The New Gate Volume 8 Chapter 3 Part 1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
  • Translator : Scraba

Sehari setelah kunjungannya ke Kujou Tadahisa.

Shin terus berlatih dengan『Kakura』 miliknya sejak pagi hari, dengan benar-benar menghilangkan【Limit】 -nya.

“Fuuh !!”

Kemampuannya sekarang benar-benar tidak terkendali, tetapi dia jelas berhati-hati untuk tidak merusak lingkungan.

Jika dia menggunakan kekuatan penuhnya, akan lebih sulit untuk mengendalikan dirinya, tetapi selama dia bersikap santai, itu akan mudah. Lagipula, dia telah menghilangkan【Limit】ketika melawan Barlux, master guild Bayreuth.

Sedikit demi sedikit, ia terus menambahkan kekuatan disetiap ayunannya, dengan hati-hati memantau setiap perubahan. Dia masih belum bisa memegangnya dengan sempurna, tetapi antara memahami dan tidak memahami cara mengendalikan pedang, perbedaan kecil dalam kekuatan pun akan muncul.

Pada saat itu, dia tidak berpikir jika, ketika nanti, dia harus menahan kekuatannya pada mode pelepasan penuh.

“Kuu.”

“Oh, sudah waktunya?”

Shin telah memberi tahu Yuzuha untuk memeriksa waktu agar dia bisa mengatur semuanya dan mengubah modenya sebelum sarapan.

“Ehm, apa kau bisa keluar?”

“… .. kau menyadarinya.”

Shin berbicara ke arah tepi beranda, dan Karin yang malu menunjukkan dirinya.

“Aku tidak boleh melakukan hal yang dapat mengganggumu …”

“Tidak apa-apa. Aku hanya kebetulan menyadari kau ada di sana, kau sama sekali tidak menggangguku. ”

Sama seperti sebelumnya, Shin menyadari bahwa Karin mendekat. Dan sama seperti sebelumnya juga, dia berhati-hati untuk tidak mengganggunya.

“Aku rasa ini masih terlalu pagi untuk sarapan?”

“Ya, aku hanya ingin tahu jenis pelatihan apa yang kau lakukan. Lagipula, pertandingan kemarin melawan Tuan Kankurou benar-benar mengesankan. ”

“Oh begitu. Aku tidak melakukan sesuatu yang istimewa … omong-omong, apa pendapatmu tentang gaya bertarungku? ”

Shin sedikit mengkhawatirkan tentang hal itu, jadi dia memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta pendapat Karin.

“Apa yang aku pikirkan?”

“Maksudku, teknikku dalam berpedang. Harus aku akui, memang aku berlatih dalam berpedang, tetapi kebanyakan dari itu adalah otodidak. ”

Sebagai seorang pemain, Shin cukup kuat.

Namun, dalam pertarungan menggunakan pedang tanpa mempertimbangkan statistik, dia bukanlah lawan bagi Kankurou atau Karin, yang telah menghabiskan lebih banyak waktu mengasah teknik mereka.

Dasar kekuatan Shin bukan hanya pengalamannya yang luas dalam pertempuran melawan monster dan manusia, tetapi juga variasi hebat dari mantra sihir dan Skill yang dimilikinya.

Sebuah Job tidak memiliki batasan dalam penggunaan senjata, jadi dia bisa menggunakan banyak senjata utama: pedang, tombak, busur, dll.

Ini karena dia lebih sering bertarung sendirian. Dia dengan cepat akan mengganti senjata untuk menyerang titik lemah lawan dan melakukan pertarungan yang menguntungkannya.

Beberapa orang berpikir bahwa menguasai satu jenis senjata akan membuat seseorang lebih kuat, tetapi Shin tidak memilih cara yang seperti itu.

Belajar tanpa diajarkan, dan meningkatkan kemampuan dengan pesat … Shin belum diberkati dengan bakat yang luar biasa seperti itu.

Di satu sisi, bisa dikatakan bahwa pedang milik Shin adalah buah dari bakatnya yang luar biasa dalam belajar.

“… Aku pikir akan terdengar sombong dan arogan bagiku untuk berbicara, tapi … yah, sesuatu yang membuatku prihatin adalah gerakan tubuhmu.”

“Gerakanku?”

“Benar. Dalam gaya Saegusa yang diturunkan dalam keluargaku, kami memfokuskan seluruh tubuh kami pada setiap ayunan pedang. Tebasan yang tepat, di bawah kendali penuh kehendak kami, dianggap sebagai puncak gaya Saegusa. Sebagai perbandingan, pedang milikmu tampak tidak seimbang, dalam mengikuti gerakan tubuhmu. Kurasa kau mungkin tidak membuat tubuhmu mengingat setiap bentuk teknik, tetapi hanya bertarung seperti biasa? ”

“Luar biasa, itu benar sekali.”

Setelah diajarkan sedikit tentang berpedang, Shin menghabiskan sedikit waktu untuk berlatih. Sebagian besar tekniknya telah diasah di medan perang. Lagi pula, karena dia ada di dalam game, bahkan jika dia tidak melakukan yang terbaik, gerakan yang paling ideal, selama sistem menilai itu efektif dia akan dapat memberikan Damage.

Gerakan Shin segera menjadi lebih halus, dan dia tidak begitu peduli tentang bentuk teknik.

“Tuan Shin, kemampuan fisikmu luar biasa. Aku yakin, sedikit ketidakseimbangan tidak akan menjadi masalah. ”

“Tapi mulai sekarang, aku tidak bisa seperti itu terus.”

Di dunia saat ini, sistem penilaian atas Damage yang dulu telah hilang. Sedikit saja ketidakseimbangan yang ditunjukkan oleh Karin akan mempengaruhi damage yang ditimbulkan.

“Mulai sekarang?”

“Aku tidak bisa membiarkan tubuhku yang mengontrol selamanya.”

Dia tidak berniat mengalahkan master pedang manapun, tetapi hanya ingin agar dia dapat sepenuhnya menangani kekuatannya sendiri.

Karena dia merasa dia tidak menggunakan kekuatannya dengan benar, Shin ingin menyempurnakan kontrol atas kekuatannya, sekaranglah waktunya.

“Yah … jika kau ingin, aku bisa mengajarimu beberapa hal mendasar. Kau akan tinggal di rumah kami sampai temanmu datang, kan? jadi aku pikir itu bisa berguna bagimu. ”

“Aku akan sangat berterima kasih, tetapi apakah tidak apa-apa untuk mengajari orang luar?”

Shin meragukan saran Karin yang tiba-tiba.

“Aku yakin kau tidak akan menggunakan apa yang aku ajarkan untuk tujuan yang salah. Yang dibutuhkan Tuan Shin sekarang adalah memahami dan mengendalikan kemampuan fisiknya. Aku tidak akan mengajarkanmu tentang teknik-teknik yang ada disekolah kami, dan aku ragu jika ada yang marah hanya karena sebuah pelajaran secara pribadi. Aku juga mengajarkan dasar-dasar di dojo lainnya. ”

Tidak, seseorang pasti akan ada yang marah … pikir Shin. Meskipun dilatih oleh kursi ke-3 dari Brave Ten dari Hinomoto adalah sesuatu yang bahkan tidak dia duga, jadi dia memilih untuk tidak mengkhawatirkan hal-hal kecil seperti itu.

“Kalau begitu, mari kita mulai latihannya setelah sarapan.”

“Terima kasih banyak.”

Setelah sarapan, keduanya pindah ke dojo Saegusa. Tempat yang disarankan Karin untuk Shin adalah sebuah dojo yang sepi dan tenang: rupanya pelajaran untuk para murid mereka diadakan di tempat lain.

Shin menurunkan statistiknya dengan【Limit】 dan menyuruh Karin untuk menunjukkan di mana letak kekurangannya. Mungkin karena dia telah belajar sendiri sejak lama, Shin memiliki sedikit kebiasaan aneh.

“Kau menggunakan banyak senjata lain selain katana, aku pikir itu adalah salah satu alasannya juga.”

Karin menjelaskan bahwa menggunakan banyak senjata akan menciptakan kebiasaan dalam gaya bertarungnya.

“Kuaaa …”

Yuzuha menguap saat dia mengawasi keduanya.

 ◆◆◆◆

 Suatu malam, beberapa hari setelah Karin mulai memberikan pelajaran pribadi kepada Shin.

Duduk di beranda di luar ruangan yang diperuntukkan kepadanya, Shin mendengarkan laporan Schnee.

“(…. Aku mengerti. Jadi tidak ada masalah besar setelah kejadian itu.)”

“(Ya. Kami bisa mengawal nona Hermie dengan selamat. Untuk berjaga-jaga, Wilhelm ada bersamanya, tapi aku yakin dia akan baik-baik saja kecuali sesuatu yang luar biasa terjadi.)”

Milt telah dikirim untuk menyerang pangkalan Faksi Puncak, jadi hanya ada Wilhelm yang menjaga Hermie. Dia adalah orang yang paling terbuka dengan Wilhelm selama perjalanan mereka, jadi terlepas dari kekuatan bertarung, dia adalah pilihan terbaik.

“(Itu membuatku lega. Tidak ada hal khusus yang terjadi saat ini, tetapi aku sedikit khawatir. Jangan sampai lengah ketika kau datang kemari, untuk berjaga-jaga.)”

“(Aku tahu. Sampai ketemu lagi.)”

Shin mengakhiri Mind Chat setelah ucapan terakhir Schnee, yang berbicara dengan nada ceria. Tergantung pada situasinya, tetapi kedatangan mereka ke Hinomoto biasanya akan memakan waktu sekitar satu minggu.

Shin menatap langit, berpikir bahwa akan menyenangkan untuk menggunakan kesempatan ini untuk berjalan-jalan di Hinomoto. Bulan purnama yang indah tergantung dikegelapan.

“Taman di bawah sinar bulan … kedengarannya menarik.”

“Ini adalah malam yang diterangi oleh cahaya bulan yang indah.”

Shin berbicara sendiri, tetapi dia mendengar seseorang menjawab. Dia sudah menyadarinya, jadi dia tidak terkejut; itu Karin, mengenakan kimono. Rambut hitamnya yang halus berkilau di bawah sinar bulan.

“Ayah memberiku beberapa sake yang lezat, jadi aku berpikir untuk membawakannya.”

Karin membawa nampan dengan botol dan cangkir kecil diatasnya.

“Aku mengerti. Bulannya juga sedang indah, mari kita nikmati cahaya bulannya sekaligus. ”

Shin bukan seorang peminum di dunia nyata, jadi ini adalah pertama kalinya dia menikmati tradisi minum sake sambil menatap bulan.

“Ini dia.”

“Eh? Oh terima kasih.”

Sebelum Shin dapat mengambil botol untuk menuangkan secangkir sake, Karin lebih dulu melakukan itu untuknya. Ada dua cangkir kecil, jadi dia mungkin akan minum juga.

Setelah dia menuangkan sake untuknya, Shin melakukan hal yang sama sebagai balasannya.

Kemungkinan itu adalah jenis sake “THE NEW GATE”. Aromanya yang manis mengingatkan Shin pada rasa khas dari Ginjo.

Mengingat ketika dia mencobanya di sebuah pertemuan di universitas, Shin menaruh cangkir itu ke bibirnya, merasakan aroma yang agak manis dan kuat, rasa yang sempurna. Shin bukan seorang ahli dalam masalah ini, tetapi itu benar-benar lezat.

Langit yang diterangi cahaya bulan membuat sake terasa lebih nikmat. Mungkin itu juga karena gadis cantik seperti Karin yang menuangkannya.

“Cantik sekali.”

“Ya!? Ah, er, itu benar! Bulannya benar-benar cantik! ”

“?”

Reaksi terkejut Karin membuat Shin berbalik untuk melihatnya, tapi dia hanya melihat lurus ke langit.

“Apa ada yang salah?”

“Tidak, tidak ada apa-apa …”

Dia tampak sangat gugup. Sikap anggun yang dia miliki sampai beberapa saat yang lalu pergi entah kemana.

“Apa itu ada hubungannya dengan dua orang yang ada di belakang pilar?”

“… ..jadi kau menyadarinya.”

“Yah, aku pikir akan lebih sulit untuk tidak menyadarinya …”

Shin telah mendeteksi bahwa, di tepi beranda tepat di sudut belakang, Kuyou dan Kayo bersembunyi. Mata Kuyou memancarkan niat membunuh yang samar. Siapa pun yang pernah mengalami pertempuran akan menyadari hal itu.

“Apa terjadi sesuatu?”

“…… sebenarnya, ibu memberitahuku untuk lebih mengenalmu.”

“Lebih mengenalku?”

Mungkin, demi membuatnya nyaman dengan mengobrol.

“Aku penasaran, apakah aku melakukan sesuatu yang tidak sopan?”

“Tidak sama sekali, sebenarnya …. apa yang aku ingin tahu adalah … makanan apa yang kau suka, hal apa yang kau suka, seperti apa … wanita yang kau suka.”

Ucapan terakhir Karin disuarakan dengan pelan.

“Aaah… aku mengerti, jadi apa itu? Apa dia ingin menanyakan tentang pernikahan? ”

Mengapa ibu Karin, Kayo, meminta putrinya untuk mengumpulkan informasi seperti itu? Shin telah menebak alasannya, tetapi menghindari mengatakannya secara langsung.

Selama tinggal dikediaman Saegusa, Shin memiliki kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang keluarga pendekar Hinomoto.

Seperti halnya dengan Kayo, para wanita di Hinomoto cenderung menikah di usia muda, dan tidak aneh jika mereka sudah melahirkan diusia remaja.

Untuk seseorang seperti Karin, seorang wanita dan bagian dari Brave Ten, wajar jika memiliki tunangan.

Namun kediaman Saegusa, lebih memfokuskan pada kemampuan bertarung: Kuyou tidak akan menyetujui kandidat yang tidak memiliki kemampuan, tetapi untuk menemukan seseorang seperti dirinya, yang merupakan kedudukan ke-2 Brave Ten di Hinomoto, sehingga dapat diterima merupakan hal yang sulit.

“Ibu, sebenarnya, dia mengatakan bahwa Tuan Shin pasti akan lulus …….. dan ayah juga sepertinya menerima itu ….”

Sepertinya berkat duelnya dengan Kankurou, Shin telah memenuhi harapan mereka. Menilai dari kata-kata Karin, Kayo adalah penghasut utama di balik semua itu.

“Apakah dia benar-benar menerimanya? Niat membunuh yang datang darinya itu semakin kuat … ”

Niat membunuh Kuyou semakin meningkat. Bahkan jika dia menerimanya, perasaannya sebagai ayah adalah hal yang berbeda.

“Jadi, kau menyadarinya…”

“Aku benar-benar minta maaf, tapi aku sudah punya tunangan. Aku khawatir kalau diriku tidak bisa menerima lamaran itu. “

“Eh … ..? Oh begitu. Tentu saja! Pria sepertimu pasti sudah memiliki setidaknya satu tunangan !! ”

Setelah mendengar jawaban Shin, mata Karin terbuka lebar untuk sesaat, lalu menunjukkan reaksi yang berlebihan.

Dia sedikit terkejut, namun dilain sisi juga merasa lega … perasaan campur aduk berputar di dalam dirinya, dan Shin merasa sulit untuk membaca ekspresinya untuk sementara waktu.

“Aku minta maaf karena membahas sesuatu yang sangat aneh. Padahal ini malam yang indah, dan aku hampir menghancurkan suasananya. ”

“Secara pribadi, aku merasa terhormat ditemani oleh orang sepertimu.”

“Oh, aku senang mendengarnya.”

Karin membungkuk, lalu berjalan pergi ke arah Kuyou dan Kayo. Kehadiran mereka juga ikut menghilang, mungkin berkat Karin.

“Pernikahan, huh …”

Di dunia sebelumnya, juga terdapat konsep pernikahan yang berfokus pada rumah tangga atau garis keturunan, tetapi Shin tidak pernah berhubungan dengan hal-hal seperti itu.

Jika Karin benar-benar telah jatuh cinta padanya, itu akan dapat dimengerti jika mereka berbicara dengan Shin tentang pernikahan, sekarang dia tahu tentang keadaan kediaman Saegusa. Namun, Shin tidak mengingat kejadian apa pun yang bisa mengubah rasa “Suka” Karin menjadi “Cinta”.

Mungkin ada kejadian yang membuat dirinya berpikir tentang Shin seperti itu, seperti ketika dia melakukan CPR dan memijat dadanya.
[T/N : Ini ketika Shin menyadarkan Karin dengan nafas buatan]

“Ini terlalu dini untuk seorang pelajar sepertiku memikirkan tentang ini …”

“Status” asli Shin adalah mahasiswa. Pernikahan bukanlah hal yang dini lagi, tetapi masih belum terasa realistis.

 “….Huft”

Setelah meninggalkan Shin, Karin mendorong Kuyou dan Kayo kekamar mereka, lalu kembali ke kamarnya.

Tubuhnya, yang terasa aneh lebih berat dari biasanya, terbaring di futon, dia menatap langit-langit.

“Seorang tunangan …”

Kekuatan pertempuran Shin sangat tinggi. Di luar Hinomoto, ia bisa menjadi petualang yang sangat sukses.

Karin tahu bahwa nama Shin sebenarnya mulai dikenal.

Tadahisa telah melarang seseorang untuk memaksa Shin ke pihak mereka, tetapi dalam hal kebaikan itu tidak akan masalah.

“Aku seharusnya senang bahwa hal yang merepotkan telah selesai, namun …”

Karin selalu fokus berlatih dengan pedangnya, tanpa peduli untuk berlatih menjadi seorang pengantin. Dia telah meninggalkan Hinomoto sebagai seorang petualang, jadi dia bisa memasak dan menjahit sampai batas tertentu, tetapi Karin tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan untuk menikah.

…. Setidaknya, begitulah seharusnya.

“…..Huft.”

Dia tidak henti-hentinya menghela nafas setelah kembali ke kamarnya.

Mempertahankan kondisi tubuh juga merupakan tugas seorang pendekar. Namun setelah berbicara dengan Shin, dia merasa dirinya tidak mampu melakukan itu.

Dia tahu perasaan apa ini.

Rasa lelah yang menyelimuti tubuhnya. Itu adalah “Kehilangan”.

Sensasi itu terasa setelah kehilangan sesuatu yang penting. Sensasi yang mirip dengan ketidakberdayaan.

Itu aneh. Padahal dia tidak kehilangan apapun.

“Cantik, huh …”

Kata-kata Shin berputar-putar di dalam pikiran Karin.

Melihat Shin, sudah cukup jelas bahwa kata-kata itu tidak ditujukan padanya. Meskipun begitu, dia hampir terkejut oleh kata-kata itu.

Wajahnya masih terasa memerah.

Pada saat yang sama, dia bisa merasakan rasa sakit yang mengepal, jauh di dalam dadanya.

Karin juga tahu sensasi ini.

“Apakah aku … mulai tertarik pada Tuan Shin …?”

Dia melihatnya pertama kali ketika di kapal yang mereka naiki untuk kembali ke kampung halaman mereka. Dia mengerti bahwa Shin adalah pria dengan kemampuan yang luar biasa, tapi dia tetaplah orang asing.

Ketika mereka berbicara, dia hanya memiliki kesan bahwa Shin mungkin bukan orang yang jahat.

Dia terkejut dengan kekuatannya selama pertempuran melawan Gale Serpents.

Kemudian, setelah menyelam ke laut untuk mengejar Kanade, ketika dia sadar kembali, hal pertama yang dia lihat adalah punggung Shin.

“Punggungnya sangat besar …”

Karin bisa sedikit mengingat ketika dia menggendongnya. Shin agak ramping, tapi punggungnya lebih besar dan lebih lebar dari yang dia kira, dan dia sama sekali tidak merasa gelisah ketika bersandar padanya.

Kemudian, dia membantu mereka mencari ramuan obat untuk Nona Haruna; di atas Gunung Fuji, dia berdiri tanpa rasa takut di hadapan monster ular raksasa berkepala 8, dan berhasil mendapatkan ramuan itu dengan pedangnya.

Karin teringat sensasi hangat di dadanya saat dia melihat wajah Shin ketika menghadapi pendekar wanita yang mengenakan armor platinum itu.

Namun, dia berpikir bahwa itu adalah sensasi yang lahir dari menyaksikan dua orang pendekar yang kuat terlibat dalam pertempuran …

“Sampai-sampai jatuh cinta saat melihatnya bertarung … sepertinya ada yang salah denganku.”

Dia mulai khawatir tentang kepekaannya. Dia telah fokus berpedang sepanjang hidupnya, itu benar, tetapi meskipun demikian ini adalah awal yang terlalu kejam.

Hal lain yang mungkin memicu itu semua…

“Ah…”

Dia mulai berpikir tentang sesuatu yang lain.

Kejadian yang membuatnya tertarik kepada Shin.

Karin dengan ringan menyentuh bibirnya dengan jari-jari.

“Ciuman.”

Shin dengan keras menjelaskan bahwa dia telah melakukan itu untuk menyelamatkannya, dan Karin tidak meragukan kata-katanya.

Tapi itu tetaplah fakta bahwa dia telah di cium. Dan menurut Kanade, dia juga menyentuh payudaranya.

Dia tahu dia lebih berkembang daripada orang lain seusianya. Dia juga tahu bahwa ketika dia keluar bertualang bersama Kanade, pria sering menatap dadanya.

Dia tidak merasakan apa pun kecuali rasa jijik, tetapi dalam kasus Shin, rasa jijik itu tidak ada.

Sebaliknya, dia bahkan …

“Aaaah !! Apa sih yang aku pikirkan!?! “

Karin dengan spontan menaikkan suaranya.

Detak jantungnya semakin kencang. Pikirannya menolak untuk tetap tenang.

Semakin dia mencoba untuk tidak memikirkannya, semakin banyak siluet Shin yang memenuhi pikirannya.

Ekspresi Shin ketika mereka pertama kali bertemu.

Ekspresi pemberani yang dia tunjukkan ketika dia menebas kepala Gale Serpent.

Ekspresi ramahnya ketika Shin mengkhawatirkan dirinya.

Ekspresi seriusnya sambil mengayunkan pedang.

“Padahal diriku habis ditolak … sepertinya ada yang salah denganku …”

Dia hampir tidak bisa tidur malam itu.

◆◆◆◆

3 hari setelah Karin membicarakan tentang pernikahan dengan Shin, sebuah surat dikirim ke rumah Saegusa.

Chiyo, yang menerimanya, mengatakan itu berasal dari Kujou.

“Apa ini untukku?”

“Ya, Nona Haruna menyatakan keinginannya untuk bertemu denganmu. Pengirimnya adalah nona Kanade. “

Aku sadar dengan permintaanku yang agak kasar. Tapi bisakah kau untuk bertemu dengan kakakku… begitulah isi suratnya.

Mempertimbangkan kepribadian Kanade, dia lebih suka datang secara pribadi untuk membicarakannya, tetapi karena dia sudah lama tidak berada di Hinomoto, dia mungkin kepergok oleh seorang pelayan ketika ingin kabur keluar.

“Nona Haruna adalah orang yang sangat baik. Dia pasti merasa tidak enak untuk meminta orang yang menyelamatkan nyawanya untuk datang mengunjunginya. Tetapi, hanya mengakhiri sesuatu dengan surat ucapan terima kasih bukanlah sesuatu yang bisa diterimanya. ”

Shin sudah menerima surat ucapan terima kasih atas pertolongannya.

Itu ditulis dengan gaya kuno dan sulit dibaca, tetapi perasaan terima kasihnya diungkapkan dengan jelas.

“Aku juga sudah menerima rasa terima kasih oleh Tuan Tadahisa, aku rasa dia tidak harus menyibukkan dirinya dengan itu juga…”

“Dia juga sangat keras kepala seperti yang kau lihat. Tuan Shin, apa kau mau memberi kesempatan kepada Nona Haruna untuk mengucapkan terima kasihnya padamu? ”

“Yah, aku juga tidak sibuk sampai rekan-rekanku datang. Jika dia akan merasa senang, aku rasa tidak masalah. Jujur saja, aku merasa gugup… ”

Kuyou menulis surat penerimaan dan menyerahkannya kepada utusan yang menunggu.

Mereka akan pergi mengunjungi nona Haruna keesokan harinya.

“Ehm, aku pikir lebih baik periksa kembali surat kunjungannya …”

“Y-ya …”

Saat mereka berjalan menuju kediaman Kujou, Shin berbicara dengan Karin, tetapi menerima balasan yang aneh.

Sehari setelah percakapan mengenai pernikahan mereka, Karin terlalu gelisah dan mereka tidak dapat melanjutkan latihan yang biasa mereka lakukan.

Sekarang, setelah beberapa hari berlalu, dia tampak lebih tenang.

Ngomong-ngomong, Yuzuha tetap tinggal di kediaman.

Ketika mereka tiba di tempat seperti yang telah dikatakan oleh Haruna, mereka menunjukkan kepada penjaga gerbang bukti surat balasan yang telah mereka terima.

Bukti surat itu memiliki setengah segel; setengahnya lagi dikombinasikan dengan segel yang dimiliki oleh penjaga gerbang, itu cocok dengan sempurna dan memancarkan cahaya samar. Untuk menghindari pemalsuan, mekanisme pertahanan magis juga ditempatkan di sana.

Ketika mereka menunggu seseorang untuk membimbing mereka kedalam kediaman, Kanade sendirilah yang muncul.

“Aku sangat berterima kasih atas kedatanganmu. Masuklah, lewat sini. ”

“Nona Kanade. Seorang putri bangsawan dari kediaman Kujou seharusnya tidak bersikap seperti itu di depan umum !! ”

Seorang wanita berusia 40-an, yang tiba tepat setelah Kanade, menegurnya. Dia adalah guru Kanade dan namanya adalah “Ei”.

“Saya minta maaf atas ketidaksopanan saya. Saya akan menemani Anda kedalam. Hanya beberapa hari telah berlalu sejak nona kami, Haruna, bangkit dari tempat tidurnya, jadi saya harap agar Anda tidak terlalu membebaninya. ”

“Aku mengerti.”

Ei membungkuk dalam-dalam pada mereka, dan Shin membalas dengan mengangguk. Penyakitnya mungkin telah sembuh, tetapi Haruna telah sakit dan terbaring di tempat tidur untuk waktu yang lama, itu wajar jika mereka tidak ingin menjadi beban baginya.

Setelah mereka berjalan beberapa saat, Ei berhenti di depan sebuah ruangan dengan beranda. Kanade, yang telah kembali sebelum mereka, sudah ada di dalam ruangan.

Ei berlutut di lantai dan memanggil siapa yang berada di balik pintu geser itu.

“Nona Haruna. Tuan Shin dan Nona Karin telah tiba. ”

“Biarkan mereka masuk.”

Setelah jawaban Haruna, Ei membuka pintu geser itu. Shin dan Karin yang dipersilahkan masuk pun mengikuti.

“Izinkan aku mengucapkan terima kasih karena sudah datang jauh-jauh ke sini untuk mengunjungiku.”

Di samping Kanade, di ruangan itu ada seorang wanita muda, yang dihiasi dengan kimono yang cantik.

Perhatian Shin terfokus pada rambut hitam yang panjangnya hingga sepinggang dari wanita itu dan  juga matanya, hitam seperti permata obsidian yang sudah dipoles.

Roman wajahnya sangat mirip dengan wanita Jepang, dengan gaya kecantikannya yang tradisional yang khas dengan Jepang sangatlah anggun.

“Jangan hanya berdiri seperti itu, duduklah. Kau seharusnya tidak membuat kakakku menunggu. “

“Kau sepertinya tidak menahan diri seperti biasanya.”

Tidak diragukan lagi bahwa wanita muda yang ada di depan mereka adalah Haruna.

Saat Shin duduk di atas bantal yang disiapkan untuknya, Haruna mengatur posturnya, lalu merendahkan kepalanya ke arah Shin.

“Aku ingin memberikan rasa terima kasihku yang terdalam karena telah menyelamatkan adikku ini dan nyawa temannya. Aku berterima kasih, penyakit yang menimpaku juga telah sembuh. Aku tidak akan pernah melupakan hutang ini kepadamu selama sisa hidupku. ”

“Kumohon, angkatlah kepalamu. Aku hanya mengikuti kata hatiku. Aku sudah menerima rasa terima kasihmu. “

Shin merasa sedikit gelisah, dia merasa tidak enak karena tidak pantas bagi seorang putri kepala keluarga untuk membungkuk seperti itu kepada seorang petualang belaka.

Dia menghargai sikap terima kasihnya, tentu saja, tetapi diperlakukan dengan hormat memberikan efek terbalik sehingga membuatnya gugup.

Dilahirkan dan dibesarkan di zaman modern, Shin merasa reaksi Haruna terlalu berlebihan.

“Aku juga berharap bisa memberikan rasa terima kasih padamu dengan hal lain …”

“Kumohon, jangan, kau tidak perlu repot-repot melakukan itu. Eh … oh, ya! Melihat senyum Nona Haruna saja sudah lebih dari cukup! ”

“Senyumku?”

“Tentu saja, aku tidak tahu bagaimana dirimu yang biasanya, tapi ekspresimu sekarang, bagaimana aku harus mengatakan … terasa berat, Nona Haruna. Aku tidak membutuhkan kemuliaan, tidak sama sekali, tetapi jika memungkinkan, aku ingin melihat ekspresi yang lebih ceria darimu nona Haruna. ”

Shin tiba-tiba mengatakan apa yang muncul dalam pikirannya, tetapi ketika berbicara dia sedikit kesal pada dirinya sendiri karena permintaannya yang aneh.

Dia tahu bahwa ketika dia akan mengingat tindakan dan kata-katanya nanti, dia pasti ingin menendang dirinya sendiri.

“Aku juga, aku sangat menyukai senyum kakakku.”

Mengatakan demikian, Kanade memeluk Haruna.

“Aku tidak tahu betapa berharganya senyumku ini, tetapi aku tidak akan menolak permintaan seperti itu. Aku jarang sekali tersenyum setelah terbaring di tempat tidur, jadi aku harap ini tidak terlalu aneh. ”

Sambil membelai kepala Kanade, yang telah melompat kepangkuannya, Haruna membalas ucapan Shin. Kata-kata itu memberinya sedikit kelegaan.

Ekspresi Haruna saat dia memeluk Kanade tampak seolah diterangi oleh sinar matahari.

“… Aku sangat menghargai pertolonganmu.”

Berkat kehangatan yang dia rasakan ketika melihat Haruna memeluk Kanade, kegelisahan Shin juga ikut menghilang.

Setelah menjelaskan secara singkat apa yang terjadi dalam perjalanan mereka, mereka mohon pamit dari tempat tinggal Haruna. Si Guru, Ei telah mengingatkan mereka untuk tidak terlalu lama.

Karin tidak banyak bicara, namun rupanya dia sudah bertemu dan berbicara dengan Haruna, yang dia anggap sebagai teman dekat.

“Aku sudah semakin pulih, tetapi semua orang tampaknya terlalu khawatir.”

“Aku dengar kau sudah terbaring di tempat tidur begitu lama, jadi itu wajar saja.”

Setelah menghibur Haruna yang tampak kecewa, Shin pun berdiri. Haruna tidak ingin melihat mereka pergi, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan; Sosok yang mengirimnya pesan mengatakan “Sudah waktunya untuk membiarkan nona beristirahat—” pesan itu dari luar ditunjukkan kepada Shin, mungkin itu Ei.

“Kalau begitu aku pamit dulu. Harap berhati-hati untuk tidak terlalu memaksakan diri, karena kau baru saja pulih. ”

Menyadari betapa dicintainya dia oleh orang-orang yang ada di sekitarnya, Shin mengucapkan selamat tinggal pada Haruna.

“Apa kita bisa bertemu lagi? Aku ingin tahu lebih banyak tentang dunia di luar Hinomoto. ”

“Aku akan berada di kediaman Saegusa sampai teman-temanku tiba, jadi itu mungkin saja sampai saat itu. Meskipun aku khawatir jika para pengikut akan menentang jika nona sang tuan rumah akan bertemu dengan petualang sepertiku. ”

“Kurasa, akan lebih bijaksana untuk melakukannya tanpa membuat rumor yang tidak menyenangkan, dengan membawa orang lain bersamamu selama kunjungan.”

Kediaman Kujou adalah penguasa Hinomoto bagian timur. Jika orang-orang mulai menggosipkan bahwa putri sulungnya itu akrab dengan seorang petualang yang tidak dikenal, reputasi Haruna akan lebih berisiko daripada Shin.

Dengan begitu Karin menyarankan agar mereka menghindari pertemuan secara pribadi.

“Aku mengerti, tapi itu benar-benar disayangkan.”

“Sayang sekali, seperti yang dikatakan Shin dan Karin. Sekarang setelah kau pulih, akan ada banyak lamaran pernikahan yang berdatangan. ”

Shin berpikir bahwa prediksi Kanade pasti akan terjadi.

Keluarga dan penampilannya juga sangat bagus, berbicara dengannya menunjukkan kepribadiannya yang tenang, dan cukup jelas bahwa dia orang yang cerdas. Banyak kondisi yang menarik darinya, pasti akan ada banyak sekali orang yang mau menikahinya.

Sekarang, ketika dia baru saja pulih, sepertinya tidak ada topik yang disebutkan kepadanya, tetapi cepat atau lambat mereka pasti akan melakukannya. Itu bukan sesuatu yang dapat dicampur tangani oleh Shin.

“Kalau begitu, jika ada kesempatan, mari kita bertemu lagi.”

“Sekali lagi, terima kasih karena sudah datang.”

“Datang lagi ya!”

Ei, yang sedang menunggu di luar ruangan Haruna, membawa mereka kembali ke gerbang pintu masuk.

“Terima kasih banyak karena telah meluangkan waktu yang berharga untuk Nona Haruna hari ini.”

“Tidak apa-apa, seorang petualang sepertiku tidak layak untuk menerima kehormatan seperti itu.”

Biasanya, seorang petugas akan menemani tamu dari gerbang kecil di pagar yang mengelilingi kediaman sampai gerbang besar di pintu masuk kediaman Kujou, tetapi kali ini Karin mengambil alih peran itu.

Bahkan jika mereka sangat berterima kasih kepada orang itu, mereka tidak akan membiarkan orang asing berjalan di sekitar kompleks utama mereka sendiri.

Sambil memikirkan hal ini, Shin menyadari bahwa sejak dia memasuki wilayah Kujou, setiap kali dia meninggalkan kediaman Saegusa dia ditemani oleh seseorang.

“Yah, aku rasa itu sudah jelas.”

Dia membisikkan ini pada dirinya sendiri dan melihat ke arah gerbang besar, dan dia melihat seseorang selain penjaga.

“Lama tidak berjumpa, Tuan Shin.”

“Tuan Kankurou … kau juga punya urusan dengan nona Haruna?”

Kankurou, yang berpakaian dengan cara yang sama ketika dia melawan Shin, menggelengkan kepalanya.

“Tidak, aku hanya sedang luang, jadi aku berjalan-jalan, dan aku merasakan kehadiranmu. Aku tidak punya banyak waktu, tetapi maukah kau mengobrol denganku sebentar? ”

“Aku sih tidak masalah, tapi bagaimana denganmu, Karin?”

“Tidak masalah. Aku melihat Tuan Toshiro ada di sini juga, bagaimana denganmu? ”

“Aku juga tidak sedang sibuk.”

Melihat kesebuah arah, Karin memandang Yaejima Toshiro yang sedang berdiri. Dia tidak mengenakan armor, tetapi hanya pakaian formal berwarna abu-abu dan hijau tua.

“Namun, jika waktu mengizinkannya, aku ingin bertarung dengan Tuan Shin.”

“Pertarungan?”

Sejak pertama kali mereka bertemu, ketika Shin bersama dengan Karin dan Kanade, dia tidak merasa ada amarah yang datang dari Toshiro. Apa yang dia rasakan hampir membuatnya merasa seperti dianggap sebagai musuh.

Dia sedikit terkejut, ketika ditantang untuk berduel secara langsung seperti itu.

“Aku mendengar rumor. Bahwa kau diajarkan oleh nona Karin berpedang, benar? “

“Ada rumor seperti itu?”

Shin terkejut karena ucapan Toshiro.

Karin adalah putri pertama dari keluarga Saegusa dan berada dikursi ke-3 dari Hinomoto Brave Ten. Jika berita tentang dirinya yang mengajar orang asing seni berpedang menyebar, pasti akan menyebabkan keributan. Shin tidak suka membalas kebaikan Karin dengan sebuah masalah.

“Aku pikir aku tidak akan membicarakannya pada siapa pun.”

“Aku juga belum mendengar berita itu. Ngomong ngomong, Toshiro, akhir-akhir ini kau sering sekali menghilang, kan? ”

Setelah mendengar komentar Karin dan terutama Kankurou, Shin menatap dengan curiga pada Kankurou, berpikir bahwa dia mungkin memata-matai mereka.

“Aku baru mendengarnya dari nona Chiyo! Aku diberitahu untuk tidak mengatakannya kepada orang lain, lagipula aku juga tidak punya niat untuk melakukan itu !! Aku hanya-ahem !!! ”

Semakin banyak mereka berbicara, semakin banyak pendapat Shin tentang Toshiro berubah.

“Ehm … Tuan Toshiro?”

Karin tampak bingung melihat Toshiro, sepertinya Karin tidak menyadari perasaan Toshiro sama sekali.

“Bagaimanapun juga !! Aku akan mengujimu dan melihat seberapa banyak kemampuanmu telah berkembang !! ”

“Maafkan aku. Toshiro sepertinya tergila-gila dengan nona Karin, dan seperti yang kau lihat… ”

“Oh, iya, aku juga menyadari itu.”

“I-itu tidak ada hubungannya dengan ini !!!”

Toshiro berteriak pada percakapan Kankurou dan Shin yang sedang berbisik.

“?”

Karin, yang tidak mendengar percakapan itu, tampak semakin bingung.

Shin berpikir bahwa, Yaejima Toshiro ini mungkin bukan orang yang jahat.

 ◆◆◆◆

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded