The New Gate Volume 8 Chapter 2 Part 3 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Lyle
  • Editor : Scraba

Jarak antara keduanya sekitar 10 mels. Bagi monster bos di tingkat Munechika, jarak seperti itu tidak berarti apa-apa. Dia mengayunkan pedangnya sambil mendekati Shin, kemudian disambut oleh 『Hakuramaru』.

Dua tebasan saling beradu.

“Karin, bisakah kau lihat apa yang baru saja terjadi?”

“Saya benci mengakuinya, tetapi yang saya lihat hanyalah ‘bayangan-bayangan’. Tapi, selain itu, Nyonya, itu berbahaya, jadi tolong mundur sedikit lagi.”

Karin mencoba menarik kembali Kanade, yang menjadi bersemangat saat melihat dua petarung menggunakan pedang yang saling menebas dengan cepat.

Pertempuran dua orang yang saling memiliki kemampuan tinggi berbahaya untuk disaksikan langsung, jika mereka terlalu dekat menyaksikannya.

Karin, yang memahami kekuatan serangan yang baru saja mereka saksikan, yakin bahwa mereka perlu berdiri lebih jauh atau mereka tidak akan aman.

“Respon yang bagus, dan kekuatan otot yang cukup untuk menahan pedangku.”

“Aku sudah melatih diriku.”

“Tunjukkan teknikmu kalau begitu.”

Setelah percakapan sesaat diantara mereka, Munechika membungkuk, seolah-olah meluncur di tanah. Pada saat yang sama, tebasan pedang terbang ke arah Shin dari arah kiri bawah.

Shin, yang telah mengamati gerakan Munechika sambil berdiri diam, menangkis serangan pedang dengan 『Hakuramaru』.

Kedua pedang itu saling bergesekan, mengeluarkan percikan api kesekelilingnya.

“Tidak buruk.”

Dengan sedikit senyum di bibirnya, Munechika dengan tangkas menangani senjata yang diarahkan padanya.

Didukung oleh sebuah pedang yang kuat pada level 900, badai tebasan pedang menyerang Shin seperti semburan berwarna perak.

“Fuuh!!”

Shin menangkis tebasan itu dengan 『Hakuramaru』, masing-masing cukup kuat untuk meratakan tanah.

Suara terus-menerus dari benturan logam terus bergema di sekitarnya. Namun, bentrokan itu begitu cepat sehingga, bagi telinga Kanade dan Karin, mereka terdengar seperti terus-menerus.

Setiap kali pedang berbenturan, aliran perak menghasilkan percikan api merah yang menyala, sementara tanah di sekitar Shin terbelah akibat tebasan pedang.

(Lagipula, dia bukan petarung biasa.)

Shin menganalisa gaya bertarung Munechika saat dia menangkis serangannya.

Tidak semua senjata yang diberi label dengan nama “katana” memiliki panjang yang sama. Seperti 『Mikazuki Masamune』 itu memiliki panjang sekitar 80 cemels. Di sisi lain, katana 『Hakuramaru』 milik Shin memiliki panjang 70 cemels.

Gaya bertarung Munechika berfokus pada serangan dari kejauhan, mengambil keuntungan dari perbedaan panjang pedang mereka.

Bahkan hanya 10 cemels terasa lebih panjang dari sudut pandang Shin selama pertempuran.

Setiap serangan dari wanita yang bernama Munechika itu sangat berat, tetapi umumnya dia lebih fokus pada kuantitas.

Munechika, lelaki yang telah bertarung dengan Shin di masa lalu lebih fokus pada kekuatan di balik setiap serangan, menggunakan gaya bertarung yang berfokus pada kekuatan serangan yang tinggi.

[T/N : Munechika ini bisa jadi cewe dan cowo ya !]

Dia yang dulu, maupun dia yang sekarang, telah diprogram berdasarkan gerakan para master pedang; Shin ingat bahwa mereka jauh lebih kuat daripada level yang ditunjukan.

“Jadi kau bisa menandingi ini juga. Tapi, apa hanya bertahan yang bisa kau lakukan?”

“Tentu saja tidak. Aku akan segera datang!”

Shin menangkis pedang lawan dengan lebih kuat dari sebelumnya. Dia tidak dapat membuat Munechika kehilangan keseimbangan, tetapi dia berhasil menciptakan ruang di antara mereka.

Mengambil keuntungan dari ruang itu, yang berlangsung kurang dari sesaat, Shin menyelinap lebih dekat.

Sebagai pembalasan terhadap Munechika, Shin menutup jarak di antara mereka dalam satu nafas. Dalam mode yang berlawanan dari sebelumnya, 『Hakuramaru』 berubah menjadi kilatan perak dan menyerang, namun dihentikan oleh Munechika.

Pedang『Hakuramaru 』 lebih pendek dari『 Mikazuki Munechika 』, dan perbedaan materi mereka membuat『 Hakuramaru 』lebih ringan juga. Di sisi lain, itu memungkinkan untuk diayunkan jauh kearah lawan dengan kecepatan yang lebih tinggi.
“Ssshh!!”

Munechika berusaha mundur untuk mendapatkan jarak dan ruang. Namun Shin melangkah lebih cepat.

Adegan beberapa saat sebelumnya diulang, tetapi serangan dan pertahanan telah berpindah tempat.

“Hnng…!”

Munechika mendengus sambil menangkis serangan Shin. Dia baru saja berhasil menangkis tebasan Shin, yang lebih cepat dari yang dia duga.

“Seperti yang diharapkan darimu!”

Serangan Shin memang cepat, tetapi tidak dapat mencapai Munechika.

Munechika, meski kecepatannya rendah, bisa mengikuti Shin hanya karena kemampuannya dengan pedang.

Mungkin karena cara dia diprogram, atau seberapa banyak dia mengasah kemampuannya dalam 500 tahun, kemampuan Munechika lebih tinggi dari Shin.

Gaya bertarung Shin dengan katana lahir dari ajaran yang dia terima dari seseorang yang benar-benar berlatih permainan pedang -bukan Kendo- selama era game. Dia mengasahnya selama Game Kematian dan sampai ke masa sekarang.

Dia membuatnya lebih cepat, lebih kuat, lebih efisien.

Mengasah keahliannya dalam pertempuran yang sebenarnya memberi Shin kekuatan baru yang mustahil untuk dicapai melalui pelatihan sederhana.

Namun, Shin tidak memiliki bakat khusus dalam seni bela diri.

Dalam banyak pertempuran, ia akan menjadi yang teratas berkat statistiknya yang lebih tinggi; dia telah menerima ajaran selama kurang dari satu tahun, dan meskipun itu adalah periode yang intens, dia jauh dari mereka yang bisa disebut master pedang.

“Tak disangka kau bisa melakukan begitu banyak! Menarik!”

“Aku merasa terhormat dapat memenuhi harapanmu!”

Tebasan Shin, sebagian besar mengikuti arah yang lurus, secara sistematis dikuasai oleh gerakan pedang Munechika yang seperti busur.

Tebasan miringnya gagal mempengaruhi Munechika, menggores bebatuan di belakangnya.

Hanya dalam beberapa detik, mereka sudah bentrok lebih dari 10 kali, tetapi kedua petarung itu masih tanpa cedera.

Siklus serangan dan bertahan, itu tampak seperti tidak akan berakhir, tetapi Shin tiba-tiba mengubah pola serangannya.

Dari jarak ideal untuk menyerang dengan 『Hakuramaru』, dia mendorong lebih dekat.

“Hmh!?”

Pada saat yang sama Munechika memperhatikan gerak majunya, kaki kanan Shin melompat ke depan.

Dihadapkan dengan tendangan tiba-tiba, Munechika menggunakan tangan kirinya untuk menghentikannya.

Suara benturan metal bergema, saat Munechika meluncur mundur 10 mels, meninggalkan dua goresan lurus di tanah.

“Siapa yang menyangka tendangan pada saat itu? Kau memang tidak terduga.”

“Mengandalkan terlalu banyak pada senjata akan membuat orang tidak berdaya jika tidak memilikinya.”

Gaya bertarung Shin tidak pernah bergantung pada katana. Dia dengan keras melatih kemampuan fisiknya, terutama jika dia telah dilucuti dan kehilangan senjatanya.

Itu juga mungkin untuk menggabungkan gaya bertarung dengan permainan pedang.

“Kau tahu bahwa bahkan jika kita terus beradu pedang, tidak akan ada yang berubah, kan?”

“Kau benar. Sejauh menyangkut teknik, aku selangkah di bawahmu.”

“Untuk mewujudkan tingkat tinggi dari teknik seseorang bukanlah sesuatu yang buruk…… itu tidak apa. Sudah lama sejak aku mengayunkan pedang dengan benar. Aku akan membawakanmu Dead Snake Grass, tunggu sebentar.”

Dia puas, atau begitulah tampaknya. Munechika dengan santai menyarungkan pedangnya, begitu mudahnya sehingga mengejutkan Shin.

Bahkan jika itu hanya perkelahian sesaat, dia berpikir bahwa bahkan jika skill tidak digunakan, beradu pedang yang lebih ganas tidak akan terhindarkan.

“Er… kita sudah selesai?”

“Ya, begitulah. Aku belum pernah bertarung dengan layak selama 100 tahun. Dan jika kami terus melanjutkannya, aku tidak akan bisa menahan diri.”

Munechika berbicara sambil tersenyum. Mungkin karena kegembiraan atas pertempuran masih ada dalam dirinya, dia memancarkan aura yang sangat menyihir sehingga sulit membayangkan bahwa dia adalah senjata yang berubah bentuk.

“Aku mengerti, kalau begitu aku akan dengan senang hati menerima kebaikanmu.”

Melihat aura dan kehadiran yang datang dari Munechika, Shin mundur selangkah. Duel merupakan sesuatu bagi mereka, tetapi jika mereka bertarung dengan serius, area disekitarnya akan sangat berubah.

“Ini, ini yang aku janjikan.”

Munechika kembali sekitar 10 menit kemudian, memegang lebih dari cukup jumlah Dead Snake Grass di tangannya.

“Terima kasih banyak.”

“Jika kau punya kesempatan, datang lah lagi. Aku ingin mengobrol denganmu lagi.”

“Aku mengerti. Kami sedang bergegas sekarang, tetapi suatu hari nanti aku akan melakukannya.”

Shin bergabung kembali dengan Kanade dan Karin, dan bersama-sama mereka dengan cepat menuruni Gunung Fuji.

Kanade senang dan bersemangat, dengan Dead Snake Grass di tangan mereka.

Dengan cara yang benar-benar berbeda, Karin menatap punggung Shin sambil terus berjalan lurus ke depan.

Shin, merasakan matanya tertuju ke punggungnya, penasaran terhadap reaksi apa yang akan dia tunjukkan.

◆◆◆◆

Setelah turun dari gunung, mereka bermaksud untuk kembali langsung ke rumah Kujou untuk mengantarkan obat kepada kakak Kanade… tetapi itu tidak terjadi.

Mungkin karena memakan waktu lama dalam perjalanan, atau karena mendapatkan Dead Snake Grass telah melegakannya, ketika mereka mencapai kaki gunung Kanade merasa goyah dibagian kakinya.

“Mari kita kembali ke kota dan menemukan penginapan terlebih dahulu.”

“Maafkan aku…”

Mereka tidak bisa membuatnya berjalan lagi, jadi Shin menggendong Kanade di pundaknya.

Yuzuha melompat dari pundak Shin dan berjalan di tanah di samping mereka.

Setelah beberapa menit berjalan, suara napas tidur Kanade mencapai telinga Shin.

“Dia tertidur. Syukurlah, sepertinya dia tidak demam, dia pasti sangat lelah.”

“Dia merasa tegang selama ini, mungkin itu penyebabnya. Di Gunung Fuji dia ditatap oleh Orochi, jadi dia mungkin saja sudah mencapai batasnya.”

Selama turun dari Gunung Fuji, Shin mengetahui bahwa Kanade tidak dapat melihat level Orochi berkepala delapan.

Itu bukan hal yang aneh : level Orochi adalah 833, cukup untuk menyamai iblis kelas Grand Duke.

Dengan kemampuan untuk merasakan kekuatan lawan, tetapi sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk mengalahkan mereka, Kanade pasti secara tidak sadar merasa tegang.

Ditambah sosok lawan pada tingkat yang sama sekali berbeda seperti Munechika, dan tidak mengherankan bahwa ketegangannya telah mencapai tingkat maksimum.

Ini juga menjelaskan nada yang tidak biasa ketika dia bergabung dalam percakapan Shin dan Munechika.

“Prioritas pertama kita adalah memulihkan tenaga, benar. Aku akan berjaga-jaga, jadi tolong istirahatkan Karin. Kau merasa lelah juga, kan?”

Bahkan jika tingkat kekuatan mereka berbeda, posisi Kanade dan Karin hampir sama. Sebaliknya, dapat dikatakan bahwa tugas Karin untuk melindungi Kanade mungkin telah membuatnya merasakan lebih banyak tekanan.

“Aku sangat berterima kasih atas pertimbanganmu. Aku malu mengakui bahwa aku tidak sepenuhnya lelah sekarang. Pertarungan antara Tuan Shin dan Munechika… bahkan hanya beradu pedang saja bisa menyebabkan luka serius, aku dipenuhi dengan emosi yang tidak bisa tergambarkan… Kurasa aku tidak normal.”

Karin menyuarakan pikiran batinnya, pipinya sedikit memerah.

Sejauh yang bisa dilihat Shin, dia tidak sehat seperti Kanade. Menjadi seorang samurai seperti dirinya, dia pasti merasakan sesuatu yang istimewa.

Ketika mereka tiba di kota, kelompok mereka langsung menuju ke penginapan.

Itu adalah penginapan yang sama yang mereka gunakan sebelum menuju ke Gunung Fuji, dan Yuzuha bisa menginap di malam hari juga.

Mereka membayar untuk satu malam dan pergi ke kamar mereka.

“Apakah rekanmu sakit? Jika perlu, kami bisa memanggil dokter.”

Pemilik penginapan memperhatikan Kanade yang sedang tidur dan bertanya karena khawatir.

“Tidak apa-apa, aku pikir dia hanya lelah karena perjalanan. Jika kondisinya memburuk, kami akan membawanya ke dokter sendiri.”

Shin menolak dengan sopan agar tidak menyinggung pemiliknya, meletakkan Kanade di kamarnya, dan membiarkannya tidur.

“Aku di kamar sebelah. Mari awasi dia, dan jika dia merasa lebih baik kita akan pergi. Pastikan dirimu beristirahat dengan baik juga, Karin.”

“Terima kasih banyak.”

Shin berbalik dan menuju ke kamarnya. Menggunakan skill pendeteksinya hingga maksimum, dia benar-benar memeriksa sekelilingnya.

Dia tidak merasakan kehadiran siapa pun yang mengikuti mereka. Map itu juga tidak menunjukkan tanda-tanda titik merah.

Jaga-jaga jika ada orang yang tidak jelas menunjukkan permusuhan atau serangan. Penanda tidak bisa dipercaya terlalu banyak, jadi jangan terlalu bergantung pada itu.

“Yuzuha, apa kau merasakan sesuatu?”

“Kuu? Kuu… tidak, tidak ada apa-apa.”

Yuzuha menutup matanya dan menajamkan telinganya ke atas, tetapi tampaknya juga tidak merasakan apa-apa.

Sudah senja.

Shin ragu-ragu untuk meninggalkan kedua wanita itu sendirian untuk pergi makan di luar, jadi dia memutuskan untuk berbaring di tempat tidur untuk sementara waktu.

Penginapan mereka adalah tempat yang berkualitas tinggi, jadi tempat tidurnya besar dan nyaman.

“Dia tidak menanyakan apa pun pada akhirnya.”

Siluet Karin muncul di benak Shin.

Sejak mereka mulai menuruni Gunung Fuji, Shin merasakan tatapan Karin pada dirinya…

Mungkin itu karena kondisi Kanade yang buruk, atau waktunya tidak tepat, tetapi itu adalah misteri bagi Shin mengapa Karin tidak mengatakan sepatah kata pun dalam perjalanan kembali dari gunung.

Seakan menginterupsi pikiran-pikiran ini, ketika dia terkapar di tempat tidur, Yuzuha melompat ke atas untuk menyelam lurus di dadanya.

“Kuu!”

“Oof!!”

Dia telah berubah lagi menjadi mode gadis muda, jadi apa yang dilakukannya memaksa rengekan keluar dari mulut Shin yang santai. Terakhir kali dia berubah menjadi seorang gadis Shin memakaikannya pakaian, jadi setidaknya kali ini dia tidak telanjang.

Perpaduan dari jubah gadis kuil Yuzuha, dengan kontras yang jelas dari warna merah dan putih, dan rambut perak sebahu dan ekor peraknya menarik perhatian Shin. Ada 6 ekor yang menyembul keluar dari rok merahnya. Dia mulai bertanya-tanya di mana dan bagaimana mereka melekat pada tubuhnya.

“Apa yang sedang terjadi? Kenapa tiba-tiba melompat?”

“Shin, semua milikku”

Yuzuha menjawab dengan cara sedikit terbata dia mulai berbicara setelah melakukan hal ini.

Biasanya dia akan bergelung di sisi tempat tidur, tetapi sekarang dia menyandarkan kepalanya di dada Shin dan menutup matanya.

Ketika Shin bepergian dengan Schnee, Tiera, dan Kagerou, Shin dan Yuzuha tidur di kamar yang sama, dan terkadang dia akan menyelinap di tempat tidur yang sama dengannya, setengah tertidur.

Itu tidak terjadi lagi setelah Shibaid bergabung dengan mereka, tetapi tampaknya itu karena dia menahan diri.
(Dia mungkin terlihat dewasa, tapi aslinya dia masih anak kecil. Yah, situasi ini hampir tidak dapat diterima meskipun…)

Itu bisa dimaafkan ketika dia dalam mode gadis kecil, tapi sekarang karena penampilannya adalah gadis remaja, perilaku ini tidak bisa disebut lagi “menggemaskan”.

Jika dia tumbuh lagi, akan sulit untuk bermain dengannya sebagai “adik kecil”.

(….adik kecil, ya…)

Yuzuha berbaring di atas Shin, mungkin tertidur. Shin merasa memikirkan adik perempuannya di dunia nyata. Seolah dipicu oleh itu, dia mulai mengingat banyak kenangan lain dari dunianya yang dulu.

Orang tuanya, neneknya, saudara kandungnya. Teman-teman SMA-nya, anggota klub universitasnya. Wajah-wajah yang muncul dan menghilang dalam pikirannya, untuk beberapa alasan, semuanya tersenyum.

“…..tunggu! Hai Yuzuha! Jangan mengibas hidungku dengan ekormu! Bulumu! Sampai hidungku!!”

Suasana nostlagia tiba-tiba dihancurkan oleh serangan tiba-tiba Yuzuha.

Ujung ekornya yang bergerak-gerak menusuk hidung Shin.

“Kuu.”

“Tidak ada kuu-kuu sekarang, nona kecil. Ada apa denganmu tiba-tiba.”

“Kau pasti berpikir, hal-hal aneh.”

Yuzuha membalas sambil mengelus pipinya. Gerakan ekornya dimaksudkan untuk menarik perhatian Shin kembali padanya rupanya. Dia sama sekali tidak tertidur, dan tidak senang diabaikan.

Tangan Shin bergerak untuk menenangkannya, tetapi dia menyingkirkan tangan Shin dengan ekornya dan mengangkat kepalanya.
“Maaf maaf. Aku baru ingat beberapa hal… jadi, haruskah aku menepuk kepalamu sekarang?”

Shin dengan lembut membelai kepala Yuzuha, berpikir bahwa dia masih anak kecil.

“Kuu….”

Ekor Yuzuha bergulung ke atas, bawah, kiri, dan kanan.

Shin tidak bisa menahan diri untuk berpikir kalau dia tampak seperti anak anjing. Itu adalah pemandangan yang sangat menenangkan.

“…..Huw~ah, aku terlalu santai… aku mulai mengantuk.”

Shin juga agak kelelahan, jadi dia mulai meregangkan tubuhnya dengan kantuk yang kuat mendatanginya.

Karena kebiasaan di masa lalu, ia langsung menggunakan skill tipe pembatas untuk meningkatkan keamanan ruangan.

“Kuu? Shin, tidur?”

“Maaf Yuzuha… kita harus makan sesuatu…”

“Kau tidak bisa, tidak baik.”

Mengatakan ini, Yuzuha kembali ke bentuk rubahnya.

Yuzuha telah tumbuh karena peningkatan statusnya, dan sekarang panjang tubuhnya sekitar 1 mel.

“Ah… ini… tidak………”

Shin berjuang melawan kelopak matanya yang berat, tapi bulu-bulu Yuzuha membuatnya semakin terkantuk. Dengan kehangatan dan sentuhan lembutnya, itu hanya masalah waktu sebelum Shin tertidur.

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded