinya, hampir tidak bisa berdiri tegak. Perasaannya yang lebih tajam tidak menguntungkannya saat ini.

“Ada iblis di depan.”

“Kehadiran yang kuat ini kemungkinan mereka juga berada di kelas Grand Duke.”

“Iya. Jika kita tidak mengambil kembali Hermie sebelum mereka menjadi serius… situasinya bisa menjadi sangat buruk.”

Menggunakan deteksi kehadiran, Shin memiliki jangkauan deteksi paling akurat dari semua anggota party.

Peta yang ditampilkan ke mata Shin menunjukkan nama Wilhelm di antara tanda yang ada di ruangan di balik ambang pintu. Tanda Wilhelm berwarna hijau, yang berarti “netral”.

Ada tanda hijau lain selain Wilhelm, lalu 2 dengan warna merah.

Tanda terakhir yang tersisa berwarna merah dan hitam.

“Aku mendeteksi keberadaan satu iblis. Ada 3 manusia yang hadir, termasuk Wilhelm. Salah satunya mungkin adalah Hermie, aku kira.”

Jika itu Hermie, namanya seharusnya ditampilkan juga, tapi tidak. Jadi Shin mengaitkannya sebagai hipotesis sederhana.

“Mungkinkah mereka dimanipulasi sepertiku?”

“Aku tidak bisa mengatakannya. Sebelumnya ketika situasimu, penanda itu tetap berwarna hijau sampai kami diserang.

Saat Shin membalas Milt, Konig menyela.

“Haruskah kita menunggu?”

“Mempertimbangkan penyelamatan Hermie, itu mungkin ide yang bagus, tapi kurasa itu buruk untuk menunggu seperti ini.”

Apa yang Konig katakan tidak salah. Menunggu sampai iblis menciptakan celah dan menggunakannya untuk mengambil kembali Hermie adalah tindakan terbaik untuk memprioritaskan penyelamatannya.

Namun, dengan cara yang sama persis seperti ketika dia merasa masih ada waktu ketika dia menghadapi Milt, Shin merasa yakin bahwa membiarkan iblis pergi ke sini akan menempatkan mereka pada kerugian yang fatal.

Shibaid berbalik ke arahnya dan bertanya.

“Apakah ada sesuatu di pikiranmu?”

“Sebenarnya, itu juga terjadi ketika aku bertemu Milt sebelumnya… Aku punya firasat yang aneh. Sesuatu membuatku merasa bahwa menunggu di sini jelas bukan ide yang bagus.”

“Begitu, itu mungkin efek dari【Intuition】. Aku memiliki pengalaman serupa di masa lalu. Kita harus pergi kalau begitu.”

“Aku setuju.【Intuition】 dari mereka yang memiliki kemampuan tinggi sering kali benar.”

“Ya, aku juga setuju.”

Shibaid dan Schnee, yang telah bertempur di dunia ini, serta mantan pemain Milt semua setuju dengan Shin. Mereka semua memiliki skill 【Intuition】, jadi mereka tahu dari mana dia berasal. Sementara dia diam, Yuzuha juga menyatakan persetujuannya.

“Aku ingin memprioritaskan keselamatan Nona Hermie, tetapi jika itu berarti akan lebih banyak bahaya, aku akan siap.”

“Sebenarnya, lebih baik tidak menuggu lama di tempat yang penuh dengan miasma tebal seperti ini.”

“Gruu.”

Konig, Tiera dan Kagerou tidak mengajukan keberatan apa pun dan melihat Shin, dengan senjata mereka di tangan.

“Pertama, Yuki dan aku akan mencoba merebut Hermie sebelum musuh memperhatikan kita, maka itu semua tergantung pada apa yang terjadi selanjutnya. Iblis-iblis itu mungkin berasal dari kelas Named. Diriku, Yuki, Shibaid, dan Filma akan berurusan dengan mereka. Tuan Konig, aku ingin kau membawa Nona Hermie ke tempat aman. Tiera, Kau akan mengurus sisa pasukan dengan Yuzuha dan Kagerou.”

“Hei? Bagaimana dengan aku?”

“Milt, aku ingin kau menjaga Wilhelm. Dia mungkin dalam keadaan yang sama seperti sebelumnya. Satu lawan satu adalah yang terbaik untukmu, bukan?”

“Tidak masalah sih, tapi aku tidak tahu bagaimana rupa Wilhelm ini.”

“Itu bukan masalah… ini dia.”

Setelah memberi setiap anggota peran mereka, Shin mengambil foto dari kotak barangnya.

“Oh, sebuah screenshot. OK mengerti.”

Foto itu adalah screenshot yang terwujud. Dalam permainan itu akan disimpan dalam data, tetapi di dunia ini seseorang hanya perlu berpikir “mengambil screenshot” dan, dengan biaya MP yang kecil, sebuah foto akan dibuat.

Shin tahu tentang ini ketika dia menguji segala macam hal ketika dia mengajarkan 【Purification】 ke Rashia.

“Apakah semuanya sudah siap?….Ayo pergi.”

Shin memastikan semua orang siap dan memimpin party ke depan.

Di pinggangnya tergantung salah satu katana yang dia tempa saat menciptakan 『True Moon』.

Baik sarung dan bilahnya berwarna putih bersih. Itu juga tidak memiliki hiasan apapun, dan ketika beristirahat di dalam sarungnya itu tampak seperti pedang kayu seperti yang digunakan untuk latihan. Itu adalah katana kelas Ancient superior, 『Moonless Sky』.

Shin menggunakan mantera【Hiding】 ke seluruh party; mereka berjalan menembus kegelapan, tidak terlihat.

Untuk Tiera dan Konig, yang tidak memiliki 【Night Vision】, Shin telah menggunakan item yang secara sementara memberikan efek serupa.

Mereka berjalan perlahan-lahan, memeriksa setiap jebakan, lalu Shin melihat cahaya kecil yang muncul di kegelapan. Dia memusatkan perhatian dan menemukan bahwa sumber cahaya berada di sebelah pintu.

“Sepertinya kita telah mencapai tujuan kita.”
Sebuah pintu yang kokoh berdiri di depan mereka, remang-remang dalam kegelapan. Mereka mendekat untuk memeriksanya, tetapi tampaknya itu tidak dipasang dengan perangkap apa pun.

Menurut peta Shin, di ruangan ini ada Wilhelm, Hermie, iblis, dan dua manusia lainnya. Mungkin karena jarak yang sekarang berkurang, nama Hermie sekarang ditampilkan.

Shin melihat melalui pintu dengan 【Through Sight】 dan menemukan Hermie duduk di tengah ruangan, dengan iblis yang tampak seperti pria berambut putih berdiri di depannya.

Wilhelm dan dua manusia lainnya, mungkin penjaga, berdiri seperti patung di ujung ruangan.

“Iblis dan Nona Hermie terlalu dekat…..hm?”

Shin sedang merenungkan situasi yang membuatnya sulit untuk bertindak, ketika iblis berambut putih itu bergerak.

Tangan kanannya, diselimuti miasma, semakin dekat ke kepala Hermie.

Ketebalan dari miasma itu mudah terlihat bahkan di dalam ruangan yang remang-remang sekalipun. Melihat substansi yang seperti lumpur, Shin menghunuskan, Skyless Sky, bahkan sebelum berpikir.

“Sssh!”

Sebuah suara tebasan mendesis di udara, mengikuti garis yang dibentuk oleh pedang tersebut.

Tebasan jarak jauh yang dipancarkan oleh kemampuan bela diri Katana 【Void Cutter】 memotong melalui pintu yang memisahkan koridor dan ruangan tanpa perlawanan. Mengiris melalui udara secara instan, dan itu memotong lengan kanan iblis.

“Apa!? Le-lenganku!?”

Saat suara iblis yang terkejut mencapai telinganya, Shin menendang pintu ke bawah dan menerobos masuk ke dalam ruangan.

“Kau seles—”

“Tidak secepat itu!!”

Iblis itu dengan tepat memblokir tebasan Shin berikutnya, yang mengarah ke lengan kirinya.

Itu tidak terlihat pada pakaiannya, tapi sepertinya dia memiliki sesuatu yang lengkap di sana. Dengan suara tajam dan percikan api yang berterbangan, pedang itu tenggelam ke lengan kirinya.

Yang mengejutkan adalah, pedang itu berhenti sebelum memutus lengannya.

“Hngh!”

Sebelum Shin siap melakukan serangan berikutnya, iblis itu melepaskan miasma dari seluruh tubuhnya.

Itu sama dengan miasma yang melilit lengan kanannya, jelas warna yang berbeda dari miasma biasa.

Sebelum menyentuh miasma, Shin menarik 『Moonless Sky』 dan menempatkan beberapa jarak antara dirinya dan iblis.

“Sial, aku tidak bisa mendekatinya.”

Shin berencana mundur sambil membawa Hermie bersamanya, tetapi iblis itu menghalangi dan dia tidak bisa mendekatinya.

Miasma tidak pernah menyentuhnya secara langsung, tetapi mungkin karena pengaruhnya, ekspresi Hermie terdistorsi, dia kesakitan.

Satu langkah di belakang pertarungan Shin dengan iblis, Schnee dan yang lainnya juga bergerak.

Serangan mendadak Shin membuat sekutunya terkejut juga. Reaksi mereka terutama terbagi menjadi dua: Schnee, Shibaid, Filma, dan Milt segera menganalisa situasi dan mengikutinya, sementara Tiera dan Konig berhenti di jalurnya.

“Ayo pergi!”

“ya!”

Filma dan Shibaid memasuki ruangan tepat setelah Shin. Schnee menggunakan 【Hiding】 dan, tanpa sepatah kata, lalu melenyapkan kehadirannya.

“Kuu!”

“Gruah!”

“!!Tuan Konig, ayo pergi!!”

“Kh, kita selangkah di belakang…?”

Tiera mengikuti setelah Yuzuha dan Kagerou diperintahnya. Konig, yang telah kembali sadar setelah panggilan Tiera, bergerak terakhir.

“Baiklah sekarang, bicara tentang hal yang tidak terduga. Aku tahu kau akan datang cepat atau lambat, tetapi ini adalah kecepatan yang luar biasa.”

“Aku tidak peduli tentang prediksimu.”

Mungkin karena dia telah mengatasi rasa kaget karena kehilangan lengan, iblis itu berbicara dengan nada marah, ekspresi letih di wajahnya.

Dibalik perilaku seperti itu, dia sangat memperhatikan Shibaid dan Filma, yang datang setelah Shin.

“Wow, lebih kuat dari yang aku kira!”

“Apakah mereka juga yang terpilih!?”

Kemungkinan, Wilhelm dan manusia lain di dekat tembok telah bergerak. Shin mendengar suara Milt dan Tiera, yang mulai bertarung di belakangnya.

“Astaga, kelompok besar ini. Sayang sekali kami belum siap menyambutmu.”

“Kami akan kembali segera setelah kami melakukan apa yang harus kami lakukan. Tidak perlu repot-repot.”

Memakai 『Moonless Sky』 dan tidak menurunkan pertahanannya sedetikpun, Shin berhadapan melawan iblis.

Di sebelah kanannya berdiri Filma, dengan『Red Moon』di tangannya, di sebelah kiri Shibaid dengan 『Placid Moon』; keduanya mengarahkan pedang mereka pada iblis.

“Ya ampun, ketidaksabaran itu. Yah, karena kalian semua datang jauh-jauh ke sini, izinkan aku memperkenalkan diri.”
Mengatakan demikian, iblis menempatkan lengan kirinya di dadanya dengan gerakan mencolok dan berpose.

“Aku bernama Scoruas, salah satu Grand Dukes dan pengikut Lord Miasma Meahelga.”

Setelah perkenalannya, Scoruas memelototi party Shin, seperti predator yang mengincar mangsanya.

“Sayangnya, aku tidak punya niat melakukan hal yang sama.”

“Itu tidak apa-apa. Aku tidak tertarik padamu, tetapi pada wanita di sampingmu.”

Scoruas memandang ke arah Filma.

“Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, Nyonya Filma Tolmeya. Bagimu, yang aku tidak bisa sentuh di dalam Drop Erathem, untuk datang menemuiku sendiri, benar-benar nyaman bagiku. Kudengar Schnee Raizar akan hadir juga, tapi kurasa aku akan terus menikmati itu nantinya.”

Alis Filma bergerak atas kata-kata Scoruas. Mereka mengartikannya seolah-olah dia tidak lebih dari hidangan pembuka sebelum Schnee, dan dia tidak bisa untuk tidak terpengaruh oleh mereka.

“Jadi kau pikir kalau aku keluar kau bisa melakukan apa saja yang kau suka padaku? Aku khawatir kau terlalu meremehkanku, Kau tahu?”

“Aku minta maaf jika aku menyinggungmu. Tapi ya, seperti yang kau katakan, melihatmu tidur di dalam kristal itu membuat diriku senang, bagaimanapun juga, manusia akan bersinar terang terlihat melalui emosi mereka. Aku tidak sabar untuk melihat betapa lezatnya rasa putus asa-mu.”

Mungkin karena dia merasa tidak ada yang disembunyikan, Scoruas menjawab pertanyaan Filma dengan nada yang benar-benar santai.

Matanya yang penuh nafsu tidak beralih dari Filma satu detikpun.

“(Sepertinya dia tidak tertarik pada kita.)”

“(Itu sempurna. Jika dia menciptakan celah untuk kita, akan lebih mudah untuk menyelamatkan Hermie.)”

Saat berbicara dengan Shibaid melalui Mind Chat, Shin memikirkan cara untuk menarik perhatian Scoruas dari Hermie.

Ketika Schnee yang tidak terlihat itu semakin mendekat ke Hermie, Shin secara bertahap mengubah posisinya juga.

“….apa?”

“Oh, dia ada di sini.”

Seakan menjawab kata-kata bisikan Filma, getaran mengguncang seluruh ruangan.

“Ruangan berguncang?”

“Gempa bumi!?”

Milt dan Tiera sama-sama fokus pada bahaya yang mungkin terjadi, yang pertama sambil menangkis 『Vakira』 dengan pedang kembarnya, yang kedua sambil menembak kedua kaki manusia dengan panahnya.

“(Ini buruk, Schnee!! Cepat!!)”

Saat terus menyerang Scoruas, yang masih terfokus pada Filma, Shin memanggil Schnee melalui Mind Chat.

Schnee mendengar kata-kata Shin dan bergerak menuju Hermie. Sebelum dia bisa melakukannya, bagaimanapun, bayangan menerobos langit-langit dan mendarat tepat di antara Hermie dan Schnee.

Tanpa kehilangan langkahnya karena situasi yang tak terduga, Schnee mengayunkan 『Blue Moon』.

“Itu tidak akan berhasil!!”

Seakan gerakan Schnee terlihat, dua longswords berayun ke arahnya. Pedang-pedang panjang yang bermata hijau gelap beradu dengan 『Blue Moon』, mengirimkan percikan api ke segala arah.

“Gah! Ini bukan kekuatan otot elf!!”

Pedangnya membentuk salib, bayangan-Adara berteriak sambil tertawa.

Mungkin karena dia tidak dalam bentuk aslinya, dia sedikit didorong kembali. 『Blue Moon』juga melewati ke dalam longswords yang dia pegang.

Meskipun penampilannya bukan yang sebenarnya, dia masih seorang iblis.

Mungkin karena kemampuan spesialnya, tiba-tiba dua pedang yang sama persis seperti pedang yang dia pegang melayang di udara. Pedang itu kemudian menunjuk kearah Hermie.

“Kau tahu apa yang akan aku katakan, bukan? Jangan bergerak, pria besar. Dia bisa mati sekarang, kau dengar?”

Kedatangan iblis kedua telah membuat lebih sulit bagi pihak Shin untuk bergerak.

Menggunakan 【Analyze】 untuk memeriksa lawan baru mereka hanya memastikan seberapa kuat dia.

“Curang sekali.”

“Itu pujian untuk iblis seperti kami. Tapi bukannya berkata untuk menarik senjatamu, kau bahkan tidak mengurangi sedikitpun kekuatan!”

Sambil berbicara, Adara menanamkan lebih banyak kekuatan di lengannya. Longswords Adara dan 『Blue Moon』 masih dalam benturan dengan percikan api, tetapi Adara terdorong muncur.

Karena dia sudah bergerak menyerang, 【Hiding】 milik Schnee sudah hilang.

“Jika kau membuat satu goresan apapun padanya, aku akan memotongmu di sini sekarang juga.”

“Oh wow, takut cuukkk. Siapa yang mengancam siapa sekarang?”
Adara mencemooh dengan ketenangan yang tidak berubah.

“Yah, itu juga bisa menyenangkan.”

Itu terjadi ketika pedang yang mengambang di udara menerima perintah Adara dan bergerak untuk menusuk Hermie.

“Waah!! Shin, menghindar!!”

“!?!”

Satu detik setelah teriakan Milt, sinar kilat hitam terbang melintasi ruangan.

“GWAAAAHHH!?!”

Dan satu detik kemudian, jeritan Adara pun terdengar.

Cahaya menyilaukan telah menarik perhatian dari ruang diantara anggota party Shin dan menyerang Adara. Karena dia masih menangkis ‘Blue Moon’ milik Schnee, dia tidak punya cara untuk menghindarinya.

“Apa apaan!? Kekuatanku menghilang!”

Adara berteriak; Perutnya ditembus oleh tombak hitam legam yang dihiasi dengan desain yang menyerupai darah yang mengalir. Tombak, yang berdenyut seakan hidup, adalah 『Vakira』, senjata yang seharusnya milik Wilhelm.◆

 Kesadaran Wilhelm terbatas pada bagian terdalam hatinya.

Dalam keadaan mengantuk, seolah-olah dia bisa jatuh tertidur setiap saat, ia menanggapi dengan malas untuk suara yang datang dari suatu tempat.

(Sangat mengantuk…)

Kesadarannya hampir jatuh sepenuhnya. Dia akan menjadi tidur dimana dia tidak akan pernah bangun lagi.

Lingkungan sekitarnya diselimuti kegelapan yang pekat, kegelapan yang seolah-olah bisa melahap segalanya.

—–!! !?!

(Sial… sekarang bagaimana?)

Abaikan saja. Itu yang dia pikirkan, tetapi setiap kali dia mendengar suara itu, roh Wilhelm terguncang.

Dia berusaha mati-matian untuk menghentikan kesadaran Wilhelm agar tidak tenggelam.

Seperti seutas benang yang tergantung di kegelapan, itu membuat Wilhelm terikat, membuatnya tidak melintasi garis terakhir. Seolah-olah itu menyuruhnya untuk mendengarkan suara tersebut.

(Aaah… aku… aku…? Siapa aku…?)

Hal pertama yang dia pikirkan adalah namanya. Simbol itu mengekspresikan identitasnya. Gelarnya.

Tetapi itu tidak akan keluar.

Seolah-olah ada sesuatu yang mencegahnya, ada sesuatu yang mencoba menghilangkan kesadarannya.

(Apa… apa yang aku…?)

Dalam kegelapan pekat itu, Wilhelm bergerak. Tetapi lengan dan kakinya tidak akan menjawab perintahnya.

Bergerak bahkan hanya satu lengan saja terasa seolah-olah dia tenggelam dalam lumpur, dengan beban melekat di sekujur tubuhnya.

——!?!

(Sial, tidak bisa mendengar…)

Dia tidak bisa tidak merasakan bahwa dia gagal mendengar sesuatu yang sangat penting.

(Mengapa begitu sulit untuk bergerak… apa ini…?)

Wilhelm semakin kesal terhadap tubuhnya yang tak bisa berubah.

Dia merasa jijik, seolah-olah ada kekuatan tak dikenal yang melakukan apa yang tidak dia senangi. Emosi itu, naik dari dadanya, membakar semangat pemberontakannya.

Pada saat yang sama, kesadarannya yang samar menjadi lebih jelas dan lebih jelas.

—aku.

(Belum… itu tidak cukup…)

Seakan merangkak dalam kegelapan, Wilhelm mencoba membangun lebih banyak kekuatan di tubuhnya, yang masih belum bisa dirasakannya dengan jelas.

Biasanya tidak mungkin untuk memvisualisasikan tubuh seseorang ketika dalam keadaan kesadaran belaka, tetapi untuk beberapa alasan Wilhelm berada dalam kegelapan, dan telanjang bulat.

Dia membuka matanya hanya untuk menemukan kegelapan di hadapannya. Dia hampir tidak bisa melihat 1 mel di depannya.

Namun Wilhelm memahami dengan jelas bahwa dia sendiri sekarang ada di sana.

Dia merasa seolah memegang sesuatu. Melihat ke bawah ke arah tangan kanannya, ia menemukan pasangannya, berubah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.

“Apa-apaan ini?”

Wilhelm tidak bisa untuk tidak mengucapkan kata-kata itu dengan keras.

Tombak kesayangannya, yang Shin telah tempa, seharusnya menjadi Tombak Suci 『Beinot』 dengan kilauan seperti platinum. Namun apa yang dipegang tangan kanannya adalah tombak hitam pekat yang diselimuti aura ungu tua.

Simbol geometris dari makna yang tidak diketahui mendekorasi permukaannya, diwarnai dengan warna merah darah.

“Tombak Neraka… Vakira?”

Entah kenapa, nama tombak itu muncul di benaknya. Itu adalah nama yang tidak pernah didengar oleh Wilhelm sebelumnya.

——- aku.

“…Aku masih bisa mendengarnya.”

Dia bisa mengerti bahwa suara yang berbisik di dekat telinganya adalah suara seseorang. Tapi dia tidak mengerti apa yang dikatakannya.

“Tch, aku tidak bisa keluar!”

Wilhelm menyuarakan kekesalannya.

Tidak peduli berapa banyak dia mencoba, suara itu akan selalu menghilang tepat sebelum dia bisa memahaminya.

Dan setiap kali suara itu lenyap, perasaan kehilangan sesuatu yang penting semakin bertambah dalam dirinya.

Arah suara berasal tidak tetap dan tampak tidak teratur. Dia tidak tahu ke mana harus bergerak, rasa frustrasinya semakin meningkat.

“Aku merasa sakit… dimana aku sebenarnya.”
Wilhelm menekan perasaan yang tumbuh di dadanya dan mencoba untuk mendapatkan kembali ketenangannya.

Tidak ada hal positif yang akan terjadi jika dia bertindak karena frustrasi dalam situasi yang tidak sepenuhnya dia pahami.

Kesadarannya telah kembali cukup untuk bisa berpikir dengan cara ini.

“Aku punya senjata, aku tidak tahu di mana aku berada. Apa yang aku lakukan sebelum datang ke sini?”

Wilhelm mencari dalam ingatannya saat menganalisa situasinya saat ini.

Tapi tidak peduli sebanyak apa dia mencoba memulihkan ingatan masa lalunya, tidak akan ada yang muncul.

Apa yang hampir tidak bisa dia bayangkan adalah dirinya bertarung melawan monster. Dia mengalahkan monster undead, ketika dia merasakan sesuatu dan memasuki beberapa hutan, di mana dia bertemu sesuatu.

Kenangannya saat itu kabur. Dia merasa seperti telah melihat semacam cahaya.

“Itu terlalu terpecah-pecah. Dan aku bahkan tidak dapat mengingat nama ku sendiri… apa yang sedang terjadi. ”

Bahkan jika itu hanya pecahan-pecahan, ingatannya melawan monster sudah jelas. Namun, dia tidak dapat mengingat apa pun tentang hal yang paling penting, dirinya sendiri.

“….hm?”

Saat itu, Wilhelm merasakan tangan kanannya bergetar.

Dia mencoba mengangkat lengan kanannya sedikit, dan memperhatikan bahwa 『Vakira』 sedikit bergetar. Bagian dari aura ungu tua senjata terbakar merah, sesekali memancarkan percikan api.

“Apa yang sedang terjadi sekarang…?”

Wilhelm mendengus serak. Karena lengan kanan yang menggenggam 『Vakira』 bukanlah yang dia kenal sebagai miliknya.

Lengannya ditutupi sisik, kukunya juga lebih tajam… seperti gigi Dragnil.

“Tidak, tunggu, ini tidak bisa… aku seharusnya seorang Lord.”

“(Itu benar dan juga salah.)”

“!?! Siapa itu?”

Wilhelm tidak mengharapkan ucapannya untuk menerima balasan, dan dengan segera mengarahkan Vakira ke arah asal suara itu.

“(Hai, aku.)”

“…..?”

Ucapan santai itu datang dari seorang pria Dragnil.

“(Hei sekarang, jangan bilang kau tidak mengenaliku? Yah, biasanya kita tidak akan pernah berbicara tatap muka seperti ini. Ini benar-benar luar biasa meskipun… senjata yang dibuat oleh High Human bahkan dapat mengambil emosi, huh.)”

Pria itu terus berbicara kepada Wilhelm, yang mengerutkan alisnya.

Ketika dia mendengar kata High Human, bayangan seorang pria muncul di pikirannya.

“Jawab aku.”

“(Aku sudah memberitahumu, bukan? Aku adalah”aku”. Dengan kata lain, kurasa aku bisa mengatakan aku adalah kau yang lain? Tapi tidak, bukan semacam kepribadian ganda atau semacam itu. Aku kekuatan itu sendiri, salah satu kekuatan yang kau miliki. Aku mendapatkan bentuk ini karena teknik High Human dan perasaan yang dituangkan oleh bocah-bocah itu di tombakmu.)”

“Apa yang kau bicarakan?”

“(Bentuknya berbeda sekarang, tapi『 Beinot 』hanya bisa dibuat dengan menanamkan harapan dan doa orang-orang. Ada doa-doa yang benar-benar murni yang dijiwai dalam bentuk tombak Venom yang kau gunakan sebelumnya. Sunggug luar biasa, bagaimana begitu banyak orang bisa berkumpul di dalamnya.)”

“Doa…?”

Pria itu terus berbicara dengan acuh tak acuh.

Bocah, doa, Beinot. Setiap kali salah satu kata itu sampai ke telinganya, Wilhelm teringat tentang orang-orang yang dekat dengannya.

“(Aku terkejut bagaimana bocah-bocah itu tidak takut pada wajah seperti ini, sungguh.)”

“Apa? Apa itu, tiba-tiba? ”

“(Bertindak kasar seperti itu hanya cara untuk menarik perhatian. Yah, mungkin setengah dari itu adalah dirimu sendiri. Kau membuat orang lain tidak menyukaimu dengan tujuan untuk tidak membiarkan mereka melihat sisi yang lebih penting darimu. Itu juga alasannya kenapa kau jarang pergi ke panti asuhan.)”

“Panti asuhan…? Gah!!”

“(Ingat. Kau belum lupa, bukan? Itu tempat di mana kau pertama kali menjadi “orang”.)”

Sebagai reaksi terhadap kata “panti asuhan”, badai kenangan dan kilas balik meledak di dalam Wilhelm.

“Gh… aah, sial…….. aku ingat.”

Wilhelm, yang telah memegangi kepalanya, kembali memandang pria itu. Seakan kata-kata itu adalah kunci untuk membuka pintu terakhir, semua ingatannya kembali.

“(Itu bagus. Kita tidak bisa lebih lama di sini.)”

“Bagaimana apanya?”

“(Lihat saja di belakangku.)”

Dengan kecurigaan, Wilhelm melihat ke balik bahu pria itu. Di sana ia melihat secercah kegelapan yang lebih dalam lagi, berbentuk seperti lubang.

Wilhelm telah mencari pria itu selama ini, tetapi baru sekarang menyadari kehadirannya.

“(Kau tidak perlu aku untuk menjelaskannya, bukan? Jika Kau jatuh di sini, Kau tidak akan kembali lagi.)”

“Ya, aku sudah mengetahuinya.”

“(Aku memberitahumu karena kau hampir terjatuh. Kau punya tombak yang harus diberi rasa terima kasih untuk itu. Doa di dalamnya membuatmu terus keluar.)”

“Mereka menahanku, ya… dan? Peranmu juga untuk membangunkanku?”

“(Tidak, apa yang harus aku lakukan adalah mengajarimu bagaimana menggunakan kekuatan. Karena meskipun kau seorang’Critical’ dan begitulah, Kau bahkan tidak bisa menggunakan setengah dari kekuatan itu. Itulah mengapa kau menjadi seperti ini hanya dengan beberapa iblis yang tidak bertransformasi.) ”

Pria itu mengangkat bahu, hampir kecewa.
“Ada kekuatan dalam diriku yang belum aku gunakan?”

“(Kau dapat menggunakannya mungkin sepertiga dari itu sekarang. Biasanya seseorang memiliki 2 bonus spesies, tetapi ‘Critical’ memiliki 3, bahkan 4. Kau termasuk orang spesial yang sangat kuat. Tapi itulah salah satu alasan mengapa kau tidak menggunakan kekuatanmu yang sebenarnya. Kemampuan Evil Eye milikmu akan dengan mudah mengumpulkan kekuatan sihir untuk meningkatkan kemampuan fisikmu juga, sampai hari ini kau tidak menggunakannya secara efisien sama sekali)”

Kau terlalu ceroboh, kata pria itu.

Pria itu berbicara tentang hal-hal yang sama sekali tidak disadari Wilhelm.

“Aku ingin tahu mengapa kau tahu semua itu, tapi mungkin nanti saja. Jika kau adalah aku yang lain, katakan padaku. Bagaimana aku bisa menggunakan kekuatan itu?”

“(Itu sederhana, kau hanya perlu menerimaku. Tubuhmu tahu bagaimana menggunakan kekuatan itu. Kau hanya perlu menyadarinya nanti.)”

“Kau…? Aku pikir aku tidak pernah menyangkal kekuatan Dragnil milikku.”

“(Itu bukan maksudku. Sudah aku katakan, kan? Kau mungkin bisa menggunakan sepertiga dari kemampuanmu yang terbaik. Jika kau benar-benar mewujudkan kekuatan Dragnilmu, kau tidak akan lolos hanya dengan mengubah sedikit pandangan matamu.)”

Pria itu mengartikan bahwa Wilhelm akan menjadi lebih dekat dengan seorang Dragnil.

“(Kau masih takut dengan kekuatanmu. Mereka menyebutmu ‘Critical’, tetapi kau khawatir bahwa kau mungkin menjadi ‘Miscelal’, sesuatu yang dapat kehilangan kendali kapan pun.)”
(T/N: spesies hibrida)

“Tch, sepertinya kau benar-benar aku… tidak bisa menyembunyikan apa pundarimu, huh.”

“(Yah, ya. Aku tahu apa yang terjadi yang membuatmu berpikir seperti itu juga. Tapi aku bisa mengatakannya dengan pasti, bukan begitu. Kau bukanlah mereka.)”

Kata pria itu penuh percaya diri.

“….benar-benar deh.”

“(Sungguh. Dan begitulah. Gunakan semua yang kau bisa. Dunia ini penuh sesak dengan orang-orang yang kuat. Jika kau terus khawatir kau akan kehilangan semuanya.)”

Pria itu tidak memberikan detail yang pasti.

Itu adalah sesuatu yang tidak perlu dia ungkapkan dengan kata-kata.

“(Ayo, buat keputusanmu. Membiarkanmu di sini tidak sulit, tetapi aliran waktu di sini berbeda. Mereka tidak punya banyak waktu yang tersisa.)”

“Apa artinya.”

“(Tidak bisakah kau mendengar suara?)”

“Suara?”

Wilhelm hanya bisa memikirkan satu hal.

“(Dengar, kau harus bisa mendengarnya. Seharusnya lebih dari cukup untuk menyalakan api dalam dirimu, aku yakin.)”

“Apakah itu…”

—Selamatkan aku… atau, lebih tepatnya… bunuh aku.

Apa yang kau katakan?

Wilhelm hendak mengajukan pertanyaan ini, tetapi kata-katanya mati di tengah jalan.

Dia mendengarnya. Semuanya sangat jelas.

Itu adalah suara samar, nada yang sangat lemah, seolah-olah itu akan menghilang setiap saat.

“Tch! Jadi seperti ini! Sudah lakukanlah!!”

Dia tahu suara itu.

Suaranya hanya berbicara beberapa kali. Tapi Wilhelm mengenalnya.

Gadis dengan kekuatan yang sama dengan Millie. Kekuatan yang membuatnya menjadi sasaran Banyak Pihak, dan sekarang dia memintanya untuk membunuhnya… itu adalah suara gadis itu.

“(Itu yang aku tunggu!!)”

Seolah-olah dia tidak menunggu apapun selain kata-kata itu, pria yang berdiri di depan Wilhelm mulai bersinar merah terang, berangsur-angsur dan kehilangan bentuknya. Seakan gemetar karena angin, dia memasuki tubuh Wilhelm.

“GH….WOOOOOHHHHH!!!!”

Pada saat yang sama, kekuatan meledak dari dalam dirinya.

Apakah ini perasaan yang sama dengan memiliki besi cair yang dituangkan ke pembuluh darahmu? Begitulah kuatnya panas yang menyengat melalui Wilhelm.

Merasakan ledakan kekuatan ini, pola geometri yang berjalan di permukaan Vakira mulai berkedip.

“Oi oi… yang… benar aja..”

Gigi-giginya yang terkatup menghasilkan bunyi gesekkan.

Wanita itu mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya… kemarahan sedang terbangun di dalam dirinya.

“Mengatakan, aku akan mati, bunuh aku, dengan begitu mudah…”

Kata-kata yang keluar dari mulutnya mengungkapkan kepahitan terhadap dirinya yang lain, yang tidak menawarkan penjelasan, dan kemarahan terhadap pengunduran diri itu hingga putus asa dalam suara yang telah sampai ke telinganya.

“YANG BENAR SAJA!!!!”

Darah merah panas yang mengalir melalui tubuhnya membuat Wilhelm bergemuruh.

Seakan menjawab, kilasan Vakira berubah menjadi cahaya, menghilangkan kegelapan di sekitarnya.

Seakan didorong oleh cahaya, kesadaran Wilhelm tiba-tiba kembali.

◆◆◆◆

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded