The New Gate Volume 8 Chapter 3 Part 2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content

Penerjemah: RedFairy

Editor: Sukseskanlah “Ridho Ilahi.” Amin

Korektor: Anisha Dayu

Karena mereka sedang tidak ada urusan penting, Shin dan Karin mengikuti Kankurou ke dojo keluarga Toudou.

Itu adalah bangunan terpisah, dipakai hanya oleh Kankurou, Toshiro, dan beberapa orang lainnya.

Sama halnya dengan keluarga Saegusa, dojonya terpisah antara pemakaian untuk mengajar dan pemakaian pribadi.

“Beberapa ingin fokus untuk berlatih sendiri tanpa diganggu di sekitarnya. Dojo ini kadang-kadang dipakai untuk pertandingan semacam ini juga…”

“ …Aku rasa mereka tak ingin dilihat.”

“Hmmn, iya, itu akan lebih baik.”

Selang waktu yang hampir bersamaan, Shin and Toshiro sama-sama memegang pedang kayu mereka.

Sensasi yang dirasakan Shin berasal dari pancaran aura Toshiro, meyakinkannya bahwa itu nyata, seperti yang Kankurou katakan kepada Shin sebelumnya, dalam perjalanan mereka ke dojo, kemampuan Toshiro setara dengan Hinomoto Brave Ten.

Sembari berbincang-bincang, Shin mengakui Toshiro sebagai pria yang tidak bisa tidak ia suka, tetapi sekarang pria di depannya hanyalah seorang pendekar pedang yang terlalu percaya diri.

“Aku datang.”

Dengan seruan pendek, Tanpa garakan ragu-ragu Toshiro melesat maju mendekati Shin seolah-olah meluncur di lantai.

Gagang pedang Toshiro seperti bergerak lambat, tetapi sesaat kemudian, itu dengan cepat sudah berada di jangkauan pertahanan Shin.

“Klaaang!!”

Mengayunkan pedangnya, Shin merespons serangan Toshiro. Benturan kedua pedang kayu tersebut menghasilkan suara dengungan yang menggema di sekitar dojo.

“Hmm…”

Merasakan pergerakan Shin menjadi jauh lebih tajam dibanding pertarungan mereka sebelumnya. Kankurou tenggelam dalam pikiran panjangnya–dengan tangan di dagunya, Saat mengamati kedua petarung,

(…Dia berkembang secepat ini?)

Lebih dari Kankurou, Shin lebih tercengang dengan pergerakannya sendiri.

Ajaran Karin berhasil membuat Shin menghilangkan gerakan sia-sia dari pergerakannya.

Mereka tidak berlatih tanding untuk pertempuran yang sesungguhnya, Shin hanya mengamati Toshiro mengayunkan pedangnya dan menyesuaikan skill dengan gerakan sederhananya.

“Shin…, aku perhatikan kamu berkembang dengan baik sekali.”

“Aku juga heran sendiri.”

Shin sangat terkejut bahwa dia menjawab sesuai dengan apa yang Shin pikirkan.

Serangan awal Toshiro dimaksudkan untuk mengetes; serangan kedua dan ketiga setelahnya lebih kuat dan cepat.

Tingkat kekuatan serangan Toshiro mungkin berada di bawah Kankurou, tetapi kebanyakan Chosen Ones akan sulit mengatasinya jika mereka memutuskan untuk bertarung melawannya.

Akan tetapi Shin mengatasinya dengan mudah.

Ini juga berkat speed boost dari high stats miliknya, lebih dari apa pun yang dia duga, tubuhnya terasa sangat ringan.

Shin tidak mengubah [Limit] pada statusnya, tetapi dia dapat mengukur perbedaan jarak dari tiap serangan yang diluncurkan Toshirou. Baik itu kecepatan ayunannya Toshirou yang terus meningkat, maupun kehebatan tiap-tiap serangan yang juga terus berubah.

“Tak terpikir bahwa semuanya berkembang sejauh ini.”

Shin sudah menyadari perubahannya lebih jelas dengan high stats-nya.

Meski begitu, Shin harus tetap mengakui hasil yang telah terbukti ini, bahwa gerakan lamanya terlalu banyak menghasilkan gerakan sia-sia.

Suara dentang antara pedang kayu keduanya semakin keras, jeda antar benturan memendek.

(Tebas ke bawah dari kanan, tebas atas kanan dari kiri… tidak, berhenti di tengah dan serang langsung ke depan!)

Shin menghindar, bertempur, menahan pedang kayu lawannya.

Saling bertabrakan, kedua pedang berbenturan dengan sangat keras sekali lagi, kali ini dalam posisi sama-sama terkunci.

“Kriiiiik!”

Toshiro berusaha mendorong ke depan dengan mengandalkan beban dari berat pedang, tetapi setelah beberapa saat, tiba-tiba mundur.

Gerakan Toshiro sangat cepat seolah itu adalah kilat, lantai di bawah tempatnya berpijak seolah-olah melesat menjauh. Jarak mundur yang dia lakukan sesuai untuk ujung pedangnya menggapai Shin.

Pedangnya membentuk putaran di udara dan mengayun ke bawah, mengincar sisi kiri bawah Shin.

“Tidak secepat itu!”

Shin tidak menghindari serangan itu, tetapi malah mendekati Toshiro sebelum serangannya sampai. Dia mendesak maju ke depan bermaksud mendorong Toshiro.

“Geh!!”

Toshiro yakin dia tidak memiliki kesempatan untuk balik menyerang, jadi dia memutuskan untuk menarik pedangnya bersamaan dengan serangan Shin.

Shin menambah kecepatan serangannya, mengincar ketika Toshiro mundur. Tentunya…, siapa yang lebih dulu menyerang pasti menjadi pemenangnya.

Tidak sanggup bertahan dari serangan lanjutan Shin, Toshiro berusaha menghindarinya agar tidak kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Toshiro berusaha untuk memutar tubuh menghindari serangan pedang kayu Shin yang terarah ke lehernya.

Shin telah memprediksi lawannya, mengarahkan pedangnya tepat ke leher Toshiro tetapi, berhenti sebelum menyentuhnya.

“Apa?!”

Toshiro menyeimbangkan tubuhnya dan bertanya.

Shin menjawab tanpa melihat Toshiro, melainkan ke arah pintu dojo.

“Ada yang datang. Dua orang.”

“Hm, sepertinya begitu.”

Kankurou juga merasakannya, dan mengangguk atas ucapan Shin. Karin merasakan keberadaan dua orang yang di maksudkan, dan menengok ke arah yang sama dengan Shin.

Sesaat kemudian, dua pria terlihat di pintu dojo.

“Apa kami mengganggu sesuatu?”

“Kakak! Kenapa kamu kesini!”

Toshiro meneriaki salah satu pria yang terlihat meminta maaf.

Menurut [Analyze], namanya adalah Yaejima Shiden, pria muda usia sekitar akhir 20-an.

Rambut hitamnya bercampur putih, bermata merah, dan tingginya hampir sama dengan Shin, 180cm. Gaya bicara yang halus dan raut muka lembut sangat kontras dengan kedua tangan dan kaki yang sangat padat; bagi Shin mereka kelihatan seperti bongkahan besi.

Pekerjaannya samurai dan levelnya cukup tinggi, lv 238.

“Aku tahu kamu akan pergi ke sini Toshiro. Aku mendapat ijin dari Tuan Tadahisa untuk bergerak di area istana. Tuan Kankurou, aku senang bisa berjumpa dengan Anda di sini. Nona Karin, aku lihat Anda sudah kembali dari pencarian tanaman obat untuk Nona Haruna.”

“Aku juga senang Anda dalam keadaan sehat, Tuan Shiden.”

“Lama tak jumpa.”

Kankurou dan Karin menjawab sapaan bersamaan. Sudah kelihatan kalau mereka bertiga saling kenal.

“Tuan Kanezuka, aku harap Anda juga dalam keadaan baik.”

“Hmm.”

Setelah menyapa Shiden, Kankurou menyapa Kanezuka Araki.

Kanezuka Araki pria usia antara akhir 30-an atau awal 40-an. Dia kelihatan berperawakan lebih pendek, mungkin karena bersanding dengan Shiden.

Pekerjaannya blacksmith, tercermin dari otot tangan yang kekar. Levelnya 166. Rambut abu-abunya dipotong pendek, pandangannya tertuju pada『Black Moon』.

“Pria ini adalah Tuan Shin, benar ‘kan?”

“Itu aku, tetapi bagaimana kamu tahu namaku?”

Shiden mengamati Shin dan menebak identitasnya. Ekspresinya sangat serius saat melakukannya.

“Aku sudah dikabari bahwa Anda yang sudah membantu mencari tanaman obat untuk menyembuhkan penyakit Nona Haruna. Oh iya, aku belum memperkenalkan diri ‘kan. Aku anak pertama dari keluarga Yaejima, Yaejima Shiden.”

“Eer, seperti yang sudah kamu tahu, namaku Shin.”

Yaejima Shiden menyadari status Shin sebagai tamu, dan sudah diberi tahu tentang ciri-ciri Shin.

“Apa yang membuatmu kemari? Tuan Shiden datang sendiri, aku hanya bisa menebak pasti itu terkait sesuatu yang penting tapi, apa itu.”

“Aku pikir sudah banyak yang mendengar gosip bahwa ada gerakan mencurigakan di barat. Aku ingin mengatakan bahwa itu hanya gosip murahan… tetapi, aku mendapat laporan bahwa keluarga Ichinose, salah satu bawahannya melakukan hal mencurigakan. Aku datang untuk melapokannya pada Tuan Tadahisa, bahwa keluarga Yaejima dan 3 keluarga lainnya sedang menyelidiki hal ini.”

Setelah Shiden selesai bicara, Toshiro menyahut.

“Keluarga Ichinose?!”

“Iya, keluarga itu selalu berusaha memonopoli Hinomoto. Tetapi, apa mereka sanggup melakukannya sendiri? Hal itu juga masih merupakan tanda tanya besar.”

Setelah merenungkan sejenak, Kankurou mengucapkan keraguannya.

“Penyelidikan kami masih setengah jalan, aku belum bisa memberikan jawaban pasti. Akan tetapi—”

“Err, sebentar!”

Shiden dan Kankurou tetap serius berdiskusi, menghiraukan Toshiro yang kaget ketika Shin memotong pembicaraan mereka.

“Apa ada yang salah?”

“Tuan-tuan sekalian, maaf, apa kalian bisa tidak berbicara tentang hal sensitif di depan orang luar sepertiku!”

Kankurou menatap Shin seakan melihat tanda tanya di atas kepalanya tanpa sedikit pun simpati pada ekspresinya.

“Aku sudah dengar dari Tuan Tadahisa dan Nona Haruna bahwa Tuan Shin adalah orang yang dapat dipercaya. Anda tidak punya keinginan untuk menyebabkan masalah ini kan?”

“Iya sih, tapi…”

Shin menganggap pernyataan kepercayaan ini dengan kecurigaan.

“Tuan Kankurou bilang bahwa kamu orang yang dapat dipercaya. Aku tidak punya alasan meragukanmu. Terlebih lagi, Tuan Shin adalah orang yang bahkan Tuan Kankurou bilang dia tak akan bisa menang jika melawannya… aku tidak ingin orang seperti itu menjadi musuh kami. Aku paham betul kekuatan Tuan Kankurou seperti apa.”

Kedua keluarga timur dan barat sepertinya mempercayai kata-kata Tuan Kankurou. Alasan kepercayaan ini juga berasal dari pengalaman Shiden. Tidak ada yang mau menjadi musuh kesatria kuat tanpa alasan.

“Aku lihat kamu juga bertarung dengan adikku. Bagaimana kemampuannya?”

“Aku rasa dia cukup kuat. Aku hanya merasa apa bijaksana percaya semudah itu.”

“Aku mendengar suara dentangan pedangmu. Pedangmu terayun lurus dan pasti. Dari kata-kata Tuan Kankurou dan suara dentangan pedang itu, aku sebagai samurai tidak bisa tidak percaya padamu.”

“………”

Shin tidak dapat membantah.

Dia pernah dengar bahwa seorang master dapat berkomunikasi tanpa kata, hanya melalui tinju dan pedangnya.

Dari pertarungan dengan Girard, Shin mengerti perasaannya. Tetapi pada saat itu, keadaan mentalnya sudah pada puncak yang sangat baik, dan dia mampu melakukannya karena dia memahami lawannya dengan baik.

Memahami orang asing hanya dari suara dentangan pedang merupakan sesuatu yang muatahil bagi Shin saat ini.

“Kamu dipercaya, bukannya sudah cukup?”

“Yah, itu lebih baik dari pada jadi tersangka.”

Araki berkata kepada Shin yang tidak tahu harus berkata apa. Ekspresi mukanya mengisyaratkan “jangan membesarkan masalah kecil.”

“Oh iya, aku belum memperkenalkan diri. Aku Kanezuka Araki, seorang blacksmith. Hari ini aku datang untuk mengamati『Black Moon』.

“Iya, silakan.”

Kankurou mengangguk, mengambil『Black Moon』dari pinggangnya dan menyerahkannya pada Araki.

Araki duduk di sudut dojo dan menggunakan kain agar tidak menyentuhnya secara langsung, memperhatikan secara seksama pedang『Black Moon』.

Sarung pedang khususnya sudah dilepas.

“Apa yang dia lakukan?”

“Aku berkerjasama dengan Tuan Kanezuka agar mempermudahnya menempa divine blade setara『Black Moon』. Aku rasa kamu juga tahu bahwa aku akan mewariskan 『Black Moon』, kan?”

“Hanya sepintas. Aku tahu bahwa Nona Karin, host-ku, juga peserta.”

“Saat ini, 『Black Moon』 merupakan satu-satunya katana bergelar “Divine Blade”. Aku tidak tahu siapa yang akan mewarisinya, tetapi ada isu tentang ini… jika ini dimiliki di antara penguasa timur atau barat. Tentunya, pedangnya akan ikut pewaris salah satu pihak, tetapi banyak yang khawatir akan memperburuk keseimbangan kedua penguasa.”

Ini memang hanya sebuah pedang, tetapi pengaruhnya besar.

Bonus stats yang diberikan katana pada pemiliknya sangat tinggi, serta serangan jarak jauh yang dapat diluncurkan, digabung dengan high stats, dapat dengan mudah menyaingi kekuatan average skills.

“Jadi aku menyimpulkan bahwa membuat divine blade lain adalah solusi terbaik, tetapi bahkan Tuan Kanezuka, blacksmith terbaik Hinomoto, menempa katana Tingkat-Ancient tidak mudah baginya.”

Dia mengamati『Black Moon』 untuk mendapatkan petunjuk, arsip penelitian dan tradisi turun temurun dan perkembangan menempa, melalui proses percobaan dan kegagalan.

“Apa kamu mengetahui bahan yang digunakan?”

“Kami masih memiliki bahan peninggalan Tuan Jinkurou. Kami tidak mengetahui seberapa banyak bahan yang diperlukan. Lagi pula aku amatir tentang profesi blacksmith.”

Shin berbisik dengan Kankurou, yang dia kira paham tentang seni menempa. Shin merasa akan sangat sulit, bahkan mustahil, mendapatkannya; sesuai perkiraan, keberhasilannya jauh.

“Sejujurnya, aku berharap mendapatkan beberapa saran…”

Kankurou yang mengetahui identitas Shin, berharap agar Shin, yang juga blacksmith, dapat memberi saran.

Melihat mata merah Araki, Shin mengetahui kalau dia menemui jalan buntu.

“Jika aku mengatakan sesuatu yang belum pernah didengar, apa dia akan percaya? Dia terlihat seorang maniak seni, aku ragu dia akan menerima saran dari yang lebih muda.”

“Mereka yang memiliki status tinggi sudah mengetahui bahwa kamu seorang Return Ancestor, para Adventurers’ Guild menyebutnya Choosen Ones. Karena inilah dia akan mendengarkanmu, setidaknya sedikit. Meski petunjuk sekecil apa pun.”

Kankurou tidak menyuruh Shin untuk menunjukkan semua skills-nya sebagai blacksmith.

Hal ini tidak mungkin semudah itu jika ingin menempa senjata Tingkat-Ancient hanya dengan mendengarkan beberapa saran.

Melihat Araki yang serius mencari petunjuk sekecil apa pun dari 『Black Moon』, Shin merasakan persaudaraan antara sesama blacksmith. Sehingga dia memutuskan untuk memberinya beberapa saran.

“Aku mungkin bisa memberi saran bagus ketika melihatnya menempa. Teknik blacksmith banyak variasinya dari sekolah ke sekolah, dan metode yang aku gunakan bergantung pada kemampuan pribadi seseorang. Aku setidaknya dapat memahami jika ada teknik yang sesuai.”

“Kalau begitu kita lakukan hal itu”

Kankurou mendatangi Araki dan menjelaskan situasinya. Awalnya Araki melihat Shin terkejut, kemudian menatap setajam-tajamnya, membuat Shin merasa dia akan dicekam setiap saat.

“…. Kamu memiliki pengetahuan luas tentang blacksmith?”

Toshiro yang tidak diikut sertakan dalam diskusi bertanya pada Shin.

“Aku tidak merasa dapat melakukan sesuatu yang khusus, tetapi aku mungkin bisa sedikit membantu.”

Teknik Shin hanyalah insting, terlahir dari pengalaman saat era bermain game. Shin sulit menjelaskan proses pembuatan dengan kata-kata, jadi dia memutuskannya setelah melihat Araki menempa.

Shin sanggup menempa pedang yang bagus bukan hanya dari teknik miliknya, tetapi juga dari kekuatan magic, jadi dia belum yakin kalau dia bisa membantu.

“Pertandingan kita akhiri kalau begitu.”

“Apa tidak apa-apa?”

“Aku tidak peduli tentang keseimbangan atau apa. Tetapi Tuan Kanezuka mempertaruhkan nyawanya untuk menjalankan tugasnya. Menahanmu di sini hanya akan menghalangi jalannya. Siapa yang mau berbuat begitu?”

“…. Begitu ya.”

Toshiro lebih bijaksana dari perkiraan Shin. Meski terkesan kurang sabar, dia sanggup mengontrol perasaannya.

Pendapat Shin terhadap Toshiro meningkat.

“Apa yang akan kakak lakukan setelah ini?”

“Kembali ke keluarga Yaejima tentunya. Aku sudah menyampaikan pesan ayah kepada Tuan Tadahisa dan melihat perkembanganmu. Bisa dibilang aku sudah menyelesaikan tujuanku.”

Shiden yang menyatakan bahwa tugasnya sudah terlaksana, pergi ke ibukota istana dengan pasukan Kujou yang sudah siap menunggunya di luar dojo.

Shin dan grup 5 orang pergi ke bengkel.

Kanezuka Araki adalah chief blacksmith sekolah Kanezuka; mereka akan menggunakan fasilitas pribadi miliknya. Tempat itu dilengkapi tungku kualitas atas dan berbagai peralatan lainnya.

Mereka sampai di bengkel pada area dengan satu tungku. Tungkunya tidak terlalu lebar, hanya saja dibuat khusus untuk menempa divine katana.

Araki menyuruh muridnya untuk tidak terlalu dekat dan menyuruh Shin masuk.

3 orang lainnya disuruh menunggu di luar. Bengkel merupakan tempat khusus blacksmith yang bertujuan untuk menurunkan teknik blacksmith dan hanya mereka yang seprofesi yang boleh masuk.

“Aku akan mencoba menempa sebuah divine katana. Ketika selesai, beritahu aku pendapatmu.”

Setelah  mengatakan itu, Araki mulai mengayunkan palunya.

Shin yang diam mengamati, sadar bahwa Araki tidak mengalirkan magic apa pun ketika mengayunkan palunya.

Seperti yang dia duga, magic yang tersimpan di katana hanya didapat dari material dan sedikit kualitas yang terdapat di udara sekitar, ketika palu memukul material.

Kecepatan dari besi yang berubah bentuk juga sangat lambat dari Shin, yang bisa membuat bola besi berubah bentuk sesukanya.

Melihat cara pria itu membentuknya, Shin menduga level pembuatan Araki sekitar VII. Jika dia menggunakan teknik yang sama dengan Shin, dia mungkin bisa membuat senjata Tingkat-Mythology dengan mudah.

Shin mendengar bahwa karya Araki adalah senjata Tingkat-Legend. Alasannya terdapat pada cara dia menempa. Jika seseorang hanya berfokus pada kemampuan memukul besi, stats pada senjata hanya dapat naik sedikit saja.

Shin tidak tahu jika senjata Tingkat-Legend Araki tempa pada Higher atau Lower, tetapi menempa tanpa menggunakan magic seperti yang dilakukan Araki akan mustahil, meski di era game.

(Tidak hanya dia jenius, atau itulah hasil dari fokus seumur hidupnya sebagai blacksmith dan tekniknya… kemungkinan keduanya)

Beberapa mengekspresikan “memberi kehidupan pada hasil karyanya”, tetapi pada kasus Araki dikatakan “mempertaruhkan nyawa pada suatu pekerjaan” terkesan lebih akurat.

Energi dan aura yang dia salurkan pada setiap ayunan palunya sangat besar, siapa pun akan berpikir bahwa dia sedang mengikis nyawanya sendiri. “Bekerja sampai mati” merupakan istilah yang sesuai untuknya.

Setelah semua proses selesai, yang tersisa hanya tinggal memoles pedangnya saja.

Dia hanya tinggal menyerahkannya pada ahli poles.

Setelah pemrosesan selesai, pedang katana yang indah tercipta.

“…. Aku gagal.”

Araki bicara dengan muka masam.

Dia ingin menempa pedang yang setara dengan katana Tingkat Lower Legend『Black Moon』. Melihat karya ini, dia tidak hanya gagal mencapai ketinggian puncak gunung, bahkan tidak mendekati kaki gunung. Raut muka Araki tetap masam bukan hanya karena kualitas katana.

“Bagaimana menurutmu?”

“Beberapa hal menggangguku. Aku ingin bertanya beberapa pertanyaan terlebih dahulu, jika diizinkan.”

“Asalkan kamu tidak memintaku mengajarimu teknik rahasiaku, katakan saja.”

“Baiklah. Pertama, kenapa kamu tidak mengalirkan magic ke katana?”

“Apa?”

Mata Araki menyipit mendengar pertanyaan Shin.

“Jika blacksmith mengalikan magic pada katana, ketahanan dan ketajamannya meningkat. Sejauh yang aku tahu, tidak ada jalan lain untuk menempa katana Tingkat-Legend ke atas.”

“Hanya mengandalkan skill memukul metal tidak cukup, begitu, kan?”

“Iya. Hal ini juga tidak cukup hanya mengaliri kekuatan magic.

Agak sulit mengatakannya, tetapi seorang awalnya mengalirkan magic ke palu, kemudian mengalirkannya ke katana pada saat palu dipukul. Sejujurnya, bisa menempa katana Tingkat-Legend pada situasi itu membuatmu, Tuan Kanezuka, sangat luar biasa.”

Tanpa skill blacksmith pada level tertentu, tentunya seseorang tidak bisa menempa senjata yang bagus, meski mengaliri magic mereka.

Tetapi jika seseorang hanya berkemampuan memanipulasi kekuatan magic, Pixies dan Elves lebih cocok dalam urusan blacksmith.

“…. Itu mungkin teknik yang hilang sebelum diturunkan. Aku dengar ketika Hinomoto masih terbakar api peperangan, banyak blacksmith yang lebih terampil daripada sekarang. Banyak juga pedang yang lebih tinggi kualitasnya.”

Sepertinya banyak teknik yang hilang pada masa perang.

Teknik blacksmith tidak pernah keluar dari sekolah masing-masing. Jika seluruh sekolah menghilang saat perang, teknik terbaik mereka turun temurun akan ikut hilang.

“Aku tidak pernah menyangka dapat mendengar salah satu teknik yang hilang… aku bersumpah pada kehormatan Kanezuka bahwa aku tidak akan mengatakan ini kepada orang lain.”

“Tuan, aku tidak bermaksud untuk menyimpan teknik ini; asalkan kamu tidak memberitahu siapa pun bahwa kamu mendengarnya dariku, itu sudah cukup. Ini adalah teknik yang ada di zaman dulu, jadi seseorang di mana pun pada waktunya pasti dapat menghidupkannya, atau malah masih ada di tempat lain.”

Ini tidak aneh jika seseorang seperti Kankurou, mantan Support Character bisa memakainya.

Shin dapat merasakan keseriusan dan konsentrasi Araki tidak kalah dengan mereka.

“Agak sulit menjelaskan secara rinci dengan kata-kata, jadi akan lebih mudah jika kamu melihatkannya. Boleh aku pakai peralatanmu.”

“…. Pakai sesukamu.”

Latihan daripada teori, melihat dan belajar. Teknik semacam itu tidak dapat dijelaskan sepenuhnya dengan ucapan dan teori.

Itulah mengapa Shin memutuskan memperlihatkan kemampuannya.

Dia hanya lakukan memukul beberapa kali, memakai baja “Tamahagane” yang dia temukan di bengkel. Sebelum dinyatakan selesai, Shin memanaskannya di tungku, memalunya sampai membentuk bentuk katana.

Dia mengalirkan kekuatan magic-nya ke palu, setelah beberapa pukulan memercikkan warna berbeda dari Tamahagane.

“…….”

Araki memperhatikan gerakan Shin tanpa melewatkan gerakan apa pun. Aura yang dipancarkan seperti pada saat dia mengayunkan palu bersama Shin.

“…. Aku sudah selesai. Tinggal menunggu dipoles.”

Pedangnya selesai dengan kecepatan yang mengherankan. Shin dapat menyelesaikannya sampai tanpa perlu dipoles, tetapi itu akan membuatnya lebih dari sekedar ahli blacksmith, jadi dia tidak melanjutkan.

Dari hasil kerja pemoles yang sama dengan memoles katana buatan Araki sebelumnya, katana Shin memancarkan sinarnya. Sama dengan katana yang Araki buat sebelumnya Tingkat Middle Unique.

“Kamu menempanya dengan sengaja…?”

“Tidak, hanya kebetulan. Tetapi lebih baik begini. Aku ingin kamu melihat perbedaan mereka, tetapi apa tidak apa kalau katana buatanmu jadi tidak berguna?”

“…. Tidak masalah. Kita lihat nilainya.”

Shin mengambil katana yang baru dibuat dan memegangnya dengan pedang menghadap ke atas.

Dia menyuruh Araki mundur, kemudian mengayunkan katana buatan Araki pada pedang buatannya.

“?!!”

Araki melihat dengan mata terbelalak atas hasilnya.

Katana yang Araki tempa, yang Shin pegang tegap di tangan, terbelah menjadi dua. Katana Shin yang dipegang tidak bergerak, tidak ada sedikit pun goresan.

“Padahal ada di tingkat yang sama, tetapi sangat berbeda…”

“Tuan Kanezuka, kamu berada di level ini tanpa menggunakan magic. Aku yakin kamu dapat membuat katana yang lebih superior, senjatanya disebut “Magic Weapon” karena terdapat magic pada pedangnya.”

Setelah mengatakan itu, Shin menyerahkan pedang yang dipegang tegak kepada Araki. Seperti yang Shin katakan, pedangnya diselubungi dengan kekuatan magic.

Berdasarkan aturan game, senjata Tingkat-Unique tidak dapat disebut “Magic Sword” atau “Magic Katana”. Itu mungkin karena Shin yang menempanya, katana yang dipegang Araki memiliki specs penggunaan “Magic”.

“Sebuah Magic Katana, huh… jadi benar bahwa katana yang aku tempa dan 『Black Moon』 mempunyai kekuatan magic di sekeliling pedangnya. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dari hanya Magic Katana pada 『Black Moon』.”

“Aku rasa material yang dipakai adalah kuncinya. Aku menggunakan Tamahagane sebagai materialnya, jadi hanya specs katana yang meningkat. Tetapi aku dengar bahwa material berbeda dapat memberikan effects berbeda. Aku tidak tahu rinciannya”

“Ini sudah lebih dari cukup. Anak Muda… tidak, Tuan Shin, aku berhutang budi padamu. Jika Anda membutuhkan bantuanku, katakan saja.”

“Pertama-tama, seperti permintaanku sebelumnya, aku ingin kamu merahasiakan semua sumber informasi ini. Selain dari itu, aku rasa tidak ada masalah.”

Dia sudah dilihat oleh beberapa murid Kanezuka, jadi dia tahu kalau mereka akan menebak informasi darinya.

Dia tidak berpikir bahwa Araki akan angkat bicara tentang Shin sebagai pusatnya, tetapi dia ingin yakin sepenuhnya.

“Tuan Kanezuka bisa mewariskannya pada siapa pun yang kamu anggap pantas. Ini bukan sesuatu yang aku dapatkan sendiri.”

“Apa benar tidak apa?”

“Meskipun disembunyikan, mata-mata mungkin mengintai, dan itu adalah teknik yang umum digunakan dimasa lalu. Aku hanya berharap katana yang dibuat dengan cara ini digunakan untuk melindungi orang.”

Katana hanyalah sebuah alat. Bergantung pada penggunanya, mereka bisa menjadi pedang pelindung atau penghancur.

Shin memberi beberapa saran kepada Araki, yang katanya ingin menempa pedang sekali lagi, kemudian meninggalkan kediaman Kanezuka.

“… apa kamu mengajarinya sesuatu?”

“Aku memberitahunya tentang teknik yang aku ketahui. Pembuatan divine katana mungkin ada kemajuan.”

Toshiro bertanya tentang apa yang terjadi di kediaman Kanezuka dalam perjalanan ke keluarga Saegusa.

“Umm, aku dengar teknik semacam itu sering di rahasiakan.”

“Aku tidak berasal dari sekolah atau tradisi tertentu, jadi aku tidak punya keinginan merahasiakan teknik ini untukku sendiri. Meski aku tidak memberitahukannya kepada sembarang orang.”

Karin masih sedikit bersemu ketika berbicara dengan Shin, tetapi dia berusaha bicara seperti biasanya.

“Aku belum pernah melihat Tuan Kanezuka menunjukkan ekspresi sepeti itu. Itu pasti teknik yang hebat.”

“… apa iya? Aku sejujurnya tidak memperhatikan. Aku hanya ingin memberi beberapa saran, tetapi ketika melihatnya serius sekali mengayunkan palu… sebagai sorang blacksmith, aku tidak tega hanya memberi satu atau dua saran.”

Shin bisa saja memberi alasan yang lebih masuk akal, tetapi tidak jadi.

Untuk seseorang yang serius berlatih seni blacksmith, teknik yang Shin dapat dari game akan terlihat seperti main curang. Itulah sebagian alasan Shin menghormati blacksmith Kanezuka Araki yang mencapai level tinggi meski merupakan orang normal.

“Kamu ini apa sih?”

“Hanya Adventurer dan orang sibuk, tidak ada yang lain.”

“Aku, aku rasa dia orang baik…”

“Appaaa… geh…”

Komentar Karin tentang Shin membuat Toshiro menggertakkan gigi. Dia bisa menyadari bahwa Karin berbeda dari biasanya.

“Kalau begitu aku boleh bertanya sesuatu?”

“Hm… apa?”

“Tuan Toshiro berasal dari keluarga Yaejima kan? Aku dengar Yaejima adalah keluarga besar penguasa barat Hinomoto. Jika iya, kenapa kamu berada di samping Kankurou, seorang bawahan keluarga Kujou?”

Shin merasa janggal setelah mendengarkan kedua kubu penguasa atas Hinomoto.

Shin yang mempelajari sejarah Jepang di sekolah, untuk sesaat mengira Toshirou merupakan sandera, tetapi Toshiro sepertinya terlalu bebas sebagai sandera.

“Aku adalah salah satu murid Tuan Kankurou. Dia adalah pria yang mengajari tanpa peduli status sosial, dan Tuan Tadahisa juga setuju.”

Akan tetapi, apabila keluaga Yaejima melakukan sesuatu yang menyebabkan perselisihan di Hinamoto, nyawa Toshiro bisa melayang.

“Aku percaya bahwa tidak mungkin ayahku juga kakakku akan melakukan sesuatu yang bodoh. Tetapi jika terjadi ya terjadilah, aku hanya perlu memberikan nyawaku.”

Toshiro berbicara tiap kata dengan meyakinkan tanpa mengalihkan pandangan mata.

Jika mereka merencanakan sesuatu, membuatnya mengamuk di keluarga Kujou merupakan rencana yang sempurna.

Dalam hal bahaya yang sesungguhnya, seseorang akan berusaha mempertahankan nyawa.

Shin berpikir bahwa Toshiro tidak bisa melakukan hal semacam itu. Itu juga berlaku pada tiap murid Kankurou.

Di Hinomoto, ada kepercayaan melebihi akal sehat. Itulah apa yang dirasakan Shin terhadap Toshiro.

Setelah Shin pergi, di bengkel di mana tungkunya sudah tidak menyala lagi, Araki dan Kankurou mengobrol.

“Apa Tuan Shin mengatakan sesuatu yang berguna untuk pembuatan divine katana?”

“Iya, aku bisa bilang kalau aku rasa kamu sudah tahu… tetapi dia memberiku salah satu teknik yang sudah hilang dalam sejarah.”

Berkat pengalamannya sebagai Support Character, Kankurou mengetahui bahwa teknik semacam itu tanpa penjelasan rinci oleh Araki.

“Dengan cara ini aku akan selangkah mendekati divine katana, hanya saja…”

“Apa ada masalah?”

Kankurou memperhatikan ekspresi Araki terlihat pahit dari biasanya.

Blacksmith ini menjawab dengan nada lemah.

Divine katana bukan sesuatu yang bisa aku tempa. Bukan hanya aku, aku takut bahkan mungkin blacksmith di Hinomoto juga tidak.”

“Dan alasannya?”

“mungkin… tidak, pasti, Tuan Shin mengetahui teknik yang tidak kita punya. Dan tidak hanya satu atau dua… Tuan Shin pastinya dapat menempa pedang yang setara dengan 『Black Moon』. Aku dengar dia seorang samurai, tetapi aku tahu dia bukan orang yang semata-mata “menggunakan” senjata. Dia seseorang yang “membuat” -nya.”

Araki, berkat pengalaman hidupnya menciptakan senjata, memahami.

Pada masa era game, kenyataannya panggilan Shin adalah “Dark Blacksmith”. Anggota Rokuten lainnya memiliki alias seperti “Red Alchemist”, “White Cook”, dan “Golden Merchant”.

Kenyataannya mereka semua sama seperti Shin, sifat asal mereka adalah “creator”.

“Meski dari sekian banyak Return Ancestor, hanya individu yang sangat spesial yang bisa melakukannya. Dia mungkin berpikir bahwa dia menempa sesuatu yang biasa, tetapi karyanya sangat halus bahkan aku mengerti dengan jelas bagaimana aku tidak bisa menyainginya.”

“Begitukah. Kalau begitu, kita tidak bisa menunda ritual ahli waris lebih dari ini.”

“Iya. Mengesampingkan seseorang yang berasal dari Return Ancestor specialized di blacksmith, aku menyimpulkan bahwa divine katana tidak bisa ditempa meski 100 tahun yang akan datang. Tidak ada gunanya menunda mewariskannya lebih jauh.”

Araki memberikan kesimpulannya dengan ekspresi tanpa semangat, seolah-olah apa yang merasukinya telah mengosongkannya.

Tanpa pikir panjang, tangannya memegang palu.

“Oh, meski kamu sampai pada kesimpulan itu, kamu masih menempa pedang lagi?”

Kankurou berbicara pada Araki seolah melihat kesatria muda fokus pada latihan kerasnya.

“Karena aku dapat merasakan sepintas puncak. Meski aku tahu bahwa aku tidak dapat menggapainya, aku tidak dapat berhenti mendaki… seperti itulah blacksmith. Haha, tidak kukira bahwa aku akan mendapatkan tantangan di usia sekarang… aku tidak pernah menyangkanya sama sekali.”

Araki kembali menyalakan tungku, ekspresinya terlihat tenang.

“Wah, wah, sepertinya aku berhutang lagi pada Tuan Shin.”

Setelah itu, suara besi dipukul menggema di bengkel beberapa saat.

 

◆◆◆◆

Table of Content

Please wait....
Disqus comment box is being loaded