The New Gate Volume 8 Chapter 2 Part 5 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Lyle
  • Editor : Scraba

Pagi berikutnya.

Shin mengayunkan 『Kakura』 di kebun depan ruangan yang diperuntukan kepadanya.

Alasannya melakukan itu karena dia telah dengan susah payah mengetahui batas-batas tekniknya selama pertempuran melawan Munechika.

“Aku tahu kalau aku tidak bisa dibandingkan dengan seorang master, tapi…”

Shin sadar bahwa dia tidak memiliki bakat alami untuk berpedang. Meski begitu, ia bisa meningkatkannya dengan kerja keras. Membayangkan musuh berdiri di depannya, dia terkadang menghindar, terkadang mengayunkan 『Kakura』 dalam gerakan lambat. Itu adalah metode pelatihan yang dia pelajari dari orang yang mengajarkannya pedang.

“Fuuuuh…”

Gerakan latihan ini mungkin lambat, tetapi itu memberikan beban pada tubuhnya. Dia telah menurunkan statistiknya dengan sengaja, jadi 『Kakura』 membebani seluruh tubuhnya.

Keringat menetes di pipi Shin.

“…Aku terlalu fokus.”

Shin menyadari kehadiran Karin didekatnya, mengayunkan 『Kakura』, dia mengambil napas dalam-dalam. Baju yang dia kenakan sebagai baju latihan bermandikan keringat.

“Aku minta maaf karena mengganggu latihanmu.”

“Tidak, aku sampai lupa waktu, jadi bagus kau datang.”

Karin tampak menyesal, tetapi Shin menjawab bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Dia datang untuk memanggilnya karena makanan sudah siap.

Shin menghapus keringatnya, berganti pakaian dan makan; begitu dia selesai, seseorang mengetuk pintu gerbang Saegusa.

“Aku mengerti, kalau memang begitu.”

Pengunjung itu adalah seorang kurir dari rumah Kujou.

Shin, dipimpin oleh Karin, pergi ke kompleks utama rumah Kujou, benteng Kujou. Yuzuha ditinggalkan di kediaman Saegusa.

Di kediaman tempat dia dituntun, Shin menemukan Kanade, Kuyou, dan Kankurou yang sedang menunggu.

Kanade memohon agar Shin menginap karena dia merasa berterima kasih kepadanya, tetapi dia juga tahu bahwa dia akan dipanggil untuk diperiksa.

Kanade sendiri menjelaskan akan seperti itu ketika dia pergi menemui Shin bersama dengan pemandu mereka.

Beberapa waktu kemudian, seorang pria muncul dan duduk di kursi yang disediakan untuk orang dengan kedudukan tertinggi. Rambut pria itu botak, alisnya tebal, dan ada bekas luka katana di tengah wajahnya. Tubuhnya tidak besar, tetapi itu terlatih dengan baik.

Pria itu adalah kepala rumah Kujou, Kujou Tadahisa.

“Angkat kepala kalian.”

Semua tamu yang hadir telah menundukkan kepala ketika pria itu muncul, dan sekarang mengangkatnya kembali. Shin juga mengikuti gerakan mereka, dan dengan tenang mengangkat kepalanya lagi.

“Namamu Shin, ya?”

“Iya.”

Suara nyaring yang diarahkan pada Shin itu bergema.

“Pertama-tama, aku harus memberimu rasa terima kasih. Aku bersyukur atas semua yang telah kau lakukan dari lubuk hatiku.”

Melihat Tadahisa berterima kasih dan menundukkan kepalanya, Shin dan semua pengikut yang hadir kecuali Kankuro – merasa gelisah.

Untuk seorang tuan rumah untuk menundukkan kepalanya kepada orang asing adalah sesuatu yang biasanya tidak terpikirkan.

“Berkat obatnya, dengan ramuan yang bisa kami dapatkan melalui bantuanmu, putriku telah sembuh secara dramatis dari penyakitnya. Dokter mengatakan bahwa selama dia memulihkan kekuatannya, dia akan dapat kembali ke kehidupannya yang biasa.”

“Ooh!!”

Ucapan Tadahisa sekarang menyebabkan sebuah kegelisahan baru di antara mereka yang hadir. Para pengikutnya belum diberitahu, rupanya.

Kakak Kanade pasti sangat dicintai oleh bawahannya; beberapa pengikut tidak bisa menahan diri dan menangis.

“Tuan Shin, aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu bagaimanapun juga. Apakah ada sesuatu yang kau inginkan?”

“Tidak, saya tidak menginginkan apa pun secara khusus. Jika saya harus meminta sesuatu, saya hanya ingin menumpang disini sementara waktu sampai teman saya tiba.”

“Hm, persis seperti yang kudengar dari Kanade, kau benar-benar tidak memiliki keinginan material.”

“Saya telah merencanakan untuk berpisah segera setelah kami tiba di tanah ini. Seperti yang anda mungkin pernah dengar, seseorang yang saya sayangi meninggal karena penyakit. Saya membantu hanya karena itu, anda tidak perlu mengkhawatirkannya.”

Percakapan antara Tadahisa dan Shin menyebabkan kegelisahan di antara para pengikut.

Shin berbicara sambil mengingat drama sejarah yang dia lihat. Dia pikir dia mungkin mengatakan sesuatu yang tidak sopan, tetapi dia tidak bisa memikirkan apa pun secara khusus.
“Jika demikian, kau bisa menginap sesukamu di kediaman Saegusa. Kuyou, Karin, aku percayakan dia padamu.”

“Dimengerti.”

Kuyou dan Karin menundukkan kepala setelah menerima perintah Tadahisa. Mereka tidak terkejut, mungkin karena sudah diputuskan siapa yang akan mengurus Shin.

“Secara pribadi, aku dengan senang hati akan menyambutmu untuk melayani di rumahku. Aku telah mendengar tentang kehebatanmu dengan pedang juga. Tentu saja kau dan temanmu juga. Bagaimana menurutmu tentang itu?”

“Tuan, saya hanya mengandalkan kemampuan fisik saya, ada banyak yang jauh lebih terampil daripada saya dengan pedang. Saya tidak punya niat melayani siapa pun.”

Tidak peduli seberapa menjanjikannya kondisi itu, melayani seseorang bukanlah pilihan untuk Shin. Dia menyatakan penolakannya dengan jelas.

“Kalau begitu, bisakah aku meminta kesempatan untuk beradu kekuatan denganmu?”

Karena percakapan antara keduanya telah mereda, Kankurou tiba-tiba ikut bicara. Ekspresinya santai seperti biasa, tapi auranya terlihat seperti sedang mencari tahu lebih banyak tentang Shin.

“Oh, hal ini tidak biasa, karena Kankurou secara spontan berbicara dalam situasi seperti ini.”

“Saya sadar bahwa saya sedikit kurang sopan. Namun ada sesuatu yang menarik minat saya.”

“Hmm, Tuan Shin, bagaimana dengan itu? Aku akan menyiapkan hadiah terpisah untuk ini.”

“….Tidak perlu hadiah. Jika saya diizinkan untuk berbicara dengan terus terang, ada sesuatu yang menarik minat saya juga, dan berharap untuk bisa melakukannya.”

Pertandingan ini tidak memiliki nilai khusus bagi Shin. Namun demikian, dia menerima permintaan Kankurou.

Shin sendiri tertarik pada sesuatu tentang pria itu.

“Bagaimana seharusnya kita mengatur kondisi kemenangan?”

“Keduanya telah mengatakan tertarik pada sesuatu. Kita akan teruskan sampai sesuatu itu telah mereka dapatkan.”

Setelah berpindah lokasi ke area pelatihan prajurit, Shin dan Kankurou saling berhadapan, dikelilingi oleh prajurit dan para pengikut.

Meningat bahwa mereka berdua adalah Yang Terpilih, penonton yang ingin menyaksikan pertandingan mereka berkumpul di tepi area pelatihan.

Seperti yang dia lakukan sebelum pertempuran dengan Munechika, Shin mengatur 【Limit】 ke tingkat II.

“Haruskah aku mengambil langkah pertama?”

Kankurou mengambil inisiatif. Dengan langkah yang sangat cepat, dia mengurangi jarak antara dirinya dan Shin dalam sekejap. Dia menghunus pedang kayu khusus yang dibuat untuk Yang Terpilih.

Ayunan Kankurou ditangkis oleh Shin dengan pedang kayu yang sama – setelah itu, dia mundur selangkah.

“Bagus, seperti yang diharapkan.”

Berkata demikian, Kankurou menggerakan pedang kayunya dengan ayunan yang menusuk dan mengarahkannya pada Shin.

Pedang kayu, terus menyerang tanpa berhenti, membuat Shin berpikir bahwa pedang itu seperti memiliki kehendaknya sendiri.

“Aku telah melakukan serangan pertama, tetapi aku akan membiarkanmu memberikan pertanyaan pertama.”

Kankurou berbicara kepada Shin dengan nada tenang, itu terlihat tidak cocok ketika mereka beradu pedang dengan ganas.

“Aku akan langsung ke intinya. Bagaimana kau mendapatkan katana di pinggangmu itu?”

“Ya ampun, kau harus menjadi ahli untuk mendapatkan ini. Aku telah menerima ini dari mantan Tuanku, namanya adalah…”

“『 Black Moon 』, bukan? Versi yang lebih kuat dari 『Ripple Blade』, dengan semua kapasitas poin yang digunakan untuk memperluas jangkauan serangan.”

“!!!Jadi kau benar-benar tahu itu…!”

Saat Shin berbicara tentang pedang secara detail, kecepatan ayunan Kankurou meningkat. Senyumnya sekarang berbeda dari biasanya, dia sepertinya menikmati situasi ini.

Dari kecepatan ayunannya dan dampak yang diciptakan dari pertempuran mereka, Shin berpikir bahwa Kankurou adalah orang dengan statistik yang paling dekat dengannya di antara semua orang yang dia temui sampai sekarang. Setidaknya, statistiknya jauh lebih tinggi daripada Rionne.

Itu masih lebih rendah dari Munechika, bos Gunung Fuji, tetapi selain tekniknya, pengalamannya dalam melawan manusia  sangat luar biasa kaya. Shin tidak merasakan banyak kesulitan dalam melawan Munechika, tetapi melawan Kankurou dia merasakannya dengan jelas.

Shin telah mendengar dari Karin bahwa Kankurou adalah seorang petarung yang kuat yang lahir sebelum “Dusk of the Majesty”. Tidak diragukan lagi, dia telah mengalami banyak medan peperangan.

“Mengingat dirimu yang tahu begitu banyak. Saat ini, rincian seperti itu hanya diketahui oleh diriku dan mantan tuanku… tidak, sekarang aku memikirkannya, ada orang lain juga.”

Kankurou berbicara sambil dengan sadar menambahkan jeda di antara kata-katanya.

Dark Blacksmith… orang yang menempa pedang kesayanganku pasti tahu hal-hal semacam itu.”

Kata-kata yang mengisyaratkan identitas asli Shin diucapkan pada saat yang sama dari benturan yang lebih kuat dari pedang kedua lelaki itu, dan tidak terdengar oleh orang lain.

Karena mereka masih saling beradu pedang, Kankurou bertanya pada Shin.

“Baik, Tuan Shin. Bolehkah aku bertanya sesuatu juga?”

“Apa itu?”

“Apakah kau pernah mendengar nama Jinkurou?”

“…Ya, pernah. Sebagai seorang samurai, kami saling kenal dengan baik.”

Jinkurou adalah nama guild master dari guild bergaya Jepang selama era game, “Kachou Fuugetsu”. Karena mereka berdua samurai, dia dan Shin saling mengenal.

Dan yang lebih penting lagi, dia adalah orang yang diberikan『Black Moon』oleh Shin. Dia tidak akan pernah melupakannya.
Setelah mendengar semua itu, Shin mengingat Kankurou.

Karena Schnee adalah karakter pendukung utama Shin, Kankurou adalah nama pertama yang muncul ketika menyebutkan karakter dukungan Jinkurou.

Spesies Kankurou adalah High Human. Dia selamat dari bencana alam dan merupakan saksi hidup dari sejarah, sama seperti Schnee.

“Aku berada di bawah komando orang itu. Jadi Tuan Shin, aku sangat tahu siapa dirimu. Aku ingat wajahmu, ya, tapi mengingat hilangnya Tsuki no Hokora, kematian tuan Girard, keberangkatan Pak tua Shibaid dari kekaisaran… itu tidak mungkin jika bukan karena dirimu.”

Memikirkan ekspresi Kankurou ketika pertama kali melihat Shin, sudah jelas bahwa dia telah mengetahui identitasnya dari awal.

“Tuan Jinkurou memberiku ini sebelum dia meninggal. Tuan Shin, kenapa kau kembali?”

“Aku belum benar-benar kembali… jujur, aku juga ingin tahu alasan mengapa aku ada di sini.”

Shin menebas kearah Kankurou dan menjawab sambil menghela nafas.

“Apakah begitu. Bisa jadi ada sesuatu yang kau sendiri tidak tahu, Tuan Shin.”

“Sesuatu, katamu?”

“Ya, apakah kau tahu, tuan? Orang-orang yang melayani orang yang disebut ‘pemain’ melupakan siapa orang yang mereka layani setelah beberapa waktu berlalu.”

“Eh?”

Lengan pedang Shin sedikit gemetar setelah mendengar kata-kata Kankurou. Dia dapat menangkisnya dengan paksa berkat statistiknya yang tinggi, tetapi tidak bisa menahan dari guncangan.

“Apa artinya itu?”

“Ingatan, itu akan semakin redup dan berkurang. Atau lebih tepatnya, aku harus mengatakan bahwa ketika seseorang tidak fokus pada mereka lagi. Ingatan mereka tidaklah hilang, tetapi kesetiaan, kasih sayang, semua yang dirasakan sebelumnya semakin berkurang atau bahkan tidak penting lagi. Aku juga harus mengatakan bahwa aku mengalami itu. Aku juga tidak  pernah berpikir akan melayani rumah Kujou pada periode setelah kepergian Tuan Jinkurou.”

Kankurou berbicara lantang, tapi dengan sedikit kesedihan.

Suara pedang yang bentrok diantara mereka menjadi sedikit lebih pelan.

“Kenapa kau memberitahuku semua ini?”

“Aku memiliki kesempatan bertemu Schnee sekitar 50 tahun yang lalu. Aku pikir dia akan berada dalam situasi yang sama denganku. Perasaannya terhadapmu, bagaimanapun, tampak tidak berubah. Penasaran karena hal itu, aku pergi menemui orang lain yang melayanimu, Tuan Girard dan Tuan Shibaid. Tapi hasilnya sama.”

Tidak ada yang kehilangan perasaan mereka terhadap Shin… ketika dia berbicara tentang hal ini, mata Kankurou berkilau karena cemburu.

“Dalam perjalananku di luar Hinomoto, aku mendapat kesempatan bertemu dengan orang lain yang melayani “Rokuten”. Gaya hidup mereka mungkin berbeda, tetapi semua dari mereka selalu setia kepada tuan mereka. Itu mungkin ada kaitannya dengan alasan mengapa kau kembali, Tuan Shin.”

“………….”

“Tuan Shin. Tolong, berikan penghargaan atas kesetiaan mereka. Itu saja yang ingin aku katakan.”

Saat dia mengucapkan kata-kata ini, Kankurou berhenti mengayunkan pedangnya.

Shin mengikutinya dan menghentikan pedangnya juga. Kebenaran yang tak terduga ini telah meninggalkan ekspresi masam di wajahnya.

“Mari kita akhiri pertandingan ini di sini.”

“Ya, benar. Kau benar-benar mengejutkanku. Aku belum pernah mendengar hal ini sebelumnya.”

“Aku ragu siapa pun akan menyadarinya, tanpa mengetahui siapa diriku… tapi, daripada itu, aku akan menyembunyikan identitasmu untuk saat ini. Mengungkapnya hanya akan menyebabkan masalah yang tidak perlu. Kau tidak punya niat untuk menyatakannya secara terbuka, bukan?”

“Ya, itu akan sangat membantu jika kau melakukannya.”

Shin menuju Tadahisa sambil berbicara dengan Kankurou. Batinnya terasa bergejolak.

Mereka menerima kata-kata pujian dari Tadahisa atas pertempuran mereka, kemudian Shin meninggalkan rumah Kujou.

Karin, yang berjalan di sebelahnya, berbicara lebih dulu.

“Tuan Shin, selama pertempuranmu, kau berbicara tentang sesuatu dengan Tuan Kankurou, bukan?”

“Ya, benar… Kupikir aku pernah melihat katana di pinggangnya di suatu tempat sebelumnya. Tapi aku salah.”

“Katana apa itu menurutmu?”

“『 Ripple Blade 』, sebuah katana dengan efek memperluas jangkauan serangannya. Tuan Kankurou mengatakan itu adalah versi yang disempurnakan. Aku benar-benar terkejut… apa yang dia katakan tentang namanya, kalau tidak salah『Black Moon』?”

Shin tidak memiliki niat untuk berbicara tentang percakapannya dengan Kankurou, jadi dia memutuskan untuk berbicara tentang katananya sambil menghindari subjek pembicaraan.

“Dia mengatakan bahwa tidak ada katana lain di Hinomoto yang dapat mengunggulinya. Itu memang pedang di antara pedang, bahkan ada yang menyebutnya pedang dewa. Tuan Kankurou mengatakan bahwa Dark Blacksmith yang legendaris memalsukannya, tetapi karena itu, ada banyak masalah.”

“Masalah? Kemarin aku mendengar tentang beberapa masalah, apakah itu ada hubungannya?”

“Tuan Kankurou mengatakan bahwa dia harus segera menyerahkannya ke generasi berikutnya… dia berkata bahwa lengan yang paling hebat berpedang di Hinomoto akan mewarisinya. Tentu saja, Tuan Kankurou dikecualikan.”

Karin menambahkan Gelar “Ten Brave Hinomoto” diberikan kepada pengguna katana terbaik dari Hinomoto. Shin telah mendengar istilah ini dari Kankurou sebelumnya.
Di antara mereka yang dianugerahi gelar, posisi mereka dirancang dengan istilah kursi pertama, kursi kedua, dan seterusnya. Saat ini, Kankurou adalah kursi pertama, sementara Karin di posisi ke-3.

“Ten Brave Hinomoto” adalah gelar yang diberikan kepada mereka yang mahir dalam menggunakan katana, jadi ada anggota yang lebih rendah di Ten Brave yang lebih kuat dari mereka yang ada diperingkat atas, jika menghitung dari kekuatan bertarung.

Pemisahan antara anggota yang lebih tinggi dan lebih rendah ada di sekitar kursi ke-5. Tetapi bahkan di antara mereka, Kankurou adalah hal yang berbeda.

“Dia terkenal dengan sebuah sejarah penuh keberanian seperti serangan yang dibuat oleh dirinya sendiri ke batalion musuh dan menghabisi 1.000 musuh misalnya. Dari siluetnya memegang katana putih berselubung hitam 『Black Moon』, beberapa orang menyebutnya ‘Pedang Iblis Berambut Putih’. “

“Pedang Iblis Berambut Putih, ya…”

Begitu seseorang menjadi terkenal, julukan semacam itu pasti akan muncul.

Shin, yang nama panggilannya “Dark Blacksmith” telah menyebar luas, itu bisa dimengerti.

“Siapa kandidat yang memungkinkan saat ini?”

“Kursi ke-2 hingga ke-4 secara merata sama untuk saat ini. Karena mengalahkan seseorang yang membawa nama kursi mereka akan membuatmu terkenal, aku telah ditantang beberapa kali.”

Karin melihat ke langit, seolah dia mengingat sesuatu yang telah lama, dan menghela nafas. Sepertinya itu adalah situasi yang merepotkan baginya.

Ketika berita kembalinya ke Hinomoto menyebar, duel seperti itu mungkin akan meningkat sekali lagi.

Saat keduanya tiba di rumah Saegusa sambil berbicara, sesuatu melayang kearah Shin.

“Kuu!!!”

“Whoa di sana, ada apa Yuzuha?”

Apa yang melayang ke arah dada Shin adalah Yuzuha dalam mode rubah. Bulunya basah karena suatu alasan.

“Ya ampun, itu tidak baik Yuzuha mungil. Aku harus memandikanmu— oh, Nyonya Karin, Tuan Shin. Selamat datang kembali.”

Chiyo keluar dari kediaman setelah Yuzuha, membawa sebuah sikat.

“Apa yang kau lakukan Chiyo? Hal semacam itu sangat menakutkan.”

“Ya, aku baru saja mandi.”

“Gerakan tangan mencurigakan macam apa itu…?”

Chiyo menjawab, terkejut dan sakit hati ketika dituduh, tetapi Karin melihat dengan khawatir dan menyuarakan keprihatinannya.

Jari-jari tangan yang tidak memegang sikat berulang kali bergerak-gerak, dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Shin juga setuju bahwa tangan tidak bergerak seperti itu ketika sedang mandi.

“(Tangan, Tangannnn!)”

“Tenanglah Yuzuha. Baiklah, aku akan melakukan sisanya. Hal semacam ini harus dilakukan oleh orang yang terikat kontrak.”

Shin menetapkan pilihannya sambil menenangkan Yuzuha yang hampir menangis. Dia merasa hal ini bisa berubah buruk jika dia membiarkan Chiyo menanganinya.

“Oh tidak…!!”

“Chiyo… kenapa kau terlihat sangat putus asa.”

Chiyo terlihat sangat kecewa, dan Karin berbicara dengannya dengan nafas lelah. Menilai dari ekspresi Karin, Shin membayangkan bahwa kejadian yang sama telah terjadi sebelumnya, dan tertawa masam.

◆◆◆◆

Sementara Shin dan yang lainnya terlibat dalam keributan kecil ini, di kediaman Kujou semua pengikut kecuali Karin berkumpul.

“Jadi, Kankurou. Aku percaya kau akan menjelaskan mengapa kau meminta duel dengan pria itu. “

Aura Tadahisa tidak sehebat ketika dia bertemu dengan Shin, tapi itu cukup mengintimidasi.

Di satu sisi, putri Tadahisa, Haruna, berutang nyawa kepada Shin, dan Kankurou menantangnya untuk berduel dalam situasi itu. Siapa pun selain Kankurou akan diusir dari rumah.

“Iya. Ada sesuatu yang harus aku konfirmasi. Aku sangat berterima kasih atas izin anda.”

Kankurou membalas Tadahisa dengan nada tenang dan dalam seperti biasa.

Dia telah membuat pernyataan seperti itu karena percaya diri; Shin tidak akan marah pada sesuatu seperti itu, seperti yang diketahui Kankurou.

“Baik penampilan dan auranya sangat mirip dengan seorang teman dari Tuan Jinkurou, jadi aku curiga dia mungkin adalah temannya saat itu… dan aku benar.”

“Seorang teman dari mantan tuanmu… menilai dari bagaimana dia bertarung, itu tidak mengherankan.”

Termasuk Tadahisa, semua pengikut yang hadir mengangguk.

Banyak dari mereka yang menyaksikan pertempuran melihat Shin dengan ekspresi pahit karena dia tidak hanya menangkis, tetapi bahkan dengan mudah menghalau serangan Kankurou.

Bahkan di antara jajaran rumah Kujou yang berpengalaman, hanya sedikit yang bisa menahan Kankurou dalam pelatihan. Kecepatan di mana Shin dan Kankurou beradu pedang masing-masing melebihi kemampuan mereka.

“Dia benar-benar pemuda yang unik, pada tingkat pertempuran seperti itu dia masih sempat berbicara. Ini dan alasan lainnya, dan yang lebih penting.”

“Dan apakah itu?”

“Pemuda itu pasti tidak akan melayani siapa pun. Jika ada di antara mereka yang hadir di sini berpikir untuk membuatnya menjadi bawahan, saya sarankan untuk tidak memaksanya. Dalam kasus terburuk, seluruh Hinomoto bisa hancur.”

Kata-kata Kankurou menyebabkan semua yang hadir terkejut, karena betapa besar konsekuensinya. Beberapa dari mereka tampak bosan, berpikir bahwa itu adalah lelucon yang buruk.

Bahkan jika kemampuan berpedangnya setara dengan Kankurou, itu terlalu berlebihan untuk menempatkannya di atas seluruh negeri Hinomoto, itulah yang dipikirkan orang lain.

“…Aku tidak berpikir kau akan bercanda dalam situasi seperti ini.”

“Tuan Tadahisa, anda telah bertemu Schnee Raizar dan Girard Estaria di masa lalu, kan?”
“Ya, aku pernah bertemu mereka sebelum menjadi kepala klan.”

“Anda tahu betapa kuatnya mereka, bukan?”

“Aku telah menyaksikan pertempuran di mana Schnee Raizar berpartisipasi. Pemusnahan segerombolan monster oleh dirinya sendiri benar-benar mengesankan, bahkan menakutkan. Aku percaya kekuatannya melampaui kemampuan manusia. Tentu bukan hal yang bodoh jika berpikir bahwa dia bisa menjatuhkan seluruh negeri.”

Mungkin karena dia mengingat kejadian di masa lalu, ekspresi Tadahisa yang sudah tegas menjadi semakin pahit. Dia telah menyaksikan Schnee menghancurkan segerombolan monster tanpa menerima satu luka pun.

“Kekuatan Tuan Shin ada pada level yang sama… tidak, bahkan lebih tinggi darinya. Aku mungkin memiliki beberapa kelebihan darinya dengan menggunakan pedang, jika dia bertarung dengan seluruh kemampuannya tidak akan ada cara untuk menghentikannya. Jika dia bertarung dengan serius, hanya mengulur waktu beberapa menit saja sudah merupakan pencapaian yang besar.”

“Apa benar sampai sejauh itu?”

“Tidak diragukan lagi. Tuan Tadahisa, anda tahu legenda High Human, kan? Sebagian besar legenda itu sebagaimana diceritakannya hingga hari ini adalah benar. Seperti yang mereka katakan, dunia sebelum dusk of majesty dihuni oleh para petarung yang begitu kuat hingga tak tertandingi oleh dunia sekarang. Dengan cara yang sama, Tuan Shin tidak dapat dinilai dalam parameter yang ada dan akal sehat kita saat ini. Skill yang telah lama hilang, seni tersembunyi… Saya ragu jika dia hanya mengetahui 10 atau 20 dari itu. Untungnya, kepribadiannya tidak akan membiarkan dia menarik pedang kecuali sesuatu yang benar-benar serius terjadi; selama kita memperlakukannya dengan normal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Kata-kata Kankurou, lelaki yang dianggap Hinomoto paling kuat bahkan sebelum Dusk of Majesty, tidak bisa ditertawakan. Ekspresinya tidak menunjukkan tanda-tanda bercanda.

Untuk sementara, tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.

Tidak ada yang bisa menganggapnya enteng setelah mendengar kata-kata serius seperti itu dari kursi pertama Ten Brave Hinomoto.

Shin tidak boleh disentuh. Kesimpulan ini sudah diukir di atas batu.

◆◆◆◆

Pada saat yang sama ketika party Shin tiba di wilayah Kujou, di tempat tinggal tertentu, dua pria dan seorang wanita sedang berbicara.

Kursi yang lebih tinggi ditempati oleh Seekor Beruang besar dan seorang wanita cantik yang memancarkan atmosfer dekaden tertentu.

Pria yang lain, mengenakan jubah hitam, berlutut di depan mereka, dengan kepala yang menunduk.

“Jadi kau gagal. Mereka seharusnya tidak memiliki pertahanan yang tinggi dalam menangkis sihir meskipun… apakah mereka memiliki beberapa tindakan balasan?”

“Tidak, tapi seorang pria yang bepergian bersama mereka. Tampaknya dia mendeteksi bahaya itu.”

Pria berbaju hitam itu melaporkan apa yang terjadi.

“Siapa itu?”

“Seorang petualang yang dipanggil Shin. Dia menjadi lebih dikenal baru-baru ini karena menghabisi segerombolan monster yang menyerang sebuah kota di daratan. Tidak diragukan lagi, dia adalah Leluhur yang telah kembali.”

Rumor tentang prestasi Shin di Balmel menyebar lebih luas dari yang dia kira. Informasi tentang orang kuat tersebar tanpa sepengetahuan mereka, seperti biasa.

“Saya mencoba mengamatinya sambil berbaur dengan orang banyak, tetapi dia terlihat sangat berbahaya. Penampilannya adalah seorang pria yang baik hati, tetapi bau darah membebani dirinya. Dia lebih dekat dengan kita.”

Pria berjubah ninja itu sedikit gemetar saat dia berbicara. Indra uniknya sebagai penghuni dunia bawah telah membuatnya merasa betapa berbahayanya Shin melalui baunya.

“Ya ampun, Kai yang hebat, pria nomor satu Rokuhara, takut kepada seorang petualang?”

Wanita di sebelah pria yang duduk di kursi yang lebih tinggi berbicara di tempatnya. Saat dia sedikit memutar lehernya ke samping, rambut putih panjang dan telinga hewannya berdesir.

Di belakang wanita itu, enam ekor berbulu putih, memanjang dari belakangnya, bergerak dengan lembut.

“Jika aku diizinkan untuk mempertaruhkan hidupku, aku akan membawanya.”

“Jangan khawatir, ini masih belum waktu yang tepat untuk menggunakan hidupmu. Jika kita tidak dapat menghilangkan penerus rumah Kujou, itu semua tidak berarti.”

Dengan nada dingin, pria yang duduk di kursi yang lebih tinggi menahan kata-kata dari pria bernama Kai.

Tubuhnya, 2 kali lebih besar dari manusia beruang rata-rata, dan bekas luka yang diukir di atasnya, memperkuat aura mengintimidasinya bahkan lebih.

Kai membungkuk lebih dalam setelah mendengar kata-katanya.

“Tamamo. Apakah teknikmu tidak bisa melakukan apa-apa? Jika mereka memasuki kastil, kita tidak bisa bertindak dengan mudah.”

“Tuan Juugo, saya akan dengan senang hati meminjamkan kekuatan saya.”

Tamamo menunjukkan senyum yang memikat sambil bersandar malu pada pria itu. Senyumnya memiliki sifat menawan, dan mempengaruhi pikiran Juugo dan Kai, sedikit demi sedikit.

Tentu saja dia bisa, karena mereka berpikir bahwa penampilannya yang berekor 6, tidaklah normal bagi seorang manusia rubah.

“Heh, setelah kematian putri mereka yang berharga, rumah Kujou tidak akan bisa menjaga kedamaian mereka. Saudarinya itu juga tidak akan lama lagi hidup, kan?”

“Ya, penyakitnya pasti akan segera mengakhiri hidup Kujou Haruna. Aku juga ingin melenyapkan saudara laki-laki pertama mereka, tetapi sayang sekali tidak ada kesempatan untuk mendekatinya.”

“Mulai dari target terdekat. Hinomoto tidak akan dapat bertahan selamanya.”

Mata Juugo mulai berkilau, sesuatu yang menyerupai kegilaan.

Tamamo dan Kai sama-sama memperhatikan, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

Percikan api mulai membara di Hinomoto…

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded